February 27th, 2010

1. Kata Pengantar (Untuk Pengunjung Baru)

by Andini Rizky

Keluarga kami terdiri dari aku (Andini), Papa (suamiku), dan anak-anak kami tercinta: Kanae, Masa, dan Nao. Aku dan Papa bertemu dan berjodoh di Tokyo, Jepang. Kemudian selama lima tahun kami membina keluarga, sebagian di kota Tokyo, kota kelahiran Kanae, dan sebagian lagi di kota Matsumoto, kota kelahiran Masa. Tahun 2008 kami kembali ke Indonesia, dan setahun kemudian lahirlah Nao di Bekasi.

Aku berkenalan dan mencoba gagasan homeschooling di Jepang melalui beberapa buku berbahasa Jepang tentang tema yang kontroversial itu. Apakah di Jepang homeschooling sudah lazim dikenal orang? Tidak. Sistem pendidikan Jepang bisa dikatakan berhasil karena telah menanamkan etos kerja keras, kejujuran, sopan santun, kebersihan, dan sebagainya yang merupakan ciri masyarakatnya. Namun demikian, dunia pendidikan Jepang pun dibebani oleh masalah seperti ijime/bullying, penolakan bersekolah/futōkō, menurunnya pencapaian akademik Jepang dibandingkan negara-negara maju lain, dan bunuh diri anak-anak sekolah. Pengajuan solusi bermunculan, salah satunya adalah homeschooling sebagai opsi pengganti sekolah. Homeschooling belum populer namun benih-benihnya telah ditebarkan. Aku kira hal yang sama terjadi di Indonesia.

Buku ini bersifat sangat personal dan disusun dengan dua maksud. Pertama, adalah niat pribadi untuk menggolkan proposal melanjutkan homeschooling bagi Kanae dan adik-adiknya kepada kepala keluarga kami, yakni suamiku. Kedua, adalah berbagi cerita menginspirasi untuk para orang tua yang ingin tahu bagaimana homeschooling bisa diterapkan bagi anak usia balita. Pada rentang usia golden age ini, ikatan tali asih dan cinta orang tua berperan sangat penting untuk keoptimalan pertumbuhan mental dan fisik anak.

Tulisan-tulisan di dalam buku ini awalnya merupakan entri di dalam laman Multiply yang kutuanrumahi:  Homeschooling à la Carte (http://andinirizky.multiply.com) . Blog penyimpan catatan hari demi hari tentang Kanae dan kegiatan homeschooling-nya usia tiga hingga lima tahun itu diakses oleh peminat homeschooling maupun pemerhati pendidikan anak secara umum. Oleh karena berawal dari blog, setiap judul cerita dalam buku ini bisa dibaca terpisah dari judul-judul lain tanpa khawatir kehilangan mata rantai kisahnya.

Aku berharap semoga pembaca bisa tertawa, menangis, dan mengangguk setuju atau pun membentuk pendapat yang berbeda denganku karena cerita-cerita tentang dinamika keluarga dalam buku ini merupakan hal yang universal.

Selamat menikmati!

Klik laman Arsip untuk melihat daftar isi.

May 15th, 2010

Generalisasi tentang Praktisi Homeschooling

by Andini Rizky

“Semua generalisasi itu salah, termasuk yang ini.” Mark Twain.

Baru-baru ini aku menemukan sebuah buku tentang homeschooling di toko buku yang tidak akan aku sebutkan judulnya karena aku rasa isinya memberikan gambaran yang keliru tentang dampak sosialisasi homeschooling. Tidak ada bukti ilmiah yang menyokong pemaparan penulisnya, hanya pengalaman seorang anak remaja yang tidak menyukai pilihan metode pendidikan yang diambil orang tuanya. OK, jadi satu orang tidak suka homeschooling lalu semua orang kena getahnya.

Aku teringat tulisan blog Just Enough Blog tentang pendapat di blog seorang remaja yang juga tidak menyukai homeschooling.

Anak itu menulis:

Secara pribadi, aku merasa homescholing tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dengan homeschooling, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja homeschooling yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak homeschooling yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari homeschooling. Tetapi aku pernah melihat anak-anak homeschooling yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak homeschooling yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Tammy Takahashi dari Just Enough Blog bermaksud memperlihatkan, tidak ada logika sama sekali yang melatari generalisasi dalam pendapat remaja tersebut, dengan mengganti setiap kata ‘homeschooling‘ dengan ‘public school’ atau ‘sekolah negeri’, di sini aku ganti dengan ‘sekolah’ saja.

Secara pribadi, aku merasa sekolah tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dari sekolah, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja bersekolah yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak sekolah yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari sekolah. Tetapi aku pernah melihat anak-anak sekolah yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Anak itu menulis:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ di sekolah. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan di sekolah tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di sekolah dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di rumah, yang anak-anaknya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (orang tua) dan sesama saudara kandung saja.

Tammy Takahashi membuat penyesuaian seperti di bawah ini:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ dalam homeschooling. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan dalam keluarga tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di dunia nyata dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di sekolah, yang siswa-siswinya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (guru) dan sesama teman sekelas saja.

Tammy mengatakan versinya terasa lebih masuk akal, karena tidak ada tempat lebih baik untuk belajar bersosialisasi di dunia nyata selain di dunia nyata, dan di situlah kelebihan homeschooling.

Setiap homeschooling mendapatkan nama buruk (padahal cuma generalisasi tak berlogika seperti buku yang aku sebutkan), selalu muncul suara-suara untuk melarang homeschooling dan memaksa untuk memasukkan anak-anak homeschooling ke sekolah. Sedangkan kegagalan sekolah mempersiapkan siswanya menghadapi dunia nyata tidak akan pernah diikuti perintah untuk homeschooling.

Aku tidak mempermasalahkan metode pendidikan yang dipilih masing-masing orang tua, mau sekolah atau pesantren, atau pun homeschooling resiko tanggung sendiri toh. Namun aku lebih senang menganjurkan homeschooling karena pada saat orang tua tidak puas dengan sekolah, melakukan reformasi pendidikan di sekolah merupakan tugas mahaberat, bahkan lembaga negara Mahkamah Agung pun tidak sanggup melakukannya (ingat kasus UN).  Sedangkan melakukan reformasi pendidikan dalam homeschooling keluarga kita sendiri? Semudah membalik telapak tangan -termasuk urusan memperbanyak kesempatan bersosialisasi-.

April 27th, 2010

35. Dicuekin

by Andini Rizky

Selang satu rumah kosong dari rumah tempat kami tinggal sementara ini, sebuah keluarga dengan lima anak laki-laki bersaudara, kira-kira usia SD, baru saja pindah. Sore pertama, anak-anak laki-laki itu bermain badminton di jalan depan rumah yang memang sepi dari lalu lalang mobil. Kanae, yang sedang main ayunan di depan rumah kami melihat mereka. Serta merta ia bergegas masuk rumah, mencari raket badminton milik Papa, memakai topi, dan berlari keluar.

“Mau ngapain?” tanya Obaachan, ibuku.

“Mau main badminton,” jawab Kanae semangat. “Sama teman-teman di situ.”

Obaachan tidak mengikuti Kanae keluar, cuma mengawasi lewat jendela.

Aku sedang di depan komputer dan tidak mengindahkan apa yang sedang terjadi.

Menurut laporan siaran langsung dari ibuku itu, Kanae dengan percaya dirinya mendekati kelima anak laki-laki tadi. Kata Kanae, main badminton yuk, main badminton yuk. Namanya siapa? Aku Kanae.

Anak-anak itu cuma saling berpandangan, tetapi tidak menjawab ajakan Kanae. Mereka tetap main sendiri, tidak perduli dengan tawaran persahabatan anak perempuan kecil empat tahunku. Ibuku dengan gemasnya mengatakan, mana mau anak laki-laki main dengan anak perempuan, mana mau anak-anak besar main dengan anak kecil. Kasihan Kanae, kasihan Kanae.

Tidak berapa lama Kanae kemudian kembali ke rumah. Raket badminton dan topinya diletakkan di sudut kamar.

“Nggak jadi main ya?” tanyaku sambil tetap mengetik di komputer.

“Teman nggak mau main dengan Kanae,” jawabnya dengan ekspresi biasa saja.

Besoknya, anak-anak laki-laki itu bermain badminton lagi di depan rumah mereka. Tahukah apa yang dilakukan Kanae? Dia ambil raket dan topi lagi, menghampiri mereka lagi, mengajak main lagi, dan… dicuekin lagi. Ha ha.

Kanae… Kanae… kok kamu terlalu supel sih? keluh neneknya yang tidak tega cucunya dicuekin.

Optimistis dan berpikiran positif, komentarku.

Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, kami tidak pernah melihat lagi anak-anak laki-laki itu bermain di depan rumah mereka. Sekolah, barangkali?

Dan kata mereka, anak homeschooling punya masalah sosialisasi. Jadi pengen ketawa.

April 24th, 2010

34. Sosialisasi Homeschooling (2)

by Andini Rizky

Aku yakin tidak ada orang tua homeschool yang tidak ditanyai masalah sosialisasi. Capek ya. Tetapi kebetulan siang ini aku sedang tidak capek dan ingin curhatan lagi tentang sosialisasi homechooling. Sori kalau berita ulangan.

Bagiku pertimbangan sosialisasi bukanlah sisi negatif/kekurangan dari pilihan ber-homeschooling. Sosialisasi itu adalah alasan utama aku memilih homeschooling.

Berikut beberapa alasan mengapa aku pikir homeschooling lebih baik untuk Kanae (5) dari segi sosialisasi daripada sekolah formal.

1.          Baik aku sebagai ibunya maupun Kanae punya kendali lebih besar dalam memilih teman bergaul dia. Dia masih lima tahun, jadi yang kami utamakan saat ini, pokoknya tidak perlu bertemu setiap hari dengan anak-anak yang memukul. Nanti kalau dia sudah besar, mungkin filternya menjadi: tidak perlu teman yang nge-drug, yang berpacaran, maupun yang aktif secara seksual di usia remaja.

2.          Kanae saat ini tidak tergantung pada persetujuan teman-teman hanya untuk berkawan. Dia tidak merasa wajib suka Disney Princess untuk main dengan sesama anak perempuan, tidak merasa wajib tertarik main PS2 hanya karena anak laki-laki tuan rumah cuma mau main itu saja, tetapi juga tidak memaksakan kehendak pada anak-anak lain. Bagi Kanae dia suka semua orang yang mau bermain bersamanya, dia tidak harus menjadi sama, bahkan tidak harus punya kesamaan dalam berkawan. Kalau dia remaja nanti kepercayaan diri dan sikap dia yang begini akan bermanfaat. Cuma kalau dia sekolah, dengan lingkungan teman-teman yang usianya sama semua, aku nggak yakin bisa dia pertahankan. Kalau sekolah sangat mungkin dia jadi seperti aku dulu yang nggak berani mengaku bahwa aku nggak suka NKOTB. Dan menurut aku kakak kelas yang namanya Bimo itu sama sekali nggak ganteng.

3.          Kanae menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain bebas dengan sesama anak-anak di setiap akhir pekan. Menurut aku itu sudah cukup menggantikan waktu sosialisasi di jam istirahat 2 kali 15 menit setiap hari kalau dia sekolah. Sering kali aku terkejut di rumah kami sudah berkumpul anak-anak tetangga yang tidak aku kenal. Kanae yang mengundang mereka bermain di teras. Anak-anak itu sukarela lho berada di rumah kami, dan pergaulan sukarela dan multiusia begitu kan lebih baik daripada bergaul karena dikurung sama-sama di sekolah. Terlebih lagi, apakah sekolah bisa mengajarkan keterampilan sosial seperti yang sudah dikuasai Kanae tanpa bantuan siapa pun itu?

4.          Dia tidak punya masalah dengan kenyataan bahwa dia sekolahrumah, dan semua temannya anak sekolahan. Kalau ditanya sekolah di mana, dia akan menjawab,”Aku sekolah rumah”. Dia tidak punya masalah menjadi berbeda, dan berteman dengan anak-anak yang berbeda dengan dia.

5.           Kemampuan bicara Kanae melampaui anak-anak Indonesia seusianya meskipun dia baru setahun terakhir belajar bahasa Indonesia. Dia terbiasa menggunakan imbuhan me-, ber-, ter-, dan lain-lain. Dia menggunakan kata-kata seperti bermigrasi, mengoperasikan, hari keberuntungan, dan sebagainya yang aku sendiri tidak selalu ngeh dia pungut dari mana. Dia belajar dari membaca buku dan majalah, menonton film kartun dubbing ke bahasa Indonesia yang bermutu baik, dan dalam keseharian tidak merasa perlu menurunkan level berbahasanya ke level sesama anak lima tahun.

6.          Apa gunanya sekolah kalau dia malah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi takut bergaul pada orang lain? Sekolah pernah membuat dia punya masalah sosialisasi seperti itu dan aku khawatir sekali dia akan kembali seperti itu kalau dipaksa masuk TK.

7.          Kanae lebih supel, ceria, kritis, dan teman bicara yang menyenangkan saat ini. Berkat homeschooling. Dia sayang sekali pada adik-adiknya. Nggak ada tuh cemburu-cemburuan. Berkat homeschooling. Dia memandikan, memakaikan pakaian dan sepatu untuk adiknya, membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berkat homeschooling.

Kalau dia sekolah, dan dia pernah sekolah, setiap hari aku kelimpungan mengobati luka-luka emosionalnya yang dia dapat dari interaksi di sekolah, tidak ada waktu lagi tersisa untuk belajar ilmu yang lain, dan tidak ada waktu untuk mengembangkan empatinya, kasih sayang pada orang lain, tidak ada waktu merenung tentang banyak hal termasuk tentang Allah. Dia anak yang lebih baik, alhamdulillah, berkat homeschooling.

Dari segi sosialisasi, homeschooling pilihan terbaik yang tersedia untuk anakku.