Ibuku berkata, bagaimana kamu bisa jadi diplomat kalau kamu bisanya cuma marah-marah sendiri dan nggak bisa berbicara taktis diplomatis dengan mertuamu.
Ibu aku itu betul sekali. Aku tidak pantas jadi diplomat.
Pelatihanku di universitas memang seharusnya mempersiapkan aku menjadi seorang diplomat dan pakar hukum internasional, dan aku sudah mendapatkan gelar bachelor of arts yang semestinya membuktikan aku sudah menguasai kecakapan itu. Wow keren…
Tetapi sekarang aku akan beri tahu rahasiaku. Aku memilih jurusan hubungan dan hukum internasional di usia yang ke-20 tahun itu, bukan karena aku benar-benar senang dengan politik internasional. Motivasiku adalah karena aku ingin masuk Universitas Hitotsubashi di Tokyo yang konon universitas terbaik di Jepang untuk bidang ilmu sosial dan humaniora. Aku tidak mengetahui minat aku sendiri. Aku hanya punya perasaan samar-samar bahwa aku bisa belajar APA PUN yang diwajibkan padaku. Sekarang setelah aku belajar tentang homeschooling, aku paham mengapa waktu itu aku tidak mengenal diri sendiri, bukankah selama masa hidupku waktu itu, sekolah memang tidak pernah mengizinkan aku mengejar minatku, pokoknya aku mendapatkan buku pelajaran, penjelasan guru di kelas, kalau nggak mengerti aku bisa ambil les privat lagi, peduli amat aku merasa pelajaran itu menarik apa tidak, peduli amat aku merasa pelajaran itu tidak penting bagiku. Bagi sekolah, pelajaran yang diberikannya lebih penting dari minatku, katanya untuk masa depan aku, dan kalau mau nilai bagus, mau ranking tinggi, mau dipuji pintar, aku harus menurut saja.
Di tengah-tengah masa studi di universitas, aku menyadari aku tidak punya minat setitik nila pun terhadap belanga susu rasa politik dan hukum internasional (ungkapan apaan tuh?). Aku memang belajar keras waktu itu untuk dapat nilai sebaik-baiknya di kuliah, aku menyerahkan tugas-tugas tepat waktu dan sebisa-bisanya dengan kemampuan bahasa Jepang yang pas-pasan, aku memang berjalan ke mana-mana naik kereta listrik dan minta bantuan kepada beberapa senior sesama mahasiswa Indonesia demi menyelesaikan skripsi, tetapi sama halnya dengan masa-masa sekolah sebelum itu, aku lupakan semua yang aku pelajari satu hari setelah hari ujian. Apalagi setelah enam tahun berlalu. Maka ketika aku membaca klaim John Holt, seorang perintis homeschooling, berikut ini, aku tertawa keras-keras:
“Bedanya antara seorang murid sekolah yang baik dengan yang buruk hanya satu. Murid yang baik berhati-hati untuk melupakan pelajarannya sampai SETELAH ujian selesai.”
Holt sudah wafat dan tidak sempat mengenal aku, tapi kenapa dia bisa tahu itu tentang aku ya? Oh, barangkali SEMUA pelajar sekolah mengalami hal yang sama? Berarti anak-anak aku juga akan begitu kalau masuk sekolah? Sangat mungkin.
Setelah aku menikah dan punya anak, aku sampai pada kesimpulan: belajar tanpa minat hasilnya nol besar. Pengetahuan-pengetahuan yang tidak secara murni dikejar oleh si pembelajar pasti tidak berguna karena segera akan dilupakan tanpa sempat dimanfaatkan, cuma buang-buang waktu, tenaga, dan umur, dan dalam kasus aku waktu itu di mana aku dihadapkan pada pilihan “teruskan S2 atau tidak”: harus buang-buang beberapa juta yen karena aku akan harus bayar kuliah sendiri, tidak ditanggung beasiswa lagi.
Maka waktu itu dan juga sekarang, aku sudah tidak berminat lagi masuk S2. Beberapa bulan saja lepas dari sekolah, aku sudah lebih mengenal diri sendiri, bahwa aku generalis, lebih cenderung ingin serba tahu sedikit tentang banyak hal, daripada meneliti satu hal bertahun-tahun. Bosan.
Zaman sekarang ilmu bertebaran di mana-mana, tidak eksklusif menjadi monopoli sekolah maupun perguruan tinggi. Terutama ilmu yang aku pakai untuk memperkaya lahir dan batin saat ini, yakni penerjemahan bahasa Jepang, tidak mengharuskan aku menulis tesis atau disertasi khusus. Belajar saja sendiri. Baca sebanyak-banyaknya. Tidak butuh bayar dosen kuliah. Aku punya kamus elektronik tiga buah, satu software kamus di komputer, dan ratusan buku bahasa Jepang. Aku punya teman-teman orang Jepang untuk terus berlatih bahasa. Aku bisa kursus lagi kalau mau, kalau tidak pun tidak apa. Aku bisa mengendalikan pembelajaran sendiri. Saat ini aku merasa cukup. Cukup, dalam artian aku bahagia. Aku bebas dari sekolah!
Aku tidak menentang pendidikan dan pendidikan tinggi sama sekali. Malah aku mendukung, dan menurut aku seharusnya semua orang miskin dan kaya, tua dan muda, laki-laki dan perempuan seharusnya bisa memanfaatkan universitas guna menuntut ilmu sepuas-puasnya, dengan biaya minimal, kalau bisa gratis, kalau bisa tidak perlu menunggu lulus SMA dulu, kalau bisa tidak perlu lulus ujian masuk dulu, biar cuma satu mata kuliah, biar tanpa gelar. Aku mendukung anak-anak masuk universitas, kalau perjalanan mereka membawa ke sana. (Homeschooling juga bisa kuliah, lho. Sudah tahu?)
Aku cuma antipati dengan orang-orang yang masuk universitas bukan karena ingin belajar, tetapi semata-mata demi ijazah – dan ini termasuk aku juga. Di milis sekolahrumah beberapa waktu lalu, ada cerita seorang dosen yang mengeluhkan mayoritas dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia tidak mampu berpikir kritis, belajar malas-malasan, kuliah asal setor muka, yang mereka kejar hanya ijazah dan status sosial di negaranya karena dia punya ijazah master atau doktor dari luar negeri. Hal yang sama pernah aku dengar dari sumber-sumber yang patut dipercaya, alias tokoh-tokoh pelakunya sendiri. Yang membuat aku merinding… mahasiswa-mahasiswi tidak kritis ini aslinya adalah dosen-dosen terhormat di perguruan tinggi Ibu Pertiwi. Kalau dosen-dosen saja begitu lah terus gimana ya mahasiswa-mahasiswanya? Tau deh.
Sekarang aku sudah sampai di usia dewasa dan menemukan hal-hal yang sungguh-sungguh berguna dalam hidup aku bukan aku dapatkan dari pengajaran sekolah. Bahkan aku aman-aman saja, tidak ada kejadian buruk menimpa aku karena telah melupakan semua rumus matematika, fisika, kimia, peta buta, maupun semua pengetahuan hapalan lain. Nilai-nilai rapor aku tidak berpengaruh sedikit pun, baik buruknya tidak mempengaruhi kemampuan aku menghasilkan uang dan menjalani hidup.
Aku tidak perlu piagam penataran P4 untuk hal apa pun; sialan, seharusnya aku tidak usah ikut Ospek, kenapa aku begitu goblok membiarkan orang-orang yang tidak aku kenal mempermalukan aku demi selembar piagam tak berguna. Aku juga menyesal telah menanggalkan jilbab untuk foto STTB karena sekolah mengklaim ijazah aku tidak akan diterima di mana pun jika foto STTB berjilbab. Ini juga bohong. Sekolah mengajarkan memisahkan agama dengan kehidupan, dan ini kita tahu bertentangan dengan ajaran agama Islam yang kaffah. Di SMA aku dulu, yang favorit, dan banyak siswi yang berjilbab, ada kewajiban untuk berenang -berarti harus buka jilbab, dan buka aurat, karena belum ada baju renang menutup aurat- kalau mau mendapat nilai delapan untuk pelajaran olah raga. Kalau tidak mau berenang, olah raga dapat enam. Di sekolah yang anak-anaknya bersaing ketat, perbedaan dua angka itu signifikan bagi penentuan rangking. Aku berenang -kalau boleh aku tambahkan, juga teman-teman aku yang berjilbab-, alasan aku ini kan darurat, padahal sesungguhnya aku cuma takut rangking turun. Aku tidak ingat agama. Kasus lain, seorang teman berjilbab menolak menghormat bendera. Dia berkeyakinan, Islam melarang segala bentuk penyembahan berhala, baginya menghormat bendera juga menyembah berhala, lah bendera itu benda mati buat apa dihormat di tengah panas terik dua jam. Mendingan sholat dhuha di mesjid. Sekolah marah sekali, bisa dibayangkan. Anak itu dipanggil ke ruang guru, disetrap di lapangan, dimarahi, dimaki-maki, dituduh tidak patriotis, tidak menghargai perjuangan para pahlawan… sebagai penyiksaan mental untuk menekan dia menghormat bendera, untuk mengkhianati keyakinan agamanya. Tetapi, hebatnya, sampai lulus pun dia tidak pernah menghormat bendera. Aku tidak sekuat itu, ratusan anak lain di SMA itu juga tidak sekuat itu. Disuruh hormat bendera, ya hormat saja seperti kambing congek. Di sekolah murid-murid dicuci otak sampai botak bahwa dalam banyak hal, dan itu hal-hal yang penting, mereka tidak punya pilihan. Ini salah besar. Hidup di luar sekolah, dan di luar penjara, kita selalu punya pilihan. Sekolah tidak sama dengan dunia luar, sekolah = penjara.
Di koran-koran kita baca berita bahwa pengangguran terdidik di Indonesia jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Para penentu kebijakan mengeluh bahwa sekolah-sekolah tidak mempersiapkan anak-anak didiknya untuk bekerja di luar sana. Padahal yang menentukan kebijakan, kurikulum, peraturan, dan segala apa yang terjadi di sekolah ya mereka sendiri. Kenyataan: sekolah tidak sama dengan dunia luar. Bisa sukses di sekolah, tidak berarti pasti sukses di luar sekolah. Sekolah = persiapan dunia kerja, itu mitos. Sekolah = gaji besar dan sukses, itu mitos. Sekolah = pintar, itu mitos. Di sekolah lebih banyak anak-anak yang tidak pintar daripada yang pintar, lebih banyak yang tidak rangking daripada yang rangking. Di perguruan tinggi pun begitu juga. Yang pintar, sedikit. Kalau yang sok pintar, banyak!
Banyak-banyak bersekolah dan meraih gelar tinggi bagi aku tidak otomatis menghasilkan manusia dewasa yang pintar, matang, dan ideal. Aku takjub mengetahui ada dosen bergelar doktor yang berani menerbitkan buku cara mengasuh anak sambil mengibas-ngibaskan ijazahnya yang bidang kimia, mengaku berhasil mendidik anak dan ingin bagi-bagi ilmu, padahal anaknya masih balita. Bukunya jelek sekali, cuma orang-orang tidak berani bilang begitu karena dia doktor dan dosen. Aku agak sinis melihat seorang master ekonomi yang buang kaleng kosong ke jalan lewat jendela mobil. Sebal juga melihat dosen jurusan komputer membuang kulit makanan di emperan toko, sambil bersikeras meyakinkan aku bahwa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya adalah yang nomor satu di Indonesia, nggak tahu nomor satu dilihat dari mananya. Aku mual ketika melihat beberapa perempuan lulusan S1 komputer berkumpul dan berdiskusi panas tentang seorang anak durhaka yang dikutuk orang tuanya menjadi seekor ikan pari, yang kata mereka masuk koran daerah. Sinis kepada mahasiswa kedokteran yang percaya kepada dukun untuk menyembuhkan kanker, yang juga percaya detox dengan aliran listrik statis, tetapi kemudian kenyataannya tempat-tempat pengobatan detox itu ditutup oleh pihak berwajib karena penipuan. Aku pengen ketawa waktu rektor universitas swasta yang datang ke Jepang, berpidato dengan bahasa Inggris yang kacau balau di sesi tanya jawab padahal dia bicara di forum orang Indonesia lamaaa… sekali, tetapi tidak ada yang berani menghentikan karena dia rektor. Tentang orang-orang berilmu yang berani berkomentar di luar bidang ilmunya, tapi merasa tidak perlu, aku curiga sebenarnya tidak mampu, menjelaskan alasan pendapatnya kepada orang-orang lain yang disebutnya orang awam. Kepada para master dan doktor yang tidak mampu menjelaskan tema tesis dan disertasi masing-masing dengan singkat dan jelas dalam “satu kata saja”, aku ingin bilang,”Kalau Anda tidak bisa, berarti sebenarnya Anda tidak paham! Kok bisa jadi master/doktor sih?”
Ya bisa aja sih, lah aku dulu begitu juga, bisa lulus S1, di Jepang lagi. Aku tidak bangga.
Aku menyaksikan orang-orang sekitar aku, yang bergelar sarjana tetapi tidak mau belajar lagi setelah lulus kuliah. Sudah capek katanya. Sudah tua katanya. Tidak tepat. Yang betul minat belajar mereka sudah mati, dibunuh sekolah. Tentu saja belajar hal-hal yang disodorkan orang lain sangat tidak menarik, dibandingkan mengejar ilmu yang ingin kita ketahui sendiri, sekarang juga. Mengejar ilmu itu menyenangkan, menggairahkan, membangkitkan semangat hidup. Dikejar-kejar ilmu itu melelahkan, menurunkan potensi otak, mematikan semangat belajar. Untuk anak-anak, aku tidak mau minat belajar mereka mati. Aku ingin mereka menikmati pendidikan sejati yang lebih baik, yang membentuk mental baja, bukan keangkuhan palsu, bukan pura-pura tahu segalanya, bukan seperti orang-orang yang naik darah kalau dikritik salah lalu bertameng di balik CV atau “kata dosenku yang profesor anu” atau “aku kan orang laboratorium”. Aku pilih homeschooling.
Ah, tapi kan kamu dan suamimu sekarang menikmati hidup, sukses, bahagia karena sekolah juga? Aku bisa menjawab, iya sekarang. Sekarang kami masih terselamatkan zaman. Tetapi dua puluh tahun lagi zaman akan berubah yang sekarang pun sudah tampak tanda-tandanya, dua puluh tahun lagi anak-anak kami akan butuh kreativitas lebih banyak dari yang diperlukan kami sekarang, mereka harus lebih mandiri, berani, percaya diri, dan fleksibel pada perubahan, tidak semata bisa bergantung pada ijazah, seperti yang orang tuanya lakukan sekarang. Aku dan suami mengalami setelah usai masa kuliah, kami harus belajar lagi segala macam kemampuan yang seharusnya kami miliki secara alami tetapi sudah dirampas oleh sekolah.
Apa itu? Sekolah telah merampas dan tidak memberi kami waktu untuk mengembangkan kemampuan kami memanajemen waktu (semua-mua pakai bel dan koersi dari luar bukan dari dalam diri), berkomunikasi lisan secara logis dan menarik orang lain (disuruh duduk diam lipat tangan terus sih), menulis e-mail/artikel/laporan bisnis secara logis, tepat sasaran dan tujuan (tugas tertulis biasanya hanya diterima guru dan dinilai tanpa diketahui standar penilaiannya, hampir tidak pernah ada feed-back atau pun pengoreksian), belajar alat musik, aku piano dan suami gitar (dulu kami harus belajar mata pelajaran sekolah, tidak ada waktu untuk itu), kemampuan berpikir kritis (dulu kalau kebanyakan bertanya, dimaki-maki guru), sensitivitas terhadap penderitaan orang lain (dulu yang penting aku dapat nilai bagus, ranking satu, orang lain bodo amat), membuang doktrin-doktrin sekolah bahwa manusia tidak boleh salah, belajar bagaimana bergaul wajar dengan orang-orang yang berbeda – yang berbeda keyakinan, lebih kaya, atau lebih miskin-, belajar berani berbeda dengan orang-orang yang lebih superior, belajar mengemukakan pendapat, belajar untuk “tidak takut” karena bertahun-tahun sekolah mengendalikan aku dengan rasa takut, dan sebagainya. Semuanya itu lebih sulit dengan usia aku yang sudah tidak anak-anak lagi, kita semua tahu ada banyak hal yang lebih mudah dikuasai oleh anak-anak daripada orang dewasa, juga kini ada kewajiban-kewajiban riil lain yang menuntut waktu dan perhatian. Tetapi ya aku bahagia. Aku bisa belajar apa saja sesuai minat aku. Aku sedang memenuhi fitrah sebagai makhluk pembelajar sesuai panggilan jiwa aku dan perkembangan nalar aku sendiri, bukan demi nilai yang diberikan guru. Aku berjuang mewujudkan tujuan aku di dunia ini tanpa tekanan siapa pun. Aku bahagia. Aku bebas dari sekolah!
Tidak ada alasan bagi anak-anakku untuk menunggu sampai dewasa dulu baru menikmati kebahagiaan ini. Aku ingin anak-anak bebas dari sekolah sedini mungkin. Aku percaya homeschooling yang terbaik untuk mereka. Aku pilih homeschooling.###
mbak, aku link yah.
.-= irma´s last blog ..BEGADANG BOLEH SAJA, ASAL…. =-.
loh, kok ada link ke mp-ku? hehehe, gaptek.
.-= irma´s last blog ..BEGADANG BOLEH SAJA, ASAL…. =-.
Oooh.. yang disebut “trackback” dan “pingback” itu ya Mbak Irma? Saya juga nggak ngerti
Tapi sepertinya Multiply dan WordPress memang tidak kompatibel. Nggak tahu juga sih.
makasih banyak tulisannya mb, You speak my mind
memberi keberanian yang lebih buat pilih homeschooling…
Terima kasih Mbak Risah.
tulisannya menyuarakan sebagian besar isi hatiku, mbak
boleh dishare di facebook nggak?
Silakan Mbak Rien Chaerani.
Wow… Wow… Itu kan isi kepalaku banget!!! –cuman aku nggak bisa mencurahkannya–. Intinya: GUE BANGET!! Kuring Pisan!!!
Sebenarnya saya udah agak lama kenal blog ini, sejak add Andini-san di FB tepatnya. Tapi cuman dilirik sekilas, dan berkomentar di kepala doang “oh… homeschooling.”titik
Tapi begitu (iseng-iseng) dibaca…. Wuah…. ini serasa buku diary sendiri. Terutama artikel ini. Aku suka kalimat ini: “sialan, seharusnya aku tidak usah ikut Ospek, kenapa aku begitu goblok membiarkan orang-orang yang tidak aku kenal mempermalukan aku demi selembar piagam tak berguna.” Aku langsung tertawa terbahak-bahak (dalam hati).
Artikel ini serasa membuka lemari arsip di otaku dan mengeluarkan semua lembaran-lembaran suara hati nurani yang dibiarkan bertumpuk tindih-menindih dan tak tersentuh. Dan Andini-san berhasil menyusun kembali lembaran-lembaran tersebut dengan rapi dan terperinci. Hmm… sepertinya sang diplomat handal telah berhasil mengamalkan ilmunya. Banzaiiii!!!!!
Terima kasih untuk kata-katanya yang sangat menghibur, Ariehime さん。Terharu dan senang sekali membaca komentarnya (nggak tau udah dibaca entah kali ke berapa, sampai tak terhingga). Penggojlokan mahasiswa baru di Jepang tidak ada lho. Kenapa ya kok malah di sini dilestarikan sampai kayaknya sakral banget itu Ospek padahal jelas-jelas pembodohan yang tidak mendidik siapa-siapa? Saya pun menunggu reformasi pendidikan (sistem persekolahan) di Indonesia supaya tidak perlu repot-repot mencari alternatif pengganti sekolah.
Catatan: Keluarga saya tidak homeschooling karena suami tidak mengizinkan tetapi perubahan cara berpikir dan sudut pandang yang saya dapatkan dari sedikit riset saya terhadap homeschooling besar sekali manfaatnya dan ingin saya tularkan kepada yang lain.