Benar, orang tua musti mau terus belajar tentang cara terbaik mendidik anak-anaknya. Aku tahu, Anda juga tahu. Semua orang tahu. Tetapi kenyataannya susah menemukan orang tua yang mau belajar. Yang sering terdengar adalah curhatan ibu-ibu yang bilang, “Aku udah kasih tau, sudah ngomel-ngomel, sudah kasih hukuman, tetep anak aku bandel.”
Kalau cara dari yang lembut sampai keras itu udah ketahuan gak efektif, kenapa orang tua yang bersangkutan gak mau mengubah caranya ya? Udah tau pendekatannya salah, kok tetep ngotot. Mengapa, oh mengapa gitu lho. Kalo dimisalkan sekolah, pasti ortu udah dapet predikat murid bodoh, tinggal kelas terus, nggak naik-naik.
“Udah dari 20 tahun lalu Mama capek ngomel-ngomel nyuruh kamu beresin kamar sendiri, tetep gak dikerjain. Padahal cuma kamar sendiri, Mama bukannya nyuruh dia nyapu halaman rumah yang dua hektar itu. Diomelin gak mempan, dipukul gak nurut. Mau jadi apa kamu… Bla.. bla… bla…”
Dua puluh tahun bo… sekali pun gak terpikir bagi si Mama untuk belajar dan berubah.
Seberapa sering Anda bilang,”Kalo jalan pakai mata!” “Kalau ngomong pake otak!” Mam, Mam, sekali-kali put your money where your mouth is gitu lho. Pakai tuh mata dan otak. (Kalau orang tua boleh berkata kasar pada anak, tetapi kalau anak berani ngomong begini orang tua bisa kuwalat, ya? Orang tua melarang anak menyakiti teman, tapi kok sedikit-sedikit anaknya dipukulin ya? Memangnya kalau mukulin anak, orang tua nggak masuk neraka ya? Neraka itu cuma buat anak-anak ya?)
Tapi kenapa ya… gimanapun besarnya kesalahan orang tua dalam mendidik anak, anak secara naluri tetep punya kebutuhan untuk diakui dan dicintai orang tua. Gimana kita pukul dia, kita caci dia, kita hukum dia, kita tahan diri dari memberikan cinta kepadanya, semata-mata karena ketidakdewasaan kita sendiri sebagai orang tua, anak itu tetap datang ke arah kita, membentangkan lengannya menuntut pelukan, menangis, memohon-mohon pengampunan kita, padahal yang salah ya..kita. Kita berdalih bahwa kita memukul dia karena kita sayang. Padahal jujurnya sih kita memukul dia untuk melepaskan stress. Kalo sayang mah dipeluk atuh, bukan digamparin. (Eh kok kita, aku deh…)
Sementara anak-anak begitu luas hatinya dan pemurah dalam memberikan maaf kepada orang tua, dengan ringan sekali lidah kita mengatakan:
a. Kalau nakal kamu bukan anak Mama.
b. Kalau kamu tidak nurut kata Mama, minggat sana.
c. Kok kamu susah diatur sih? Kamu anak Mama, bukan?
d. All of the above.
Hanya karena air tumpah, gelas yang pecah, barang yang rusak, nilai jelek, orang tua bersemangat sekali untuk memutuskan hubungan dengan anaknya.
Siapa tuh yang dulu bilang kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan? Biar aku jitak. Kebalik, Pak, kebalik. Cuma terasa seperti itu karena Anda merasa berkorban begitu besar menjadi orang tua tetapi tidak mendapatkan kepatuhan mutlak 100 persen dari anak seperti yang Anda harapkan. Anda lupa sering main tangan untuk menyelesaikan konflik-konflik remeh dengan anak. Anda lupa ketika anak-anak bercerita tentang film biru dan tren dugem yang beredar di antara teman-temannya, Anda panik, histeris marah-marah pada anak seolah dia yang salah, bukannya memberikan dia bimbingan yang dia perlukan. Anda tidak berkaca bahwa dalam 20 sekian tahun, Anda berhasil membuat dia merasa tidak berharga, tidak diterima, dan tidak dimengerti. Eh, sekarang Anda bertanya-tanya mengapa dia tidak mau menelepon atau berkunjung sesering yang Anda inginkan? Kasih anak sepanjang galah…, kata Anda menghibur diri. Bodoh.
Sedangkan menurut aku, sebagai seorang ibu yang melahirkan dan mengasuh dua orang anak, aku berani bertaruh, cinta tulus anak-anak kepada aku jauh lebih besar daripada semua cinta yang sanggup aku berikan kepada mereka.
Mari belajar. ###
Thank you for the shout-out! I am glad that you enjoyed the post.
No problem. How nice of you to leave a comment even though I don’t blog in English.
Mba Andini..aku jadi terharu baca ini. Inget omelan-omelan ku sama si Kakak.
Duuhhh…mbak,jadi miris liat diri sendiri.Makasih sharingnya ya mbak,ni bener2 “ngejedotin” hatiku banget.Hope next time will be better.Makasih banget ya mbak.
Mbak,aku izin copy post nya yaaa…Makasih banyak sebelumnya.
Terima kasih Mbak Gita dan Mbak Novi, mau baca curhatan saya.
Makasih ya An, inspiratif dan benar2 mengingatkan… who am I…
Mother with two children that still need their Mom…
Tulisanmu benar2 bagus… (^_^), Terimakasih sekali ya An…
Aq benar2 ingin belajar banyak untuk menjadi yang terbaik untuk anak2ku walaupun aq tidak bisa mendampingi mereka setiap saat seperti dirimu… (Sampe nangis aq An… hehe)
Waduh… jangan sedih dong Micky. Yang penting kan anak-anak tercukupi kebutuhan lahir batinnya, merasa disayang dan dimengerti ayah ibu, begitu saja mereka sudah bahagia.
mbak, ijin sharing ya, menyentuh sekali
O ya, boleh saja Mbak Riris. Pasang segala macem button di blog ini maksudnya biar gampang di-share.
keren!!!
aku sering tuh diomongin, nanti udah gede anak juga lupa, punya keluarga sendiri…lha, kok ngarep balesan? katanya tulus ikhlas?
Wah terima kasih Mbak Wiet, jadi malu… Ini coretan lama yang dibuat waktu saya lagi capek ngedengerin omelan generasi ortu sebelum saya (wink wink).
Andini,
Membaca bagian ini “Kasih anak sepanjang galah…, kata Anda menghibur diri. Bodoh.”…なんとなく泣きたい. この胸がいたい
-novi el
Orangtua yang saat muda menjaga jarak dengan anak-anaknya supaya ditakuti (disegani, katanya), di masa tua, hidupnya sepi… Soalnya ketika anak-anak dewasa, mereka juga menjaga jarak dengan orangtua yang sudah sepuh. Konsekuensi?
Mbak Andini, bagus sekali untuk mengingatkan saya kalau sedang emosi, akan saya share. Thank you banget
Terima kasih Mbak Ratna. Boleh juga tuh Virtual School-nya di Second Life.
makasih ya…, jd inget kalo udah tantrum….