Suatu hari aku mendapat kesempatan melihat-lihat rapor seorang anak laki-laki kelas 2 SD.
Ia anak tunggal dan dimanja, sejak usia 2 tahun (kecil amat!) sudah disekolahkan orang tuanya, yang dari kalangan atas, di sekolah-sekolah swasta termahal di Indonesia. Menurut ayahnya, kelas anaknya sekarang, khusus untuk anak-anak unggulan dan pelajaran diberikan dalam dwibahasa.
Rapor anak itu berlembar-lembar, dari karton berwarna, diselipkan dalam folder plastik bening ukuran A4 yang tebal. Tidak seperti rapor sekolah biasa, tiap-tiap itemnya berupa narasi. Ada yang spesifik, misalnya, di bawah judul Agama Islam, ada item: mampu menghapalkan surat Al-Kautsar. Lebih banyak lagi yang panjang-panjang dan abstrak. Mohon maaf aku tidak ingat secara detil saking rumit dan panjangnya. Taruhan anak itu sendiri tidak mengerti apa isi rapornya, meskipun dibacakan.
Yang aku ingat adalah pertanyaan yang muncul di benakku: bagaimana seorang guru berani memberikan penilaian terhadap seorang anak tentang hal-hal abstrak ini dengan huruf A, B, C, dan memberikan laporan resmi tertulis tentang hal-hal yang sangat pribadi. Kalau aku jadi orang tua anak itu, aku merasa perlu menggugat si wali kelas, kok berani-beraninya bilang anakku begini dan begitu. Penilaian begini datang dari mana? Standarnya apa? Penilaian begini bukan urusan sekolah, bukan urusan siapa-siapa, hanya urusan anak ini dengan Tuhan.
Misalnya, jika item terkait ‘kejujuran’ anakku di kelas 2 SD dinilai gurunya dengan C, tentu aku akan protes, barangkali pendorong anakku berbuat tidak jujur ada di cara guru mengelola kelas, barangkali anakku imajinasinya sangat tinggi dan tidak sengaja berbohong, dan yang paling penting, aku pasti tidak ingin kesalahan masa kecil itu direkam di rapor seperti seorang kriminal, dan mempengaruhi prasangka guru-guru kelas selanjutnya terhadap dia.
Bilang saja aku terlalu banyak protes, bilang aku terlalu meributkan hal-hal kecil. Aku tidak suka main-main dengan kepercayaan diri dan harga diri anak-anak. Kalau ada pihak lain, yang merasa mereka punya wewenang memberikan cap seenaknya, dan mempermainkan harga diri anakku, aku pasti tidak akan terima.
Ayah anak itu kemudian menasehati aku,”Anakmu jangan homeschooling dulu. Kasihan dia masih kecil. Nggak bisa bersosialisasi. Nanti kalau dia sudah SMA, baru silakan homeschooling.”
Hmm…
Apa dia nggak lihat ya, rapor anaknya sendiri, aspek-aspek sosialisasinya rata dapat C semua?
Sekolah tidak membantu anaknya sama sekali di bidang sosialisasi (bahkan diakui sendiri oleh gurunya!), apa yang membuat dia berpikir sekolah akan membantu sosialisasi anakku? Lagipula sekolah bukan tempat yang bisa diandalkan untuk melatih anak bersosialisasi. Bukankah sebagian besar waktu di sekolah dipakai untuk duduk diam dan tidak boleh bicara? Bukankah anak-anak seharusnya belajar bersosialisasi dari orang dewasa, bukannya dari 40-an anak lain yang sebaya?
Aku tersenyum saja, tidak menjawab, dan ayah anak itu cukup santun untuk melanjutkan pembicaraan ke topik lain. ###