22. Meromantisir Sekolah

Kalau aku menjawab pertanyaan, dengan enggan dan sedikit be-te, bahwa anak aku tidak masuk TK mana pun, lawan bicaraku selalu bersemangat menceritakan kebaikan sekolah, seolah-olah aku tidak pernah bersekolah, dan sepertinya mereka lupa apa yang mereka alami sendiri di sekolah di masa kecilnya. Mereka meromantisir seolah-olah sekolah adalah “istana ajaib” yang menyulap otomatis murid-murid menjadi cerdas cendekia.

Coba putar ulang ingatan kalian masing-masing ke zaman-zaman nggak enak itu. Apa yang dilakukan murid di dalam kelas?

Sebagian besar porsi waktu sekolah dipakai untuk duduk diam, lipat tangan yang manis, dan dengarkan penjelasan guru. Ada beberapa guru yang lucu, ada beberapa guru yang antusias, ada sementara guru yang kreatif, tetapi sebagian besar guru membosankan. Hari-hari yang dilalui murid di ruang kelas terasa sangat panjang dipenuhi kegiatan aritmatika menghitung mundur menit-menit sebelum pelajaran usai. Murid diwajibkan percaya kepada otoritas (guru, buku cetak), serta tidak boleh ada keraguan di dalamnya. Kalau bingung, murid boleh bertanya satu dua kali, tetapi kalau sudah dijawab guru dan masih bingung juga, harap tutup mulut karena mengganggu jalannya pelajaran. Kalau tidak mau tutup mulut, tahu sendiri akibatnya (Apa ya akibatnya? Dapat 5? Disetrap? Nggak naik kelas? Takut…).

Murid wajib percaya pada guru, atau pura-pura percaya, dan akan dites kesetiaannya pada otoritas guru melalui ujian tertulis. Murid tidak pernah diwajibkan melakukan pengamatan, dan kalaupun judulnya ‘observasi ilmiah’ dapat dipastikan hasilnya sudah tertentu sehingga sangat membantu kalau bisa pinjam hasil percobaan tahun-tahun lalu dari kakak kelas. Murid dilarang keras memformulasikan definisi dengan pikiran dan kata-katanya sendiri, pokoknya harus hapal di luar kepala sampai ke titik dan komanya; lalu setelah ujian baru deh boleh lupa (merdeka!). Murid yang pandai adalah murid yang paling banyak ingat, banyak menghapal, dan paling gampang diatur. Pertanyaan dari guru maupun ujian dijawab oleh murid dengan sebelumnya melalui proses ‘tebaklah apa yang ibu guru pikirkan’. (Paranormal, ‘kali!)

Kesimpulan:
di sekolah murid DILARANG BERPIKIR MANDIRI dan ORIJINAL, bahkan tidak ada kegiatan intelektual selain MENGULANGI apa yang telah diklaim orang lain sebagai kebenaran.

Aku tidak sedang menyuruh siapa pun untuk pilih homeschooling seperti keluarga kami. Tetapi kalau pun pilih sekolah, jangan lepas tangan, apalagi ongkang-ongkang kaki saja setelah memasukkan anak ke sekolah. Sadarlah! Waspadalah! Jadilah takut! Jadilah sangat takut! ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>