Sejak kelahiran Nao, alhamdulillah, kami kedatangan banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat. Pada kesempatan yang penuh syukur itu, aku selalu merasa aneh setiap mendengar saran: “Sudah ya, punya anaknya distop saja. Sudah tiga, sudah banyak. Repot.”
Aduh, coba lihat dong wajah Nao yang baru lahir. Kalau jadinya lucu seperti ini, punya satu dua lagi aku tidak akan merasa rugi. Meskipun aku dan suami pasti tidak akan memenangkan Best Couple of The Year (sedang perang dingin berkepanjangan), kombinasi DNA kami membuat anak-anak yang cakep-cakep.
Tambahan, coba bayangkan jaminan suplai cinta dunia akhirat selama-lamanya untuk kami sebagai orang tua dari anak-anak yang hal ini sudah dapat dipastikan, otomatis hanya dengan kelahiran mereka melalui rahimku. Anak-anak akan selalu mencintai kami, memaafkan kami, melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kami, mendoakan kami setelah kami meninggal, di akhirat menebus kami dari api neraka, dan mengajak kami bersama-sama masuk surga. Insyaa Allah punya anak lebih banyak, lebih baik.
“Punya anak = repot” cuma sebuah kondisi pikiran. Pikiran yang menyakiti diri sendiri. Aku tidak bilang itu pikiran yang salah, bisa salah bisa benar tergantung yang bersangkutan. Kalau dia merasa repot, ya betul juga jadi repot, dan mungkin jadi kapok punya anak, bahkan menyarankan orang lain jangan punya anak banyak-banyak. Kalau merasa tidak repot, ya biar pekerjaan rumah jadi bertambah, dia tetap merasa lebih berbahagia dengan anak lebih dari satu. Hukum daya tarik. Law of attraction.
Ada orang menyarankan stop punya anak sedangkan kalau ada yang tanya aku, aku akan bilang senang sekali lho punya anak banyak. Kondisiku dan orang itu berbeda. Aku ibu rumah tangga tanpa kegiatan cari makan di luar, dan mereka wanita karir yang rata-rata gajinya malah lebih besar dari suami masing-masing. Punya anak lagi bagi mereka berarti harus menambah jumlah pembantu/nanny di rumah, kemudian bertambahlah pengeluaran untuk menggaji pembantu, susu formula, dan popok kertas, serta biaya pendidikan formal yang semakin mahal sebab sebagai wanita karir yang sibuk di luar mereka tidak terpikir untuk meng-homeschooling-kan anak-anak. Aiyaa… pusing!
Mungkin juga itu karena generasiku termasuk generasi yang besar dengan menonton film boneka si Unyil. Aku ingat betapa nggak enaknya jadi si Usro yang adik-adiknya banyak membuat dia harus selalu menjaga mereka dan tidak bisa bermain bersama teman-teman. Makanya, sukseskan program KB dong!
“Ya ya ya…” Ingat kan iklan layanan masyarakat itu? Kalau tidak pernah mempertanyakan, ya akhirnya orang terima saja pendapat yang sudah diindoktrinisasi seperti itu, punya anak banyak repot. Padahal kalau dipikir, kenapa juga kok adik-adik si Usro nggak bisa diajak bermain bersama. Mungkin karena budaya sekolah yang begitu kuat bahwa bermain itu harus eksklusif dengan teman sebaya saja membuat aku tidak mempertanyakannya.
Kenyataannya wanita karir lebih punya prestise yang lebih besar di mata masyarakat daripada para ibu tradisional ketinggalan zaman yang di rumah saja. Bahkan menurut kenalan-kenalanku yang gajinya besar-besar itu sih, mertua mereka tidak berani macam-macam mengusik kenyamanan mereka dibandingkan kalau mereka jadi ibu rumah tangga saja.
Kebanggaan diri telah menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi ekonomi dan pembangunan nasional tersebut membuat mereka heran mengapa aku tidak mengoptimalkan potensiku mencari nafkah. Kan aku punya ijazah S1 dari luar negeri, bisa bahasa Jepang, kalau kerja rupiahnya pasti gede, lumayan buat berbelanja keperluan sendiri, bisa mandiri, daripada menunggu suami membelikan baju.
Sejak aku kecil pun ibuku mewanti-wanti aku agar jangan jadi seperti dia. Ibuku dulu pernah merintis karir sebagai perawat yang kemudian terputus karena dia memilih menikah dengan ayahku, jenis pria yang orang Jepang bilang ‘teishu kanpaku‘ (male chauvinist: pria yang bersikeras istri harus di rumah saja tidak boleh bekerja, melayani keperluan keluarga saja).
Kata ibuku, “Coba dulu Mama terus jadi perawat, sekarang pasti sudah jadi kepala perawat seperti teman Mama si A, hidupnya enak, gajinya besar.”
Bahkan saat kenalan-kenalanku yang bekerja datang ke rumah suamiku, ibu masih senang berkata,”Memang beda ya kalau wanita bekerja dengan yang di rumah saja. Yang biasa bicara di luar dengan orang banyak lebih percaya diri, lebih keren kelihatannya.”
Ya ampun, Ma, you speak for yourself. I’m contented and confident being me.
Begitulah sekedar ilustrasi bahwa aku besar dengan dibuat merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga itu pilihan terpaksa, pilihan wanita kelas dua, siapa pun juga bisa jadi ibu rumah tangga saja. Oh, feminis sekali, sangat bersifat ‘pembebasan wanita’ kan? Aku ingat pernah mengirimkan surat elektronik kepada seorang kawan, isinya: jangan sampai deh aku jadi ibu rumah tangga saja, nanti aku jadi tua, aku kaget karena hidupku sudah kuhabiskan untuk membesarkan anak-anak saja.
Aku juga ingat bapak dosen Sejarah Politik Cina mengatakan: jangan sampai ada yang mau jadi ibu rumah tangga saja tanpa berkarir, dan saat itu aku mengamininya. Aku sudah lupa sama sekali materi kuliahnya tentang Cina tetapi aku ingat wejangan dosen yang tidak penting itu.
Yang mengubah pandangan aku untuk berganti haluan menjadi: sebisa mungkin aku ingin jadi ibu rumah tangga saja, adalah kelahiran Kanae lima tahun lalu. Waktu aku tahu aku hamil, enam bulan setelah pernikahan, aku shock. Aku pikir: kecelakaan nih. Sekarang aku jadi nggak bisa cari kerja deh, mana ada yang mau menerima aku yang sedang hamil, baru kerja sebentar lalu harus cuti hamil.
Tetapi begitu Kanae lahir… Wah dia begitu cantik. Aku jatuh cinta. Aku tidak mau lagi meninggalkan dia untuk bekerja di luar. Waktu bersama anakku untuk tumbuh bersama-sama terasa lebih berharga daripada uang tidak seberapa yang mampu aku hasilkan. Waktu itu, kalaupun aku pilih bekerja paruh waktu siaran di radio, aku cuma mau masuk kerja saat suamiku bisa menjaga Kanae yang masih bayi. Aku mengatur pekerjaan di sekeliling prioritas mengurus anak, bukan pekerjaan yang mengaturkan waktuku untuk anak. Aku merasa bebas mandiri dan belum pernah sebahagia itu.
Memiliki Kanae juga memperluas pergaulanku dengan ibu-ibu Jepang di perpustakaan, jidoukan (gedung arena bermain yang dikelola pemerintah), posyandu, dan tempat-tempat lain berkumpulnya ibu-ibu yang punya anak. Aku lihat mereka menikmati hidup dan peran sebagai ibu rumah tangga saja. Dibilang ibu rumah tangga pun mereka tidak ngendon di rumah saja setiap hari. Mereka ikut perkumpulan hobi, kursus-kursus, berjualan di flea market dan Yahoo! Auction, ikut kegiatan untuk ortu yang diadakan pemerintah, ikut kegiatan relawan di mana-mana, kegiatan PTA (Parent-Teacher Association). Benar-benar padat dan menyenangkan. Kebanyakan ibu-ibu Jepang itu lulusan universitas, pernah bekerja beberapa tahun, lalu pilih berhenti kerja setelah menikah daripada terus jadi OL (office lady, wanita kantoran) yang kalau diteruskan pun ujungnya tidak tahu mau menjadi apa. Sementara kewajiban di rumah sudah nyata.
Kenalanku ada yang cerita dia pernah ambil cuti setahun dari pekerjaannya untuk melahirkan dan mengurus bayi. Hasilnya dia stres. Katanya bingung, tidak punya kesibukan.
Aku jadi pengen menyela, mengurus bayi apa bukan kesibukan ya, tetapi tidak jadi, takut dijitak. Mungkin juga sih dia serahkan kesibukan itu pada pengasuh anaknya yang berseragam merah muda seperti suster itu. Mungkin ya, kalau seumur-umur diperintah-perintah oleh orang, baik itu ortu, guru sekolah maupun atasan, ketika dia jadi orang bebas malah jenuh dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dengan waktunya. Dia bingung tidak ada lagi yang memuji-muji prestasinya. Sebaliknya aku benci sekali disuruh-suruh orang. Selama suamiku bertanggung jawab dan memberi uang belanja, aku lebih pilih di rumah.
Kata sang “kenalan”, kok mau jadi ibu rumah tangga saja, tidak ada kebebasan, terkekang oleh tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting, yang bisa didelegasikan pada pembantu.
Tersenyum saja aku. Mau mengemukakan pikiran jujur secara lisan, tidak berani. Untung ya punya blog. Bisa nulis-nulis semaunya.
Duh, Kenalan, aneh sekali dirimu. Memenuhi kebutuhan anak-anakmu kau bilang terkekang, sedangkan memenuhi kebutuhan klien dan bosmu kau bilang kebebasan.
Apakah sama rasa disayangnya, anak yang dimandikan Mama, dengan dimandikan pembantu? Disuapi Mama, dengan disuapi si Bibik, apakah sama? Tidak betul kalau kita selalu menilai suatu pekerjaan dengan uang.
Meskipun suamiku digaji besar untuk melakukan pekerjaannya di kantor, tidak berarti pekerjaan suamiku lebih penting daripada pekerjaanku mengurus anak-anak di rumah. Suami membawa pulang gaji yang diperoleh dari kerja dia di kantor dan kerjaku di rumah. Rezeki yang suamiku terima itu merupakan rezeki aku dan anak-anak juga. Kalau suami tidak memberikan bagian rezeki yang merupakan milikku dengan alasan aku tidak berkontribusi, berarti suamiku perlu diguncang keras-keras biar sadar. Alhamdulillah, suamiku tidak begitu.
Pokoknya, ya, kesimpulannya, bagi keluargaku, ya aku di rumah saja yang terbaik, dan aku ingin punya banyak anak. Bagi keluarga orang lain, ya pilihan bekerja yang terbaik, dan mungkin memang lebih baik anak mereka cuma seorang dua orang.
Siapa yang paling tepat? Tidak ada yang salah kok, dan tidak ada satu-satunya pilihan yang paling benar. Perbedaan adalah rahmat, ya toh? Tidak perlu mengasihani pilihan hidup orang lain, bukankah tiap kita ada sikon sendiri-sendiri. Aku tidak terperangkap menjadi ibu rumah tangga, aku rasa kenalan-kenalanku yang keren-keren itu juga sukarela dan tidak terpaksa untuk banting tulang di luar rumah.
Seperti aku berbahagia dengan pilihanku, aku harap mereka juga demikian adanya. ###










