26. Soal Kerja dan ‘Di Rumah Saja’

Sejak kelahiran Nao, alhamdulillah, kami kedatangan banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat. Pada kesempatan yang penuh syukur itu, aku selalu merasa aneh setiap mendengar saran: “Sudah ya, punya anaknya distop saja. Sudah tiga, sudah banyak. Repot.”

Aduh, coba lihat dong wajah Nao yang baru lahir. Kalau jadinya lucu seperti ini, punya satu dua lagi aku tidak akan merasa rugi. Meskipun aku dan suami pasti tidak akan memenangkan Best Couple of The Year (sedang perang dingin berkepanjangan), kombinasi DNA kami membuat anak-anak yang cakep-cakep.

Tambahan, coba bayangkan jaminan suplai cinta dunia akhirat selama-lamanya untuk kami sebagai orang tua dari anak-anak yang hal ini sudah dapat dipastikan, otomatis hanya dengan kelahiran mereka melalui rahimku. Anak-anak akan selalu mencintai kami, memaafkan kami, melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kami, mendoakan kami setelah kami meninggal, di akhirat menebus kami dari api neraka, dan mengajak kami bersama-sama masuk surga. Insyaa Allah punya anak lebih banyak, lebih baik.

“Punya anak = repot” cuma sebuah kondisi pikiran. Pikiran yang menyakiti diri sendiri. Aku tidak bilang itu pikiran yang salah, bisa salah bisa benar tergantung yang bersangkutan. Kalau dia merasa repot, ya betul juga jadi repot, dan mungkin jadi kapok punya anak, bahkan menyarankan orang lain jangan punya anak banyak-banyak. Kalau merasa tidak repot, ya biar pekerjaan rumah jadi bertambah, dia tetap merasa lebih berbahagia dengan anak lebih dari satu. Hukum daya tarik. Law of attraction.

Ada orang menyarankan stop punya anak sedangkan kalau ada yang tanya aku, aku akan bilang senang sekali lho punya anak banyak. Kondisiku dan orang itu berbeda. Aku ibu rumah tangga tanpa kegiatan cari makan di luar, dan mereka wanita karir yang rata-rata gajinya malah lebih besar dari suami masing-masing. Punya anak lagi bagi mereka berarti harus menambah jumlah pembantu/nanny di rumah, kemudian bertambahlah pengeluaran untuk menggaji pembantu, susu formula, dan popok kertas, serta biaya pendidikan formal yang semakin mahal sebab sebagai wanita karir yang sibuk di luar mereka tidak terpikir untuk meng-homeschooling-kan anak-anak. Aiyaa… pusing!

Mungkin juga itu karena generasiku termasuk generasi yang besar dengan menonton film boneka si Unyil. Aku ingat betapa nggak enaknya jadi si Usro yang adik-adiknya banyak membuat dia harus selalu menjaga mereka dan tidak bisa bermain bersama teman-teman. Makanya, sukseskan program KB dong!

“Ya ya ya…” Ingat kan iklan layanan masyarakat itu? Kalau tidak pernah mempertanyakan, ya akhirnya orang terima saja pendapat yang sudah diindoktrinisasi seperti itu, punya anak banyak repot. Padahal kalau dipikir, kenapa juga kok adik-adik si Usro nggak bisa diajak bermain bersama. Mungkin karena budaya sekolah yang begitu kuat bahwa bermain itu harus eksklusif dengan teman sebaya saja membuat aku tidak mempertanyakannya.

Kenyataannya wanita karir lebih punya prestise yang lebih besar di mata masyarakat daripada para ibu tradisional ketinggalan zaman yang di rumah saja. Bahkan menurut kenalan-kenalanku yang gajinya besar-besar itu sih, mertua mereka tidak berani macam-macam mengusik kenyamanan mereka dibandingkan kalau mereka jadi ibu rumah tangga saja.

Kebanggaan diri telah menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi ekonomi dan pembangunan nasional tersebut membuat  mereka heran mengapa aku tidak mengoptimalkan potensiku mencari nafkah. Kan aku punya ijazah S1 dari luar negeri, bisa bahasa Jepang, kalau kerja rupiahnya pasti gede, lumayan buat berbelanja keperluan sendiri, bisa mandiri, daripada menunggu suami membelikan baju.

Sejak aku kecil pun ibuku mewanti-wanti aku agar jangan jadi seperti dia. Ibuku dulu pernah merintis karir sebagai perawat yang kemudian terputus karena dia memilih menikah dengan ayahku, jenis pria yang orang Jepang bilang ‘teishu kanpaku‘ (male chauvinist: pria yang bersikeras istri harus di rumah saja tidak boleh bekerja, melayani keperluan keluarga saja).

Kata ibuku, “Coba dulu Mama terus jadi perawat, sekarang pasti sudah jadi kepala perawat seperti teman Mama si A, hidupnya enak, gajinya besar.”

Bahkan saat kenalan-kenalanku yang bekerja datang ke rumah suamiku, ibu masih senang berkata,”Memang beda ya kalau wanita bekerja dengan yang di rumah saja. Yang biasa bicara di luar dengan orang banyak lebih percaya diri, lebih keren kelihatannya.”

Ya ampun, Ma, you speak for yourself. I’m contented and confident being me.

Begitulah sekedar ilustrasi bahwa aku besar dengan dibuat merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga itu pilihan terpaksa, pilihan wanita kelas dua, siapa pun juga bisa jadi ibu rumah tangga saja. Oh, feminis sekali, sangat bersifat ‘pembebasan wanita’ kan? Aku ingat pernah mengirimkan surat elektronik kepada seorang kawan, isinya: jangan sampai deh aku jadi ibu rumah tangga saja, nanti aku jadi tua, aku kaget karena hidupku sudah kuhabiskan untuk membesarkan anak-anak saja.

Aku juga ingat bapak dosen Sejarah Politik Cina mengatakan: jangan sampai ada yang mau jadi ibu rumah tangga saja tanpa berkarir, dan saat itu aku mengamininya. Aku sudah lupa sama sekali materi kuliahnya tentang Cina tetapi aku ingat wejangan dosen yang tidak penting itu.

Yang mengubah pandangan aku untuk berganti haluan menjadi: sebisa mungkin aku ingin jadi ibu rumah tangga saja, adalah kelahiran Kanae lima tahun lalu. Waktu aku tahu aku hamil, enam bulan setelah pernikahan, aku shock. Aku pikir: kecelakaan nih. Sekarang aku jadi nggak bisa cari kerja deh, mana ada yang mau menerima aku yang sedang hamil, baru kerja sebentar lalu harus cuti hamil.

Tetapi begitu Kanae lahir… Wah dia begitu cantik. Aku jatuh cinta. Aku tidak mau lagi meninggalkan dia untuk bekerja di luar. Waktu bersama anakku untuk tumbuh bersama-sama terasa lebih berharga daripada uang tidak seberapa yang mampu aku hasilkan. Waktu itu, kalaupun aku pilih bekerja paruh waktu siaran di radio, aku cuma mau masuk kerja saat suamiku bisa menjaga Kanae yang masih bayi. Aku mengatur pekerjaan di sekeliling prioritas mengurus anak, bukan pekerjaan yang mengaturkan waktuku untuk anak. Aku merasa bebas mandiri dan belum pernah sebahagia itu.

Memiliki Kanae juga memperluas pergaulanku dengan ibu-ibu Jepang di perpustakaan, jidoukan (gedung arena bermain yang dikelola pemerintah), posyandu, dan tempat-tempat lain berkumpulnya ibu-ibu yang punya anak. Aku lihat mereka menikmati hidup dan peran sebagai ibu rumah tangga saja. Dibilang ibu rumah tangga pun mereka tidak ngendon di rumah saja setiap hari. Mereka ikut perkumpulan hobi, kursus-kursus, berjualan di flea market dan Yahoo! Auction, ikut kegiatan untuk ortu yang diadakan pemerintah, ikut kegiatan relawan di mana-mana, kegiatan PTA (Parent-Teacher Association). Benar-benar padat dan menyenangkan. Kebanyakan ibu-ibu Jepang itu lulusan universitas, pernah bekerja beberapa tahun, lalu pilih berhenti kerja setelah menikah daripada terus jadi OL (office lady, wanita kantoran) yang kalau diteruskan pun ujungnya tidak tahu mau menjadi apa. Sementara kewajiban di rumah sudah nyata.

Kenalanku ada yang cerita dia pernah ambil cuti setahun dari pekerjaannya untuk melahirkan dan mengurus bayi. Hasilnya dia stres. Katanya bingung, tidak punya kesibukan.

Aku jadi pengen menyela, mengurus bayi apa bukan kesibukan ya, tetapi tidak jadi, takut dijitak. Mungkin juga sih dia serahkan kesibukan itu pada pengasuh anaknya yang berseragam merah muda seperti suster itu. Mungkin ya, kalau seumur-umur diperintah-perintah oleh orang, baik itu ortu, guru sekolah maupun atasan, ketika dia jadi orang bebas malah jenuh dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dengan waktunya. Dia bingung tidak ada lagi yang memuji-muji prestasinya. Sebaliknya aku benci sekali disuruh-suruh orang. Selama suamiku bertanggung jawab dan memberi uang belanja, aku lebih pilih di rumah.

Kata sang “kenalan”, kok mau jadi ibu rumah tangga saja, tidak ada kebebasan, terkekang oleh tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting, yang bisa didelegasikan pada pembantu.

Tersenyum saja aku. Mau mengemukakan pikiran jujur secara lisan, tidak berani. Untung ya punya blog. Bisa nulis-nulis semaunya.

Duh, Kenalan, aneh sekali dirimu. Memenuhi kebutuhan anak-anakmu kau bilang terkekang, sedangkan memenuhi kebutuhan klien dan bosmu kau bilang kebebasan.

Apakah sama rasa disayangnya, anak yang dimandikan Mama, dengan dimandikan pembantu? Disuapi Mama, dengan disuapi si Bibik, apakah sama? Tidak betul kalau kita selalu menilai suatu pekerjaan dengan uang.

Meskipun suamiku digaji besar untuk melakukan pekerjaannya di kantor, tidak berarti pekerjaan suamiku lebih penting daripada pekerjaanku mengurus anak-anak di rumah. Suami membawa pulang gaji yang diperoleh dari kerja dia di kantor dan kerjaku di rumah. Rezeki yang suamiku terima itu merupakan rezeki aku dan anak-anak juga. Kalau suami tidak memberikan bagian rezeki yang merupakan milikku dengan alasan aku tidak berkontribusi, berarti suamiku perlu diguncang keras-keras biar sadar. Alhamdulillah, suamiku tidak begitu.

Pokoknya, ya, kesimpulannya, bagi keluargaku, ya aku di rumah saja yang terbaik, dan aku ingin punya banyak anak. Bagi keluarga orang lain, ya pilihan bekerja yang terbaik, dan mungkin memang lebih baik anak mereka cuma seorang dua orang.

Siapa yang paling tepat? Tidak ada yang salah kok, dan tidak ada satu-satunya pilihan yang paling benar. Perbedaan adalah rahmat, ya toh? Tidak perlu mengasihani pilihan hidup orang lain, bukankah tiap kita ada sikon sendiri-sendiri. Aku tidak terperangkap menjadi ibu rumah tangga, aku rasa kenalan-kenalanku yang keren-keren itu juga sukarela dan tidak terpaksa untuk banting tulang di luar rumah.

Seperti aku berbahagia dengan pilihanku, aku harap mereka juga demikian adanya. ###

25. Mengapa Belajar?

Kutemukan  sebuah gambar comic strip dengan situasi seorang ayah menemani seorang anak laki-laki belajar di meja belajar. Di bawah gambar itu ada teks:

“Dengan pendidikan yang baik, Nak, kamu bisa tumbuh besar menjadi apa saja… YANG AYAH INGINKAN.”

Sedihnya, cerita tentang orang tua yang begitu haus akan decak kagum dari orang lain yang melihat anaknya menjadi dokter atau apa sajalah yang dianggap orang tua hebat dan membanggakan itu sudah biasa. Aku juga kenal orang tua yang dulu cita-citanya ingin jadi dokter tidak kesampaian, lalu sekarang dia paksa salah satu anaknya jadi dokter. Anaknya sendiri sebenarnya berkeinginan jadi apa? Orang tua itu pura-pura bertanya pada anaknya, “Nak, kamu mau jadi apa?”  Tetapi ternyata jawabannya tidak sesuai dengan keinginan orang tua (jawab si anak: programmer komputer), sehingga ya anak itu harus ‘diarahkan’ dan ‘diberi pengertian’.

Dengan dalih “ayah dan ibu hanya menginginkan kebahagiaanmu”  dan “anak itu berdosa kalau tidak menurut orang tua”,  orang tuanya membuat anak  malang itu merasa bersalah dan sudah gagal dalam hidup kalau dia  tidak mau masuk Fakultas Kedokteran.

Kata-kata,”"Dengan pendidikan yang baik, Nak, kamu bisa tumbuh besar menjadi apa saja YANG AYAH INGINKAN” bukan lelucon melainkan kenyataan yang tak terucapkan. Apakah anak itu bahagia menjalani profesi yang keren tetapi bukan hasil panggilan jiwanya? Ya memang tidak sih, tetapi memangnya dia berani menuntut? Sudah dibayari kuliah dokter mahal-mahal gitu loh. Lagipula saat itu orang tuanya juga sudah masuk kubur. Akhirnya tidak ada di antara mereka yang mengambil pelajaran. Ya, biar aku sajalah dan mudah-mudahan juga pembaca tulisan ini. ###

24. Tokoh Terkenal yang Homeschooling

Di masa lalu sekolah belum dianggap orang sebagai satu-satunya opsi pendidikan untuk anak-anak. Di masa lalu sekolah tidak wajib, orang tua masih sadar sepenuhnya bahwa bersekolah adalah pilihan, bukan kewajiban. Orang tua masa lalu masih sadar bahwa belajar tidak harus di sekolah karena mereka masih sadar dunia di luar tembok sekolah tidak selebar daun kelor.

Zaman sekarang homeschooling dianggap sebagai pendidikan alternatif yang tidak efektif, kurang sosialisasi, dan sebagainya. Apakah betul tanpa sekolah, anak-anak tidak mungkin sukses? Sejarah membuktikan bahwa tanpa memilih sekolah pun, jika orang tua memfokuskan memfasilitasi pendidikan pada kelebihan anak-anaknya, sukses tidak akan berada jauh dari anak-anak yang mempunyai hambatan belajar dan juga dari mereka yang tidak cocok dengan pengkondisian di sekolah.

Penulis:

Agatha Christie (1890-1976, penulis novel detektif terlaris sepanjang masa dari Inggris, menciptakan tokoh Hercule Poirot dan Miss Marple). Waktu kecil dia sangat pemalu sehingga ibunya memutuskan mendidiknya sendiri di rumah meskipun kedua saudara kandungnya disekolahkan di sekolah swasta. Keputusan ibunya tersebut terbukti tepat karena anak pemalu itu tumbuh menjadi penulis yang terkenal melewati masa hidupnya.

Pearl S. Buck (1892-1973, penulis Amerika, penulis The Good Earth (1931), penerima Nobel sastra 1938). Sejak usia tiga bulan, anak perempuan ini dibawa keluarganya ke Cina, tempat dia menjalani pendidikan homeschool, diajari ibunya dan seorang guru penganut Kong Hu Chu. Homeschooling terbukti berhasil membawanya menjadi penulis terkenal yang memenangkan Pulitzer.

Laura Ingalls Wilder (1867-1957, penulis bacaan anak dan guru dari Amerika, serial Little House on the Prairie). Ia tidak bersekolah sampai keluarganya menetap di Daerah Teritori Dakota. Ia sendiri menjadi guru sekolah ketika usianya baru 15 tahun. Buku-bukunya yang menceritakan kehidupan sehari-hari keluarga pionir di masa itu sangat terkenal hingga saat ini, membuktikan kesuksesan pendidikannya ber-homeschooling.

Louisa May Alcott (1832-88, penulis Amerika, karyanya: Little Women). Ia belajar dari ayahnya, Amos Bronson Alcott yang terkenal sebagai tokoh pendidikan, tokoh revolusi sosial, dan tokoh absolutisme. Louisa juga belajar dari tokoh-tokoh terkenal yang merupakan teman keluarganya, seperti Nathanial Hawthorne, Ralf Waldo Emerson dan Henry David Thoreau.

Penemu:

Alexander Graham Bell (1847-1922, penemu dan pendidik dari Amerika kelahiran Skotlandia, penemu telepon (1876) ). Ibunya mendedikasikan hidupnya untuk mendidiknya tanpa sekolah sampai sang ibu kehilangan pendengaran. Ibunya mengilhami dia untuk meneliti bunyi dan suara.

Thomas Alva Edison (1847-1931, penemu bola lampu dari Amerika). Dianggap bodoh dan selalu melamun oleh guru sekolahnya sehingga ibunya menarik dia keluar setelah hanya tiga bulan. Pada masa kini Edison mungkin didiagnosis mengidap ADD (Attention Deficit Disorder). Ibu Edison bukan jenius dan bisa dibayangkan bahwa sebentar saja kecerdasannya telah terlampaui oleh anaknya. Namun kelebihan homeschooling adalah keluwesannya sehingga Edison tumbuh menjadi penemu besar.

Fotografer:

Ansel Easton Adams (1902-84, Amerika, pionir dalam penelitian teknologi dan teori), di-homeschool-kan oleh ayahnya setelah usia 12 tahun karena dia tidak bisa diam dan menghina gurunya. Didikan ayahnya tidak sia-sia karena ia menjadi fotografer berbakat dan terkenal.

Penyair:

Robert Lee Frost (1874-1963, penulis puisi Amerika, karyanya A Boy’s Will (1913), North of Boston (1914), New Hampshire (1923) ). Ia begitu benci pada sekolah sampai-sampai selalu sakit kalau harus pergi ke sekolah. Untung dia homeschooling, tidak dipaksa sekolah. Kalau sekolah terus, mungkin dia jadi ‘biasa-biasa saja’, tertekan jiwanya, dan dunia tidak bisa menikmati puisi-puisinya.

Presiden:

Woodrow Wilson (1856-1924, presiden ke-28 AS (1913-21), pelopor berdirinya PBB, penerima Nobel perdamaian 1919). Diajar sendiri oleh ayahnya. Dia tidak bisa membaca sampai usia 12! Namun ketika dewasa ia meneruskan pendidikannya di Universitas Princeton, dan selanjutnya menjadi politisi.

Komposer:

Wolfgang Amadeus Mozart (1756-91, komposer Austria, penulis lebih dari 40 simfoni, hampir 30 konserto piano, lebih dari 20 string kwartet, dan 16 opera, termasuk opera Perkawinan Figaro (1786), Don Giovanni (1787), Cosi fan tutte (1790), The Magic Flute (1791). Bayangkan kalau Mozart masuk sekolah, dunia akan kehilangan begitu banyak karya-karya musik brilian yang ditulisnya semasa kecil.

Masih banyak lagi tokoh terkenal yang berhasil karena homeschooling. Silakan cari di Google dengan kata kunci “famous homeschoolers” pasti ketemu banyak sekali.  ###

23. Mengapa Harus Homeschooling?

Pertanyaan:

Sekolah itu sejelek-jelek apa pun, bagaimana pun tetap wajib.

Nanti setelah jam sekolah, orang tua boleh saja melengkapi pelajarannya dengan kegiatan membaca buku ensiklopedia bersama, bercakap-cakap bahasa Inggris, field trip ke museum, kursus berenang, bermain alat musik, dan sebagainya.

Kan bisa saja toh semua itu dilakukan tanpa anak harus keluar dari sekolah formal?

Jawaban:

Ya, memang bisa. Siapa bilang nggak bisa. Tetapi yang wajib itu belajar, bukan sekolah. Kewajiban orang tua itu menyediakan pendidikan untuk anak-anaknya. Bagaimana bentuk pendidikannya, itu adalah pilihan. Sekolah adalah pilihan. Homeschooling adalah pilihan.

Aku salut dan mendukung sekali orang tua yang mau melakukan hal-hal tersebut untuk pendidikan anaknya. Aku senang kalau ada orang tua yang tidak lepas tangan dan tetap sadar akan tanggung jawabnya mendidik anak-anaknya, meskipun sudah menyekolahkan mereka.

Kalau ada yang ingin aku tambahkan: semoga orang tua yang baik ini sadar bahwa sekolah bisa gagal, bisa berhasil, dalam mengembangkan potensi anak. Tidak ada jaminan sekolah pasti berhasil. Malah besar kemungkinan sekolah malah menjadi dalang dari perkembangan keyakinan diri yang negatif. Seperti kata seorang guru di blognya : murid-muridnya terlanjur percaya pada cap bodoh yang ditempelkan di jidat mereka sejak kecil. Rasa rendah diri dan merasa bodoh itu akan menghalangi mereka sampai dewasa.

Aku juga ingin bertanya, apakah mungkin orang tua bisa mengajar anak-anak di luar waktu sekolah, sedangkan setelah sekolah yang lama…, apalagi kalau full-day school, anak-anak pasti sudah capek, sudah muak belajar yang lain, apalagi ada tugas sekolah yang harus dikerjakan, ada ujian yang harus dipersiapkan dengan menghapal sampai ngelotok, bikin contekan, dan sebagainya. Di mana waktunya? Mana energinya? Apalagi banyak sekali anak-anak sekolah yang menjadikan belajar sebagai momok, kalau diajak mempelajari sesuatu di luar kelas, mereka menolak, dengan alasan: ah itu kan tidak keluar di ulangan. Betapa banyak anak-anak sekolah yang memperlihatkan reaksi alergi ketika ditanya ‘kamu belajar apa tadi di sekolah?’.

Sayang sekali, faktanya mayoritas orang tua bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk mempertimbangkan pengayaan apa pun di luar pendidikan sekolah formal untuk anak-anak mereka. Mereka tidak pusing-pusing memeriksa PR dan berbagai tugas sekolah lainnya, mereka tidak perduli anak-anaknya paham pelajaran sekolah apa tidak, mereka bahkan menghindari terlibat langsung dalam mendidik anak-anak mereka. Kalau anak-anak berbuat kenakalan, yang terlontar pertama kali dari orang tua semacam ini adalah,

“Ini anak bandel amat. Diajarin apa sih di sekolah? Gurunya siapa sih?”

Ketika ada masalah, yang bersalah adalah anaknya, atau gurunya, atau pengasuhnya. Sedangkan dia sebagai orang tua ‘tidak pernah bersalah’ karena dia sendiri tidak pernah berandil apa-apa.

Kenyataan seperti ini membuat bermunculannya orang tua yang dengan bangga memproklamirkan diri sebagai “praktisi homeschool paruh waktu” atau “afterschooler“(=orang tua yang melengkapi pendidikan anak di luar jam sekolah).

Bukan fenomena yang buruk. Aku setuju kalau jadi orang tua memang harus begitu.

Ketika orang tua yang perhatian tersebut menyadari bahwa sekolah lebih banyak dampak negatifnya bagi anak-anak mereka, semoga mereka cukup berpikir terbuka untuk mempertimbangkan opsi homeschooling.

Pertanyaan ‘kenapa harus homeschool?’ bisa juga aku kembalikan dengan balik bertanya ‘kenapa harus sekolah?’

Perlu diingat, keluarga yang memilih homeschool tidak membuat keputusan dengan ringan dan asal-asalan. Pernahkah berpikir betapa sulitnya menahan serangan konstan dari orang-orang terdekat yang tidak tahu homeschool tetapi berasumsi buruk tentang homeschool? Kan lebih gampang ikut arus. Lebih gampang tetap memasukkan anak-anak ke sekolah meskipun radar kita sebagai orang tua sudah merasakan ‘ada yang tidak beres’.

Kenapa harus sekolah? Kenapa menyerahkan begitu banyak kewenangan kepada sekolah? Begitu tahu sekolah berdampak negatif bagi anak sendiri, kenapa harus menyerah dan tidak berani menarik mereka keluar?

Martin Luther King Jr. berkata:

Pengecut bertanya – apakah ini aman?

Pencari untung bertanya – apakah ini politik?

Penjaga gengsi bertanya – apakah ini populer?

Tetapi hati nurani bertanya – apakah ini BENAR?

Ada waktu seseorang harus mengambil sikap

yang tidak aman, tidak politik, juga tidak populer;

melainkan karena BENAR.

Aku pilih homeschool karena yakin aku benar.

Kalau kamu juga yakin kamu benar, pilih saja sekolah, tidak masalah bagi aku.

Memang tidak semua orang bisa homeschooling karena tidak semua orang mau.

Aku percaya, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kalau sudah yakin dan bersedia melakukan yang perlu, semua orang tua bisa belajar bagaimana mengelola homeschool untuk anak sendiri.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua memiliki tujuan yang sama: anak-anak dewasa yang beriman, cerdas, bahagia, dan membawa rahmat tidak hanya untuk dirinya juga orang lain. Sukses, begitulah. Mengapa tidak memperluas pengertian sukses dalam kepala kita masing-masing?

Sukyatno Nugroho adalah tukang es yang tidak sekolah. Sampai sekarang dia masih tukang es, tukang es yang mendirikan Es Teler 77 di seluruh Indonesia.

Sukses tidak harus lewat saluran sekolah. Tidak ada sekolah yang menjamin sukses. Tidak ada sekolah yang mau minta maaf dan bayar ganti rugi kalau murid-muridnya tidak sukses.

Sukses dijamin orang tua yang mencintai dan menyadari tanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka. Orang tua yang bukan sekedar ‘meluangkan waktu’ untuk anak-anak, tetapi ‘mendedikasikan waktu’ untuk mendidik anak-anak.###

Oyano Chikara, Penulis Favoritku

Siapakah Oyano Chikara?

Penulis favoritku adalah seorang mantan bapak guru SD di Jepang yang bernama pena Oyano Chikara (親野智可等) kelahiran 1958. Nama pena tersebut, dari segi bunyi, “oya no chikara (親の力)” bermakna “kemampuan orang tua”. Nama aslinya adalah Kei’ichi Sugiyama (杉山桂一) Beliau menulis buku bergenre parenting atau cara mendidik anak. Wikipedia Jepang menyebutnya sebagai seorang “kritikus pendidikan”.

Buku-bukunya setahuku belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Doakan saja aku yang berjodoh menerjemahkan buku-buku beliau untuk orang tua Indonesia kelak karena profesiku penerjemah bahasa Jepang.

Sebelum mulai menulis buku, beliau adalah seorang guru sekolah dasar negeri di Jepang 23 tahun lamanya.
Selama masa tugasnya sebagai guru, beliau merasakan besarnya pengaruh orang tua terhadap tumbuh kembang anak didiknya.
Untuk berbagi pengetahuan, teknik, dan pengalaman beliau sebagai guru, tahun 2003 beliau mulai menerbitkan mail magazine atau surat elektronik berkala secara gratis dengan judul “Masa Depan Anak Ditentukan oleh Kemampuan Orang Tua” untuk orang tua. Siapa saja dengan mudah bisa berlangganan dari home page beliau. Ternyata mail magazine bidang pendidikan itu menjadi terkenal dan disoroti banyak media massa nasional Jepang. Hari ini pelanggannya mencapai 45.610 alamat e-mail.

Sejak pensiun tahun 2006, beliau semakin aktif berkeliling Jepang untuk memberikan ceramah tentang cara mendidik anak. Beliau juga menulis artikel pendidikan anak di banyak majalah Jepang, baik online maupun cetak. Beliau juga menjual rekaman DVD ceramahnya tentang pendidikan finansial untuk anak melalui situsnya. Tidak berhenti di situ, beliau juga merekomendasikan permainan edukatif dan memproduksi alat ajarnya sendiri.

Buku-buku yang diterbitkannya ada 19 buah. Yang kumiliki 5 saja.

1. 楽勉力 Cara Belajar Menyenangkan
Tentang bagaimana orang tua bisa membuat anak suka belajar di sekolah.

Caranya dengan menghubungkan pelajaran sekolah dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya belajar pecahan saat membagi pizza atau kue. Memperhatikan satuan mililiter atau liter di botol minuman. Membelikan komik pelajaran sejarah untuk anak.

Banyak sekali tips sederhana yang berguna untuk orang tua dengan anak usia sekolah SD sampai SMP.

Kalau dipikir sekarang, ini kan seperti  penjelasan gaya hidup keluarga homeschooling?

2. 三択でわかる親力 Soal Pilihan Ganda untuk Orang Tua
Soal-soal cerita tentang kejadian sehari-hari yang mungkin terjadi antara anak dan orang tua, untuk mengukur kemampuan orang tua dilihat dari teori oyaryoku (kemampuan orang tua) yang dikembangkan Oyano Chikara.

3. プロ親になる Menjadi Orang Tua Profesional
Berisi ide dan teknik untuk memberikan lingkungan yang optimal untuk tumbuh kembang anak.

4. 親力できまる Anak Ditentukan Kemampuan Orang Tua
Tentang kemampuan orang tua untuk mencintai, melindungi, dan menumbuhkan potensi akademik dan kemanusiaan anak.

5. 親力診断テスト Tes Kemampuan Orang Tua
50 pertanyaan untuk orang tua. Membahas apa yang sebaiknya dilakukan orang tua kalau: anak dimarahi guru, anak berbohong, dan sebagainya. Membuat aku berpikir ulang apakah sikapku sudah ideal dan berdampak baik untuk psikis anak-anakku.

Alasanku menjadikan Bapak Guru Oyano Chikara sebagai penulis favorit

  • Beliau guru SD teladan yang tidak hanya memikirkan murid-murid di kelasnya saja, tetapi juga menginspirasi banyak orang tua di Jepang untuk meningkatkan kemampuan mereka mendidik anak karena menginginkan masa kecil yang indah untuk semua anak.
  • Beliau orang yang berani menjadi agen perubahan. Aku juga ingin menjadi agen perubahan.
  • Beliau merekomendasikan cara mendidik anak yang berbelas kasih: dengan pujian, dengan santai, tanpa hukuman, tanpa memarahi. Mungkinkah? Ternyata bisa. Aku tidak bisa mengklaim aku ibu yang sabar tetapi aku jadi sadar bahwa ada cara lain dan berusaha berubah.
  • Beliau berani menuliskan kritik pedas terhadap sistem pendidikan dan ujian standar Jepang namun tetap dengan cara yang adem, sabar, dan menyejukkan. Sesuatu yang masih perlu dipelajari olehku.
  • Beliau seorang pelaku bisnis yang kreatif dengan tujuan mulia.
  • Beliau mengajarkan ide-ide sederhana untuk orang tua agar mengajar sendiri ilmu pengetahuan akademik yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari  kepada anak. Ide-ide sederhana ini kemudian membukakan mataku pada: pertama,  kekurangan pelajaran di sekolah yang jauh dari bermanfaat bagi keseharian anak, dan kedua, ternyata orang tua bisa mengajar sendiri anak-anak . Dua hal yang mengantarkanku pada homeschooling. (Tetapi Oyano Chikara bukan advokat homeschooling dan ide-idenya mungkin bisa dibilang sebagai cara menyiasati kekurangan pendidikan anak  di sekolah). ###

Aku  menulis tentang Oyano Sensei karena ingin ikut  Lomba “My Favorite Author” dalam rangka ulang tahun ke-2 LOVUSA.

22. Meromantisir Sekolah

Kalau aku menjawab pertanyaan, dengan enggan dan sedikit be-te, bahwa anak aku tidak masuk TK mana pun, lawan bicaraku selalu bersemangat menceritakan kebaikan sekolah, seolah-olah aku tidak pernah bersekolah, dan sepertinya mereka lupa apa yang mereka alami sendiri di sekolah di masa kecilnya. Mereka meromantisir seolah-olah sekolah adalah “istana ajaib” yang menyulap otomatis murid-murid menjadi cerdas cendekia.

Coba putar ulang ingatan kalian masing-masing ke zaman-zaman nggak enak itu. Apa yang dilakukan murid di dalam kelas?

Sebagian besar porsi waktu sekolah dipakai untuk duduk diam, lipat tangan yang manis, dan dengarkan penjelasan guru. Ada beberapa guru yang lucu, ada beberapa guru yang antusias, ada sementara guru yang kreatif, tetapi sebagian besar guru membosankan. Hari-hari yang dilalui murid di ruang kelas terasa sangat panjang dipenuhi kegiatan aritmatika menghitung mundur menit-menit sebelum pelajaran usai. Murid diwajibkan percaya kepada otoritas (guru, buku cetak), serta tidak boleh ada keraguan di dalamnya. Kalau bingung, murid boleh bertanya satu dua kali, tetapi kalau sudah dijawab guru dan masih bingung juga, harap tutup mulut karena mengganggu jalannya pelajaran. Kalau tidak mau tutup mulut, tahu sendiri akibatnya (Apa ya akibatnya? Dapat 5? Disetrap? Nggak naik kelas? Takut…).

Murid wajib percaya pada guru, atau pura-pura percaya, dan akan dites kesetiaannya pada otoritas guru melalui ujian tertulis. Murid tidak pernah diwajibkan melakukan pengamatan, dan kalaupun judulnya ‘observasi ilmiah’ dapat dipastikan hasilnya sudah tertentu sehingga sangat membantu kalau bisa pinjam hasil percobaan tahun-tahun lalu dari kakak kelas. Murid dilarang keras memformulasikan definisi dengan pikiran dan kata-katanya sendiri, pokoknya harus hapal di luar kepala sampai ke titik dan komanya; lalu setelah ujian baru deh boleh lupa (merdeka!). Murid yang pandai adalah murid yang paling banyak ingat, banyak menghapal, dan paling gampang diatur. Pertanyaan dari guru maupun ujian dijawab oleh murid dengan sebelumnya melalui proses ‘tebaklah apa yang ibu guru pikirkan’. (Paranormal, ‘kali!)

Kesimpulan:
di sekolah murid DILARANG BERPIKIR MANDIRI dan ORIJINAL, bahkan tidak ada kegiatan intelektual selain MENGULANGI apa yang telah diklaim orang lain sebagai kebenaran.

Aku tidak sedang menyuruh siapa pun untuk pilih homeschooling seperti keluarga kami. Tetapi kalau pun pilih sekolah, jangan lepas tangan, apalagi ongkang-ongkang kaki saja setelah memasukkan anak ke sekolah. Sadarlah! Waspadalah! Jadilah takut! Jadilah sangat takut! ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...