21. Homeschooling Itu Egois

Homeschooling itu egois. Karena pertama, kalau anak homeschool pintar, dia hanya pintar sendiri. Kedua, homeschooling adalah egoisme orang tua sebab anak-anak belum tentu mau homeschooling.

Egois. Ya ampun!

Aku pikir, kita jujur saja, seluruh pilihan hidup yang kita ambil merupakan keputusan-keputusan yang egois. Semua orang itu egois. Kita memilih ini dan bukan itu, berdasarkan apa sih? Berdasarkan apa yang kita pikir terbaik untuk kita dan keluarga kita. Egois kan?

Tidak terkecuali tentang pilihan bentuk pendidikan bagi anak-anak kita.

Orang tua memilih menyekolahkan anaknya didorong motivasi karena ingin anaknya “pintar sendiri”. Misalnya, mereka setiap hari bertemu anak kecil pengamen tidak sekolah, pikir mereka, ‘ya apa urusannya sama anak pengamen, yang penting anakku sekolah’. Malah mungkin orang tuanya mengajak bersyukur anak itu bisa sekolah di atas penderitaan anak pengamen yang tidak sekolah.

Orang tua yang kaya memilih sekolah swasta mahal, atau les Kumon, kursus sempoa, kursus bahasa Inggris di EF, les privat, dan sebagainya supaya apa? Supaya anaknya pintar (sendiri). Apakah karena mereka lihat anak orang lain sekolahnya biasa-biasa saja dan tidak kursus apa-apa, lalu mereka merasa wajib menyamaratakan anaknya jadi biasa-biasa saja? Apakah kemudian membayari ongkos kursus Kumon anak-anak sekampung? Ya nggak toh. Berarti kan egois.

Kita memilih suatu sekolah, semata-mata karena kita pikir itulah yang terbaik untuk anak dan kondisi keluarga kita sendiri. Itu saja. Kita tidak berpikir apakah sekolah pilihan kita itu akan menyinggung perasaan keluarga tetangga, keluarga om dan tante kita, atau keluarga siapa pun. Mau anak-anak Palestina lagi perang, boro-boro mereka mikirin sekolah…, yah peduli amat, yang penting anakku sekolah di tempat yang terbagus, termahal, termoderen yang aku mampu. Aku memberikan pendidikan yang terbaik yang berhak diterima oleh anak-anakku. Mau menyumbang Palestina ya itu urusan lain lagi. Begitu kan? Egois.

Sama saja dengan keluarga yang pilih homeschooling. Aku memutuskan homeschooling karena anak-anakku berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Aku juga sudah pernah bersekolah dan berkesimpulan  sekolah bukan yang terbaik untuk anak-anakku. Homeschooling-lah yang kunilai terbaik.

Aku tidak mendasarkan keputusan aku homeschooling pada apakah teman-temanku suka atau tidak dengan pilihanku. Aku tidak wajib menjaga perasaan sanak famili  supaya mereka bebas stres dengan homeschooling keluargaku. Teman-temanku merasa dikritik dengan pilihan aku homeschooling, oh itu bukan urusanku. Aku tidak bertanggung jawab pada mereka. Tanggung jawabku sebagai orang tua pada Allah SWT dan anak-anakku.

Kamu bilang, homeschooling itu keputusan sepihak orang tua, tidak mempertimbangkan aspirasi anak. Homeschooling itu egois.

Ya ampun.

Sekarang kalau kamu sebagai orang tua merasa sekolah itu yang terbaik untuk anakmu, apakah kamu tidak memaksa anakmu berangkat sekolah setiap hari? Anakmu menangis-nangis, bilang nggak mau pergi, mengeluh perutnya sakit kalau sekolah, tetap saja kamu paksa kan? Kalau kamu tidak sekolah, kamu jadi orang bodoh, Nak. Begitu kan katamu.

Aku juga berhak memaksa anak-anakku homeschooling. Kalau kamu pergi ke sekolah, nanti kamu jadi orang tidak kreatif, Nak, begitu kataku.

Pada dasarnya, apa pun pilihan kita untuk anak-anak, kita pasti memikirkan kepentingan anak-anak, kita ingin memaksimalkan potensi mereka untuk sukses di masa depan, ingin mereka bahagia dan jadi orang berguna, memenuhi takdir mereka di dunia. Mau homeschooling atau sekolah, itu urusan keluarga masing-masing. Ada konsekuensi yang lahir dari masing-masing pilihan.

Bedanya keluarga homeschooling tidak cerewet mengurusi keputusan keluarga lain yang pilih sekolah.

Tidak semua orang mau dan mampu menerapkan homeschooling. Barangkali juga sekolah adalah yang terbaik untuk keluarga orang lain, aku mana tahu. Andaikan orang-orang yang pilih sekolah bisa berpikiran terbuka pada opini orang tua homeschooling dan terbuka menerima perbedaan alternatif pendidikan yang ada. Bukankah itu katanya kelebihan sekolah: untuk bertemu banyak orang yang berbeda, bisa bertoleransi pada perbedaan, bisa menerima orang lain apa adanya? ###

20. Kisah Homeschooling

Alkisah, setelah proses riset besar-besaran di internet dan buku-buku, perenungan, dan refleksi diri selama 40 hari 40 malam, seorang ibu memutuskan untuk meng-homeschool-kan putrinya yang berumur 4 tahun.

“Apa sih yang bisa kamu ajarkan pada anakmu. Sekolah bisa mengajarkan lebih banyak dari kamu,” cemooh seorang kerabat.

Maka ibu itu mengajarkan dua bahasa asing untuk putrinya itu karena dia tidak pernah dengar ada TK yang mengajarkan tiga bahasa. Setahun berlalu dan putrinya itu bisa membaca dan menulis tiga bahasa: Indonesia, Jepang, dan Inggris. Berhitung, komputer, piano, mengaji, origami, Lego, lilin PlayDo, semua yang terpikir diajarkannya.

Menyaksikan putrinya yang percaya diri dan celotehan-celotehan cerdasnya, orang-orang bertanya di mana sekolahnya.

“Nggak sekolah. Belajar di rumah,” jawab ibu itu selalu.

“Kenapa tidak sekolah? Nanti anakmu jadi kuper,” kata seorang tante kenalan yang dihormati oleh si ibu. Barangkali kehabisan alasan untuk mencela si anak dari sisi kecerdasan akademis.

Maka suatu hari ibu itu mengundang tante tersebut beserta anak-anaknya.

Sementara anak-anaknya yang sekolah itu duduk membisu dan dengan dingin menolak ajakan bermain dari putrinya yang tidak sekolah, tante kenalan itu berkelit, “Mereka nggak mau main dengan yang bukan sepantaran. Sepulang sekolah mereka juga nggak mau main keluar rumah dengan anak-anak sekompleks.”

Jadi sebenarnya anak siapa nih yang punya masalah sosialisasi?

Saat sedang berdua saja, ibu itu memandangi putrinya.

“Jadi kamu paham sekarang,” katanya, setengah melamun, “jelas tidak mungkin untuk menyenangkan semua orang. Lebih baik melakukan apa yang kamu yakini benar dan menyenangkan Allah.”

Putrinya itu, yang tidak tahu-menahu tentang proses kontemplasi yang terjadi dalam kepala ibunya itu, tidak mengerti apa maksud ibunya. Namun, ia bertanya lebih lanjut apa itu artinya menyenangkan Allah, dan pernyataan ibunya itu telah mengilhami topik diskusi menarik untuk homeschooling mereka hari itu. ###

19. Aku Lebih Baik Dari Guru TK

Kanae (5) senang menulis surat. Sehari, ada kali 10 pucuk. Untuk aku, Obaachan (ibuku), dan kadang-kadang papanya.

Isinya antara lain: “aku sayang kamu, maukah kamu memelukku, mari kita berpelukan, tidurlah bersamaku, datang ya ke lantai 1, nanti aku kasih hadiah, ayo kita pergi ke Alfamart”, dan sebagainya, dihiasi ilustrasi bentuk hati warna merah atau merah muda.

Tulisannya tak rapi dan selalu huruf besar semua. Otodidak sih, dia mereka-reka sendiri bagaimana menulis suatu huruf. Dia juga masih belum menemukan bagaimana menulis huruf kecil yang relatif banyak lengkungan daripada huruf besar. Kalau diajari, dia menolak mentah-mentah, lari kabur ke kamar lain.

Beberapa hari lalu aku mencetak lembar kerja menulis halus dari internet dengan persetujuannya. Seperti biasa dia tidak mau diajari. Dia berhasil menerka cara menulis huruf d kecil dan b kecil, gagal menulis a kecil dengan benar, lalu dia berhenti. Sisa 23 huruf tidak disentuh lagi.

Aku sendiri lebih menghargai dia cinta kegiatan menulis daripada menulis dengan indah, jadi aku:
1. tidak memaksa

2. tidak mengajari bila tidak diminta, dan

3. tidak cerewet mengoreksi dengan resiko mematikan semangat menulisnya seperti guru TK.

Bicara soal guru TK, aku yakin 100% aku lebih baik daripada guru-guru TK di atas bukit yang dibangun dengan swadaya masyarakat itu.

Mengapa?
1. Aku ibu anakku, di dunia ini aku yang paling mencintainya,

2. aku lebih termotivasi dan berminat untuk mengenal dan memahami dia,

3. aku lebih ngotot untuk menjadikan anakku yang terbaik yang dia bisa,

4. aku lebih bersedia untuk menyesuaikan cara-cara aku agar sesuai dengan gaya belajarnya,

5. aku yang paling tahu bagaimana memenuhi kebutuhan pendidikan, emosional, dan sosial unik anakku,

6. aku tidak akan diam-diam saja melihat anakku ditonjok anak orang, dan

7. aku tidak perlu pusing-pusing membagi konsentrasi pada 14 orang anak usia 5 tahun lain.

Tidak ada guru yang lebih kompeten, berdedikasi, dan memiliki semua kualitas yang tepat untuk pekerjaan mendidik anakku selain aku.  ###

18. Deschooling

Terkait dengan homeschooling, ada suatu masa penyesuaian atau transisi, yang dialami orang tua dan anak setelah keluar dari sekolah formal dan memasuki alam pendidikan rumah. Semakin menekan dan traumatis pengalaman bersekolah bagi anak, semakin dia menjauhi hal-hal yang berbau ‘belajar’ dan upaya pengajaran dari orang tua, sehingga semakin khawatir orang tua melihat anaknya setiap hari cuma tidur, main game, atau nonton TV saja.

Masa sulit ini disebut deschooling.

Semakin banyak jumlah tahun yang dihabiskan anak di sekolah akan mempengaruhi lamanya masa deschooling, sampai ia kembali berminat dan mencintai belajar. Ada praktisi homeschool yang menyebutkan perlu deschooling satu bulan untuk setiap satu tahun di sekolah, misalnya anak umur 9 tahun yang sudah bersekolah 3 tahun membutuhkan waktu 3 bulan deschooling, atau 3 bulan masa rileks, bebas dari instruksi formal. Namun anggaplah ini sebagai ancer-ancer saja karena tiap anak berbeda.

Masa deschooling bagi anak ini bisa dibilang wajar terjadi, karena sangat sulit mempertahankan hasrat belajar setelah tahun-tahun yang dihabiskan duduk diam di sekolah. Kerap kali anak sekolah berakhir dengan merasa dirinya bodoh, merasa dia tidak bisa dipercaya untuk belajar tanpa paksaan, dia harus mengikuti prosedur tertentu yang ditetapkan guru untuk dapat menguasai sesuatu meskipun prosedur itu tidak masuk akal baginya. Dia sudah terlalu lama diajari bahwa belajar bukan sesuatu yang aktif menggunakan logika,  melainkan kegiatan pasif di mana dia tinggal duduk diam menunggu disuapi ilmu. Dia berkesimpulan bahwa ketertarikannya pada sesuatu dan rasa ingin tahunya adalah tidak penting dibandingkan maunya kurikulum, dan dengan sendirinya dia merasa rasa ingin tahu adalah sesuatu yang memalukan dan harus disembunyikan. Dia belajar untuk tidak perduli pada kata hatinya. Dia juga belajar bahwa menjadi salah, tidak yakin, dan bingung adalah kejahatan besar yang tidak termaafkan. Sekolah hanya mencari satu jawaban benar, dan dia dibuat merasa bodoh untuk jawaban yang ‘salah’. Padahal tidak mungkin manusia bisa belajar sesuatu yang baru tanpa merasa bingung, tidak pasti, dan salah terlebih dahulu.

Masa deschooling merupakan masa yang penting, masa untuk memulihkan rasa percaya diri anak, rasa ingin tahunya sebagai bahan bakar utama dalam belajar mandiri, serta menguatkan kepercayaan anak terhadap orang tua, dan sebaliknya. Saat ini lah orang tua dan anak bisa mengeksplorasi alternatif gaya dan metode belajar terbaik bagi anak.

Apa yang harus dilakukan dalam masa deschooling?

Pertama, orang tua jangan terburu-buru masuk ke metode school-at-home atau memindahkan gaya belajar sekolah ke rumah begitu saja. Semakin ngotot orang tua berperan sebagai guru, dan semakin orang tua memaksa anak berperan sebagai murid sekolah (tetapi di rumah), semakin si anak akan menolak belajar. Tanpa pengetahuan tentang deschooling, orang tua bisa jadi menyimpulkan homeschool yang mereka lakukan telah gagal dan lalu mengembalikan anak-anak ke sekolah.

Kedua, orang tua perlu meninggalkan keyakinan bahwa belajar hanya bisa terjadi dalam setting ruang kelas, harus berganti mata pelajaran setiap 45 menit, dengan cara duduk diam, mengerjakan lembaran soal dan buku teks pelajaran yang membosankan.

Jika ada sekolah alternatif, maka pembelajaran pun bisa terjadi dengan cara-cara alternatif. Ingat pepatah: pengalaman/hidup adalah guru yang terbaik? Belajar bisa dilakukan dengan perjalanan edukatif (field trip) ke pasar, museum, perpustakaan, belajar bisa dilakukan dengan membuat sesuatu (kue, memelihara hewan, berkebun, dsb.), belajar bisa dengan membaca bersama tema-tema yang disukai anak, belajar bisa dari kegiatan sukarela di panti asuhan, pramuka, remaja mesjid, karang taruna, dan sebagainya. Hindari jadwal yang ketat dan membuat orang tua dan anak sama-sama kehabisan napas.

Belajar bisa menyenangkan. Belajar seharusnya menyenangkan.

Ketiga, cari dukungan dan masukan dari sesama praktisi homeschool. Bisa lewat milis sekolahrumah, menghadiri pertemuan komunitas homeschooling, menghubungi japri praktisi yang sudah berpengalaman, mengundang mereka ke rumah, dan lain-lain.

Masa deschooling mungkin terasa seperti kumpulan hari-hari buruk homeschooling, namun mengutip seorang ibu yang bijak, “Hari terburuk anak saya dalam homeschooling selalu lebih baik daripada hari terbaiknya di sekolah.” ###

17. Tentang Rapor

Seandainya aku menjadi guru yang harus menulis rapor deskripsi karakter anak-anak didik, aku tidak akan menulis karakter yang menyulitkan aku dalam memanajemen kelas sebagai keburukan. Aku akan sabar dan mencoba memutar cara pandang, melihat dan meyakini bahwa semua karakter yang sulit itu adalah ciri khas yang unik, yang siapa tahu kelak dalam kehidupan mereka di masa depan malah terbukti sebagai kelebihan.

Contoh, si A alat-alat sekolahnya selalu berserakan dan laci penyimpanannya tidak rapi.

Aku akan tulis:

Kehebatan A adalah ia selalu tahu persis di mana letak barang-barang yang dia perlukan meskipun tampak kurang rapi.

Contoh: si B sering lupa membawa peralatan yang diperlukan untuk pelajaran sekolah.

Aku akan tulis:

Meskipun B lupa membawa sesuatu, dia selalu berhasil menemukan pinjaman dari kawannya dan mengikuti pelajaran dengan baik. Dia kreatif menemukan solusi.

Contoh: si C nilai-nilai ujiannya jeblok melulu.

Aku akan tulis:

C tampak selalu riang gembira melaksanakan kegiatan di kelas, tidak patah semangat belajarnya hanya karena nilai jelek. Saya menyukai kehadirannya di kelas saya.

Contoh: si D selalu lamban melakukan sesuatu dibandingkan anak-anak lain.

Aku akan tulis:

D tidak rendah diri dan kebingungan meskipun menjadi yang paling akhir mengerjakan sesuatu. Karakternya yang easygoing dan pemaaf terhadap diri sendiri ini akan bermanfaat dalam menempuh ujian hidup.

Begitulah aku menilai anak-anak aku. Hanya butuh sedikit perubahan perspektif.

Orang mencela putraku yang banyak menangis dan belum bisa bicara di usia 2 tahun, namun aku menilai perkembangan ‘keakuan’ dan motoriknya membanggakan. Orang menjelekkan putriku yang tidak mau menjawab kalau ditanya siapa namanya, dan dia juga tidak mau cium tangan, namun aku pikir aku pun tidak akan mau memberikan namaku, apalagi mencium tangan orang asing yang tak memperkenalkan diri padaku.

Sebagai ibu yang berada bersama anak-anakku setiap hari, barangkali secara alami aku bisa melihat kebaikan pada diri anak-anakku. Namun aku rasa seorang guru wali kelas yang mencintai anak-anak didiknya semestinya juga mampu menemukan hal-hal positif dalam diri tiap-tiap mereka ketimbang menghakimi baik atau buruk dalam deskripsi karakter di rapor.

Sekedar mencatat lintasan ide.

Kalau dipikir-pikir aku kan guru wali kelas juga, di homeschool untuk anak-anakku.###

16. Rapor Sekolah Mahal

Suatu hari aku mendapat kesempatan melihat-lihat rapor seorang anak laki-laki kelas 2 SD.

Ia anak tunggal dan dimanja, sejak usia 2 tahun (kecil amat!) sudah disekolahkan orang tuanya, yang dari kalangan atas, di sekolah-sekolah swasta termahal di Indonesia. Menurut ayahnya, kelas anaknya sekarang, khusus untuk anak-anak unggulan dan pelajaran diberikan dalam dwibahasa.

Rapor anak itu berlembar-lembar, dari karton berwarna, diselipkan dalam folder plastik bening ukuran A4 yang tebal. Tidak seperti rapor sekolah biasa, tiap-tiap itemnya berupa narasi. Ada yang spesifik, misalnya, di bawah judul Agama Islam, ada item: mampu menghapalkan surat Al-Kautsar. Lebih banyak lagi yang panjang-panjang dan abstrak. Mohon maaf aku tidak ingat secara detil saking rumit dan panjangnya. Taruhan anak itu sendiri tidak mengerti apa isi rapornya, meskipun dibacakan.

Yang aku ingat adalah pertanyaan yang muncul di benakku: bagaimana seorang guru berani memberikan penilaian terhadap seorang anak tentang hal-hal abstrak ini dengan huruf A, B, C, dan memberikan laporan resmi tertulis tentang hal-hal yang sangat pribadi. Kalau aku jadi orang tua anak itu, aku merasa perlu menggugat si wali kelas, kok berani-beraninya bilang anakku begini dan begitu. Penilaian begini datang dari mana? Standarnya apa? Penilaian begini bukan urusan sekolah, bukan urusan siapa-siapa, hanya urusan anak ini dengan Tuhan.

Misalnya, jika item terkait ‘kejujuran’ anakku di kelas 2 SD dinilai gurunya dengan C, tentu aku akan protes, barangkali pendorong anakku berbuat tidak jujur ada di cara guru mengelola kelas, barangkali anakku imajinasinya sangat tinggi dan tidak sengaja berbohong, dan yang paling penting, aku pasti tidak ingin kesalahan masa kecil itu direkam di rapor seperti seorang kriminal, dan mempengaruhi prasangka guru-guru kelas selanjutnya terhadap dia.

Bilang saja aku terlalu banyak protes, bilang aku terlalu meributkan hal-hal kecil. Aku tidak suka main-main dengan kepercayaan diri dan harga diri anak-anak. Kalau ada pihak lain,  yang merasa mereka punya wewenang memberikan cap seenaknya, dan mempermainkan harga diri anakku, aku pasti tidak akan terima.

Ayah anak itu kemudian menasehati aku,”Anakmu jangan homeschooling dulu. Kasihan dia masih kecil. Nggak bisa bersosialisasi. Nanti kalau dia sudah SMA, baru silakan homeschooling.”

Hmm…

Apa dia nggak lihat ya, rapor anaknya sendiri, aspek-aspek sosialisasinya rata dapat C semua?

Sekolah tidak membantu anaknya sama sekali di bidang sosialisasi (bahkan diakui sendiri oleh gurunya!), apa yang membuat dia berpikir sekolah akan membantu sosialisasi anakku? Lagipula sekolah bukan tempat yang bisa diandalkan untuk melatih anak bersosialisasi. Bukankah sebagian besar waktu di sekolah dipakai untuk duduk diam dan tidak boleh bicara? Bukankah anak-anak seharusnya belajar bersosialisasi dari orang dewasa, bukannya dari 40-an anak lain yang sebaya?

Aku tersenyum saja, tidak menjawab, dan ayah anak itu cukup santun untuk melanjutkan pembicaraan ke topik lain. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...