Generalisasi tentang Praktisi Homeschooling

“Semua generalisasi itu salah, termasuk yang ini.” Mark Twain.

Baru-baru ini aku menemukan sebuah buku tentang homeschooling di toko buku yang tidak akan aku sebutkan judulnya karena aku rasa isinya memberikan gambaran yang keliru tentang dampak sosialisasi homeschooling. Tidak ada bukti ilmiah yang menyokong pemaparan penulisnya, hanya pengalaman seorang anak remaja yang tidak menyukai pilihan metode pendidikan yang diambil orang tuanya. OK, jadi satu orang tidak suka homeschooling lalu semua orang kena getahnya.

Aku teringat tulisan blog Just Enough Blog tentang pendapat di blog seorang remaja yang juga tidak menyukai homeschooling.

Anak itu menulis:

Secara pribadi, aku merasa homescholing tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dengan homeschooling, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja homeschooling yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak homeschooling yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari homeschooling. Tetapi aku pernah melihat anak-anak homeschooling yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak homeschooling yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Tammy Takahashi dari Just Enough Blog bermaksud memperlihatkan, tidak ada logika sama sekali yang melatari generalisasi dalam pendapat remaja tersebut, dengan mengganti setiap kata ‘homeschooling‘ dengan ‘public school’ atau ‘sekolah negeri’, di sini aku ganti dengan ‘sekolah’ saja.

Secara pribadi, aku merasa sekolah tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dari sekolah, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja bersekolah yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak sekolah yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari sekolah. Tetapi aku pernah melihat anak-anak sekolah yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Anak itu menulis:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ di sekolah. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan di sekolah tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di sekolah dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di rumah, yang anak-anaknya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (orang tua) dan sesama saudara kandung saja.

Tammy Takahashi membuat penyesuaian seperti di bawah ini:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ dalam homeschooling. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan dalam keluarga tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di dunia nyata dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di sekolah, yang siswa-siswinya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (guru) dan sesama teman sekelas saja.

Tammy mengatakan versinya terasa lebih masuk akal, karena tidak ada tempat lebih baik untuk belajar bersosialisasi di dunia nyata selain di dunia nyata, dan di situlah kelebihan homeschooling.

Setiap homeschooling mendapatkan nama buruk (padahal cuma generalisasi tak berlogika seperti buku yang aku sebutkan), selalu muncul suara-suara untuk melarang homeschooling dan memaksa untuk memasukkan anak-anak homeschooling ke sekolah. Sedangkan kegagalan sekolah mempersiapkan siswanya menghadapi dunia nyata tidak akan pernah diikuti perintah untuk homeschooling.

Aku tidak mempermasalahkan metode pendidikan yang dipilih masing-masing orang tua, mau sekolah atau pesantren, atau pun homeschooling resiko tanggung sendiri toh. Namun aku lebih senang menganjurkan homeschooling karena pada saat orang tua tidak puas dengan sekolah, melakukan reformasi pendidikan di sekolah merupakan tugas mahaberat, bahkan lembaga negara Mahkamah Agung pun tidak sanggup melakukannya (ingat kasus UN).  Sedangkan melakukan reformasi pendidikan dalam homeschooling keluarga kita sendiri? Semudah membalik telapak tangan -termasuk urusan memperbanyak kesempatan bersosialisasi-.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...