Homeschooling itu egois. Karena pertama, kalau anak homeschool pintar, dia hanya pintar sendiri. Kedua, homeschooling adalah egoisme orang tua sebab anak-anak belum tentu mau homeschooling.
Egois. Ya ampun!
Aku pikir, kita jujur saja, seluruh pilihan hidup yang kita ambil merupakan keputusan-keputusan yang egois. Semua orang itu egois. Kita memilih ini dan bukan itu, berdasarkan apa sih? Berdasarkan apa yang kita pikir terbaik untuk kita dan keluarga kita. Egois kan?
Tidak terkecuali tentang pilihan bentuk pendidikan bagi anak-anak kita.
Orang tua memilih menyekolahkan anaknya didorong motivasi karena ingin anaknya “pintar sendiri”. Misalnya, mereka setiap hari bertemu anak kecil pengamen tidak sekolah, pikir mereka, ‘ya apa urusannya sama anak pengamen, yang penting anakku sekolah’. Malah mungkin orang tuanya mengajak bersyukur anak itu bisa sekolah di atas penderitaan anak pengamen yang tidak sekolah.
Orang tua yang kaya memilih sekolah swasta mahal, atau les Kumon, kursus sempoa, kursus bahasa Inggris di EF, les privat, dan sebagainya supaya apa? Supaya anaknya pintar (sendiri). Apakah karena mereka lihat anak orang lain sekolahnya biasa-biasa saja dan tidak kursus apa-apa, lalu mereka merasa wajib menyamaratakan anaknya jadi biasa-biasa saja? Apakah kemudian membayari ongkos kursus Kumon anak-anak sekampung? Ya nggak toh. Berarti kan egois.
Kita memilih suatu sekolah, semata-mata karena kita pikir itulah yang terbaik untuk anak dan kondisi keluarga kita sendiri. Itu saja. Kita tidak berpikir apakah sekolah pilihan kita itu akan menyinggung perasaan keluarga tetangga, keluarga om dan tante kita, atau keluarga siapa pun. Mau anak-anak Palestina lagi perang, boro-boro mereka mikirin sekolah…, yah peduli amat, yang penting anakku sekolah di tempat yang terbagus, termahal, termoderen yang aku mampu. Aku memberikan pendidikan yang terbaik yang berhak diterima oleh anak-anakku. Mau menyumbang Palestina ya itu urusan lain lagi. Begitu kan? Egois.
Sama saja dengan keluarga yang pilih homeschooling. Aku memutuskan homeschooling karena anak-anakku berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Aku juga sudah pernah bersekolah dan berkesimpulan sekolah bukan yang terbaik untuk anak-anakku. Homeschooling-lah yang kunilai terbaik.
Aku tidak mendasarkan keputusan aku homeschooling pada apakah teman-temanku suka atau tidak dengan pilihanku. Aku tidak wajib menjaga perasaan sanak famili supaya mereka bebas stres dengan homeschooling keluargaku. Teman-temanku merasa dikritik dengan pilihan aku homeschooling, oh itu bukan urusanku. Aku tidak bertanggung jawab pada mereka. Tanggung jawabku sebagai orang tua pada Allah SWT dan anak-anakku.
Kamu bilang, homeschooling itu keputusan sepihak orang tua, tidak mempertimbangkan aspirasi anak. Homeschooling itu egois.
Ya ampun.
Sekarang kalau kamu sebagai orang tua merasa sekolah itu yang terbaik untuk anakmu, apakah kamu tidak memaksa anakmu berangkat sekolah setiap hari? Anakmu menangis-nangis, bilang nggak mau pergi, mengeluh perutnya sakit kalau sekolah, tetap saja kamu paksa kan? Kalau kamu tidak sekolah, kamu jadi orang bodoh, Nak. Begitu kan katamu.
Aku juga berhak memaksa anak-anakku homeschooling. Kalau kamu pergi ke sekolah, nanti kamu jadi orang tidak kreatif, Nak, begitu kataku.
Pada dasarnya, apa pun pilihan kita untuk anak-anak, kita pasti memikirkan kepentingan anak-anak, kita ingin memaksimalkan potensi mereka untuk sukses di masa depan, ingin mereka bahagia dan jadi orang berguna, memenuhi takdir mereka di dunia. Mau homeschooling atau sekolah, itu urusan keluarga masing-masing. Ada konsekuensi yang lahir dari masing-masing pilihan.
Bedanya keluarga homeschooling tidak cerewet mengurusi keputusan keluarga lain yang pilih sekolah.
Tidak semua orang mau dan mampu menerapkan homeschooling. Barangkali juga sekolah adalah yang terbaik untuk keluarga orang lain, aku mana tahu. Andaikan orang-orang yang pilih sekolah bisa berpikiran terbuka pada opini orang tua homeschooling dan terbuka menerima perbedaan alternatif pendidikan yang ada. Bukankah itu katanya kelebihan sekolah: untuk bertemu banyak orang yang berbeda, bisa bertoleransi pada perbedaan, bisa menerima orang lain apa adanya? ###
semangat, mbak! begitulah, sesuatu yang “beda” dan “asing” seringkali “menakutkan” bagi mereka yang berpikir sempit. aku bisa merasakan apa yang mbak rasakan dan aku rasa nggak hanya dalam soal pilihan sekolah saja. tapi rasanya dalam segala urusan mengasuh anak, aku lebih sering ketemu orang “usil” bahkan dalam lingkungan keluargaku sendiri. heran juga, padahal aku gak pernah tuh ngurusin atau cerewet nanya-nanya kenapa mereka begini dan begitu, hehehe… maju terus pantang mundur! buktikan dan bikin mereka terbengong-bengong dengan keberhasilan mbak dan anak-anak!
Terima kasih Mbak Rien. Jadi terharu membaca pesannya.
Kadang kita lupa ya, kalau orang lain yang ikut-ikutan bersuara itu tidak mau disuruh bertanggung jawab atas keputusan kita. Menyuruh-nyuruh masuk sekolah pun sebenarnya mereka tidak mau membayari
Sebetulnya ini tulisan lama, dan saat ini kami tidak HS. Jadi ya… apa ya… menunggu turunnya hidayah barangkali.
kalau lagi down, paling enak baca tulisan mba andini,kayak lagi ada yang belain dengan semangat berapi-api
Mbak Wiwiet baik sekali. Love love
Ada yang suka, ada yang benci, tetapi semoga semua yang membaca jadi berpikir.
Kalo maksain anak sekolah di sekolah jenis apapun itu juga egois namanya
OIYA kan masy. kita masih banyak yg miskin….Terus wajib belajar 9 tahun itu egois ngak namanya ?
Betul, Mbak Lala. HS tidak perlu ditentang, malah harus didukung karena merupakan pemberdayaan orangtua. Dengan HS kita tidak perlu khawatir, karena meskipun misalnya kita miskin, tidak mampu sekolah, sebagai orang tua selalu bisa mendidik anak-anak kita menjadi manusia unggul.
Praktisi HS berargumen, memang sudah tepat “wajib belajar”, bukan “wajib sekolah”.