26. Soal Kerja dan ‘Di Rumah Saja’

Sejak kelahiran Nao, alhamdulillah, kami kedatangan banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat. Pada kesempatan yang penuh syukur itu, aku selalu merasa aneh setiap mendengar saran: “Sudah ya, punya anaknya distop saja. Sudah tiga, sudah banyak. Repot.”

Aduh, coba lihat dong wajah Nao yang baru lahir. Kalau jadinya lucu seperti ini, punya satu dua lagi aku tidak akan merasa rugi. Meskipun aku dan suami pasti tidak akan memenangkan Best Couple of The Year (sedang perang dingin berkepanjangan), kombinasi DNA kami membuat anak-anak yang cakep-cakep.

Tambahan, coba bayangkan jaminan suplai cinta dunia akhirat selama-lamanya untuk kami sebagai orang tua dari anak-anak yang hal ini sudah dapat dipastikan, otomatis hanya dengan kelahiran mereka melalui rahimku. Anak-anak akan selalu mencintai kami, memaafkan kami, melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kami, mendoakan kami setelah kami meninggal, di akhirat menebus kami dari api neraka, dan mengajak kami bersama-sama masuk surga. Insyaa Allah punya anak lebih banyak, lebih baik.

“Punya anak = repot” cuma sebuah kondisi pikiran. Pikiran yang menyakiti diri sendiri. Aku tidak bilang itu pikiran yang salah, bisa salah bisa benar tergantung yang bersangkutan. Kalau dia merasa repot, ya betul juga jadi repot, dan mungkin jadi kapok punya anak, bahkan menyarankan orang lain jangan punya anak banyak-banyak. Kalau merasa tidak repot, ya biar pekerjaan rumah jadi bertambah, dia tetap merasa lebih berbahagia dengan anak lebih dari satu. Hukum daya tarik. Law of attraction.

Ada orang menyarankan stop punya anak sedangkan kalau ada yang tanya aku, aku akan bilang senang sekali lho punya anak banyak. Kondisiku dan orang itu berbeda. Aku ibu rumah tangga tanpa kegiatan cari makan di luar, dan mereka wanita karir yang rata-rata gajinya malah lebih besar dari suami masing-masing. Punya anak lagi bagi mereka berarti harus menambah jumlah pembantu/nanny di rumah, kemudian bertambahlah pengeluaran untuk menggaji pembantu, susu formula, dan popok kertas, serta biaya pendidikan formal yang semakin mahal sebab sebagai wanita karir yang sibuk di luar mereka tidak terpikir untuk meng-homeschooling-kan anak-anak. Aiyaa… pusing!

Mungkin juga itu karena generasiku termasuk generasi yang besar dengan menonton film boneka si Unyil. Aku ingat betapa nggak enaknya jadi si Usro yang adik-adiknya banyak membuat dia harus selalu menjaga mereka dan tidak bisa bermain bersama teman-teman. Makanya, sukseskan program KB dong!

“Ya ya ya…” Ingat kan iklan layanan masyarakat itu? Kalau tidak pernah mempertanyakan, ya akhirnya orang terima saja pendapat yang sudah diindoktrinisasi seperti itu, punya anak banyak repot. Padahal kalau dipikir, kenapa juga kok adik-adik si Usro nggak bisa diajak bermain bersama. Mungkin karena budaya sekolah yang begitu kuat bahwa bermain itu harus eksklusif dengan teman sebaya saja membuat aku tidak mempertanyakannya.

Kenyataannya wanita karir lebih punya prestise yang lebih besar di mata masyarakat daripada para ibu tradisional ketinggalan zaman yang di rumah saja. Bahkan menurut kenalan-kenalanku yang gajinya besar-besar itu sih, mertua mereka tidak berani macam-macam mengusik kenyamanan mereka dibandingkan kalau mereka jadi ibu rumah tangga saja.

Kebanggaan diri telah menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi ekonomi dan pembangunan nasional tersebut membuat  mereka heran mengapa aku tidak mengoptimalkan potensiku mencari nafkah. Kan aku punya ijazah S1 dari luar negeri, bisa bahasa Jepang, kalau kerja rupiahnya pasti gede, lumayan buat berbelanja keperluan sendiri, bisa mandiri, daripada menunggu suami membelikan baju.

Sejak aku kecil pun ibuku mewanti-wanti aku agar jangan jadi seperti dia. Ibuku dulu pernah merintis karir sebagai perawat yang kemudian terputus karena dia memilih menikah dengan ayahku, jenis pria yang orang Jepang bilang ‘teishu kanpaku‘ (male chauvinist: pria yang bersikeras istri harus di rumah saja tidak boleh bekerja, melayani keperluan keluarga saja).

Kata ibuku, “Coba dulu Mama terus jadi perawat, sekarang pasti sudah jadi kepala perawat seperti teman Mama si A, hidupnya enak, gajinya besar.”

Bahkan saat kenalan-kenalanku yang bekerja datang ke rumah suamiku, ibu masih senang berkata,”Memang beda ya kalau wanita bekerja dengan yang di rumah saja. Yang biasa bicara di luar dengan orang banyak lebih percaya diri, lebih keren kelihatannya.”

Ya ampun, Ma, you speak for yourself. I’m contented and confident being me.

Begitulah sekedar ilustrasi bahwa aku besar dengan dibuat merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga itu pilihan terpaksa, pilihan wanita kelas dua, siapa pun juga bisa jadi ibu rumah tangga saja. Oh, feminis sekali, sangat bersifat ‘pembebasan wanita’ kan? Aku ingat pernah mengirimkan surat elektronik kepada seorang kawan, isinya: jangan sampai deh aku jadi ibu rumah tangga saja, nanti aku jadi tua, aku kaget karena hidupku sudah kuhabiskan untuk membesarkan anak-anak saja.

Aku juga ingat bapak dosen Sejarah Politik Cina mengatakan: jangan sampai ada yang mau jadi ibu rumah tangga saja tanpa berkarir, dan saat itu aku mengamininya. Aku sudah lupa sama sekali materi kuliahnya tentang Cina tetapi aku ingat wejangan dosen yang tidak penting itu.

Yang mengubah pandangan aku untuk berganti haluan menjadi: sebisa mungkin aku ingin jadi ibu rumah tangga saja, adalah kelahiran Kanae lima tahun lalu. Waktu aku tahu aku hamil, enam bulan setelah pernikahan, aku shock. Aku pikir: kecelakaan nih. Sekarang aku jadi nggak bisa cari kerja deh, mana ada yang mau menerima aku yang sedang hamil, baru kerja sebentar lalu harus cuti hamil.

Tetapi begitu Kanae lahir… Wah dia begitu cantik. Aku jatuh cinta. Aku tidak mau lagi meninggalkan dia untuk bekerja di luar. Waktu bersama anakku untuk tumbuh bersama-sama terasa lebih berharga daripada uang tidak seberapa yang mampu aku hasilkan. Waktu itu, kalaupun aku pilih bekerja paruh waktu siaran di radio, aku cuma mau masuk kerja saat suamiku bisa menjaga Kanae yang masih bayi. Aku mengatur pekerjaan di sekeliling prioritas mengurus anak, bukan pekerjaan yang mengaturkan waktuku untuk anak. Aku merasa bebas mandiri dan belum pernah sebahagia itu.

Memiliki Kanae juga memperluas pergaulanku dengan ibu-ibu Jepang di perpustakaan, jidoukan (gedung arena bermain yang dikelola pemerintah), posyandu, dan tempat-tempat lain berkumpulnya ibu-ibu yang punya anak. Aku lihat mereka menikmati hidup dan peran sebagai ibu rumah tangga saja. Dibilang ibu rumah tangga pun mereka tidak ngendon di rumah saja setiap hari. Mereka ikut perkumpulan hobi, kursus-kursus, berjualan di flea market dan Yahoo! Auction, ikut kegiatan untuk ortu yang diadakan pemerintah, ikut kegiatan relawan di mana-mana, kegiatan PTA (Parent-Teacher Association). Benar-benar padat dan menyenangkan. Kebanyakan ibu-ibu Jepang itu lulusan universitas, pernah bekerja beberapa tahun, lalu pilih berhenti kerja setelah menikah daripada terus jadi OL (office lady, wanita kantoran) yang kalau diteruskan pun ujungnya tidak tahu mau menjadi apa. Sementara kewajiban di rumah sudah nyata.

Kenalanku ada yang cerita dia pernah ambil cuti setahun dari pekerjaannya untuk melahirkan dan mengurus bayi. Hasilnya dia stres. Katanya bingung, tidak punya kesibukan.

Aku jadi pengen menyela, mengurus bayi apa bukan kesibukan ya, tetapi tidak jadi, takut dijitak. Mungkin juga sih dia serahkan kesibukan itu pada pengasuh anaknya yang berseragam merah muda seperti suster itu. Mungkin ya, kalau seumur-umur diperintah-perintah oleh orang, baik itu ortu, guru sekolah maupun atasan, ketika dia jadi orang bebas malah jenuh dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dengan waktunya. Dia bingung tidak ada lagi yang memuji-muji prestasinya. Sebaliknya aku benci sekali disuruh-suruh orang. Selama suamiku bertanggung jawab dan memberi uang belanja, aku lebih pilih di rumah.

Kata sang “kenalan”, kok mau jadi ibu rumah tangga saja, tidak ada kebebasan, terkekang oleh tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting, yang bisa didelegasikan pada pembantu.

Tersenyum saja aku. Mau mengemukakan pikiran jujur secara lisan, tidak berani. Untung ya punya blog. Bisa nulis-nulis semaunya.

Duh, Kenalan, aneh sekali dirimu. Memenuhi kebutuhan anak-anakmu kau bilang terkekang, sedangkan memenuhi kebutuhan klien dan bosmu kau bilang kebebasan.

Apakah sama rasa disayangnya, anak yang dimandikan Mama, dengan dimandikan pembantu? Disuapi Mama, dengan disuapi si Bibik, apakah sama? Tidak betul kalau kita selalu menilai suatu pekerjaan dengan uang.

Meskipun suamiku digaji besar untuk melakukan pekerjaannya di kantor, tidak berarti pekerjaan suamiku lebih penting daripada pekerjaanku mengurus anak-anak di rumah. Suami membawa pulang gaji yang diperoleh dari kerja dia di kantor dan kerjaku di rumah. Rezeki yang suamiku terima itu merupakan rezeki aku dan anak-anak juga. Kalau suami tidak memberikan bagian rezeki yang merupakan milikku dengan alasan aku tidak berkontribusi, berarti suamiku perlu diguncang keras-keras biar sadar. Alhamdulillah, suamiku tidak begitu.

Pokoknya, ya, kesimpulannya, bagi keluargaku, ya aku di rumah saja yang terbaik, dan aku ingin punya banyak anak. Bagi keluarga orang lain, ya pilihan bekerja yang terbaik, dan mungkin memang lebih baik anak mereka cuma seorang dua orang.

Siapa yang paling tepat? Tidak ada yang salah kok, dan tidak ada satu-satunya pilihan yang paling benar. Perbedaan adalah rahmat, ya toh? Tidak perlu mengasihani pilihan hidup orang lain, bukankah tiap kita ada sikon sendiri-sendiri. Aku tidak terperangkap menjadi ibu rumah tangga, aku rasa kenalan-kenalanku yang keren-keren itu juga sukarela dan tidak terpaksa untuk banting tulang di luar rumah.

Seperti aku berbahagia dengan pilihanku, aku harap mereka juga demikian adanya. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

39 thoughts on “26. Soal Kerja dan ‘Di Rumah Saja’

  1. tulisan mbak (lagi2) menyuarakan sebagian besar isi hatiku, :-)

    sebelum aku punya anak-anak, sempat beberapa kali merasakan kerja kantoran dan nggak pernah betah.

    setelah punya anak-anak, aku makin mantap untuk “di rumah saja”. tapi ya itu, kok sering ketemu orang (kerabat/tetangga) yang menyayangkan keputusanku. kesannya aku nggak ada kerjaan banget gitu di rumah.

    • Iya Mbak, memang nggak semua orang suka kerja di kantor. Emang suka di rumah kok… apalagi di rumah jadi penerjemah :D

      Orang mah suka iseng aja, ngasih nasehat setengah ngotot supaya kita jadi seperti dia.

      Buku terjemahannya sudah banyak ya Mbak Rien…

    • Betul, Mbak Maria. Kenapa juga kok meninggalkan anak-anak saat hati nurani berkata lain? Mbak Maria kreatif ya, punya usaha bikin kue juga di rumah selain kegiatannya yang lain-lain.

  2. Saya belum berkeluarga, saat ini mengajar di sebuah sekolah full day. Sempat berpikir jika nanti sudah berkeluarga n memiliki anak, berharap bisa mendedikasikan diri untuk mengurus dan mendidik anak-anak saya sendiri. bukan diurus oleh pembatu. tulisan ini memberi alternatif buat saya. Keyakinan bahwa kita mampu mengalahkan “kepentingan” yang menggoda, rasanya harus dimantapkan… bagaimana mbak?

    • Mbak Ida R. poin yang saya buat di sini, menjadi ibu rumah tangga bukan berarti nggak bisa ngapa-ngapain lagi, bukan berarti ‘tertindas laki-laki’, dan bukan juga ‘terperangkap’ keadaan. Seperti juga Mbak Ida pasti punya alasan kuat mengapa ingin anak-anak diurus ibunya sendiri.

      Kalau pun ibu pilih bekerja, alasannya pun harus kuat toh, jangan sampai bekerja di luar (=menitipkan anak pada orang lain) karena tidak tahan dengan tekanan pihak-pihak tidak penting yang tidak berkepentingan (teman, famili, tetangga).

      Tanggung jawab kita sebagai ibu itu pada siapa? Pada Tuhan, pada anak-anak, pada suami. Jelas bukan pada orang lain yang iri ngeliat kita hepi di rumah.

  3. Ya itu mbak, saya pernah dengar ada ibu yang bilang,”mending kerja dari pagi sampai sore, dech…daripada di rumah capek ngurus anak, ngurus kerjaan rumah..” menurut saya, itu justru menyenangkan (saya sedang mengasuh anak usia 2 tahun).
    Satu hal lagi mbak Andini, Saya sedang mengurus sekolah gratis 100% untuk anak dhuafa. Rasanya saya tidak bisa jauh dari dunia pendidikan. Buat saya sekolah ini (SMP UTAMA Depok) adalah laboratorium pendidikan dan sosial pertama buat saya, sehingga sulit juga buat saya meninggalkan sekolah ini.

    • Senang ya Mbak Ida, melaksanakan tugas mulia menjadi ibu dan pendidik, yang sama-sama dinikmati. Semoga nggak ada yang harus ditinggalkan dan Mbak Ida menemukan solusi ya.

  4. Hua..ha..ha… seru mbak… (*tertawa lebar*)
    Sebagai suami yang merasa feminis dan memiliki isteri feminis yang “nggak “ngantor”, saya suka membaca pandangan dari para wanita sendiri tentang bagaimana mereka memandang perannya.
    Dengan teknologi Internet, rasanya peluang untuk “ngantor” dari rumah juga semakin terbuka sehingga segregasi rumah/anak dan kantor harusnya semakin pudar. Anak-anak dapat, aktualisasi diri dapat, uang dapat. Asyik sekali itu kalau bisa terjadi.. ^_^

    • Iya, Pak Aar, telecommuting. Duduk-duduk di rumah dapat duit. Kayaknya WAHM (work-at-home mom) dengan HS hubungannya dekat 8)

      Zaman sekarang feminis itu kalau kaum wanita bisa memilih, bisa menjalankan hidup sesuai keyakinan diri, bukan menyerah pada tekanan orang sekitar.

      Homeschooling is Anti-Feminist? http://www.justenoughblog.com/?p=316

  5. Denger2 sih di Islam tanggung jawab utamanya laki2 itu menghidupi, memimpin dan melindungi keluarga, kalau pendidikan anak tanggung jawab utamanya di perempuan. Kalau urusan kerjaan rumah kaya’ masak, nyuci, dll? Tanggung jawab berdua! Kalau sekarang kan kebalik-balik. Bapak & ibu cari duit, pembantu mendidik anak, trus anak2 disuruh masak dan nyuci. Ha3…
    .-= Kreshna´s last blog ..Apa yang Bisa Dipelajari Orang Dewasa Dari Anak-anak =-.

    • Saya malah denger-denger, menurut Islam tugas-tugas rumah seperti memasak dsb. itu adalah tanggung jawab suami, bukan istri. Kalau pun istri yang kemudian mengerjakan semua itu berarti suami harus berterima kasih punya istri toleran Benarkah? :D

      Hebat dong kalau anak-anak bisa masak dan nyuci. Saya lebih sering melihat anak-anak yang terbiasa menyuruh-nyuruh pembantu dan kurang hormat sama pembantu. Saya belum pernah punya pembantu tapi jadi khawatir juga.

  6. wanita2 yang emang dianugerahi anak emang mungkin harusnya fokus pada anak dan menurutku itu bukan tugas si ibu aja. Dulu aku heran ibuku berhenti kerja karena mengurus anak2nya yg masih kecil (3 org lho) tapi kalo ngeliat hasilnya sekarang aku jadi bangga deh (narsis.com)^^
    .-= alice in wonderland´s last blog ..Pursuit of Happyness =-.

  7. yess mbak, aku malah mikir sekarang ini ada dua yang ingin aku bangun dan aku tularkan. konsep Pendidikan berbasis Rumahan alias Homeschooling dan konsep Bisnis Berbasis Rumahan alias SOHO, Small Office Home Office.

  8. setelah membaca tulisan mbak Andini saya jadi nangis. Sekarang saya sedang menempuh studi mbak dan meninggalkan anak bersama orang tua dan seorang pembantu. Kadang saya merasa betapa saya ibu yang tega meninggalkan anak demi sebuah karir. Banyak teman yang berusaha menenangkan saya bahwa apa yng nantinya akan sy capai adalah utk anak juga. Namun sekali lagi, ketika mata saya beradu dengan mata anak saya, gak bisa dipungkiri rasa penyesalan memenuhi hati saya. Saya berdoa semoga waktu yang telah terbuang ini nantinya akan diganti oleh Gusti Allah. Saya putuskan nanti jika saya ingin meneruskan studi lagi, saya HARUS mengajak anak ikut serta. Makasih ya mbak utk postingnya ,,,

  9. Kenapa tuhan menciptakan seorang anak harus melalui sepasang manusia ? . Supaya yang satu bisa menjaga anak anak ketika yang lainnya harus mencari nafkah dan meninggalkan anak anak. Kodrat manusia dari zaman prasejarah sudah seperti itu.

    Tugas tugas rumah tangga yang tidak melibatkan emosi dengan anak, seperti mencuci, belanja, memasak, dll , mungkin bisa didelegasikan. Tapi tugas tugas yang melibatkan emosi dengan anak seperti memandikan, menyuapi, bermain, dll harus dilakukan oleh orang tua, bukan oleh pembantu, bahkan bukan juga kakek dan neneknya.

  10. orang yg punya anggapan menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan rendah n tak berguna bisa jadi karena orang itu bodoh atau pikirannya sempit n picik. bodoh karena tidak tahu hukum (bahwa hakikat perempuan itu adalah menjadi istri dan ibu), berpikiran sempit n picik bisa jadi ktika sebenarnya dia tahu aturan tapi tak mau melaksanakan krn ego nya.
    so, buat para ibu rumah tangga yg full time bekerja di rumah ga usah juga marah2 at kesel sama orang seperti itu ^_^ !
    saya sendiri, bekerja di luar rumah, tapi sy tahu pekerjaan saya tdk harus menelantarkan keluarga di rumah, dan jika pekerjaan sy terbukti menelantarkan keluarga, tentu sy akan meninggalkan pekerjaan itu. tentunya tidak mudah untuk berperan ganda spt itu!

  11. Best article ever…membaca ini setelah menjadi Ibu Rumah Tangga :ALHAMDULILLAH… nyesel gak dari dulu..kehilangan 6 tahun perkembangan Aisha hanya untuk menjadi manager gak penting…

    • Waktu itu bagi Mbak Aniek menjadi manager merupakan hal yang penting, sedangkan sekarang sudah tidak lagi… Segala yang telah terjadi itu perlu untuk terjadi untuk pendewasaan kita. Masa lalu jangan disesali… halah… ;)

  12. baca ini sudah berjuta-juta kali deh. Mewakili hatiku banget. Ibuku dari kecil juga mendoktrin supaya aku jgn mau jd ibu rumah tangga, dan kelahiran Atala mengubah segalanya. Ternyata perjuangan banget menuju kesitu aja :(

    Quote Favorit: “Duh, Kenalan, aneh sekali dirimu. Memenuhi kebutuhan anak-anakmu kau bilang terkekang, sedangkan memenuhi kebutuhan klien dan bosmu kau bilang kebebasan.”

    • Lucu ya Mbak, dulu wanita memperjuangkan hak kerja di luar, sekarang kita memperjuangkan hak untuk berada di rumah. Dulu orangtua memperjuangkan hak anaknya bersekolah, sekarang kita memperjuangkan hak anak-anak untuk tidak sekolah (homeschooling). Zaman sudah berubah, tapi intinya sama: memperjuangkan kemerdekaan menentukan pilihan.

      • Mbak Wietski (panggilan apa Mbak?), Andini.

        Tergelitik hati ini membaca kalimat Andini:
        “dulu wanita memperjuangkan hak kerja di luar, sekarang kita memperjuangkan hak untuk berada di rumah”

        Rasa-rasanya beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca artikel (lupa di mana), bahwa di Amerika dan Jepang pun gerakan wanita berhenti bekerja dan memilih mengabdi sebagai ibu rt sangat marak. Untuk mendukung kegiatan wanita untuk berhenti bekerja agar bisa mengasuh anak-anak (agar menjadi generasi muda berkualitas), sangat didukung oleh pemerintah negara masing-masing.

        * maaf jika tidak berkenan

  13. terima kasih mba Andini, tulisan ini sungguh menyejukkan hati.
    saya pernah logh menganggap sebelah mata ibu yang di rumah saja hanya gara-gara saya ber-gaji rutin tiap bulan sedangkan mereka enggak.
    Padahal saya tahu kerjaan rumtang bukan masalah sepele, terutama mengasuh anak.
    Padahal ya mereka lebih beruntung bisa bersama anak, melihat perkembangan anak, nikmat sekali.
    Mungkin, anggapan saya tsb sekedar menghibur hati yang 4 tahun tidak seberuntung ibu yang di rumah saja.
    Sekarang, keberuntungan itu saya alami !
    Luar biasa, indah sekali !
    Alhamdulillaah.

    Hanya saja, selaaaalu dapat pertanyaan dari teman-teman (yang masih berstatus Lady Office) : Lo ngapain aja di rumah selain ngurus anak ?
    ga bete di rumah saja ?

    baru 4 bulan siy @home, alhamdulillaah happy2 aja, walau sudah tidak ber-gaji rutin tiap bulannya :D

    • Mbak Dinar emang keren! Alhamdulillah Mbak Dinar dengan berani memutuskan apa yang penting bagi diri dan keluarga. Seneng baca-baca pengalaman HS-nya Mbak, jangan lupa comment saya di-approve dong… :)

  14. Waduh, yang namanya keren bukan saya mbak :D
    Iya, alhamdulillaah, Allah memang Yang Maha segala-galanya, terasa sekali mbak walau pun saya sudah tidak bekerja namun kebutuhan yang biasanya kami perlukan sebulan ada saja rejekinya.
    Benar-benar dicukupkan Allah.
    Oia, Homeschooling merupakan salah satu alasan saya berhenti bekerja, selama hampir 10 tahun di tempat yang sama :D

    Kesimpulannya, yang keren adalah Allah SWT dan Homeschooling !

  15. Salam kenal Andini. Maaf langsung to the point manggil ‘nama’ tanpa embel2 Mbak or Teteh or Kak. Soalnya, aku rasa Andini lebih muda dari pada usiaku. Andini teman Kanti ya?

    Salut bisa menuliskan ungkapan perasaan segini jujur, segini runut, dan enak dibaca.

    Demikian perkenalan singkat dari saya. Panggil saja novi or novi-el.

    • Halo Mbak Novi, perasaaan udah kenal lama deh, apa saya aja ya yang kege-eran soalnya dulu pernah baca blog Mbak Novi di blogspot tentang Katei Hoiku (lupa namanya) yang mahal banget itu loh… :) Kanti nggak kenal… temannya Mbak Irma ya?

      Jujur… iya perasaan saya tiap nulis, sering pas lagi be-te, termasuk pas nulis ini ;) Apa iya ya enak dibaca…tambah ge-er aja deh. Terima kasih Mbak Novi.

  16. “”Meskipun suamiku digaji besar untuk melakukan pekerjaannya di kantor, tidak berarti pekerjaan suamiku lebih penting daripada pekerjaanku mengurus anak-anak di rumah. Suami membawa pulang gaji yang diperoleh dari kerja dia di kantor dan kerjaku di rumah. Rezeki yang suamiku terima itu merupakan rezeki aku dan anak-anak juga”

    Persis seperti ini yang aku sampaikan ke ortu dan kerabat yang slalu “menyarankan” utk bekerja ;) …skali lagi sukaa bgt sama potingannya :D

  17. bravo mb..
    tutup kuping deh untuk semua perkataan yang bikin mengurut dada
    apa sih yang membuat seorang ibu bahagia kecuali jundi-jundi yang shalih hasil besutan tangannya sendiri..

    salam hangat dari yogya mb^^

  18. seneeeeng bacanya mbak….terwakili banget rasanya…..

    Saya dan suami memang tetap menyekolahkan anak di luar rumah, tapi Alhamdulillah tekad saya untuk tetap menjadikan rumah sebagai sekolah buat anak gak berubah …. yang anak-anak dapat dari sekolah kami anggap hanya sebagai tambahan saja…

    terus berbagi ya mbak……

  19. Subhanallah.. Ini pertama kali aku “comment” di suatu blog.. Sangat inspiratif.. Blog ini kok jadi kaya curahan hatiku ya.. Hahahaha!!
    Smakin membuat saya prcaya diri utk mengHSkan anak2 saya..
    Jazaakillah khayran katsiran utk sharingnya mba Andini.. A hundred thumbs up..!! (Minjem jempol HSer lain :p)

  20. Karier sebagai ibu RT sangat mulia loh, bisa melahirkan anak@ yang hebat , cerdas dan santun karena kita mendidiknya dengan penuh cinta, perhatian kasih sayang dan kertulusan.
    jadi jangan mengaanggap profesi Ibu RT sepele.

    Berbanggalah anda yang telah memilih karir “Ibu Rumah Tangga”
    S a l l u t t…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>