Kemarin sore seorang kenalanku datang ke rumah. Ceritanya aku bertengkar dengan suamiku, dan sebagai kawan yang baik dia datang jauh-jauh bermobil dari luar kota mengunjungi aku untuk mendamaikan.
Aku bilang:
Suami mau anak kami sekolah. Aku mau dia homeschooling di rumah.
(Ceritanya lupa kawan ini bangga kedua anaknya sudah sekolah sejak usia 2 tahun karena dia bekerja).
Dia bilang:
Kalau sekolah, anak jadi nggak nakal lagi. Jadi patuh. Bagus lho sekolah itu. Kita jadi terbantu. Tinggal ngurusin hubungan anak dan ibu saja, nggak perlu ngajarin apa-apa lagi. Aku rasa kalau kita ngajarin sendiri, anak itu jadi main-main aja, nggak nurut. Kalau sama guru dia kok jadi baik, mau ngikutin pelajaran.
Aku bilang:
Malah itu yang aku nggak mau. Berarti kan di sekolah belajarnya karena takut sama guru. Sekolah itu mendorong kepatuhan total, konformitas penuh, yang nggak mempertanyakan otoritas. Dia jadi terkekang, dicegah mengekspresikan diri sepenuhnya. Dicegah menemukan minat dan kemampuan unik dia sendiri, dan akhirnya menghambat dari menemukan jati diri dan kebahagiaan diri sendiri.
Ngaruh ya, argumentasi aku? Nggak. Cuma aku sendiri yang jadi sadar kalau aku berbeda dengan dia.
Lanjut.
Aku bilang:
Mertua pengen pamer kalau aku kerja. Dibilangin begitu sama orang tuanya, suamiku jadi malu istrinya nggak kerja. Padahal dulu dia nggak keberatan aku mau kerja apa nggak. Terserah aku. Ya nggak pa-pa sih mertuaku mau bilang apaan juga. Bodo amat, orang lain ini. Tapi masa suami sendiri menilaiku dari kerja nggak kerja sih?
Ya udah, cari aja istri lain sana.
Aku nggak mau ya kerja di luar, kasihan anakku diasuh pembantu.
(Ceritanya saking kepengen curhat, aku betul-betul lupa kalau si kawan ini bangga sebagai wanita karier dan anak-anaknya memang diasuh pembantu).
Kawan ini bilang:
Nggak jelek lho anak sama pembantu. Kan yang memenej tetap kita sebagai ibunya. Kita tetap yang ngatur makannya, bajunya, pendidikannya. Bukan berarti kita lepas tangan meskipun ada pembantu.
Aku pikir, ups, salah ngomong deh.
Ah, ya sudahlah.
Hari itu aku belajar keterampilan sosialisasi yang baru. Memvalidasi perasaan dan pendapat orang lain meskipun kebijakan dia sebagai ibu jauh berbeda dengan aku.
Aku bisa tersenyum dan bilang,”Oh ya, begitu ya”, meskipun aku sendiri tidak sampai hati melakukan hal yang sama pada anak-anakku sendiri. Mungkin itu yang terbaik untuk dia dan keluarganya, aku juga tidak tahu toh? Aku ya jalan terus melakukan apa yang aku yakini, tidak perlu terombang-ambing dengan kata teman, kata tetangga, atau kata mertua. Aku merasa geli sendiri kalau ingat tujuan awal pertemuan, sebenarnya kawanku ini ingin menghiburku tetapi akhirnya malah aku yang berhati-hati menjaga perasaan dia.
Yah, sudahlah. Bukankah dunia ini seru, heboh, dan asyik karena kita semua menjalani hidup sesuai keinginan dan kondisi masing-masing tanpa keterpaksaan, dan tanpa kebutuhan memaksakan cara hidup kita terhadap orang lain? Aku tidak serta merta memutuskan hubungan pertemanan hanya karena dia tidak melakukan apa yang aku lakukan. Itu mah mentalitas anak sekolah. ###
Keren mbak Andini… aku juga sering ngalamin hal yang seperti ini, tp dasar aku ini suka ngeyel (krn gak salah), jadi kebanyakan mereka yang ngobrol sama aku itu yg terdiam.. hehehe…
Suka banget dengan artikel ini.
Waaa… ge-er deh dipuji Mbak Maria.
Saya rasa nggak mungkin ada orang berani bicara begitu pada Mbak Maria yang keren, bisa macem-macem, masih sempat nerbitin buku homeschooling pula.
Baca tulisan2 mba ko serasa aku baca diary curhatan aku sendiri yaa, mirip2 dengan yang aku alamin mba
..tfs ya mba
Terima kasih mau baca, Mbak Mila.
cool mbak!
Tengkyu, Mbak Ratna.