29. Tidak Percaya Sekolah

You are currently browsing comments. If you would like to return to the full story, you can read the full entry here: “29. Tidak Percaya Sekolah”.

13 thoughts on “29. Tidak Percaya Sekolah

  1. Pingback: Inilah 17 alasan mengapa kita mesti menjadi guru yang lebih baik dari hari ke hari. « Guru Kreatif. Creative Teacher

  2. Tambahan lagi, Bunda Andini, tentang mencontek yang membudaya di sekolah formal, bahkan sampai level perguruan tinggi.
    Eh … itu sudah termasuk dalam poin 17 ya. Tapi mencontek itu bukan hanya saat ujian nasional saja, lho. Alasan mencontek karena:
    1. Jika tidak memberi contekan dijauhi teman-teman, sebaliknya jika tidak mencontek dikatai sok dan jiga dijauhi teman.
    2. Terlalu banyak tugas. Seingatku dulu setiap mata pelajaran punya LKS (lembar kerja siswa) satu buku penuh isinya pertanyaan semua. Satu bab bisa lebih dari 100 pertanyaan. Semuanya harus diisi, semuannya dikumpulkan, semuanya dinilai. Belum lagi tugas dari buku paket. Ampun dah.
    3. Tidak ingin mengulang mata kuliah yang sama sekali ga disukai tapi wajib diambil.
    Jadi … tidak melulu mencontek itu karena malas.
    Tapi kebiasaan mencontek bisa menyebabkan kemalasan.

    • Ngasih pandangan dari sisi yang sedikit berbeda soal ini ya. “Mencontek” itu sebenarnya tidak selalu buruk dan tidak pasti juga menimbulkan kemalasan. Orang2 kreatif hampir tidak pernah memulai dari nol, namun mereka “mencontek” alias mengambil dari sesuatu yang sudah ada, lalu mencampurnya kembali menjadi sesuatu yang baru (copy and remix atau copy and twist). Sir Ken Robinson juga mempertanyakan kecenderungan sekolah formal untuk membuat siswanya menjadi individualis serta kompetitif terhadap rekan belajarnya (melalui tugas dan ujian individual, larangan berinteraksi saat pelajaran, lalu sistem ranking, dll), padahal di era sekarang ini justru siswa harus dilatih menjadi kolaboratif. Seru kan kalo ada sistem belajar mengajar di mana, jangankan mencontek, siswa malah didorong untuk saling bekerja sama menyumbangkan jawaban dan membangun collective wisdom/solution. Kolaboratif banget gitu. Terus soal kompetitif? Mereka tetap dididik untuk berkompetisi, namun berkompetisi dengan standar performa diri yang mereka tetapkan sendiri, serta dapat berkompetisi pula dengan “problem” atau “challenge”. Just a thought… :)
      .-= Kreshna´s last blog ..Project Based Learning =-.

    • Btw, hampir lupa, situs mbak Ameilia juga keren. Sesekali kita harus tanding main Sudoku, which I’m so good at. Ha ha ha, barusan aku comment soal kompetitif dan kolaboratif, sekarang malah sombong en nantangin kompetisi Sudoku ya. Maklum, produk sekolah formal nih. :p Seru nih semakin banyak blog pendidikan berkualitas. Let’s collaborate in making our education ever better. :)
      .-= Kreshna´s last blog ..Project Based Learning =-.

    • Mas Khresna rasanya perlu dibedakan deh menconteknya dulu. Pertama, “mencontek” dan “mengutip” kan beda. Boleh2 saja “mencontek” tulisan orang lain, tapi tidak bisa diklaim sebagai milik pribadi. Mencontek di saat ujian biasanya mengklaim jawaban orang lain sebagai buah pikirannya. Siapapun pasti tidak menganggapnya bagus. Tujuan dari ujian sendiri kan untuk mengetahui sampai dimana dia mengerti materi tertentu. Artinya, tujuannya tidak tercapai.

    • @wietski:
      Yups, makanya saya pakai kata “tidak selalu”, dan saya tulis juga di situ soal “copy and remix/twist”, artinya tetap ada tambahan usaha pribadi. Kalau yg mbak Wietski definisikan itu jelas2 plagiat gitu ya. Tapi tidak semua mencontek itu plagiat.

      Soal ujian, nah ini yang saya mau ajak berpikir di luar kotak. Apakah menilai sampai di mana siswa mengetahui materi tertentu itu harus via ujian individual selama beberapa jam? Ini kan supaya guru gampang aja menilainya cuma dari hasil akhir ujian, nggak dari proses belajar. Di blog post saya yg tentang Project Based Learning, siswa berkelompok membuat sebuah project, dan guru mengevaluasi pemahaman siswa terhadap materi itu dengan melihat proses siswa memahami materi dan berkontribusi terhadap project selama project berjalan (satu semester!, dan hasil evaluasi tidak harus berupa nilai kuantitatif kan). Artinya secara tim, akan lebih menguntungkan kalau mereka saling membangun solusi yg lebih baik dgn cara menambah atau memperbaiki solusi orang lain (jadi harus “nyontek” dulu). Cuma memang proses evaluasi kaya’ gini jelas lebih susah buat gurunya. Siapa bilang jadi guru itu gampang? :) Ini sekaligus menunjukkan fakta bahwa di Indonesia bukan cuma siswa yang kebanyakan beban dan tugas, tapi guru juga begitu sampai hanya sempat berorientasi hasil.
      .-= Kreshna´s last blog ..Project Based Learning =-.

    • Pak Kreshna dan Mbak Wiwiet, diskusi yang seru, ikutan ah… *Lah, blog saya gitu loh*

      Saya paham poin Pak Kreshna, model belajar sambil bekerja sama itu bagus sekali dan lebih bermanfaat diterapkan di dunia nyata.

      Sekolah juga sudah berusaha menerapkannya dengan sistem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)kalau zaman kita SD dulu. Sayangnya, dengan keterbatasan waktu pelajaran, murid yang malas-malasan,dan lain-lain, akhirnya yang terjadi bukan kerja sama dalam menguasai pelajaran, melainkan satu siswa terpandai terpaksa mengerjakan semuanya untuk teman-teman sekelompok.

      Saya juga paham poin Mbak Wiwiet, bagaimana pun mencontek, mencuri konten, membajak, ya nggak boleh lah. Nggak jujur itu namanya.

      Kembali pada poin Pak Kreshna, tentang awal penciptaan itu adalah peniruan… kok pas banget ya, saya lagi menerjemahkan buku yang bilang begitu juga. Penulis buku ini bilang (belum terbit makanya rahasia :D ), orijinalitas itu tak lain hanyalah sesuatu yang dibangun di atas pikiran para pendahulu, bukan sesuatu yang muncul dari ruang hampa.

      Iya situs Mbak Ameilia baguus… keren banget magazine layout-nya. Materinya pasti bisa dimanfaatkan oleh anak-anak praktisi homeschooling.

  3. Di skul saya merangkap guru BP/BK. Jika ada anak yang dengan ‘terpaksa’ harus mengulang di kelas yang sama atau diminta untuk pindah karena sesuatu hal, maka tanpa malu-malu saya berkata kepada orang tuanya bahwa hal ini terjadi bukanlah semata-mata sebagai wujud kegagalan anaknya, tetapi juga kegagalan kami guru-gurunya yang telah gagal dalam membimbingnya. Biasanya orang tua mereka malah nangis jika saya sudah berkata begini. Karena selaku guru kami juga menyadari, setiap angka merah ada di rapot anak, itu juga berarti angka merah bagi kami, gurunya…..
    Sudah saatnya memang pola pendidikan di skul direformasi. Dikembalikan ke khiitah pendidikan seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Terutama sistem kelulusan ala UN yang sungguh melanggar HAM…
    Salam Pendidikan

    • Horee… semangat, Bu Guru! Mungkin suatu hari nanti kita bisa percaya anak-anak bisa belajar tanpa kurikulum yang saklek, dan betul-betul menyesuaikan dengan minat dan bakat anak itu sendiri. Setelah saya dewasa, sekarang, saya menyadari bahwa nilai merah pelajaran Fisika saya dulu ternyata cuma berarti saya tidak perlu ilmu Fisika itu waktu dewasa, bukan berarti saya bodoh, atau guru tidak mampu mengajar. Memang pelajarannya yang tidak perlu, bagi saya.

  4. Saya bangga dgn guru saya..apabila ada kekurangan hsl didikan, itu karena saya..dan saya mahfum utk kondisi itu. Home schooling tdk saya rekomendasikan..banyak mudarat nya. Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>