30. Soal Tonjok-Menonjok di TK

Ceritanya ada seorang ibu muda yang sukses berkarier yang anak laki-lakinya berumur 5 tahun dan dimasukkan ke sebuah TK. TK-nya itu hanya tiga jam, kalau nggak salah. Singkat banget ya. Bandingkan dengan TK di Jepang yang setiap hari dari pukul sembilan pagi sampai dua siang, dan taman penitipan anak yang dari pukul sembilan pagi sampai empat sore.

Dengan waktu sekolah yang sangat singkat itu, eh anehnya si anak masih juga menolak berangkat. Setelah ditanya-tanya, ternyata si anak laki-laki ini mengaku pernah dipukul oleh teman sekelasnya, anak perempuan, yang terkenal nakal. Oh iya, tetapi tidak sering kok, sekali-sekali saja, menurut salah satu dari ketiga orang pembantunya.

Si ibu ini bingung harus bagaimana. Masa harus berhenti TK? Uang pangkalnya kemarin mahal buangettt. Lagian kan mau ngapain nih anak saya di rumah saja sementara saya bekerja? Ini anak kok jadi anak laki-laki kenapa kalah sama anak perempuan? Kalau ditonjok, balas tonjok dong! Begitu saja kok keok. Begitu saja kok jadi nggak mau sekolah. Nanti kamu ketinggalan lho! (Pikirku, ketinggalan apa ya?) Nanti kamu nggak ada yang mau ngasih gaji lho! (Pikirku, memangnya lulusan TK gajinya berapa sih?) Kamu Mama masukin bela diri aja ya? Belajar karate! Biar kuat! (Emangnya masuk karate itu terus langsung jadi kuat gitu?)

Pikir aku, seandainya si ibu ini mengalami hal yang sama, seandainya ada rekan sekantor si ibu yang menonjok dia sekali-sekali, apakah dia sendiri akan pergi belajar karate ya? Atau dia berhenti kerja dan mencari kerja di tempat lain? Sedangkan bagi si ibu sendiri yang usianya sudah tiga puluh tahun lewat, kalau ditonjok orang sekali saja pasti menjadi beban jiwa dalam waktu cukup lama, apalagi bagi anak usia sekecil itu yang masih labil dan percaya dirinya masih terbentuk, efeknya mungkin lebih menakutkan lagi.

Aku doakan semoga si ibu dan si anak menemukan solusi terbaik. Apalagi setelah aku lihat si anak bermasalah itu mulai memukul Masa, anakku yang masih berumur 2 tahun. Duh, tolong ya, jangan sering-sering datang lagi!###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

5 thoughts on “30. Soal Tonjok-Menonjok di TK

  1. Jadi inget cerita di Miiko (komik Jepang). Gara-gara sang Kakak suka memukul adiknya, si Adik memukul adiknya Miiko yang sama-sama di tempat penitipan.
    Tapi ini ga ada hubungannya dengan si Ibu ya. Ga papa ya. Kan ada hubungan yang lain: pemukulan balita, tempat penitipan balita, dan Jepang. hehehe …
    Pernah baca Miiko, Bunda? Bagus lho. Aku mengenal model sekolah SD-nya Jepang dari sana. ^_^

  2. Waaah, saya termasuk pendukung bela diri! Benar, Bu, masukin bela diri aja, tapi jangan terlalu berharap dia bakal jadi preman juga ya. Justru kalau di bela diri (perguruan yang udah proven nih) dia malah bisa belajar utk tidak memukul orang sembarangan. Kan diajarin budi, tanggung jawab, disiplin, tenang, percaya diri, rasa hormat, membela yg lemah, cepat mengambil keputusan, antisipatif, menghindari konflik yg tidak perlu, awas terhadap lingkungan, instingtif, dll. Urusan fisik jadi lebih kuat dan cepat mah cuma by product aja. Di bela diri tuh mental nomor satu. Lihat aja tuh para samurai di Jepang. Kaya’nya saya jadi mau tulis tentang ini buat blog post berikutnya, he3. Btw, tips kalo ingin anak bisa mendapat semua manfaat bela diri tanpa khawatir jadi jagoan mukul dan nendangin orang: ikutin Aikido aja, cuma diajarin membela diri, hampir2 nggak ada jurus menyerang sama sekali. Sampai2 tidak ada pertandingan Aikido, soalnya sama2 cuma bisa nunggu dan nggak bakal ada yang nyerang duluan, he2.
    .-= Kreshna´s last blog ..Project Based Learning =-.

    • Kalau anaknya suka bela diri, harus didukung. Kalau anaknya berbakat musik seperti Mozart, daripada menghabiskan masa kecilnya kursus karate lebih baik les privat piano, bukan?

      Seni bela diri samurai kayaknya kalangan tertentu saja deh, zaman sekarang. Malahan saya nggak pernah lihat tuh, waktu tinggal di Jepang. Paling apa ya… yang umum… karate, aikido, kendo, panah tradisional Jepang… Malah ada orang-orang Jepang yang tekun belajar silat Indonesia, sampai mereka ikut pertandingan silat ke Indonesia segala. Kayaknya orang Jepang itu kalau suka sesuatu betul-betul ditekuni. Nggak tanggung-tanggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>