34. Sosialisasi Homeschooling (2)

Aku yakin tidak ada orang tua homeschool yang tidak ditanyai masalah sosialisasi. Capek ya. Tetapi kebetulan siang ini aku sedang tidak capek dan ingin curhatan lagi tentang sosialisasi homechooling. Sori kalau berita ulangan.

Bagiku pertimbangan sosialisasi bukanlah sisi negatif/kekurangan dari pilihan ber-homeschooling. Sosialisasi itu adalah alasan utama aku memilih homeschooling.

Berikut beberapa alasan mengapa aku pikir homeschooling lebih baik untuk Kanae (5) dari segi sosialisasi daripada sekolah formal.

1.          Baik aku sebagai ibunya maupun Kanae punya kendali lebih besar dalam memilih teman bergaul dia. Dia masih lima tahun, jadi yang kami utamakan saat ini, pokoknya tidak perlu bertemu setiap hari dengan anak-anak yang memukul. Nanti kalau dia sudah besar, mungkin filternya menjadi: tidak perlu teman yang nge-drug, yang berpacaran, maupun yang aktif secara seksual di usia remaja.

2.          Kanae saat ini tidak tergantung pada persetujuan teman-teman hanya untuk berkawan. Dia tidak merasa wajib suka Disney Princess untuk main dengan sesama anak perempuan, tidak merasa wajib tertarik main PS2 hanya karena anak laki-laki tuan rumah cuma mau main itu saja, tetapi juga tidak memaksakan kehendak pada anak-anak lain. Bagi Kanae dia suka semua orang yang mau bermain bersamanya, dia tidak harus menjadi sama, bahkan tidak harus punya kesamaan dalam berkawan. Kalau dia remaja nanti kepercayaan diri dan sikap dia yang begini akan bermanfaat. Cuma kalau dia sekolah, dengan lingkungan teman-teman yang usianya sama semua, aku nggak yakin bisa dia pertahankan. Kalau sekolah sangat mungkin dia jadi seperti aku dulu yang nggak berani mengaku bahwa aku nggak suka NKOTB. Dan menurut aku kakak kelas yang namanya Bimo itu sama sekali nggak ganteng.

3.          Kanae menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain bebas dengan sesama anak-anak di setiap akhir pekan. Menurut aku itu sudah cukup menggantikan waktu sosialisasi di jam istirahat 2 kali 15 menit setiap hari kalau dia sekolah. Sering kali aku terkejut di rumah kami sudah berkumpul anak-anak tetangga yang tidak aku kenal. Kanae yang mengundang mereka bermain di teras. Anak-anak itu sukarela lho berada di rumah kami, dan pergaulan sukarela dan multiusia begitu kan lebih baik daripada bergaul karena dikurung sama-sama di sekolah. Terlebih lagi, apakah sekolah bisa mengajarkan keterampilan sosial seperti yang sudah dikuasai Kanae tanpa bantuan siapa pun itu?

4.          Dia tidak punya masalah dengan kenyataan bahwa dia sekolahrumah, dan semua temannya anak sekolahan. Kalau ditanya sekolah di mana, dia akan menjawab,”Aku sekolah rumah”. Dia tidak punya masalah menjadi berbeda, dan berteman dengan anak-anak yang berbeda dengan dia.

5.           Kemampuan bicara Kanae melampaui anak-anak Indonesia seusianya meskipun dia baru setahun terakhir belajar bahasa Indonesia. Dia terbiasa menggunakan imbuhan me-, ber-, ter-, dan lain-lain. Dia menggunakan kata-kata seperti bermigrasi, mengoperasikan, hari keberuntungan, dan sebagainya yang aku sendiri tidak selalu ngeh dia pungut dari mana. Dia belajar dari membaca buku dan majalah, menonton film kartun dubbing ke bahasa Indonesia yang bermutu baik, dan dalam keseharian tidak merasa perlu menurunkan level berbahasanya ke level sesama anak lima tahun.

6.          Apa gunanya sekolah kalau dia malah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi takut bergaul pada orang lain? Sekolah pernah membuat dia punya masalah sosialisasi seperti itu dan aku khawatir sekali dia akan kembali seperti itu kalau dipaksa masuk TK.

7.          Kanae lebih supel, ceria, kritis, dan teman bicara yang menyenangkan saat ini. Berkat homeschooling. Dia sayang sekali pada adik-adiknya. Nggak ada tuh cemburu-cemburuan. Berkat homeschooling. Dia memandikan, memakaikan pakaian dan sepatu untuk adiknya, membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berkat homeschooling.

Kalau dia sekolah, dan dia pernah sekolah, setiap hari aku kelimpungan mengobati luka-luka emosionalnya yang dia dapat dari interaksi di sekolah, tidak ada waktu lagi tersisa untuk belajar ilmu yang lain, dan tidak ada waktu untuk mengembangkan empatinya, kasih sayang pada orang lain, tidak ada waktu merenung tentang banyak hal termasuk tentang Allah. Dia anak yang lebih baik, alhamdulillah, berkat homeschooling.

Dari segi sosialisasi, homeschooling pilihan terbaik yang tersedia untuk anakku.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 thoughts on “34. Sosialisasi Homeschooling (2)

  1. SAYA SETUJU SEKALI MBAK, ARTIKEL TTG SOSIALISASI ANAK HS. ANAK SAYA BARU SATU BULAN YANG LALU SAYA KELUARKAN DARI SEKOLAH (KLS 1 SD BLUM SEMPAT UJIAN NAIK KELAS), SAYA BERPIKIR HS UNTUK ANAK SAYA , BIASANYA ANAK SAYA PULANG SEKOLAH JAM 1.00 SIANG MAKAN TRUS TIDUR, MAIN SEBENTAR TRUS BELJAR MENGHAFAL LAGI DAN NGERJAIN PR. DIA JADI STRES DAN SAYA JUGA. SKRANG DIA MALAH LEBIH RIANG DAN BERBAGAI KEGIATAN RT SEHARI2 SAYA LIBATKAN DIA MIS.MEMBAYAR BELANJAAN DI KASIR, MENGECEK BARANG2 DAN TAK LUPA MENGUCAPKAN TERIMAKASIH TANPA TAKUT DIBURU WAKTU KRN TUGAS SEKOLAH BLUM KELAR

  2. Setuju………walaupun banyak temen-temen yang sudah yakin dengan kemampuan saya dalam pendidikan anak karna selama ini saya adalah pendidik anak usia(9tahun)tetap saja bayak teman yag mempermasalahkan sosialisasi anakku risaka 5tahun yang memilih hs dirumah/////thanks…u sharenya….ditunggggu berbagi pengalaman selanjutnya…tetap semangat….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>