Selang satu rumah kosong dari rumah tempat kami tinggal sementara ini, sebuah keluarga dengan lima anak laki-laki bersaudara, kira-kira usia SD, baru saja pindah. Sore pertama, anak-anak laki-laki itu bermain badminton di jalan depan rumah yang memang sepi dari lalu lalang mobil. Kanae, yang sedang main ayunan di depan rumah kami melihat mereka. Serta merta ia bergegas masuk rumah, mencari raket badminton milik Papa, memakai topi, dan berlari keluar.
“Mau ngapain?” tanya Obaachan, ibuku.
“Mau main badminton,” jawab Kanae semangat. “Sama teman-teman di situ.”
Obaachan tidak mengikuti Kanae keluar, cuma mengawasi lewat jendela.
Aku sedang di depan komputer dan tidak mengindahkan apa yang sedang terjadi.
Menurut laporan siaran langsung dari ibuku itu, Kanae dengan percaya dirinya mendekati kelima anak laki-laki tadi. Kata Kanae, main badminton yuk, main badminton yuk. Namanya siapa? Aku Kanae.
Anak-anak itu cuma saling berpandangan, tetapi tidak menjawab ajakan Kanae. Mereka tetap main sendiri, tidak perduli dengan tawaran persahabatan anak perempuan kecil empat tahunku. Ibuku dengan gemasnya mengatakan, mana mau anak laki-laki main dengan anak perempuan, mana mau anak-anak besar main dengan anak kecil. Kasihan Kanae, kasihan Kanae.
Tidak berapa lama Kanae kemudian kembali ke rumah. Raket badminton dan topinya diletakkan di sudut kamar.
“Nggak jadi main ya?” tanyaku sambil tetap mengetik di komputer.
“Teman nggak mau main dengan Kanae,” jawabnya dengan ekspresi biasa saja.
Besoknya, anak-anak laki-laki itu bermain badminton lagi di depan rumah mereka. Tahukah apa yang dilakukan Kanae? Dia ambil raket dan topi lagi, menghampiri mereka lagi, mengajak main lagi, dan… dicuekin lagi. Ha ha.
Kanae… Kanae… kok kamu terlalu supel sih? keluh neneknya yang tidak tega cucunya dicuekin.
Optimistis dan berpikiran positif, komentarku.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, kami tidak pernah melihat lagi anak-anak laki-laki itu bermain di depan rumah mereka. Sekolah, barangkali?
Dan kata mereka, anak homeschooling punya masalah sosialisasi. Jadi pengen ketawa.




Tuesday, April 27th, 2010, 10:29 | 







April 28, 2010 at 08:12
Memang ga ada masalah sosialisasi kog, yang bermasalah yang bertanya itu hehehe
May 15, 2010 at 07:34
Pada nggak sadar sih, sosialisasi di sekolah itu rentan masalah.
June 3, 2010 at 11:36
jeng senengnya serasa dapat support membaca tulisan mba, suamiku jg menolak mentah mentah sejak aku tawarkan hs buat anak anakku alasannya buanyak tenan akhirnya setelah anak anakku ada masalah tidak mau sekolah akhirnya baru goll deh penawaran hs nya aku lagi berjuang ni mba tk bikin proposal tk hs mandiri perijinannya bgmn y mba mohon saran thanks
June 9, 2010 at 03:52
Terima kasih Mbak Dissy. Semoga sukses homechooling-nya. Saya sudah tanyakan kepada Mbak Maria, penulis buku homeschooling. Menurut beliau, homeschooling dilindungi sebagai jalur pendidikan informal, dan sama sekali tidak perlu izin siapa-siapa.
Kalau Mbak Dissy berniat membuat TK (sekolah), atau komunitas homeschooling yang memakai kegiatan belajar-mengajar seperti sekolah formal, memang perlu izin, tetapi mohon maaf saya tidak pernah melakukannya. Mungkin Mbak tanyakan pada pengelola komunitas homeschooling yang sudah berpengalaman ya…
April 27, 2010 at 17:36
Homeschooling 35. Dicuekin http://goo.gl/fb/RxQSC
This comment was originally posted on Twitter