8. Papa Tidak Setuju

Kanae, anakku, dulu tidak cocok dengan TK-nya di Jepang dan setelah enam bulan di TK, aku pindahkan dia ke penitipan anak atas permintaannya sendiri.

Aku melihat sejak masuk TK dia semakin tidak ceria, tidak lagi berinisiatif mengajak anak-anak lain bermain bersama jika aku mengajaknya ke gedung bermain di dekat rumah atau ke pojok bermain di toko buku. Yang membuat aku tambah was-was, dia kemudian menunjukkan gejala nervous tic (kebiasaan berkedip-kedip, menarik bawah hidung, yang tampak aneh).

Memang dia tidak menangis kalau diajak ke TK, tetapi karena mengajaknya setiap pagi juga susah sekali -dia pura-pura sakit- aku harus membentak-bentaknya dulu baru dia bergerak, lama-lama aku juga jadi depresi.

Kegiatan di TK sendiri sebenarnya tidak keras, tidak sangat-sangat disiplin. Dalam acara kunjungan orang tua ke TK setiap bulan, aku melihat kegiatannya bervariasi dan menyenangkan sekali. Guru-gurunya juga baik dan tidak pernah marah. Anak-anak boleh ribut-ribut dan selalu diladeni dengan ramah bila mengajak guru bicara tidak peduli betapa remeh celotehan mereka. Tetapi aku melihat juga di tengah-tengah kegiatan yang ramai itu, anak aku tidak menikmati. Dia tidak ikut-ikutan menari bersama dan malah bengong-bengong saja.

Aku iri melihat teman-teman seusianya yang kelihatan mandiri, lucu, dan ceria.

Setiap hari aku kedapatan cerita dari Kanae sendiri, bahwa ketika teman-temannya menangkap serangga dari dahan pohon, dia bermain pasir sendirian di kaki pohon itu. Katanya, ketika teman-temannya bermain masak-masakan, dia tidur di dekat rak buku cerita. Dia cerita hari ini dia ditolak temannya saat dia mengajak bermain. Kadang-kadang dia cerita tadi dipukul kepalanya oleh temannya karena dia lambat membereskan mainan. Katanya gurunya memperingatkannya agar cepat-cepat menyelesaikan makan siang. Aku juga bingung mendengar dia berkata, “Aku hari ini tidak main dengan siapa-siapa karena aku ingin main sendiri.”

Kenapa sih kok kamu lain sendiri, Kanae?

Aku bingung bagaimana menasehatinya.

“Bermainlah bersama teman-temanmu,” kata aku.

“Aku ingin bermain yang lain,” jawab Kanae.

Aku ingin melanjutkan namun terdiam dan bertarung dalam hati. Apa bagusnya sih mengorbankan keunikan diri sendiri supaya bisa berbaur dengan orang lain? Nanti kamu jadi seperti Papamu.

Aku mengadu pada gurunya di TK, Bu Okubo yang baik hati, tentang Kanae yang kerap tenggelam dalam dunianya sendiri pada saat-saat yang aneh. Bu Guru menyarankan aku agar tidak pusing-pusing. “Anak-anak butuh juga dunia sendiri, ” katanya tersenyum.

Aku tidak sampai hati menceritakan tentang nervous tic yang muncul sejak Kanae masuk TK. Aku tidak ingin terdengar menyalahkan apalagi memperburuk hubungan dengan Bu Okubo.

Tetapi cerita ini sudah masa lalu.

Setelah anak perempuan aku itu masuk penitipan, dia kembali lagi seperti dirinya yang lama, sebelum masuk TK. Dia ceria lagi seperti sedia kala. Nervous tic-nya juga hilang sama sekali.

Memang sih.. kalau bertemu dengan teman-teman penitipannya dia langsung mengobrol dan bercanda, tetapi kalau kebetulan berpapasan dengan mantan teman-teman TK-nya dia jadi pucat dan mengkeret. Masih trauma barangkali?

Kanae kembali jadi anak periang yang pemberani.

Untung aku dengarkan permintaannya untuk masuk penitipan.

Aku tidak tahu ada apa di penitipan. Dugaan aku karena alur waktu yang berjalan santai di sana. Tidak banyak kegiatan yang dipepatkan dalam bingkai waktu yang sempit. Ternyata begitulah yang cocok untuk Kanae yang  sangat ‘my pace’, istilah Jepang untuk orang yang bertindak sesuai kerangka waktunya sendiri, tidak terpengaruh oleh tekanan dan kewajiban yang dibebankan dari luar dirinya.

Aku lega melihat perubahan Kanae tetapi suami tetap tidak setuju dengan keputusan aku. Baginya penitipan tidak sama dengan sekolah, meskipun orang Jepang pun menitipkan anaknya di penitipan sampai anak cukup umur untuk masuk kelas 1 SD.

“Bagaimana kalau sekolah ternyata menghancurkan kemampuan Kanae untuk menjadi manusia seutuhnya?” tanya aku pada suami saat ia membaca buku berjudul “Ningen-ryoku”, “Kemampuan sebagai Manusia”.

“Bagaimana kalau sekolah tidak membina kemampuannya berkomunikasi, perspektifnya, kemandiriannya, tetapi malah membuat semua kemampuan itu bantet?” desak aku.

“Yang penting dia harus sekolah,” jawab suami aku. “Bagaimana kalau dia tidak sekolah? Mau jadi apa anak kita?”

Pertanyaan macam apa itu. Dia bisa jadi apa saja yang dia inginkan, pikir aku. Tidak aku suarakan.

“Inti pertanyaanku bukan itu,” tukas aku.  “Aku tanya bagaimana kalau kita terlanjur memasukkan Kanae ke sekolah yang terbukti mementahkan kemampuannya sebagai manusia.”

Suamiku gusar.

“Yang penting dia harus sekolah,” jawabnya. “Bagaimana kalau dia tidak sekolah? Mau jadi apa anak kita?”

Siaran ulangan.

Yah, pokoknya Kanae sekarang ada di penitipan. Dia bahagia. Aku tentu bahagia.  Suami? Mau tidak mau dia harus bahagia.  Toh tidak ada yang perlu dikeluhkan. Setidaknya untuk sementara ini.

Sebentar lagi keluarga kami akan pulang ke Indonesia dan meninggalkan Jepang.

Di Indonesia, aku pikir Kanae tidak perlu masuk preschool atau pun TK. Aku mulai meragukan apa bagusnya sekolah yang mewajibkan muridnya menghapal ayat sejak usia dini. Aku ragu apakah itu memang terbaik buat perkembangan karakter anakku. Apa bagus menghukum dan membuat dia merasa rendah diri kalau tidak mau menghapal? Apa gurunya mau memahami dia belum bisa berbahasa Indonesia?

Aku jadi ingin mempraktekkan homeschool untuk Kanae. Aku akan ajari dulu dia bahasa Indonesia di rumah sebelum dia siap dilempar ke sekolah. Suamiku akan bilang apa ya?

Sepertinya aku harus siap-siap bertempur lagi.

Tidak hanya suami yang aku cintai, tetapi menghadapi sanak famili yang tidak mau mengerti. Pokoknya sekolah, sekolah, sekolah.

Hah. Peduli amat.

Aku akan terus pastikan Kanae menikmati hal-hal yang dulu tidak aku kecap: kebebasan menjadi dirinya sendiri dan keyakinan bahwa dia dicintai apa adanya. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>