“Sekolah itu baik untuk anak-anak. Homeschooling tidak baik.”
Berikut alasan-alasan konyol mereka. Apa mereka tidak sadar ya betapa konyolnya alasan-alasan itu?
1. Betul, betul. Di sekolah, anak-anak saya sedang dihancurkan daya kreativitasnya, dilatih menjadi kerbau dicocok hidungnya, dipaksa menghapal hal-hal yang tidak berguna, tetapi semua itu tidak apa-apa, karena sekolah itu menyenangkan!
2. Sekolah itu perlu karena akan membuat anak saya menikmati pekerjaannya di masa depan. Pekerjaannya itu akan sangat tidak menyenangkan, bukan pilihannya sendiri, dan akan membuatnya sengsara sampai dia mati. Lebih baik dia terbiasa sejak kanak-kanak bukan?
3. Anak saya harus mengerjakan semua tugas-tugas sampah tidak bermanfaat itu. Harus! Karena kalau dia tidak dipuji wali kelasnya, saya sebagai orang tua tidak akan tahu dia pintar atau tidak.
4.Kalau anak saya tidak sekolah, saya tidak punya alasan memberikan dia makan dan membiarkan dia hidup di rumah saya sampai lulus kuliah.
5. Saya tidak peduli anak saya tidak bisa membaca dan berhitung. Yang penting kan gurunya bersertifikat, sekolahnya berstandar internasional, kelasnya program bilingual, dan ada AC di kelasnya.
Anak kamu yang homeschooling mungkin bisa membaca tiga bahasa, tetapi kamu kan bukan seorang guru?
6. Saya tidak tahan berada bersama anak-anak saya. Kalau mereka liburan sekolah, saya jadi stres, rumah berantakan terus, minta makan terus. Saya berharap liburan segera usai supaya mereka minggat. (Kenapa dulu kamu punya anak?)
7. Di sekolah anak saya selalu berkelahi dengan teman-temannya. Nggak apa-apa. Biar kuat. Di tempat lain tidak mungkin dia dapat pengalaman unik dan berharga dipukuli orang.
8. Sekolah itu penting, mengajar cara berpikir yang benar.
Di dunia ini cuma ada satu jawaban yang benar. Jawaban benar itu ada di kunci jawaban milik Ibu Guru, dan kalian tidak boleh melihat karena itu curang. Selain jawaban itu, semua salah. Kalau kurang titik, kurang koma, semua salah. Kalau pakai kata-kata sendiri, tetapi maksudnya sama, Ibu Guru beri nilai setengah. Mengerti? Itulah cara berpikir yang benar.
Hapalkan model soal dan trik-trik menjawabnya maka kalian akan jadi jenius.
9. Kalau anak saya tidak sekolah, saya tidak akan punya bahan pembicaraan dengan anak saya. Setiap pulang kerja, saya tidak akan bisa mengobrol, “PR-mu sudah selesai belum? Sudah belajar belum? Besok ulangan! Kenapa kamu main Play Station terus? Sana belajar!”
10. Anak saya pemalas, bandel, suka mengganggu adiknya. Saya sebagai ibu sudah tidak sanggup mengurus dia. Sebenarnya saya ingin membuang dia di panti asuhan, tetapi sekolah pun lumayanlah. Biarlah dia mengganggu anak-anak orang lain.
11. Sekolah membuat anak saya menjadi rata-rata, tidak terlalu pintar, tidak terlalu bodoh, membaur dengan anak-anak biasa di sekitarnya.
12. Anak kamu homeschooling? Oh pasti kuper ya. Lho kok anak kamu supel banget? Yang kuper malah anak saya? Yang pendiam seperti anjing terlatih malah anak saya? Anak saya cuma mau main sama anak-anak umur sepantaran, cuma mau gaul sama yang sesama pria. Ah, itu biasalah. Anak-anak memang begitu.
13. Anak kamu homeschooling? Oh pasti malas ya. Pasti tidak disiplin ya. Lho kok anak kamu makan sendiri, mandi sendiri, beres-beres sendiri, cuci piring sendiri? Yang malas malah anak saya? Ah, kita harus menerima anak-anak kita apa adanya.
Ya sudah, sekolahkanlah. Perlu diperhatikan bahwa aku 100% mendukung pilihan mereka dan sama sekali tidak berniat membujuk orang tua semacam itu untuk homeschooling. Kalau Anda tahu maksudku.###
bagaimana pengaturan homeschooling yang baik di rumah, pengaturan kurikulum,dll.. dan apakah anak2 yang mengikuti homeschooling bisa mengikuti ujian negara, untuk dapat masuk ke jenjang selanjutnya..?
thanks,
Anak HS biasanya ikut ujian persamaan, Paket A, B, dan C. Ijazah Paket C bisa dipakai untuk mendaftar kuliah.
Tentang ujian persamaan, ini kata Pak Lukman kemarin di komentar:
“Untuk ujian persamaan tidak perlu harus ikut Komunitas… Lapor ke Dinas PLS juga bisa dan mengurus sendiri ….atau bergabung dengan PKBM (pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ), namun bila ikut Komunitas hanya ikut ujian saja juga bisa… pada prinsipnya tidak harus…. namun pengalaman kami di masing-masing daerah kebijakan PLS nya ada yang gak sama.. ada yang menyarankan bergabung ke PKBM atau komunitas ada juga yang tidak … ada juga yang daftar langsung UNSR yang di selenggarakan Asahpena Tangerang selatan besama beberapa komunitas HS di beberapa kota… semoga sedikit menjawab”
Pelaksanaan HS di tiap keluarga itu berbeda-beda, tergantung sikon masing-masing. Mungkin bisa sedikit survei di blog keluarga HS, untuk membandingkan dan mencari bentuk HS yang tepat untuk keluarga sendiri.