Anak-anak yang lahir lebih dulu biasanya merasa ‘tersaingi’ ketika adik bayinya lahir. Oh ya, mereka memang merasa senang dan bangga menjadi kakak/abang, namun lambat laun mereka menyadari bahwa orang tuanya ‘diambil’, waktu dan perhatian orang tua lebih tercurahkan pada si adik baru. Berbagi kasih orang tua untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang sulit bagi anak-anak. Anak-anak kemudian mulai merasakan cemburu, rasa tidak disayang oleh orang tua, merasa orang tua pilih kasih, dan bisa jadi anak lebih tua bertanya-tanya ‘bisakah adik baru pencuri orang tuaku ini dikembalikan saja ke rumah sakit?’
Berkurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya, membuat anak kehilangan ‘koneksi’ dengan orang tua. Anak merasa kedekatan dengan ayah dan ibunya merenggang, sehingga akibatnya dia mulai gelisah dan ‘bertingkah’, melakukan kenakalan demi kenakalan untuk menarik kembali perhatian orang tua yang hilang. Mungkin dia memukul adik bayinya, mungkin bertingkah jadi bayi kembali, mungkin jadi banyak menangis frustasi dan menjerit-jerit, dan sebagainya.
Masa transisi ini terasa sulit bagi orang tua, terutama ibu, yang secara fisik dan emosional sangat lelah karena baru saja melahirkan, seharian harus mengurus bayi baru, dan malam-malam kurang tidur karena harus menyusui. Menghadapi kelakuan si kakak/abang baru, ibu semakin mudah meledak, kehilangan kendali atas dirinya, serta tidak segan menghardik dan memukul anak.
Akibatnya si anak makin merasa ‘koneksi’ dengan ibu malah semakin renggang, dan dia akan malah semakin nakal untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, dan dia juga akan semakin sulit menyayangi adik baru.
Untuk menghadapi hal ini, ada tujuh hal yang harus dilakukan secara sadar oleh ayah dan ibu:
1. Saat ini anak-anak yang lebih tua LEBIH PENTING daripada adik bayi yang sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur itu.
Anak-anak lebih tua bisa merasakan haus kasih sayang ibu dan itu menyiksa mereka, tetapi bayi tidak merasa iri atau pun sakit hati saat ibunya memeluk kakak/abangnya. Jadi: peluklah anak pertama dulu sebelum adik bayi. Atau jika ini tidak memungkinkan, peluk anak pertama segera setelah bayi tenang.
2. Ayah atau ibu harus menyediakan WAKTU KHUSUS BERDUA saja dengan anak lebih tua, tanpa kehadiran adik bayi. Buat waktu dalam satu hari sebentar saja, mungkin hanya 10-30 menit, untuk melakukan kegiatan berdua saja dengan kakak/abang baru. Kegiatan apa saja. Mungkin belanja ke toko dekat rumah sebentar, bermain bersama, bercakap-cakap bersama, melihat-lihat album foto waktu dia kecil dan katakan,”Lihatlah kamu di foto ini. Kamu dulu juga kecil seperti adik bayi. Ibu bahagia waktu kamu lahir. Ibu merawatmu dan begitu menyayangimu. Sekarang kamu sudah begini besar, cakep, dan pintar.”
Jika, dan hanya jika si kakak merasa puas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tidak merasa terancam dengan kehadiran si adik, dia akan legowo, berlapang dada berbagi kasih orang tua dengan adik baru. Baru setelah dia merasa yakin disayangilah, dia akan bisa menyayangi adiknya.
3. JANGAN pernah memarahi anak-anak yang lebih tua dengan mengatakan,”Kenapa kamu lakukan itu? Kamu kan sudah besar, sudah jadi kakak/abang.”
Anak-anak tidak langsung secara ajaib mampu bersikap ‘dewasa’ hanya karena adik barunya lahir. Jangan mengharapkan yang mustahil pada anak kecil umur 3 tahun meskipun dia sudah jadi kakak.Dia tetap kanak-kanak. Kalau orang tua terlalu sering memarahi si kakak dengan kata-kata seperti itu, dia akan benci perannya sebagai seorang kakak. Akhirnya dia akan menyimpan dendam kesumat terhadap si adik, yang mendorong ketidakakuran antara sesama saudara kandung, bisa jadi hingga dewasa.
4. LIBATKAN kakak/abang baru dalam kegiatan merawat adik baru. Minta ia membawakan popok, memberikan bedak, dan lain-lain sesuai kemampuannya. Ucapkan terima kasih dan pujilah. Ajak ia bermain bersama adik barunya, dan ibu/ayah. Usahakan perbanyak pengalaman menyenangkan anak-anak lebih tua bersama-sama adik barunya.
5. PUJILAH anak lebih tua dengan ucapan,”Kamu pandai sekali sudah bisa melakukan … Kamu memang kakak/abang yang hebat ya.” Dengan sering memuji seperti itu, usahakan agar anak lebih tua merasa bangga dan bahagia dengan kedudukan barunya.
6. JANGAN pernah menolak merangkul/mencium atau dengan kata lain menahan ekspresi cinta kita kepada si kakak/abang baru dengan alasan ‘supaya tidak manja’. Percayalah, ini adalah kesalahan besar. Anak-anak yang tidak manja, anak-anak yang mandiri, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat jiwanya adalah anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua secara cukup bahkan berlimpah-limpah. Semakin ibu mengacuhkan anak, semakin anak haus kasih sayang, merasa tidak aman ( ‘insecure’), dan semakin dia menjadi manja.
7. Setelah kelahiran bayi baru, ada ibu atau ayah yang tanpa mereka sadari mendadak menjadi ‘benci’ terhadap anak yang lebih tua. Mereka mendadak jadi lebih cepat marah, lebih cepat kehilangan kontrol atas emosi ketika dihadapkan pada kenakalan atau tangis frustrasi anak lebih tua. Bagi mereka, seolah-olah anak yang lebih tua menjadi tidak lucu lagi, tidak cantik lagi, tidak patut disayang lagi. Kenapa terjadi begitu aku tidak tahu. Barangkali ada kaitannya dengan perlakuan atau contoh orang tua dari orang tua (berarti generasi kakek nenek) di masa lalu. Jika ini terjadi, orang tua harus secara sadar mengendalikan diri. PAKSAKAN DIRI untuk memeluk dan mencium anak yang lebih tua sebanyak-banyaknya. Yakinkan diri bahwa perasaan benci tersebut hanyalah sementara. Harus hilang, dan pasti hilang. (Jika perasaan itu berlanjut barangkali Anda butuh berkonsultasi dengan terapis).
Tips di atas sudah dibuktikan keampuhannya dalam keluarga kami. Syukurlah anak-anak kami yang lebih tua tidak cemburu dengan adiknya yang baru lahir. Selamat mencoba. ###









