<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HOMESCHOOLING-INDONESIA.COM &#187; Alasan Homeschooling</title>
	<atom:link href="http://homeschooling-indonesia.com/category/alasan-homeschooling/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://homeschooling-indonesia.com</link>
	<description>Untuk Peminat Homeschooling</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 04:41:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Orang Indonesia yang Suka Tersinggung</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/orang-indonesia-yang-suka-tersinggung/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/orang-indonesia-yang-suka-tersinggung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 00:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[Sosialisasi Homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1295</guid>
		<description><![CDATA[Waktu di Jepang, aku pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang mahasiswi, sama-sama dari Indonesia. Aku sudah lupa siapa dia. Dibilang mahasiswi, umurnya cukup tua, mungkin kandidat S2 atau S3. Ibu-ibulah pokoknya. Datang ke Jepang dengan beasiswa. Dia bercerita, pada suatu hari dia &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/orang-indonesia-yang-suka-tersinggung/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-1298" title="Orang Indonesia yang Suka Tersinggung - Homeschooling Indonesia" src="http://homeschooling-indonesia.com/wp-content/uploads/2011/05/facebook1.jpg" alt="" width="702" height="116" />Waktu di Jepang, aku pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang mahasiswi, sama-sama dari Indonesia. Aku sudah lupa siapa dia. Dibilang mahasiswi, umurnya cukup tua, mungkin kandidat S2 atau S3. Ibu-ibulah pokoknya. Datang ke Jepang dengan beasiswa.</p>
<p>Dia bercerita, pada suatu hari dia pernah berjanji bertemu dengan orang Jepang di suatu tempat yang cukup jauh dari apartemennya. Kereta listrik terlambat 5 menit, dan menurut cerita si mahasiswi ini, dia jadi datang terlambat cukup lama. Mungkin ada kecelakaan atau apalah. Biasanya kereta tidak terlambat.</p>
<p>Sampai di sana, orang Jepang itu, mengatakan,&#8221;Ah, Anda lambat ya.&#8221; Bahasa Jepangnya: <em>Osoi desu ne.</em></p>
<p>Mahasiswi ini sebetulnya merasa tersinggung. Di bibirnya ia mengatakan,&#8221;<em>Doumo sumimasen.</em>&#8221; Maafkan. Tetapi dalam hatinya mengutuk-ngutuk.</p>
<p>Dan kutukan dalam hati itu dia sampaikan padaku. &#8220;Sombong sekali. Dia pikir orang Indonesia semua jam karet apa! Kan bukan salahku kalau keretanya terlambat? Dasar orang Jepang sombong!&#8221;</p>
<p>Wow, pikirku, setahuku orang Jepang sopan-sopan, dan takut menyinggung perasaan orang. &#8220;Dia bilang orang Indonesia semua jam karet, Mbak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak sih&#8230; Tapi pasti dalam hati dia bilang begitu! Dia pikir orang Indonesia jam karet. Huh!&#8221;</p>
<p>Ibu-ibu mahasiswi ini rupanya peramal, bisa baca pikiran orang.</p>
<p>Aku merasa agak heran sih waktu itu. Dengan ucapan informasi belaka,&#8221;Anda terlambat&#8221;, dia merasa dihakimi. Bahkan membawa-bawa reputasi seluruh bangsa Indonesia yang &#8216;jam karet.&#8217; Realitanya, dia memang terlambat. Orang Jepang itu memang menunggu. Dan orang Indonesia memang jam karet. Hihihi. Tidak ada alasan untuk tersinggung dan tidak minta maaf dengan tulus.</p>
<p>Semua drama itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Tanpa perasaan tersinggung yang dia muncul-munculkan sendiri, yang lahir dari perasaan rendah dirinya, mungkin pertemuan dengan orang Jepang itu bisa berlangsung menyenangkan bagi dirinya.</p>
<p>Baru-baru ini di Facebook, ada bapak-bapak bercanda, orang Indonesia sebetulnya menderita inferioritas kronis atau narsisistik akut?</p>
<p>Produk-produk terbaik sekolah -contohnya mahasiswi itu- ternyata tidak bebas dari kedua penyakit itu.</p>
<p>Hubungannya dengan <em>homeschooling</em>? Kepercayaan diri memang harus dibina dari rumah. Tahu tidak? Orangtua <em>homeschooling </em>punya posisi yang lebih baik untuk mengajarkan kepercayaan diri pada anak-anaknya, daripada orangtua yang membiasakan anak-anak menggantungkan keberhargaan dirinya pada ranking di kelas, nilai rapor, atau hasil UN belaka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/orang-indonesia-yang-suka-tersinggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Cuma Sebentar, Benarkah?</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/sekolah-cuma-sebentar-benarkah/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/sekolah-cuma-sebentar-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 03:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1112</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang mengatakan,&#8221;Anak-anak kan sebentar saja di sekolah. Tetap harus orangtuanya yang memperhatikan pendidikan mereka.&#8221; Aku setuju orangtua tidak boleh lepas tangan dalam pendidikan anak. Tetapi soal &#8220;keterbatasan waktu di sekolah&#8221;, itu tidak benar. Mengapa banyak orang percaya itu? Di &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/sekolah-cuma-sebentar-benarkah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Chau número tres by photographer padawan *(xava du), on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/7933170@N03/652332630/"><img class="alignright" title="Sekolah Cuma Sebentar, Benarkah? - Homeschooling Indonesia" src="http://farm2.static.flickr.com/1275/652332630_68f65d8442_m.jpg" alt="Chau número tres" width="240" height="157" /></a>Banyak orang mengatakan,&#8221;Anak-anak kan sebentar saja di sekolah. Tetap harus orangtuanya yang memperhatikan pendidikan mereka.&#8221;</p>
<p>Aku setuju orangtua tidak boleh lepas tangan dalam pendidikan anak. Tetapi soal &#8220;keterbatasan waktu di sekolah&#8221;, itu tidak benar. Mengapa banyak orang percaya itu? Di sekolah anak menghabiskan waktu 7-8 jam waktu produktifnya untuk dididik orang lain. Perhatikan: <strong>waktu produktif anak-anak dihabiskan di sekolah.</strong></p>
<p>Satu hari ada 24 jam, 8 jam waktu di sekolah, 8 jam waktu tidur, sisa 8 jam katakanlah untuk waktu di rumah. Dari 8 jam itu masih ada les bimbel, kursus, waktu bermain (komputer, play station, dan sangat jarang main dengan tetangga), waktu merawat diri (mandi, makan, dan lain-lain), juga masih dipakai untuk waktu perpanjangan sekolah di rumah (yaitu PR dan belajar lagi di rumah).</p>
<p>Lalu berapakah waktu tersisa dari itu untuk orangtua mendidik anak-anaknya sendiri? Tidak banyak. Kalau mau jujur, waktu anak bersama ibu untuk mengobrol, paling-paling tidak sampai 45 menit. Waktu bersama ayah? Tidak sampai 10 menit, mungkin kurang. Apalagi kalau ayahnya tipe laki-laki yang tidak betah berada bersama anak&#8230; lebih parah lagi. <em>Boro-boro </em>mendidik, paling-paling waktu 10 menit itu dipakai untuk memarahi anak saja. &#8220;Marah&#8221; itu tidak mendidik dan tidak menghasilkan apa-apa, cuma sarana ayah melampiaskan stres pada orang-orang terkasih.</p>
<p>Apalagi kalau sekolah <em>full-day</em> atau pesantren, itu sudah jelas-jelas orangtua dengan sadar menyerahkan tugas mendidik anak pada lembaga pendidikan sepenuhnya. Jadi waktu yang terbatas di sekolah itu tidak benar. Sebenarnya waktu di rumahlah yang sangat terbatas kalau anak-anak bersekolah.</p>
<p>Banyak orangtua yang mampu <em>homeschooling</em> tetapi ragu-ragu karena takut dibebani tanggung jawab. Ingat, tanggung jawab tetap ada pada orangtua, tanggung jawab itu tidak pernah berpindah pada sekolah. Sukses atau tidak sukses, semua ditanggung anak itu sendiri dan orangtuanya.</p>
<p>Semua pilihan datang dengan konsekuensi. <em>Homeschooling </em>menakutkan karena tanggung jawab dipikul sendiri? Sama saja. Mau pilih sekolah, tanggung sendiri akibatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/sekolah-cuma-sebentar-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Kehidupan Nyata</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/belajar-dari-kehidupan-nyata/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/belajar-dari-kehidupan-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 05:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1106</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari aku bolak-balik ke bank mengurusi penerimaan honor yang tidak lancar karena peraturan-peraturan bank yang tidak kuketahui sebelumnya. Rupanya rekeningku ditutup oleh bank karena saldo kurang dari 10 ribu, tetapi honorku terlanjur ditransfer ke rekening yang telah ditutup itu. &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/belajar-dari-kehidupan-nyata/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/23327787@N08/3027534098/"><img alt="" src="http://farm4.static.flickr.com/3276/3027534098_f568868b9e_m_d.jpg" title="Belajar dari Kehidupan Nyata - Homeschooling Indonesia" class="alignright" width="240" height="180" /></a>Beberapa hari aku bolak-balik ke bank mengurusi penerimaan honor yang tidak lancar karena peraturan-peraturan bank yang tidak kuketahui sebelumnya. Rupanya rekeningku ditutup oleh bank karena saldo kurang dari 10 ribu, tetapi honorku terlanjur ditransfer ke rekening yang telah ditutup itu. Anehnya bank bukannya menolak, malah tetap menerima transfer itu, dan terpaksalah aku pergi mengklaim sendiri honorku ke bank dengan membawa bukti transfer dari klien.</p>
<p><strong>7 pelajaran yang kudapatkan dari mengklaim honor tersebut:</strong></p>
<p>1. Setiap bulan bank mengambil biaya administrasi 10 ribu rupiah dari tabungan, dan jika satu bulan saja biaya administrasi itu tidak bisa mereka ambil karena kurangnya saldo, rekening nasabah langsung ditutup.</p>
<p>2. Nasabah tidak bisa berbuat apa-apa kalau rekeningnya ditutup. Pegawai bank juga tidak akan memberikan keterangan lebih lanjut bagaimana nasabah bisa menghidupkan kembali rekening itu.</p>
<p>3. Tetapi&#8230; kalau dalam jangka 3 bulan, ada transfer dari pihak lain masuk ke rekening yang sudah mati itu, rekening itu dihidupkan kembali! Aneh ya?</p>
<p>4. Itulah alasannya, mengapa rekening yang dipakai untuk menerima gaji dari kantor tidak pernah ditutup sepihak oleh bank walaupun saldonya sampai minus karena pengambilan biaya administrasi 10 ribu rupiah per bulan.</p>
<p>5. Semua tindakan penutupan dan pembukaan rekening oleh bank itu tidak diberitahukan alasannya pada nasabah, jadi harap nasabah sendiri yang pintar-pintar menyimpulkan peraturannya.</p>
<p>6. Tidak mungkin mengambil uang dari rekening dengan buku tabungan saja tanpa kartu ATM. Meskipun kita sudah datang sendiri ke bank, antri lama-lama, sambil membawa buku tabungan dan kartu identitas seperti KTP, tetap tidak bisa ambil uang milik sendiri tanpa kartu ATM! Kalau kartu ATM hilang, atau sengaja dibuang karena kita menganggap sudah tidak perlu setelah rekening ditutup sepihak oleh bank, harap antri lagi untuk membuat kartu ATM yang baru.</p>
<p>7. Untuk menabung, tidak bisa lewat ATM, harus antri sendiri di loket. Ya tidak mungkin &#8220;gemar menabung&#8221; kalau begitu caranya. Siapa sih yang punya waktu untuk antri 1 jam hanya untuk menabung 100 ribu rupiah, misalnya?</p>
<p>Aku yang setua ini saja bingung berurusan dengan bank di Indonesia, yang tidak terlalu &#8220;ramah- nasabah&#8221;. Jadi aku geli, ketika mendengarkan cerita ibu-ibu yang menceritakan tentang bagaimana canggihnya sekolah anak-anak mereka memasukkan unsur &#8220;kehidupan nyata&#8221; ke dalam pelajaran. Anak-anak diajak ke supermarket saja kok bangga ya? Anak-anak sekolah ternyata begitu polosnya ya? Sepertinya mereka tidak kenal dunia kalau tidak sengaja dibuatkan pengalaman khusus oleh sekolah supaya bisa mencicipi kehidupan nyata.</p>
<p>Padahal &#8220;kehidupan nyata&#8221; melalui pelajaran secara disengaja seperti itu pun pasti sudah diatur supaya nyaman dan senang. Pengalaman yang diperoleh pun artifisial, mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sesungguhnya. Guru-guru juga kebingungan kalau murid-murid membuat kesimpulan kritis yang menggugat kenyataan.</p>
<p>Belajar menjalani kehidupan nyata tidak bisa dilakukan dengan simulasi &#8220;bank-bankan&#8221; dalam pelajaran yang dilakukan di sekolah. Mau mempersiapkan anak untuk menjalani kehidupan nyata? Ajak dia turut serta dalam kehidupan nyata. Ajak dia ke bank, kantor pos, pasar, dan sebagainya.</p>
<p>Aneh juga kenapa banyak orang yang mengatakan sekolah itu adalah kehidupan nyata, padahal sekolah sebenarnya memisahkan anak-anak dari dunia nyata. <em>Homeschooling </em>tidak memerlukan simulasi kehidupan nyata seperti sekolah karena metode <em>homeschooling </em>itu belajar dari kehidupan nyata.</p>
<p>Kalau ada orang polos yang tidak berpengetahuan mencibir,&#8221;Kenapa <em>homeschooling</em>? Kenapa mengizinkan anak-anak lari dari kenyataan?&#8221;, kita boleh menanyakan hal yang sama kepada mereka,&#8221;Kenapa sekolah? Kenapa mengizinkan anak-anak lari dari kenyataan?&#8221; <img src='http://homeschooling-indonesia.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/belajar-dari-kehidupan-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Anak Minta Sekolah?</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/kalau-anak-minta-sekolah/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/kalau-anak-minta-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 04:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tips parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat kita memulai homeschooling, terkadang ada orang yang cukup iseng untuk mempertanyakan, bagaimana kalau anaknya minta disekolahkan? Barangkali, demi menenangkan orang iseng itu, kita menjawab,&#8221;Ya nanti kalau dia minta sekolah, kami akan izinkan.&#8221; (Memberikan harapan bahwa kita akan kembali &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/kalau-anak-minta-sekolah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/42dreams/"><img class="aligncenter" title="Kalau Anak Minta Sekolah - Homeschooling Indonesia" src="http://farm1.static.flickr.com/127/400156617_cd8eb89ee4_d.jpg" alt="" width="350" height="165" /></a></p>
<p>Pada saat kita memulai <em>homeschooling</em>, terkadang ada orang yang cukup iseng untuk mempertanyakan, bagaimana kalau anaknya minta disekolahkan? Barangkali, demi menenangkan orang iseng itu, kita menjawab,&#8221;Ya nanti kalau dia minta sekolah, kami akan izinkan.&#8221; (Memberikan harapan bahwa kita akan kembali ke jalan yang benar? Hahaha.)</p>
<p>Tetapi sebenarnya, tidak harus begitu.</p>
<p>Anak-anak tidak tahu pengaruh buruk sekolah, mereka tidak punya pengalaman hidup yang cukup untuk mengetahuinya. Mereka tidak tahu bagaimana pengalaman dan sistem pendidikan di sekolah akan membentuk mereka. Kita, orangtualah, yang lebih tahu. Kita yang memutuskan. Kita yang wajib melindungi mereka dari apa yang tidak diketahui anak-anak.</p>
<p>Kita tidak perlu bersikap demokratis dalam hal serius seperti ini. Ketika anak kita ingin mencoba candu, kita pasti tidak bersikap prokebebasan dan mengizinkan dia mencoba satu-dua kali, bukan?</p>
<p>Dari awal kita bisa berterus terang pada anak-anak kita, <em>homeschooling </em>adalah hidup kalian. Orangtua yang memilih sekolah juga melakukan hal yang sama, mereka mengatakan pada anak-anak: suka tidak suka, sekolah adalah hidup kalian. </p>
<p>Pada waktunya, anak-anak akan menyadari keberuntungan mereka dan menghargai &#8220;kebebasan&#8221; yang kita berikan pada mereka.</p>
<pre>Foto: Mel B., Flickr</pre>
<p>Baca: Naomi Aldort, <a href="http://mothering.com/education/future-homeschooling">How to Talk with a Child About Their Future Homeschooling</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/kalau-anak-minta-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeschooling Itu Fleksibel</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/homeschooling-itu-fleksibel/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/homeschooling-itu-fleksibel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Mar 2011 06:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Homeschooling itu fleksibel. Homeschooling itu bisa menjadi seberat atau semudah yang kamu mau. Kalau kamu merasa kewalahan, kurangi beban kurikulum yang kamu pilih itu. Kalau kamu merasa kurang tantangan, ya cari tambahan kegiatan lain. Semudah itu. Sesuaikan saja kegiatan homeschooling &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/homeschooling-itu-fleksibel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.flickr.com/photos/21204781@N07/"><img class="alignright" title="Homeschooling Itu Fleksibel - Homeschooling Indonesia" src="http://farm5.static.flickr.com/4040/4547783813_494a23dc20_m_d.jpg" alt="" width="240" height="160" /></a>Homeschooling </em>itu fleksibel. <em>Homeschooling </em>itu bisa menjadi seberat atau semudah yang kamu mau. Kalau kamu merasa kewalahan, kurangi beban kurikulum yang kamu pilih itu. Kalau kamu merasa kurang tantangan, ya cari tambahan kegiatan lain. Semudah itu. Sesuaikan saja kegiatan <em>homeschooling </em>kita dengan kondisi anak dan keluarga kita sendiri.</p>
<p>Jadi ketika ada seorang ibu yang curhat dengan sangat ceria bahwa dia gagal <em>homeschooling</em> setelah mencoba, jangan langsung percaya <em>homeschooling </em>itu sulit! Bukankah aneh ya, gagal kok bangga? Jangan-jangan <em>homeschooling</em>-nya juga cuma sebulan, dia bilang &#8216;sudah mencoba&#8217;? <em>Homeschooling </em>seperti apa yang dia coba jalankan itu? Kenapa dia tidak mencoba membuat penyesuaian, malah sangat berbahagia menghentikan <em>homeschooling-</em>nya begitu saja? Barangkali dari awal yang ngotot <em>homeschooling </em>itu hanya suaminya, sedangkan dia sendiri tidak siap mental dan ingin menggagalkan dengan segala cara?</p>
<p>Bobot <em>homeschooling </em>itu bisa disesuaikan, dan malah harus disesuaikan, dengan kondisi anak, dan faktor-faktor lain. Apakah ada ya satu-satunya cara <em>homeschooling </em>yang benar? Tidak ada. Orang-orang pelakunya berbeda, kondisi keluarga berbeda, pengalaman-pengalaman kita berbeda, dan&#8230; tempat yang kita tuju juga berbeda-beda. Coba saja lihat 100 blog keluarga <em>homeschooling </em>di satu hari yang sama, pasti ada catatan tentang 100 kegiatan belajar yang berbeda.</p>
<p>Kalau kamu sudah sering membantu anakmu mengerjakan PR sekolah, kamu tahu <em>homeschooling </em>tidak perlu menjadi lebih kompleks dari itu. Tahu nggak, kegiatan-kegiatan percobaan sains yang ada di buku teks pelajaran Sains itu? Meskipun ada sih satu-dua yang dilakukan di kelas dengan panduan guru di kelas, tetapi lebih banyak yang tidak. Bahkan besar kemungkinan tidak dilakukan sama sekali. Guru di kelas memperlakukan semua kegiatan ekstra itu sebagai &#8220;saran&#8221;, bukan kewajiban. Jadi kalau <em>homeschooling, </em>tidak perlu merasa bersalah kalau tidak semua kegiatan sains di buku kita lakukan.</p>
<p>Selama anak-anak kita terlihat bahagia dan bersemangat belajar, kita sudah berhasil. Tetap berikan lingkungan belajar terbaik yang bisa kita berikan untuk mereka, tetap berikan cinta dan perhatian yang mereka butuhkan, berdoa, dan yakinlah semua akan beres dengan sendirinya dengan seizin Yang Kuasa. Mereka tidak butuh cinta dari guru di sekolah, mereka butuh cintamu. Kalau anakmu lebih pilih bersama guru daripada ibunya, itu pertanda adanya masalah yang harus diselesaikan, bukan untuk diumumkan dengan bahagia sebagai alasan untuk &#8216;menggagalkan&#8217; <em>homeschooling.</em></p>
<p><em>*Apalagi ngajak-ngajak orang lain untuk berhenti homeschooling juga.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/homeschooling-itu-fleksibel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Tidak Perlu Ijazah Guru untuk Homeschooling</title>
		<link>http://homeschooling-indonesia.com/mengapa-tidak-perlu-ijazah-guru-untuk-homeschooling/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/mengapa-tidak-perlu-ijazah-guru-untuk-homeschooling/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 04:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alasan Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[alasan homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=1007</guid>
		<description><![CDATA[Begini pertanyaan yang sering ditanyakan kepada orang tua homeschooling: Bagaimana mungkin kamu pikir kamu bisa memberikan pendidikan yang setara dengan sekolah? Bagaimana mungkin kamu bisa, padahal pendidikanmu tidak setinggi guru-guru di sekolah? Setiap guru paling tidak sudah lulus sarjana, bahkan mereka sudah &#8230; <a href="http://homeschooling-indonesia.com/mengapa-tidak-perlu-ijazah-guru-untuk-homeschooling/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Tidak Perlu Ijazah Guru untuk Homeschooling - Homeschooling Indonesia" src="http://images.andinirizky.multiply.com/image/YTKs5BhIJjmb1-QyCIZNnA/photos/1M/300x300/482/File0091.jpg?et=WhSQcGSpi%2CVhySDfR%2BD4YQ&amp;nmid=0" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Begini pertanyaan yang sering ditanyakan kepada orang tua <em>homeschooling</em>:</p>
<p><strong>Bagaimana mungkin kamu pikir kamu bisa memberikan pendidikan yang setara dengan sekolah?</strong></p>
<p>Bagaimana mungkin kamu bisa, padahal pendidikanmu tidak setinggi guru-guru di sekolah? Setiap guru paling tidak sudah lulus sarjana, bahkan mereka sudah mendapatkan sertifikat mengajar. Kamu kan nggak? Kalau misalnya kamu juga sarjana, kamu kan cuma punya satu gelar di satu bidang studi. Mana mungkin kamu mengalahkan semua guru sekolah yang memegang gelar di bidangnya masing-masing?</p>
<p>Misalnya, anakmu lemah dalam pelajaran Fisika, dan kamu membayar seorang mahasiswa teknik untuk memberikan les tambahan. Dalam beberapa bulan, dengan les yang cuma dua jam sepekan sekali, nilai-nilai ujian Fisika anakmu meningkat, dan kamu merasa puas.</p>
<p><strong>Lalu kenapa, bagaimana bisa, seorang mahasiswa yang tidak berpengalaman mengajar ratusan murid bertahun-tahun, tidak punya gelar sarjana, tidak punya sertifikasi guru, seperti guru Fisika di sekolah, ternyata bisa mengajar anakmu dengan lebih baik?</strong></p>
<p>Guru sekolah memiliki tanggung jawab terhadap keseluruhan kelas.</p>
<p>Dia bahkan tidak menangani satu kelas dengan 45 orang murid saja, ada belasan kelas lainnya. Perhatian satu-lawan-satu yang bisa dia berikan sangat terbatas, dan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Guru Fisika itu kenal anakmu juga nggak. Dia cuma ingat dengan si anak cerdas berbakat yang ikut cerdas-cermat Fisika ke Jakarta.</p>
<p>Guru Fisika itu tidak bisa menghentikan pelajaran hanya karena ada satu orang murid tidak mengerti, dia harus meneruskan demi kepentingan murid-murid lainnya. Dia memiliki tanggung jawab kepada kurikulum, tanggung jawab pada seluruh kelas. Kalau pun dia memperlambat kecepatan pelajaran, dia tidak akan tahu ada anak yang tidak mengerti sampai ujian berikutnya.</p>
<p>Lagipula anak yang tidak mengerti selalu diam-diam saja di kelas, takut ketahuan guru, soalnya kalau tidak mengerti pasti dia disuruh mau ke papan tulis untuk mengerjakan soal. Dia takut dipermalukan di depan teman-temannya. Di kelas dia bisa melamun dan tidak ketahuan, bisa pura-pura sedang mendengarkan guru padahal sedang mengkhayal. Kalau pun tidak mengerti dia tidak berani bertanya karena khawatir juga dimarahi. Guru tidak tahu karena perhatian guru terpecah pada 44 orang anak lainnya.</p>
<p>Sedangkan guru privat yang hanya mahasiswa itu, dengan mudah menyesuaikan pelajaran dengan pemahaman anak. Dia langsung tahu kalau muridnya tidak paham, dan dengan ulet mencari cara penjelasan lain, menyediakan soal-soal lain, sampai akhirnya muridnya itu paham dan bisa meningkatkan nilai ujiannya di sekolah.</p>
<p>Bersama guru privat, anak belajar dengan konsentrasi penuh, semua pertanyaan dan jawaban tersedia untuk melayani anak itu seorang.</p>
<p>Jadi meskipun seorang guru sekolah memiliki gelar dan kelebihan pengalaman dari guru privat yang cuma mahasiswa itu, <em>setting </em>pengajaran di kelas tidak memungkinkan terjadi proses belajar mengajar yang efektif.</p>
<p>Seperti juga guru privat, begitu juga dengan guru <em>homeschooling </em>(orang tua). Orang tua <em>homeschooling </em>tidak perlu sertifikasi guru, tidak perlu lulus S3 semua bidang, baru bisa mengajar anak-anak mereka. Pengajaran satu-lawan-satu dalam <em>homeschooling </em>sudah menjamin anak akan lebih paham daripada jika dia bersama guru yang harus mengajar seruangan penuh. (Atau mungkin lebih dari satu kalau anak orang tuanya banyak tetapi pasti tidak sebanyak di kelas).</p>
<p>Belum menguasai materi? Tidak apa-apa, karena orang tua juga bisa belajar bersama-sama anak sambil mengajari. Hasilnya pasti lebih baik daripada melemparkan anak ke sekolah lalu tinggal tunggu hasil tanpa tahu-menahu apa yang dia pelajari. Ijazah diterima tetapi kepala anaknya kosong melompong karena segala ilmu yang dipelajari sudah lupa sehari setelah ujian. Lulus sekolah, si anak bingung mau bekerja apa karena tidak punya keterampilan apa-apa yang bisa dijual. <em>Lho kok ternyata mengerjakan seabrek PR dan ujian itu sama sekali tidak berguna dalam menggali minat dan bakatku ya?</em></p>
<p>Sukses tidak ada hubungannya dengan ijazah sekolah, sukses sangat besar hubungannya dengan sikap mental dan keyakinan diri bahwa &#8216;aku bisa sukses&#8217;. Orang tua harus waspada dan melindungi anak-anak dari pesan-pesan negatif yang menghancurkan kepercayaan dirinya, yang diperolehnya dari sosialisasi di sekolah. Bukannya kita malah memperbesar efek pesan negatif itu di rumah! Itu kan menghancurkan potensi sukses anak sendiri namanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/mengapa-tidak-perlu-ijazah-guru-untuk-homeschooling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

