Tiga Langkah Memulai Homeschooling

Bagaimana caranya memulai homeschooling?

1. Riset

Baca buku-buku homeschooling, baca blog keluarga homeschooling, baca pilihan metode dan kurikulum yang ada, riset di toko-toko tentang buku dan bahan ajar yang mungkin diperlukan, dan tanya-tanya pada praktisi homeschooling. Dengarkan kata hatimu, kamu akan menemukan sumber informasi tentang homeschooling yang sekiranya menarik, dan yang tidak begitu menarik. Yang tidak menarik boleh diabaikan. Ikuti kata hatimu.

2. Tentukan tujuan dan visi

Tujuan dan visi akan menentukan cara kita menerapkan homeschooling. Metode keluarga lain boleh saja untuk dijadikan rujukan, tetapi ingat: tujuanmu berbeda dengan tujuan orang lain, meskipun dia temanmu. Kamu berbeda dengan temanmu. Anak-anakmu juga berbeda dengan anak-anak temanmu. Maka perjalanan homeschooling keluargamu bisa jadi sangat berbeda dengan keluarga temanmu itu (dan keluarga-keluarga lain pada umumnya).

3. Jalankan, dan buat penyesuaian

Homeschooling merupakan gaya hidup seluruh keluarga, bukan sekadar metode pendidikan. Kehidupan keluarga itu dinamis, berkembang, dan berubah karena manusia sendiri selalu berkembang dan berubah. Sesuai dengan perubahan itu kita boleh-boleh saja menyesuaikan metode homeschooling keluarga kita.

Homeschooling itu fleksibel. Kesulitan dan kegagalan di tengah jalan itu biasa, yang penting kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari perjalanan ini untuk mengantarkan anak-anak mencapai tujuan dan visi yang kita tentukan bersama. Homeschooling bukan berarti tidak boleh gagal, juga bukan berarti tidak boleh berubah pikiran tentang segala hal.

Lagipula, bukankah skenario terburuk homeschooling hanyalah: anak-anak kembali ke sekolah? Jadi tak perlu takut mencoba homeschooling.

OK, sekarang… silakan mulai dengan nomor 1.

Foto: angietorres, Flickr

Katanya Kalau Homeschooling, Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata

Kalau Homeschooling Katanya Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata - Homeschooling Indonesia

ernop, Flickr

Aku kira satu hal yang paling sering dikemukakan orang sebagai alasan menolak homeschooling adalah: sekolah bukan untuk dihindari karena sekolah mempersiapkan anak untuk dunia nyata. Yang mengatakan seperti itu jelas tidak tahu bagaimana praktik homeschooling.

Salah satu alasan orangtua memilih homeschooling adalah kenyataan bahwa banyak lulusan sekolah tidak siap menghadapi dunia nyata. Ketidaksiapan itu wajar saja karena persiapan dengan sekolah itu kan menarik anak dari kehidupan dunia nyata, mengumpulkan mereka di dalam suatu lingkungan yang terpisah dari dunia nyata, dan setelah 12 tahun berlalu, mereka dilepas ke dunia nyata. Dan siapkah mereka? Ternyata tidak. Persiapan yang dilakukan selama ini adalah untuk terbiasa bertahan di dunia sekolah, bukan dunia nyata yang sebenarnya.

Beberapa orangtua yang cukup bijak untuk menyadari keabsurdan pernyataan “sekolah=dunia nyata”, memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Kalau mau siap menghadapi dunia nyata seharusnya anak-anak berada di dunia nyata, maka diambillah pilihan homeschooling.

Survei membuktikan, anak-anak homeschooling pada usia “lulus SMA”, melakukan lebih banyak hal-hal menarik dan berguna di dunia nyata daripada anak-anak sekolah. Ada anak-anak homeschooling yang sudah mempunyai bisnis mereka sendiri, magang, aktif dalam kegiatan relawan di lingkungannya, mengadakan konser dan pameran sendiri, menerbitkan buku, dan sebagainya. Banyak sekali yang bisa dilakukan di dunia ini tanpa harus sekolah. Gunakan imajinasimu.

Jadi pendapat kalau tidak sekolah = tidak berbuat apa-apa, tidak punya teman, dan tidak punya kenangan itu datang dari pengalaman sebagai anak sekolah yang tidak berdaya menghadapi dunia nyata di luar sekolah. Kasihan.

Anak-anak homeschooling dimungkinkan untuk lebih siap menghadapi dunia nyata karena mereka belajar dan hidup di dunia nyata. Dunia nyata? Sudah santapan sehari-hari!

Sepucuk Surat yang Harus Dibaca Semua Guru

Sepucuk Surat yang Harus Dibaca Semua Guru - Homeschooling Indonesia

Surat dari sekitar 100 tahun lalu ini merupakan keluhan seorang murid, Athell Margett, kepada guru sekolahnya, Mr. Broome, tentang perlakuan guru tersebut kepada murid-murid. Dari blog Letters of Note.

Terjemahan:

Yth. Mr. Broome

Saya menulis surat ini demi kebaikan diri saya dan siswa-siswa lain. Anda dan guru-guru lain alih-alih membuat sekolah menyenangkan, malah membuatnya kesengsaraan yang sempurna bagi anak-anak yang kebetulan sedikit lambat dalam pelajaran.

Saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya tidak pernah menyukai sekolah tetapi sejak saya bersekolah di Rockdale, saya betul-betul ngeri berpikir tentang sekolah. Ini, kalau boleh saya katakan, sebagai hasil dari semua ejekan dan tindakan Anda mengolok-olok mereka yang tidak sebaik siswa-siswa lain. Jika seorang anak kebetulan membuat sedikit kesalahan, Anda bukannya mencoba menolongnya dengan melihat batu tulisnya, Anda malah memukulnya dengan tongkat, atau membacakan kesalahan bodohnya itu di depan lebih dari 100 orang anak lain yang siap mengejeknya. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak siswa membolos. Dan oleh karena itu, saya tidak menanti-nanti hari-hari sekolah, dan saya hanya mendambakan waktunya saya akan menerima ijazah yang memberikan izin untuk meninggalkan sekolah. Dan saat kedewasaan datang, saya akan mengenang hari-hari sekolah sebagai masa penuh kesengsaraan dan bukannya masa-masa bahagia.

A. Margett

Pelajar Sekolah Negeri Rockdale

Mr Broome

Dear Sir

I write this letter for the good of myself and other boys. Instead of you teachers making school a pleasure you make it a perfect misery to those who happen to be a little backward. Referring to myself, I can say that I never did like school but since I came to Rockdale I have just dreaded the thought of school. This, may I say, has all come from your sneering and poking fun at those who are not quite so well on as others. If a boy happens to have a few mistakes instead of you trying to help him in his difficulty you look over his slate, you either cane him, or spell out aloud his foolish mistakes before over 100 boys who are always ready to make fun. This is why there are so many boys who are always ready to play the truant. And therefore instead of me looking forward to school days I just long for the time when I shall receive a sitificut saying that I may leave school. And as manhood draws on I shall look back on my schooldays as a period of misery instead of a period of happiness.

A Margett

Scholar at (Inferior?) Rockdale Public School

10 Alasan Anak-anak Benci Belajar di Sekolah

10 Alasan Anak Benci Belajar di Sekolah - Homeschooling Indonesia - gambar

JasonDGreat, Flickr

Anak-anak benci belajar di sekolah. Itu sudah jamak, tetapi mengapa?

1. Ketika mereka ingin mempelajari A, kurikulum memaksa mereka mempelajari B. Duh, nggak minat!

2. Semua minat belajar di luar kurikulum itu hanya hobi yang tidak penting, dan mempelajari hobi tidak boleh berlebihan karena mengganggu pelajaran sekolah.

3. Kalau banyak bertanya (baca: ingin belajar lebih jauh dari lingkup kurikulum), dimarahi.

4. Setelah bosan belajar 7 jam di sekolah, eh pulang ke rumah masih ada PR lagi! Gimana nggak benci?

5. Anehnya ketika sedang asyik-asyiknya belajar A, tiba-tiba harus berhenti karena sudah bel jam pelajaran berikutnya.

6. Pelajaran B, asli membosankan, tetapi anak tidak boleh belajar mata pelajaran lain sampai bel berbunyi. Buang waktu saja! Bosan… Berapa menit lagi ya selesainya?

7. Di kelas, harus duduk diam, mendengarkan, mencatat, lalu setelah menghapal semua data dan fakta, dites, lalu lupa. Di luar sekolah, ilmu itu tidak pernah berguna. Juga tidak pernah keluar dalam percakapan, dengan orang dewasa sekali pun. Lalu belajar apa asyiknya? Apa gunanya?

8. Anak sekolah yang beruntung adalah anak yang kebetulan minatnya sejalan dengan kurikulum. Kebanyakan anak tidak beruntung.

9. Sekarang zaman sudah berubah. Punya ijazah sekolah belum tentu jadi kaya-raya seperti zaman kakek nenek kita. Anak-anak sudah mulai bisa berpikir, buat apa susah-susah belajar hal yang dibenci kalau tidak ada jaminan sukses. Padahal semua orang sukses idola mereka adalah orang-orang yang mengejar minatnya.

10. Manusia terlahir ke dunia dengan nafsu alami memperoleh kebahagiaan dengan cara belajar. Lihat saja bayi dan anak-anak kecil prasekolah, segala hal dicoba dan dipelajari, dan betapa bahagia kelihatannya. Tetapi lalu sekolah mengajarkan pemisahan waktu belajar dan waktu untuk bersenang-senang, seolah-olah itu dua hal yang terpisah. Itulah sebabnya belajar di sekolah itu membosankan.

Pertanyaan:
Sekarang…sebutkan 10 alasan anak-anak benci belajar di sekolah!
Apa?
Males banget?
Kayak di sekolah aja?
Sekarang sudah ingat lagi kan, mengapa kamu benci belajar di sekolah? ;)

5 alasan lagi dari Mbak Riris Mailany:
11. Ga bisa milih guru seenaknya, kalo gurunya ga enak, ya telen aja, ga asik ah :)
12. Ga bisa belajar sambil makan, sambil tiduran apalagi sambil main game :)
13. Harus pakai baju yg itu-itu aja, ga asik ah :)
14. Temennya itu-itu aja, kalo ada temen yg nyebelin, ya telen aja, ga variatif :)
15. Kalo dpt nilai yg kurang, masih harus ikut les ini itu, hih…kapan mainnya donk ? he he

Tiga Rahasia Mendidik Anak-anak yang Manis

Homeschooling Indonesia - gambar

1.Tunjukkan cintamu

Anak-anak butuh cinta, maka tunjukkan rasa cintamu sesering mungkin. Peluk lebih sering, ciumi lebih banyak, katakan ‘aku cinta kamu’ setiap ada kesempatan. Pasti deh dia lebih manis dan ingin menyenangkan hati kita.

2. Dampingi dia menangani perasaannya

Bagaimana kalau anak menangis? Ini bisa karena dia merasa kurang diperhatikan, keinginannya tidak dituruti, mainan yang tidak dibelikan, atau hal-hal lain yang tidak kita ketahui. Peluk saja. Semua perasaan adalah valid, jadi hindari mengatakan jangan sedih, jangan marah, dan jangan beremosi lainnya. Perasaan ada untuk dirasakan dan ditangani.

“Aku mengerti perasaanmu, aku percaya kamu bisa mengatasinya, aku akan bersamamu sampai kamu bisa menenangkan diri”.

Jangan pakai hukuman time-out, menyetrap, atau mengurung anak di kamar karena ini malah membuat dia merasa tambah tidak dimengerti dan tidak dicintai. Kita boleh pakai time-out kalau kita sendiri yang tidak bisa menguasai diri (merasa kesal dan ingin menganiaya, eh memukul, anak). Time-out bukan untuk menghukum dia tetapi memberi waktu untuk menenangkan diri kita sendiri.

3. Homeschooling

Anak-anak manis dibentuk di rumah. Bukan di sekolah. Kegagalan mendidik di rumah tidak akan tertutupi oleh lembaga pendidikan. Dengan homeschooling, mendidik anak menjadi lebih mudah karena anak-anak dari sononya membutuhkan pengajaran dan pendidikan dari orangtua, dan homeschooling dengan sendirinya menjamin pemenuhan kebutuhan itu.

Alasan Homeschooling Ketika Banyak Orang Tidak Mampu Bersekolah

Alasan Homeschooling Ketika Banyak Orang Tidak Mampu Bersekolah - Homeschooling Indonesia - gambar

Ed Yourdon, Flickr

Jadi nih ada orang bertanya, apa melecehkan gitu, gak tau juga sih. Katanya,”Kenapa sih kok banyak orang miskin ingin sekolah, tetapi kalian malah nggak mau sekolah?”

Alasan memperjuangkan orang miskin supaya bisa bersekolah dan memperjuangkan homeschooling sebenarnya sama saja: hak untuk pendidikan yang lebih baik.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...