Archive for ‘Awal HS Keluarga Kami’

March 10th, 2010

10. Boleh Tak Menurut Mama

by Andini Rizky

Kemarin lusa aku tidak enak badan dan merasa tidak sanggup mengantar jemput Kanae, putri sulung aku yang berumur 4 tahun, sehingga memutuskan untuk meliburkannya dari penitipan.

Seharian aku berbaring di kasur futon di kamar tidur sementara Kanae dan si bayi Masa bermain di dalam apartemen. Aku lamat-lamat mendengar aktivitas mereka, sebentar menyalakan TV, sebentar bermain komputer, sebentar bermain di toilet, di dalam lemari…

Untungnya kedua kakak beradik ini selalu akur, atau mungkin lebih tepatnya Kanae belum pernah iseng membuat Masa menangis.

Entah berapa lama sejak terpulas, aku terbangun oleh bunyi kertas dirobek. Ketika aku membuka mata, memakai kacamata untuk melihat apa yang terjadi… ternyata Kanae sedang merobek kertas pelapis kerangka kayu di jendela merangkap pintu dari kaca, yang selain berfungsi sebagai penahan dingin juga tabir agar keadaan kamar tidak terlihat dari luar.

Tentu saja aku langsung berteriak histeris melihat kertas jendela sudah bolong semua. Bahkan Kanae sedang memanjat kerangka jendela supaya bisa merobek bagian atas.

Sementara Masa duduk di bawahnya, mendongak melihat kegiatan kakaknya.

“Kanae!!! Apa yang kamu kerjakan!!!”

Dengan murka aku lemparkan sebuah mainan plastik yang besar -bagian dari kompor mainan hadiah ulang tahunnya tahun lalu- ke arahnya. Kena kakinya. Aku pikir lumayan sakit namun dia tidak menangis.

“Pergi sana!” hardik aku menunjuk ke ruang tengah.

Kanae berlari keluar kamar dan menutup pintu geser, menyelamatkan diri dari kemarahanku.

Beberapa menit kemudian, dia membuka pintu sedikit saja, mengintip, mengatakan, “Mama, maaf telah membuat marah.”

Aku tidak menjawab. Meskipun begitu, perlahan-lahan akal sehat kembali pada diriku. Aku ingat bunyi krek krek robeknya kertas saat aku terbangun tadi. Aku bisa memahami keasyikan Kanae merobek-robek kertas yang cukup kuat itu. Pasti dia bosan setengah mati karena aku tidak menemaninya. Di sudut hatiku terbersit penyesalan karena telah menggunakan kekerasan.

Dia masuk ke kamar membawa gulungan tali rafia biru yang entah dari mana dia dapatkan.

“Aku akan membetulkan jendela,” katanya memberi tahu aku. “Dengan tali ini.”

Aku melihat dia melepaskan gulungan tali, menebarkannya menjadi jalinan yang ruwet, kemudian berusaha mengikatkannya ke kerangka jendela. Mudah saja bagi aku untuk memperkirakan upayanya akan sia-sia.

Mungkin ada baiknya dia belajar sendiri dari kegagalan, pikir aku. Lagipula kelihatannya bisa jadi aktivitas menarik buat dia.

Gambatte ne,” kata aku. Berusahalah ya.

“Ya,” angguknya.

Aku tertidur lagi.

Saat aku bangun, semua pakaian anak-anak keluar dari laci, mainan berserakan di mana-mana, bahkan selimut-selimut dari lemari sudah keluar semua, gulungan ruwet tali rafia warna biru di mana-mana, tidak menyisakan tempat berpijak.

Biarlah.

Aku bangkit, membuka laptop untuk memeriksa e-mail.

Kanae, yang menyadari aku sudah bangun, datang mendekati aku, dan meletakkan segelas air, yang rupanya dia tuangkan sendiri dari ceret saring Brita tanpa minta bantuan aku, dan tablet obat flu, yang pasti dia ambil dari balik selimut di pojok lemari karena di situlah aku menyembunyikan kotak obat.

“Mama,” kata Kanae. “Minum obat dan segeralah sembuh ya!”

“Terima kasih,” kata aku.

Terkesan dengan tindakannya menawarkan obat dan air minum. Rasanya aku tidak pernah mengajarkan. Terlebih lagi, kemarin-kemarin dia sudah dilarang menuang air sendiri, takut tumpah, eh dikerjakan juga. Dia pernah dilarang juga menyentuh kotak obat, tapi dilakukannya.

Yah, memang kadang kala kita perlu berani mendobrak larangan, menempuh resiko dihukum kalau percaya hal itu perlu untuk tujuan yang lebih mulia, bukan?

Anak kecil seperti Kanae mengerti hal itu secara alami sementara aku yang setua ini belum berhasil mengajari diri sendiri.

Allah, berilah aku kekuatan melaksanakan homeschooling kendati tentangan orang tua kami. Amiin. ###

March 9th, 2010

9. Coklat untuk Teman-teman

by Andini Rizky

Hari Rabu Kanae diajak pergi ke Tokyo Disneyland sebagai perayaan yang agak dini ulang tahunnya yang keempat.

Hari Kamis pagi, sebelum ia berangkat ke penitipan, Kanae bertanya tentang sekaleng permen coklat Mickey Mouse yang dibelikan Papa untuknya.

“Untuk apa? Nanti saja makannya, sepulang dari penitipan,” kataku.

Jawabnya, “Aku mau makan coklat bersama-sama Kaho-chan.”

Kaho-chan adalah anak perempuan sesama Kelompok Sakura di penitipan.

Aku mempertimbangkan. Dibawa saja ke penitipan barangkali, sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya.

Tanyaku, “Kalau Kazuha-chan?”

“Kazuha-chan juga boleh makan,” jawab Kanae.

“Bu Guru Fumiko juga boleh?” tanya aku lagi.

“Boleh.”

Kalau begitu pertimbangan di benak aku sudah bisa diputuskan.

“Coklat ini kita bawa ke penitipan supaya semua bisa makan?”

Kanae bilang iya. Maka aku memasukkan kaleng itu ke dalam ranselnya.

Di penitipan aku minta tolong kepada Bu Guru Fumiko untuk meluluskan keinginan Kanae: makan coklat bersama teman-temannya.

Ketika aku menjemput, Bu Guru Fumiko menceritakan bagaimana Kanae membagikan coklat satu per satu kepada temannya pada jam makan sore. Kanae bilang, “Silakan,” yang disambut, “Terima kasih” oleh teman-temannya.

Bu Guru lalu berterima kasih padaku. Aku membalas, terima kasih untuk Bu Guru yang telah mendengarkan ‘permintaan mustahil’ anak aku itu. Kanae sendiri tersenyum dengan mata berbinar-binar mendengarkan percakapan kami.

Aku ingin sekali menutup cerita ini dengan penjelasan bagaimana caranya aku mengajari Kanae supaya senang berbagi. Tetapi sayangnya aku tidak tahu. Aku tidak pernah menasehatinya untuk ingat pada adiknya kalau sedang punya makanan enak. Aku tidak pernah menceramahinya bersyukurlah kamu bisa makan, masih banyak orang lain kelaparan. Aku tidak pernah mengajarinya nikmat berbagi, namun ternyata ia mampu mengajari diri sendiri. Aku ingin menutup cerita ini dengan kata-kata bijak tetapi aku tidak punya.

Aku hanya ingin bercerita, semakin hari, semakin aku jatuh cinta pada putri sulungku itu.###

March 7th, 2010

8. Papa Tidak Setuju

by Andini Rizky

Kanae, anakku, dulu tidak cocok dengan TK-nya di Jepang dan setelah enam bulan di TK, aku pindahkan dia ke penitipan anak atas permintaannya sendiri.

Aku melihat sejak masuk TK dia semakin tidak ceria, tidak lagi berinisiatif mengajak anak-anak lain bermain bersama jika aku mengajaknya ke gedung bermain di dekat rumah atau ke pojok bermain di toko buku. Yang membuat aku tambah was-was, dia kemudian menunjukkan gejala nervous tic (kebiasaan berkedip-kedip, menarik bawah hidung, yang tampak aneh).

Memang dia tidak menangis kalau diajak ke TK, tetapi karena mengajaknya setiap pagi juga susah sekali -dia pura-pura sakit- aku harus membentak-bentaknya dulu baru dia bergerak, lama-lama aku juga jadi depresi.

Kegiatan di TK sendiri sebenarnya tidak keras, tidak sangat-sangat disiplin. Dalam acara kunjungan orang tua ke TK setiap bulan, aku melihat kegiatannya bervariasi dan menyenangkan sekali. Guru-gurunya juga baik dan tidak pernah marah. Anak-anak boleh ribut-ribut dan selalu diladeni dengan ramah bila mengajak guru bicara tidak peduli betapa remeh celotehan mereka. Tetapi aku melihat juga di tengah-tengah kegiatan yang ramai itu, anak aku tidak menikmati. Dia tidak ikut-ikutan menari bersama dan malah bengong-bengong saja.

Aku iri melihat teman-teman seusianya yang kelihatan mandiri, lucu, dan ceria.

Setiap hari aku kedapatan cerita dari Kanae sendiri, bahwa ketika teman-temannya menangkap serangga dari dahan pohon, dia bermain pasir sendirian di kaki pohon itu. Katanya, ketika teman-temannya bermain masak-masakan, dia tidur di dekat rak buku cerita. Dia cerita hari ini dia ditolak temannya saat dia mengajak bermain. Kadang-kadang dia cerita tadi dipukul kepalanya oleh temannya karena dia lambat membereskan mainan. Katanya gurunya memperingatkannya agar cepat-cepat menyelesaikan makan siang. Aku juga bingung mendengar dia berkata, “Aku hari ini tidak main dengan siapa-siapa karena aku ingin main sendiri.”

Kenapa sih kok kamu lain sendiri, Kanae?

Aku bingung bagaimana menasehatinya.

“Bermainlah bersama teman-temanmu,” kata aku.

“Aku ingin bermain yang lain,” jawab Kanae.

Aku ingin melanjutkan namun terdiam dan bertarung dalam hati. Apa bagusnya sih mengorbankan keunikan diri sendiri supaya bisa berbaur dengan orang lain? Nanti kamu jadi seperti Papamu.

Aku mengadu pada gurunya di TK, Bu Okubo yang baik hati, tentang Kanae yang kerap tenggelam dalam dunianya sendiri pada saat-saat yang aneh. Bu Guru menyarankan aku agar tidak pusing-pusing. “Anak-anak butuh juga dunia sendiri, ” katanya tersenyum.

Aku tidak sampai hati menceritakan tentang nervous tic yang muncul sejak Kanae masuk TK. Aku tidak ingin terdengar menyalahkan apalagi memperburuk hubungan dengan Bu Okubo.

Tetapi cerita ini sudah masa lalu.

Setelah anak perempuan aku itu masuk penitipan, dia kembali lagi seperti dirinya yang lama, sebelum masuk TK. Dia ceria lagi seperti sedia kala. Nervous tic-nya juga hilang sama sekali.

Memang sih.. kalau bertemu dengan teman-teman penitipannya dia langsung mengobrol dan bercanda, tetapi kalau kebetulan berpapasan dengan mantan teman-teman TK-nya dia jadi pucat dan mengkeret. Masih trauma barangkali?

Kanae kembali jadi anak periang yang pemberani.

Untung aku dengarkan permintaannya untuk masuk penitipan.

Aku tidak tahu ada apa di penitipan. Dugaan aku karena alur waktu yang berjalan santai di sana. Tidak banyak kegiatan yang dipepatkan dalam bingkai waktu yang sempit. Ternyata begitulah yang cocok untuk Kanae yang  sangat ‘my pace’, istilah Jepang untuk orang yang bertindak sesuai kerangka waktunya sendiri, tidak terpengaruh oleh tekanan dan kewajiban yang dibebankan dari luar dirinya.

Aku lega melihat perubahan Kanae tetapi suami tetap tidak setuju dengan keputusan aku. Baginya penitipan tidak sama dengan sekolah, meskipun orang Jepang pun menitipkan anaknya di penitipan sampai anak cukup umur untuk masuk kelas 1 SD.

“Bagaimana kalau sekolah ternyata menghancurkan kemampuan Kanae untuk menjadi manusia seutuhnya?” tanya aku pada suami saat ia membaca buku berjudul “Ningen-ryoku”, “Kemampuan sebagai Manusia”.

“Bagaimana kalau sekolah tidak membina kemampuannya berkomunikasi, perspektifnya, kemandiriannya, tetapi malah membuat semua kemampuan itu bantet?” desak aku.

“Yang penting dia harus sekolah,” jawab suami aku. “Bagaimana kalau dia tidak sekolah? Mau jadi apa anak kita?”

Pertanyaan macam apa itu. Dia bisa jadi apa saja yang dia inginkan, pikir aku. Tidak aku suarakan.

“Inti pertanyaanku bukan itu,” tukas aku.  “Aku tanya bagaimana kalau kita terlanjur memasukkan Kanae ke sekolah yang terbukti mementahkan kemampuannya sebagai manusia.”

Suamiku gusar.

“Yang penting dia harus sekolah,” jawabnya. “Bagaimana kalau dia tidak sekolah? Mau jadi apa anak kita?”

Siaran ulangan.

Yah, pokoknya Kanae sekarang ada di penitipan. Dia bahagia. Aku tentu bahagia.  Suami? Mau tidak mau dia harus bahagia.  Toh tidak ada yang perlu dikeluhkan. Setidaknya untuk sementara ini.

Sebentar lagi keluarga kami akan pulang ke Indonesia dan meninggalkan Jepang.

Di Indonesia, aku pikir Kanae tidak perlu masuk preschool atau pun TK. Aku mulai meragukan apa bagusnya sekolah yang mewajibkan muridnya menghapal ayat sejak usia dini. Aku ragu apakah itu memang terbaik buat perkembangan karakter anakku. Apa bagus menghukum dan membuat dia merasa rendah diri kalau tidak mau menghapal? Apa gurunya mau memahami dia belum bisa berbahasa Indonesia?

Aku jadi ingin mempraktekkan homeschool untuk Kanae. Aku akan ajari dulu dia bahasa Indonesia di rumah sebelum dia siap dilempar ke sekolah. Suamiku akan bilang apa ya?

Sepertinya aku harus siap-siap bertempur lagi.

Tidak hanya suami yang aku cintai, tetapi menghadapi sanak famili yang tidak mau mengerti. Pokoknya sekolah, sekolah, sekolah.

Hah. Peduli amat.

Aku akan terus pastikan Kanae menikmati hal-hal yang dulu tidak aku kecap: kebebasan menjadi dirinya sendiri dan keyakinan bahwa dia dicintai apa adanya. ###