Kemarin lusa aku tidak enak badan dan merasa tidak sanggup mengantar jemput Kanae, putri sulung aku yang berumur 4 tahun, sehingga memutuskan untuk meliburkannya dari penitipan.
Seharian aku berbaring di kasur futon di kamar tidur sementara Kanae dan si bayi Masa bermain di dalam apartemen. Aku lamat-lamat mendengar aktivitas mereka, sebentar menyalakan TV, sebentar bermain komputer, sebentar bermain di toilet, di dalam lemari…
Untungnya kedua kakak beradik ini selalu akur, atau mungkin lebih tepatnya Kanae belum pernah iseng membuat Masa menangis.
Entah berapa lama sejak terpulas, aku terbangun oleh bunyi kertas dirobek. Ketika aku membuka mata, memakai kacamata untuk melihat apa yang terjadi… ternyata Kanae sedang merobek kertas pelapis kerangka kayu di jendela merangkap pintu dari kaca, yang selain berfungsi sebagai penahan dingin juga tabir agar keadaan kamar tidak terlihat dari luar.
Tentu saja aku langsung berteriak histeris melihat kertas jendela sudah bolong semua. Bahkan Kanae sedang memanjat kerangka jendela supaya bisa merobek bagian atas.
Sementara Masa duduk di bawahnya, mendongak melihat kegiatan kakaknya.
“Kanae!!! Apa yang kamu kerjakan!!!”
Dengan murka aku lemparkan sebuah mainan plastik yang besar -bagian dari kompor mainan hadiah ulang tahunnya tahun lalu- ke arahnya. Kena kakinya. Aku pikir lumayan sakit namun dia tidak menangis.
“Pergi sana!” hardik aku menunjuk ke ruang tengah.
Kanae berlari keluar kamar dan menutup pintu geser, menyelamatkan diri dari kemarahanku.
Beberapa menit kemudian, dia membuka pintu sedikit saja, mengintip, mengatakan, “Mama, maaf telah membuat marah.”
Aku tidak menjawab. Meskipun begitu, perlahan-lahan akal sehat kembali pada diriku. Aku ingat bunyi krek krek robeknya kertas saat aku terbangun tadi. Aku bisa memahami keasyikan Kanae merobek-robek kertas yang cukup kuat itu. Pasti dia bosan setengah mati karena aku tidak menemaninya. Di sudut hatiku terbersit penyesalan karena telah menggunakan kekerasan.
Dia masuk ke kamar membawa gulungan tali rafia biru yang entah dari mana dia dapatkan.
“Aku akan membetulkan jendela,” katanya memberi tahu aku. “Dengan tali ini.”
Aku melihat dia melepaskan gulungan tali, menebarkannya menjadi jalinan yang ruwet, kemudian berusaha mengikatkannya ke kerangka jendela. Mudah saja bagi aku untuk memperkirakan upayanya akan sia-sia.
Mungkin ada baiknya dia belajar sendiri dari kegagalan, pikir aku. Lagipula kelihatannya bisa jadi aktivitas menarik buat dia.
“Gambatte ne,” kata aku. Berusahalah ya.
“Ya,” angguknya.
Aku tertidur lagi.
Saat aku bangun, semua pakaian anak-anak keluar dari laci, mainan berserakan di mana-mana, bahkan selimut-selimut dari lemari sudah keluar semua, gulungan ruwet tali rafia warna biru di mana-mana, tidak menyisakan tempat berpijak.
Biarlah.
Aku bangkit, membuka laptop untuk memeriksa e-mail.
Kanae, yang menyadari aku sudah bangun, datang mendekati aku, dan meletakkan segelas air, yang rupanya dia tuangkan sendiri dari ceret saring Brita tanpa minta bantuan aku, dan tablet obat flu, yang pasti dia ambil dari balik selimut di pojok lemari karena di situlah aku menyembunyikan kotak obat.
“Mama,” kata Kanae. “Minum obat dan segeralah sembuh ya!”
“Terima kasih,” kata aku.
Terkesan dengan tindakannya menawarkan obat dan air minum. Rasanya aku tidak pernah mengajarkan. Terlebih lagi, kemarin-kemarin dia sudah dilarang menuang air sendiri, takut tumpah, eh dikerjakan juga. Dia pernah dilarang juga menyentuh kotak obat, tapi dilakukannya.
Yah, memang kadang kala kita perlu berani mendobrak larangan, menempuh resiko dihukum kalau percaya hal itu perlu untuk tujuan yang lebih mulia, bukan?
Anak kecil seperti Kanae mengerti hal itu secara alami sementara aku yang setua ini belum berhasil mengajari diri sendiri.
Allah, berilah aku kekuatan melaksanakan homeschooling kendati tentangan orang tua kami. Amiin. ###