Rabu siang, Masa (4) menangis kesakitan dan minta diantar ke dokter gigi. Klinik dokter gigi terlalu jauh untuk dicapai berjalan kaki, tetapi terlalu dekat jika naik taksi sehingga supir taksi tidak mau menjemput. Satu-satunya cara kami keluar dari kompleks perumahan ini adalah diantar dengan mobil oleh suamiku. Jadi aku SMS dia, supaya mengantar Masa ke dokter gigi sepulang kerja, dan dia balas “ya”. Tunggu punya tunggu, suamiku tidak pulang jam 7 seperti yang kuharapkan, tetapi dia pulang jam 9 malam. Tentu saja dokter gigi sudah tutup. Ternyata dia lupa janjinya, dan malah pergi main badminton dengan teman-temannya seperti biasa.
Begitu dia masuk rumah, aku mengomel dan membentak suamiku,”Gitu ya! Anak nggak penting. Teman-teman lebih penting! Bolos main badminton sekali saja, takut nggak ditemenin? Kayak anak sekolah aja? Emang umurmu berapa? Jangan bohong bilang lupa segala! Aku sudah SMS 2 kali!”
Kalau dipikir sekarang, kasihan deh dia.
“Aku lupa… Maaf…,” katanya lemah.
Dengan gusar aku naik ke kamarku di lantai atas. Menghadap komputer, aku mengetik…
“Kalau suamiku lupa mengantar Masa ke dokter gigi berarti dia tidak sayang anak dan lebih mementingkan teman-teman.”
Apakah itu benar? Apakah itu benar? Aku mengetik sambil berpikir keras… apakah itu benar? Apakah aku bisa tahu itu benar? Dalam 10 menit, aku menemukan bukti-bukti dari pengalamanku bahwa kalimat itu tidak benar. Suamiku sayang Masa. Suamiku sayang keluarga. Suamiku tidak mementingkan teman-temannya karena main badminton toh cuma seminggu sekali, Rabu malam. Sedangkan pergi keluar rumah dengan anak-anak… SETIAP MALAM kecuali Rabu. Dia mungkin gembira sekali bisa menikmati acara bermain dengan teman-temannya itu… bahkan sampai lupa dengan janjinya. Dia berkata benar. Dia tidak bohong. Dia lupa.
Dan kalau dipikir lagi, Masa sudah tidur sejak pukul 7.30 tadi. Barangkali kalau kami pergi ke dokter malam itu, dia jadi rewel dan susah diperiksa dokter karena sudah mengantuk. Masa sendiri sudah tidak kesakitan. Dia sudah tidur pulas dari tadi. Kalau dipikir, Masa menangis cuma sekitar 10 menit tadi. Tidak begitu lama. Aku menjerit-jerit padanya karena dia tidak mau disikat giginya. Ibuku menjerit-jerit padaku karena dia pikir aku menyakiti Masa. Aku menjerit-jerit pada ibuku karena benci campur tangannya. Tapi hanya sebentar. Setelah itu Masa berhenti menangis. Mungkin setelah disikat, giginya tidak begitu sakit lagi. Masa sudah tidur…
Jadi sebetulnya tidak apa-apa kalau suamiku lupa mengantar malam ini. Kemarahanku sirna.
Aku turun ke kamar suamiku di lantai bawah. Aku memeluk suamiku di tempat tidurnya. Aku cinta padamu…, bisikku. Tapi dia sudah tidur.
Keesokan paginya, suamiku minta cuti setengah hari dari kantor untuk pergi ke dokter gigi. Di dalam ruangan dokter yang sempit itu, ramai-ramai kami mendampingi Masa. Nao (2) mengoceh,”Gigi palchu! Gigi palchu!” Kanae (7) senang sekali bisa mengobrol tentang bandelnya si Masa, kalau digosok giginya tidak mau, kepada dokter gigi itu. Masa ternyata pasrah saja tuh diperiksa giginya. Pulang dari dokter gigi, suamiku masih ada waktu untuk mampir di Mal dan membelikan mainan robot plastik untuk Masa. Kami jalan-jalan sebentar untuk membeli donat. Lalu suamiku mengantarkan kami pulang ke rumah. Masa senang sekali dengan mainan barunya. Kami semua menikmati acara jalan-jalan dadakan itu. Seandainya kami homeschooling, ini namanya field trip.
“Mama, aku suka Papa belikan robot! Papa baik! Aku senang!” seru Masa berulang-ulang tanpa kutanya.
Beruntung sekali, suamiku lupa malam itu. Rupanya pergi ke dokter gigi pagi-pagi lebih baik bagi Masa; giginya ditambal, dan Papa sempat membelikan hadiah. (Masa tidak minta dan suamiku membelikan karena kurasa dia sendiri takut ke dokter gigi.)
Rencana Tuhan untuk Masa lebih baik daripada rencanaku.
Apa hubungannya dengan homeschooling? Well, bagaimana orangtua menyelesaikan masalah perkawinan mereka sangat mempengaruhi kebahagiaan anak-anak dalam perkawinan mereka sendiri kelak. Cara menyelesaikan konflik rumah tangga… bukankah ini juga bagian dari pendidikan tentang kehidupan yang sangat penting, yang tidak dapat diajarkan oleh sekolah?
… dan aku tidak bisa lebih tahu dari Tuhan apa yang terbaik untuk anakku.


