Archive for ‘Pengantar’

February 28th, 2010

Mengapa Blog Baru?

by Andini Rizky

Halo, saya Andini Rizky, mantan praktisi homeschooling. Saya dulu menulis tentang pengalaman homeschooling di Multiply. Lalu mengapa kok sekarang repot-repot membuat situs baru? Harus membayar pula?

  1. Alasan utama saya, dan paling tidak nyambung, adalah, saya ingin mencoba layanan hosting server Singapura dari perusahaan Idwebspace. Saya menggunakan layanan mereka yang termurah, hanya 100 MB, dan brandwith 8000MB. Kalau saya puas, saya berniat memindahkan situs saya yang lain ke server Singapura perusahaan hosting ini.
  2. Alasan kedua, saya punya naskah buku homeschooling yang saya urungkan niat untuk menerbitkannya. Naskah buku itu berasal dari kumpulan tulisan-tulisan saya di blog lama. Penerbit yang awalnya menyatakan berminat menerbitkan, meminta saya menghapus bagian-bagian yang ‘menjelek-jelekkan guru dan sekolah’. Sedangkan saya pikir, saya bukan bermaksud menjelek-jelekkan guru, toh masih banyak guru yang baik, tidak suka memakai kekerasan, dan betul-betul tulus ingin mencerdaskan murid-muridnya, tetapi sebelum suatu keluarga memutuskan homeschooling, pasti ada faktor pendorong dan faktor penariknya. Faktor penariknya adalah pemahaman yang baik tentang homeschooling. Faktor pendorong adalah kekurangan dari sistem persekolahan dan pengalaman buruk di sana, termasuk dengan guru. Bagian tulisan saya yang dianggap kontroversial itu sebetulnya bukan pertama kali diungkapkan melainkan saya petik dari buku-buku John Holt, Ivan Illich, buku-buku homeschooling, dan blog-blog para praktisi sebelum saya. Jadi saya segan menghapus bagian itu dan juga malas meyakinkan penerbit lain. Akhirnya… saya punya naskah komplit yang tidak ada tempat untuk mempublikasikannya. Maka, lahirlah situs blog baru ini.
  3. Dengan menyewa nama domain baru, saya bisa menamainya dengan kata kunci yang pasti dipakai oleh peminat homeschooling dari Indonesia, yaitu ‘homeschooling‘ dan ‘Indonesia’ sehingga tercetuslah nama domain: “homeschooling-Indonesia.com”. Dengan demikian tulisan saya akan mudah ditemukan oleh target pembaca saya itu lewat mesin pencarian Google. Karena untuk apa menulis jika tidak ada yang membaca, bukan?
  4. Blog baru ini akan menjadi identitas baru saya di dunia maya saat berkomentar di blog praktisi homeschooling.  Saya sering mengomentari tulisan homeschooling di blog orang lain tetapi jika saya mencantumkan URL blog satu lagi, terasa sungkan karena tidak nyambung. Padahal saya sangat ingin bersahabat dan berbagi minat homeschooling dengan praktisinya.
  5. Semakin banyak pembaca blog ini, semoga semakin banyak orang yang mendoakan saya bisa homeschooling lagi seperti dulu, juga meyakinkan suami (tokoh kunci yang bisa memberikan izin) untuk ‘jalan yang jarang dilalui orang’ ini.
  6. Ambisi pribadi kecil-kecilan untuk ikut menjadi faktor pembuat perubahan agar homeschooling lebih diterima secara luas dalam masyarakat Indonesia.

OK, deh, saya ada permintaan nih. Saya ingin mencantumkan alamat blog keluarga homeschooling Indonesia di sidebar situs ini supaya kita bisa saling mengenal. Bagi yang tidak keberatan diasosiasikan dengan situs ini (ya, apa boleh buat, Andini memang sering radikal dalam tulisannya, mungkin ada yang tidak senang), minta tolong isi formulir di bawah ini dengan nama, e-mail dan alamat blog yang ingin dicantumkan di sini. Atas kesediaannya, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

(required)
(required)

 
Tags:
February 27th, 2010

1. Kata Pengantar (Untuk Pengunjung Baru)

by Andini Rizky

Keluarga kami terdiri dari aku (Andini), Papa (suamiku), dan anak-anak kami tercinta: Kanae, Masa, dan Nao. Aku dan Papa bertemu dan berjodoh di Tokyo, Jepang. Kemudian selama lima tahun kami membina keluarga, sebagian di kota Tokyo, kota kelahiran Kanae, dan sebagian lagi di kota Matsumoto, kota kelahiran Masa. Tahun 2008 kami kembali ke Indonesia, dan setahun kemudian lahirlah Nao di Bekasi.

Aku berkenalan dan mencoba gagasan homeschooling di Jepang melalui beberapa buku berbahasa Jepang tentang tema yang kontroversial itu. Apakah di Jepang homeschooling sudah lazim dikenal orang? Tidak. Sistem pendidikan Jepang bisa dikatakan berhasil karena telah menanamkan etos kerja keras, kejujuran, sopan santun, kebersihan, dan sebagainya yang merupakan ciri masyarakatnya. Namun demikian, dunia pendidikan Jepang pun dibebani oleh masalah seperti ijime/bullying, penolakan bersekolah/futōkō, menurunnya pencapaian akademik Jepang dibandingkan negara-negara maju lain, dan bunuh diri anak-anak sekolah. Pengajuan solusi bermunculan, salah satunya adalah homeschooling sebagai opsi pengganti sekolah. Homeschooling belum populer namun benih-benihnya telah ditebarkan. Aku kira hal yang sama terjadi di Indonesia.

Buku ini bersifat sangat personal dan disusun dengan dua maksud. Pertama, adalah niat pribadi untuk menggolkan proposal melanjutkan homeschooling bagi Kanae dan adik-adiknya kepada kepala keluarga kami, yakni suamiku. Kedua, adalah berbagi cerita menginspirasi untuk para orang tua yang ingin tahu bagaimana homeschooling bisa diterapkan bagi anak usia balita. Pada rentang usia golden age ini, ikatan tali asih dan cinta orang tua berperan sangat penting untuk keoptimalan pertumbuhan mental dan fisik anak.

Tulisan-tulisan di dalam buku ini awalnya merupakan entri di dalam laman Multiply yang kutuanrumahi:  Homeschooling à la Carte (http://andinirizky.multiply.com) . Blog penyimpan catatan hari demi hari tentang Kanae dan kegiatan homeschooling-nya usia tiga hingga lima tahun itu diakses oleh peminat homeschooling maupun pemerhati pendidikan anak secara umum. Oleh karena berawal dari blog, setiap judul cerita dalam buku ini bisa dibaca terpisah dari judul-judul lain tanpa khawatir kehilangan mata rantai kisahnya.

Aku berharap semoga pembaca bisa tertawa, menangis, dan mengangguk setuju atau pun membentuk pendapat yang berbeda denganku karena cerita-cerita tentang dinamika keluarga dalam buku ini merupakan hal yang universal.

Selamat menikmati!

Klik laman Arsip untuk melihat daftar isi.