Archive for ‘Sosialisasi Homeschooling’

May 15th, 2010

Generalisasi tentang Praktisi Homeschooling

by Andini Rizky

“Semua generalisasi itu salah, termasuk yang ini.” Mark Twain.

Baru-baru ini aku menemukan sebuah buku tentang homeschooling di toko buku yang tidak akan aku sebutkan judulnya karena aku rasa isinya memberikan gambaran yang keliru tentang dampak sosialisasi homeschooling. Tidak ada bukti ilmiah yang menyokong pemaparan penulisnya, hanya pengalaman seorang anak remaja yang tidak menyukai pilihan metode pendidikan yang diambil orang tuanya. OK, jadi satu orang tidak suka homeschooling lalu semua orang kena getahnya.

Aku teringat tulisan blog Just Enough Blog tentang pendapat di blog seorang remaja yang juga tidak menyukai homeschooling.

Anak itu menulis:

Secara pribadi, aku merasa homescholing tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dengan homeschooling, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja homeschooling yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak homeschooling yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari homeschooling. Tetapi aku pernah melihat anak-anak homeschooling yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak homeschooling yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Tammy Takahashi dari Just Enough Blog bermaksud memperlihatkan, tidak ada logika sama sekali yang melatari generalisasi dalam pendapat remaja tersebut, dengan mengganti setiap kata ‘homeschooling‘ dengan ‘public school’ atau ‘sekolah negeri’, di sini aku ganti dengan ‘sekolah’ saja.

Secara pribadi, aku merasa sekolah tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dari sekolah, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja bersekolah yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak sekolah yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari sekolah. Tetapi aku pernah melihat anak-anak sekolah yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Anak itu menulis:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ di sekolah. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan di sekolah tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di sekolah dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di rumah, yang anak-anaknya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (orang tua) dan sesama saudara kandung saja.

Tammy Takahashi membuat penyesuaian seperti di bawah ini:

Sosialisasi adalah ‘kurikulum tersembunyi’ dalam homeschooling. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan dalam keluarga tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di dunia nyata dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di sekolah, yang siswa-siswinya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (guru) dan sesama teman sekelas saja.

Tammy mengatakan versinya terasa lebih masuk akal, karena tidak ada tempat lebih baik untuk belajar bersosialisasi di dunia nyata selain di dunia nyata, dan di situlah kelebihan homeschooling.

Setiap homeschooling mendapatkan nama buruk (padahal cuma generalisasi tak berlogika seperti buku yang aku sebutkan), selalu muncul suara-suara untuk melarang homeschooling dan memaksa untuk memasukkan anak-anak homeschooling ke sekolah. Sedangkan kegagalan sekolah mempersiapkan siswanya menghadapi dunia nyata tidak akan pernah diikuti perintah untuk homeschooling.

Aku tidak mempermasalahkan metode pendidikan yang dipilih masing-masing orang tua, mau sekolah atau pesantren, atau pun homeschooling resiko tanggung sendiri toh. Namun aku lebih senang menganjurkan homeschooling karena pada saat orang tua tidak puas dengan sekolah, melakukan reformasi pendidikan di sekolah merupakan tugas mahaberat, bahkan lembaga negara Mahkamah Agung pun tidak sanggup melakukannya (ingat kasus UN).  Sedangkan melakukan reformasi pendidikan dalam homeschooling keluarga kita sendiri? Semudah membalik telapak tangan -termasuk urusan memperbanyak kesempatan bersosialisasi-.

April 24th, 2010

34. Sosialisasi Homeschooling (2)

by Andini Rizky

Aku yakin tidak ada orang tua homeschool yang tidak ditanyai masalah sosialisasi. Capek ya. Tetapi kebetulan siang ini aku sedang tidak capek dan ingin curhatan lagi tentang sosialisasi homechooling. Sori kalau berita ulangan.

Bagiku pertimbangan sosialisasi bukanlah sisi negatif/kekurangan dari pilihan ber-homeschooling. Sosialisasi itu adalah alasan utama aku memilih homeschooling.

Berikut beberapa alasan mengapa aku pikir homeschooling lebih baik untuk Kanae (5) dari segi sosialisasi daripada sekolah formal.

1.          Baik aku sebagai ibunya maupun Kanae punya kendali lebih besar dalam memilih teman bergaul dia. Dia masih lima tahun, jadi yang kami utamakan saat ini, pokoknya tidak perlu bertemu setiap hari dengan anak-anak yang memukul. Nanti kalau dia sudah besar, mungkin filternya menjadi: tidak perlu teman yang nge-drug, yang berpacaran, maupun yang aktif secara seksual di usia remaja.

2.          Kanae saat ini tidak tergantung pada persetujuan teman-teman hanya untuk berkawan. Dia tidak merasa wajib suka Disney Princess untuk main dengan sesama anak perempuan, tidak merasa wajib tertarik main PS2 hanya karena anak laki-laki tuan rumah cuma mau main itu saja, tetapi juga tidak memaksakan kehendak pada anak-anak lain. Bagi Kanae dia suka semua orang yang mau bermain bersamanya, dia tidak harus menjadi sama, bahkan tidak harus punya kesamaan dalam berkawan. Kalau dia remaja nanti kepercayaan diri dan sikap dia yang begini akan bermanfaat. Cuma kalau dia sekolah, dengan lingkungan teman-teman yang usianya sama semua, aku nggak yakin bisa dia pertahankan. Kalau sekolah sangat mungkin dia jadi seperti aku dulu yang nggak berani mengaku bahwa aku nggak suka NKOTB. Dan menurut aku kakak kelas yang namanya Bimo itu sama sekali nggak ganteng.

3.          Kanae menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain bebas dengan sesama anak-anak di setiap akhir pekan. Menurut aku itu sudah cukup menggantikan waktu sosialisasi di jam istirahat 2 kali 15 menit setiap hari kalau dia sekolah. Sering kali aku terkejut di rumah kami sudah berkumpul anak-anak tetangga yang tidak aku kenal. Kanae yang mengundang mereka bermain di teras. Anak-anak itu sukarela lho berada di rumah kami, dan pergaulan sukarela dan multiusia begitu kan lebih baik daripada bergaul karena dikurung sama-sama di sekolah. Terlebih lagi, apakah sekolah bisa mengajarkan keterampilan sosial seperti yang sudah dikuasai Kanae tanpa bantuan siapa pun itu?

4.          Dia tidak punya masalah dengan kenyataan bahwa dia sekolahrumah, dan semua temannya anak sekolahan. Kalau ditanya sekolah di mana, dia akan menjawab,”Aku sekolah rumah”. Dia tidak punya masalah menjadi berbeda, dan berteman dengan anak-anak yang berbeda dengan dia.

5.           Kemampuan bicara Kanae melampaui anak-anak Indonesia seusianya meskipun dia baru setahun terakhir belajar bahasa Indonesia. Dia terbiasa menggunakan imbuhan me-, ber-, ter-, dan lain-lain. Dia menggunakan kata-kata seperti bermigrasi, mengoperasikan, hari keberuntungan, dan sebagainya yang aku sendiri tidak selalu ngeh dia pungut dari mana. Dia belajar dari membaca buku dan majalah, menonton film kartun dubbing ke bahasa Indonesia yang bermutu baik, dan dalam keseharian tidak merasa perlu menurunkan level berbahasanya ke level sesama anak lima tahun.

6.          Apa gunanya sekolah kalau dia malah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi takut bergaul pada orang lain? Sekolah pernah membuat dia punya masalah sosialisasi seperti itu dan aku khawatir sekali dia akan kembali seperti itu kalau dipaksa masuk TK.

7.          Kanae lebih supel, ceria, kritis, dan teman bicara yang menyenangkan saat ini. Berkat homeschooling. Dia sayang sekali pada adik-adiknya. Nggak ada tuh cemburu-cemburuan. Berkat homeschooling. Dia memandikan, memakaikan pakaian dan sepatu untuk adiknya, membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berkat homeschooling.

Kalau dia sekolah, dan dia pernah sekolah, setiap hari aku kelimpungan mengobati luka-luka emosionalnya yang dia dapat dari interaksi di sekolah, tidak ada waktu lagi tersisa untuk belajar ilmu yang lain, dan tidak ada waktu untuk mengembangkan empatinya, kasih sayang pada orang lain, tidak ada waktu merenung tentang banyak hal termasuk tentang Allah. Dia anak yang lebih baik, alhamdulillah, berkat homeschooling.

Dari segi sosialisasi, homeschooling pilihan terbaik yang tersedia untuk anakku.

April 23rd, 2010

33. Sosialisasi Homeschooling (1)

by Andini Rizky

Homeschooling? Nggak sekolah? Terus sosialisasinya gimana dong?” merupakan pertanyaan pertama suami saat aku mengajukan niat meng-homeschooling-kan putri kami.

Ketika menyebut kata sosialisasi, yang dimaksud oleh suamiku adalah “pergaulan dengan teman sebaya.” Maksud pernyataannya adalah:

Waktu kecil aku tidak pernah punya teman-teman sebaya yang akrab di luar sekolah sehingga tidak mungkin anak aku bisa punya teman jika tidak sekolah.

Kasihan juga suamiku itu, bisa punya pemikiran seperti itu, bukankah lebih ideal seorang anak bisa punya teman di mana-mana? Mungkin di luar sekolah dulu dia nggak punya teman ya? Sama dong.

Aku menjawab, pertama harus diluruskan anggapan keliru bahwa homeschooling berarti kita tidak boleh ke mana-mana, harus di rumah saja selama jam pelajaran. Dengan homeschooling kita menyatukan hidup dengan belajar, dan kita bisa belajar di pasar, warnet, toko swalayan Alfamart, perpustakaan Senayan, taman wisata Mekarsari, kolam renang Waterboom, Taman Mini Indonesia Indah, museum-museum, dan di mana-mana di kolong langit. Di semua tempat yang aku sebut itu pasti ada orangnya, dan karena itu pasti bisa latihan bersosialisasi. Kalau soal teman sebaya, suamiku tidak perlu khawatir. Kanae punya minat besar terhadap musik, renang, dan melukis, kita akan masukkan dia ke les renang, musik, dan melukis yang tidak jauh dari rumah kita di Cikarang, dan di sana dia bisa bertemu dengan anak-anak dari berbagai kelompok usia yang satu minat dengannya. Bukankah kita, setelah menjadi orang dewasa, juga bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia, dan satu-satunya yang menyatukan kita dengan mereka adalah minat yang sama?

Orang dewasa menganggap bahwa bagi anak-anak, sosialisasi di sekolah adalah yang terbaik dan satu-satunya, dan bersosialisasi di sekolah akan mempersiapkan anak-anak bersosialisasi di dunia nyata.

Sekarang aku tanya, di manakah di dunia nyata, di mana 40 orang dengan usia yang sama, dikekang tidak boleh keluar dari suatu ruangan, tidak boleh bercakap-cakap, dituntut melakukan satu hal yang sama, di waktu yang sama, berpakaian sama, oleh seorang yang jauh lebih tua? Selain sekolah, penjara mungkin. Ini bukan gambaran dunia nyata.

Salah kaprah kalau kita pikir anak-anak homeschooling akan kesulitan bergaul di dunia nyata. Mereka sedang berada di dunia nyata, sedang berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata, sedang mengalami pengalaman-pengalaman nyata di dunia nyata. Mereka tidak dibatasi tembok-tembok sekolah dengan peraturan sosialisasinya yang aneh.

Peraturan sosialisasi aneh yang bagaimana? Yaitu: pertama, anak-anak kelas lebih rendah tidak bermain dengan anak-anak kelas lebih tinggi, dan sebaliknya. Kalau ada anak lebih muda berani dekat-dekat anak-anak yang lebih tua, dia akan diusir. “Ngapain kamu di sini? Sana main di tempat lain, Anak Kecil!”

Kalau ada anak lebih tua nekad datang ke kelas anak-anak yang lebih kecil, dia akan dipandangi dengan heran, dan diusir juga. “Anak gede ngapain main di sini sih? Apa ngerasa masih kecil? Sana main sama yang sepadan!”

Kedua, orang-orang dewasa di sekolah, berfungsi sebagai hakim yang menilai baik buruknya kelakuan/kecerdasan/keberhargaan anak-anak dan bebas menghukum serta mempermalukan jika dipandang perlu. Akibatnya anak-anak sekolah itu belajar menjadi takut, pasif, kaku, menghindari membuka diri, dan bersikap mempertahankan harga diri ketika berhadapan dengan orang dewasa.

Ketiga, di sekolah sebagian besar waktu siswa dipakai untuk tutup mulut dan lipat tangan yang manis. Mana mungkin bisa bersosialisasi dengan tutup mulut rapat-rapat. Dengan waktu bebas untuk bermain dengan teman-teman yang sangat sempit, apa bisa dibilang sosialisasi di sekolah itu mencukupi? Bandingkan dengan homeschooling di mana anak bisa bicara dan bermain dengan sebanyak-banyaknya orang, sepuas-puasnya waktu.

Ternyata terbalik asumsi orang selama ini, persekolahan bukannya memperluas sosialisasi anak-anak, malah membatasi kemampuan bersosialisasi.

Pada masa awal sekolah, aku terpaksa belajar menyesuaikan diri pada masa “pemisahan kawan berdasarkan usia”. Setelah lewat masa sekolah, aku belajar lagi menyesuaikan diri dalam masa “pengenalan kembali pada pergaulan dengan orang-orang dari berbagai usia”. Inilah dua proses transisi yang tidak perlu dalam homeschooling. Aku ingin membebaskan anak-anakku dari sosialisasi sempit di sekolah dan membiarkan mereka bergaul secara wajar dan aman dalam pengawasanku.

Kontras dengan anak-anak kerabat yang anak sekolahan, anakku tidak terlalu ‘sadar umur’. Aku rasa dia merasa nyaman menemukan diri hampir selalu diterima di setiap situasi sehari-hari, karena nyatanya dunia luar tidak sekejam dunia sekolah memperlakukan seorang anak, apalagi dia akan selalu aman di bawah pengawasanku. Bisa dipastikan juga dalam homeschooling kami, tidak akan terjadi kecurangan dalam ujian seperti lempar-lemparan kertas contekan atau pun lewat telepon selular. Aku harap dia tidak usah pernah berhubungan langsung, apalagi setiap hari, dengan para pemakai obat terlarang dan lain-lainnya itu yang aku harap tidak usah hadir dalam hidup aku dahulu di sekolah menengah.

Lagipula ya… kalau dalam waktu homeschooling yang seumur jagung saja, aku sudah menemukan anakku menjadi lebih menyenangkan, percaya diri, dan mudah bergaul dengan semua orang dari berbagai kalangan, dari bayi sampai nenek-nenek sekalipun, sementara aku lihat anak-anak sekolah, dengan sedikit perkecualian, menarik diri dari pergaulan dengan selain teman seumur, manakah yang harus aku nilai lebih baik? Sosialisasi di sekolah atau kah sosialisasi homeschooling di dunia nyata? Jelas kan, jawabnya.