Homeschooling Is Not For Wimps (2)

Suatu hari, ada acara temu keluarga, dan aku pun pergi bersama keluargaku.

Yang namanya ibu-ibu, kalau lagi ngumpul, yang dibicarakan itu-itu saja ya. Jujur saja, aku tidak menikmati.

Yang tidak pernah absen dibicarakan, masalah sekolah anak. Kalau tidak  membanggakan nilai rapor, ya selalu yang jelek-jelek. Biaya sekolah mahal. PR banyak. Anak-anak malas belajar. Nilai ulangan jelek. Diganggu teman di sekolah.

Dalam situasi seperti itu, aku selalu diam-diam saja dan menjadi pendengar yang baik. Sejujurnya aku bosan sih. Pengen cepat pulang ke rumah, belajar bahasa Korea. Pengen nonton acara lawak Jepang di internet. Pengen nonton terusan drama Korea “On Air” yang dibelikan suami.

Tetapi, tiba-tiba, pembicaraan ditujukan padaku.

Begini awalnya. Seorang ibu mengeluh tentang nilai ulangan anaknya yang terlalu jelek. Kalau anak itu tidak diajari sendiri, katanya nilai ulangan itu tidak membaik. Setelah mengeluh panjang lebar begitu, tiba-tiba, dia melemparkan serangan padaku,”Kamu berhenti saja homeschooling!”

Hah? Apa sih? Aku jadi bingung. Apaan sih, tiba-tiba?

Aku sebetulnya enggan, maka kujawab seperlunya,”Kami nggak homeschooling karena suami nggak setuju. Nggak bisa homeschooling tanpa izin suami.”

“Anak-anakmu supel, anak-anak baik. Kalau mereka homeschooling, nanti jadi seperti kamu. Nggak bisa bergaul dengan orang-orang. Kalau di sekolah, mereka kan ketemu macam-macam orang, nanti mereka bisa menerima semua orang.”

Aku menjawab, “Aku suka kok diriku yang seperti ini. Kalau kamu nggak mau menerima aku yang seperti ini, nggak apa-apa. Lagipula aku jadi begini bukan karena homeschooling. Sama seperti kamu, aku juga anak sekolahan.”

Ibu itu terkejut. Katanya,”Apa itu, sifatmu kok jelek begitu. Ih kok ngomongnya gitu sih?”

Padahal baru saja dia mengatakan aku sebagai ibu tidak mampu mendidik anak-anakku sendiri. Padahal baru saja dia mengatakan aku orang yang payah, maka anak-anakku akan jadi payah seperti aku. Padahal dia sendiri juga tidak mampu menerima orang seperti aku, malah bilang begitu.

Keluargaku berhenti homeschooling sudah sejak 2 tahun lalu. Sampai sekarang pun aku masih harus dikomentari seperti ini. Kesal. Karena keluarga, masih harus bertemu lagi dengan orang itu. Aaah…

Pulang ke rumah, aku bisa berpikir dengan kepala dingin. Pengalaman itu terjadi untuk kebaikan diriku. Pengalaman itu diberikan untuk mendewasakan aku.

Hatiku penuh syukur.

Berkat pengalaman itu aku bisa memastikan aku cinta diriku sendiri ;) Itu penting. Sehari-hari aku berpikir ‘aku suka diriku’. Ternyata ketika ada orang mencela aku sebagai “ibu yang buruk”, aku tetap suka pada diriku ;)

Aku sudah tumbuh sedikit lebih matang lagi.

Kalau lain kali, aku dicela seperti itu lagi, dan aku bisa tidak merasa kesal, nah itu baru sempurna.

~Tuhan, terima kasih. Lain kali, aku berusaha lebih baik lagi.

Aku pernah diprotes, katanya aku terlalu banyak menulis hal-hal yang menjatuhkan sekolah. Tapi aku pikir, orang-orang yang protes seperti itu tidak paham apa yang dialami keluarga homeschooling. Aku yang hanya mendukung homeschooling, dan tidak melaksanakan homeschooling saja, diperlakukan seperti itu.

Orangtua yang mempraktikkan homeschooling tidak akan sembarangan menyarankan homeschooling kepada orang yang anaknya bermasalah di sekolah lho.

Sebaliknya, orangtua yang anaknya bermasalah di sekolah malah berusaha agar keluarga orang lain berhenti homeschooling. Aneh ya? Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku pikir, mungkin sampai akhir zaman pun orang-orang yang tidak punya pengertian terhadap homeschooling akan selalu ada. Keluarga homeschooling jangan mau kalah oleh serangan seperti itu ya.

Orangtua praktisi homeschooling yang kutemui sampai saat ini, semuanya orangtua istimewa dan hebat-hebat. Aku suka sekali pada mereka. Keluarga homeschooling veteran senantiasa memikirkan cara-cara terbaik mendidik anak-anak mereka sendiri, mereka tidak sempat membicarakan keburukan sekolah.

Orangtua yang menitipkan anak-anaknya di sekolah saja, tidak bisa mengeluh macam-macam pada sekolah, dan membiarkan anak-anak menderita diam-diam. Mengubah sekolah itu sulit. Sebenarnya juga tidak sedikit orangtua yang berhenti mencoba mengubah sekolah dan memulai homeschooling untuk anak-anak mereka sendiri. Orangtua yang memulai homeschooling dengan membuang gengsi jauh-jauh, karena mengutamakan kepentingan anak-anaknya.

Barangkali homeschooling adalah protes dalam diam.

Jika ada orangtua yang bingung menimbang-nimbang sekolah atau homeschooling, lihatlah anak-anak baik-baik. Putuskanlah sendiri. Bagaimana kalau sekolahnya diteruskan?

Mau homeschooling, atau sekolah, tidak masalah. Perhatikan saja anak-anakmu baik-baik karena hasil tidak berbohong.

***

ある日、親戚の集まりがあって、私は家族と行った。

お母さんたちが集まるとだいたい同じことばかり話すよね。私があまり興味がない話題ばかりするから、退屈だ。

いつもといっていいほど、話題になるのは子供の学校のことである。成績自慢以外は、悪いことばかり。学費は高い。宿題が多い。子供は勉強しようとしない。成績が上がらない。友達にいじめられる。

そんな話ばかりをするお母さんたちと一緒にいると、私はいつも黙って聞く役に徹する。しんどいなと正直思う。早く家帰って、韓国語の勉強をしたい。ネットで日本のお笑い番組がみたい。夫が買ってきてくれた「オンエアー」という韓国のドラマが見たい。

でも、突然、話は私にふられてしまったのである。

あるお母さんが自分の娘は学校の成績が悪すぎると。そのお母さん自身が教えてあげなければ、成績が上がらないと嘆いた後、突然、「あなたは、ホームスクーリングはやめなさいよ」と私に言い放った。

なに?なに?と当惑したのよ。なによ、いきなり。

私は本当にいやいやで「夫が賛成しないから、ホームスクーリングやってません。夫が賛成してくれないと、できませんから。」と一応答えた。

「あなたの子供たちは、社交的で、いい子達なのよ。ホームスクーリングをしたら、あなたみたいになるから。子供は学校でいろんな人と会って、すべての人を受け入れられるようになるよ。」

「私は私のことが好きですよ。あなたが私のことを受け入れられないなら、結構です。しかも、私はこうなったのはホームスクーリングのせいじゃありません。あなたと同じで学校の子だっんだから」と答えた。

その人がびっくりした。「なに、それ、あなた性格悪い。ひどいね」と私に言った。

さっき彼女は私は母親として自分の子供を教育する資格はないと言ったのに。私はダメな人だから、子供たちもダメになってしまうと言ったのに。自分がひどいことを言ったことに気づかないようだった。自分が私のことを受け入れられないくせに、よく言うわね。

私の家族はホームスクーリングをやめたのは2年前のことである。まだあんなひどいことを言われなければならないんだね。イライラした。親戚だから、また会うし。あ~

家帰って、冷静になった。その経験は私のために起こったものだったんだ。私を成長させてくれるために起こったんだと気づいた。

その経験がありがたかったのである。

なぜなら、自分は自分が大好きなことを確認できたからである。それは、大事なことだ。日頃自分が好きと思っている私だが、他人に「あなたがダメな母親だよ」と散々言われても、やっぱり自分が好きだということが確認できた。こんな私だって、またひとつ成長したな、と。

今度はまたあんなひどいことを言われたら、イライラしないで済むなら、もう完璧。

~神様、ありがとうございました。次も頑張ります。

私はこのブログをいろいろ書いて、学校をバッシングし過ぎと言われたことがあるんだが、そういう人達はわかってないなと思う。私は、ホームスクーリングをしていないのに、ホームスクーリングを支持しているだけで、あんな扱いなんだから。

ホームスクーリングをしている親は学校で問題児になった子の親にやたら「ホームスクーリングしたら?」とは絶対に言わないから。逆に、自分の子が学校でいろんな悩みを抱えている親のほうが、他の家族のホームスクーリングをやめさせようとする。なんか、おかしいよね。でも、現実はそうなっている。

たぶん、ホームスクーリングに対する理解のない人達がこの世が終わりに近づいてもまだまだいると思うので、ホームスクーリングの家族にそれに負けないでがんばってほしいと思う。

今までホームスクーリングを実施している親と会ってきて、私は彼らが特別であり、立派な親だと思うので、大好きだ。ベテランのホームスクーリング家族は、自分たちでどのように自分の子供たちを教育できることを常に考え、学校における教育問題はあまり口にしないんだよ。学校に子供を預ける親たちだって、学校に文句を言えずに、泣き寝入りだけだろう。学校を変えるのが難しい。実際、学校を諦めて、ホームスクーリングを始める人は少なくない。親はプライドを捨てて、子供のことを第一に考えて、ホームスクーリングを始めたケースがほとんどだから。

ホームスクーリングは無言の抵抗なのかもしれない。

ホームスクーリングと学校と、迷う親がいるなら、自分の子供たちをよく見なさい。自分で判断してください。そのまま学校にいさせていいのか。子供たちをよく見なさい。

学校であろうと、ホームスクーリングであろうと、結果は嘘をつかない。

Cara Menghadapi Pertanyaan tentang Sosialisasi

Ketika seseorang mengatakan,”Kenapa kamu aneh sekali memilih homeschooling untuk anakmu? Nanti anakmu nggak bisa bergaul dengan orang lain!”, perhatikan apa yang terjadi pada hatimu.

Apakah kamu menjadi gusar dan marah sekali?

Apakah kamu merasa tenang dan maklum bahwa tidak semua orang memahami sosialisasi anak di dunia nyata selain sekolah?

Kalau kamu kesal, pertanyakan apakah kamu juga mempunyai kekhawatiran yang sama di sudut hatimu? Kalau kekhawatiran itu ada, pertanyakan apakah hal itu betul, bahwa anakmu tidak bisa bergaul dengan orang lain? Temukan sedikitnya 3 bukti bahwa anakmu BISA bergaul dengan orang lain.

Misalnya:
1. dia tidak malu-malu berbicara dengan pemilik warung tadi siang
2. dia menelepon temannya dan meminta temannya untuk datang lagi ke rumah
3. dia melerai kedua adiknya yang bertengkar.

Perhatikan bahwa keterampilan bersosialisasi yang dimiliki anakmu saat ini TIDAK BISA dia dapatkan dari sekolah. Perhatikan bahwa homeschooling di rumah sangat kondusif membina keterampilan bersosialisasi tersebut.

Dan kalau kamu masih khawatir, pertimbangkan kemungkinan menambah kegiatan di luar rumah. Jika merasa sudah cukup, tentunya tidak perlu.

Hapuskan kekhawatiran itu dan yakinlah, anak-anak homeschooling akan baik-baik saja!

Jika lain kali bertemu lagi dengan orang yang memperingatkan tentang “sosialisasi”, kamu boleh tersenyum dan mengucapkan, “Terima kasih”, dengan tulus. Katakan, “Tetapi jangan khawatir, Kawan, anakku baik-baik saja!”

Foto: Der Bettler

Menghadapi Keluarga yang Mengkritik Homeschooling oleh Naomi Aldort

Naomi Aldort adalah penulis buku parenting Raising Our Children, Raising Ourselves, sekaligus seorang praktisi dan advokat homeschooling metode unschooling.

Kata seorang ayah yang putus asa, dalam sesi konsultasi telepon,

“Aku pasti gembira sepenuhnya karena putri kami homeschooling, kalau saja para ipar tidak membuatku stres dengan keraguan dan kritik mereka.”

Naomi bertanya,

“Mengapa mendiskusikan pendidikan anak Anda dengan mereka?”

Bob, si ayah, terdiam, lalu menjawab dengan malu,

“Bukankah seharusnya begitu?”

Kata Naomi,

“Ya tentu saja, jika hal itu membawa kegembiraan dan kejelasan bagi hidup Anda. Tapi bagaimana hasilnya? Apakah begitu?”

Jawab,

“Tidak. Diskusi itu hanya merusak kegembiraan dan keyakinanku. Dina sangat menikmati, dia bermain, berkreasi, menari… tetapi kemudian keraguan mereka menular padaku, dan aku menjadi khawatir.

Pembicaraan itu selalu berkisar pada masalah Dina belum bisa membaca dan belum mulai belajar matematika. Dia sibuk sepanjang hari mengumpulkan bekicot dan memberi makan bekicot.”

Bob tertawa, agaknya menikmati bayangannya sendiri tentang ambisi terbaru anaknya itu.

Banyak orangtua yang menelepon Naomi untuk berkonsultasi mengeluh tentang keluarga yang mendesak mereka untuk mengirimkan anak-anak ke sekolah.

Sanak keluarga tersebut tidak dapat membayangkan seorang anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mapan, sosial, dan berpendidikan, kalau kita tidak mengunci mereka berjam-jam setiap hari, dalam kelompok seumur, dan mengulang-ulang informasi tak berarti ke telinga mereka selama 13 tahun.

Betapa sedikit mereka berpikir tentang suatu keajaiban bernama “anak”.

“Kalau membahas pendidikan Dina dengan mereka menyebabkan stres dan keraguan, mengapa Anda melakukannya?”

“Aku kira aku harus”, jawab Bob, “Mereka kelihatan memaksa”.

Namun, keluarga merespons cara kita memperlakukan mereka dan membaca petunjuk dari kita. Tanpa menyadarinya, Bob mengundang keluarganya untuk ikut memilihkan pendidikan bagi Dina.

Anda sebaiknya TIDAK MENJELASKAN gagasan parenting Anda kepada teman dan keluarga lain. Pada saat Anda mencoba meyakinkan mereka, mereka berhenti menghargai Anda, dan lebih penting lagi, Anda mengundang mereka sumbang suara pada cara Anda menjadi orangtua.

Anda tidak berhutang penjelasan atau pembenaran pada mereka. Kebutuhan Anda untuk meyakinkan mereka merampas rasa percaya diri Anda, dan mereka menganggap diri sebagai dewan penasehat Anda.

Dengarkanlah mereka, akui perasaan mereka dengan mengulang dan menunjukkan pemahaman Anda terhadap keprihatinan mereka, dan tidak membela diri tentang gagasan pendidikan Anda. Pembelaan diri adalah undangan bagi mereka untuk memberikan suara.

Pembelaan diri seperti mengatakan,”Aku perlu meyakinkan kamu karena kamu juga berhak memutuskan.” Anda tidak perlu persetujuan mereka, Anda hanya perlu persetujuan diri sendiri.

Contoh dialog dengan ibu (nenek anak) yang menentang homeschooling

Bob (berperan sebagai Nenek): “Dina harus bersekolah supaya bisa bersosialisasi dan belajar. Bagaimana dia belajar hal-hal yang harus dia ketahui kalau kerjanya cuma memberi makan bekicot?”

Naomi (berperan sebagai Bob): “Saya mendengar Ibu sangat prihatin. Pasti sulit melihat Dina bermain sepanjang hari kalau Ibu berpikir dia seharusnya ada di sekolah. Saya senang Ibu sangat terlibat dengan pendidikan Dina.”

Bob sebagai Nenek: “Kalau begitu kenapa kamu tidak mematuhi aku? Aku lebih tahu daripada kamu. Bagaimana dia bisa belajar? Lihat dia! Dia bahkan tidak bisa membaca!”

Naomi sebagai Bob: “Apakah Ibu khawatir dia tidak akan bisa membaca dan bergaul di masyarakat?”

Bob sebagai Nenek: “Ya, aku khawatir. Dia juga tidak mungkin mandiri. Lihatlah dia sangat nempel padamu. Dia harus bergaul dengan anak-anak lain di sekolah, belajar keterampilan sosial, membaca, sejarah, dan matematika.”

Naomi sebagai Bob: “Saya mendengarkan Ibu. Ibu khawatir dia terlalu dekat dengan saya, dia tidak akan tahu cara bergaul dengan orang lain, dan dia akan jadi anak yang tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa hidup dengan baik. Begitu ya?”

Nenek: “Tidak dramatis seperti itu sih… tapi ya betul. Aku pikir Dina harus sekolah.”

Bob: “Saya paham. Ibu yakin dia harus bersekolah. Kalau begitu tentu saja Ibu merasa susah melihat dia bebas melakukan apa saja sepanjang hari, tanpa pe-er dan keharusan duduk di kelas. Tahu tidak, sepertinya Ibu akan tambah susah. Kami menjalani jalur yang jauh berbeda dengan keyakinan Ibu tentang jalur yang terbaik. Saya tidak tahu bagaimana membuat perasaan Ibu lebih ringan.

Yang bisa saya lakukan untuk Ibu adalah memberikan buku-buku bacaan tentang homeschooling dan CD dari Naomi Aldort.

Kalau Ibu tertarik, beri tahu saya. Tetapi tidak apa-apa kalau Ibu tidak begitu ingin mengetahui tentang homeschooling. Ibu melakukan tugas ibu dulu terhadap kami. Sekarang kami melakukan tugas kami terhadap Dina.”

Tanpa membahas pilihan pendidikan, tanpa membela diri tentang alasan Anda homeschooling, dan selalu mencintai, menghargai, dan memahami keluarga Anda, Anda dapat menciptakan hubungan baik tanpa mengundang mereka menjadi dewan penasihat Anda.

Mana Bisa Mendidik Anak Sendirian?

Seseorang mengatakan homeschooling itu metode pendidikan yang tidak baik karena orangtua tidak mungkin menangani pendidikan anak-anaknya sendirian.

Ya, memang betul, mendidik anak tidak bisa sendirian.

Tapi apakah betul asumsi bahwa pendidikan dalam homeschooling itu dilakukan sendirian?

Sewaktu kita, sebagai orangtua, memutuskan untuk homeschooling, kita tahu mendidik anak itu tidak bisa sendirian. Perlu bantuan dari keluarga, lingkungan, dari seluruh dunia (yang bisa kita capai dengan mudah berkat internet), dan tentu saja, tidak kalah pentingnya, bantuan dari Tuhan. Karena kita tahu tidak sendirian maka kita berani homeschooling.

Karena sadar bahwa mendidik anak perlu memanfaatkan lingkungan, keluarga homeschooling biasanya lebih peka terhadap lingkungan dan banyak tahu tentang daerah sekitar daripada keluarga yang terlena karena anak-anaknya dididik di sekolah. Pergi ke pasar, sama anak-anak. Pergi ke bank, sama anak-anak. Pergi ke rumah tetangga, tentu saja bawa anak-anak. Judulnya field trip.

Mengikuti contoh orangtuanya, dengan sendirinya anak homeschooling lebih peka terhadap lingkungan. Pernah dengar nggak cerita ibu-ibu homeschooling? Anak-anak mereka itu ya… semua hal diperhatikan, semua hal ditanyakan, semua dibahas dan dijadikan bahan diskusi. Wah, ibunya capek deh melayani (dan bangga setengah mati, tentu saja).

Sementara, ada lho anak-anak sekolah yang tidak pernah sadar bahwa di depan rumahnya ada pohon jambu, saking nggak pernah ngeh dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang diingatnya setiap hari saat berada di rumah hanya main game dan pe-er saja. Sebenarnya anak-anak sekolah hidup dalam dunia yang sangat sempit (kalau orangtuanya tidak waspada).

Homeschooling adalah pendidikan mandiri, namun bukan berarti segalanya dilakukan sendirian. Ayo homeschooling dengan memanfaatkan dukungan dari seluruh alam semesta. 

“Apa Kamu Tidak Takut Anakmu Jadi Aneh Kalau Homeschooling?”

“Apa kamu tidak takut anakmu jadi aneh kalau homeschooling?”

1. Itu malah salah satu kelebihan homeschooling, yaitu anak homeschooling belajar untuk tidak takut menjadi “aneh”.

Aku rasa, dalam hal ini kita setuju, bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan yang menyeragamkan. Baju harus seragam, cara berpikir harus seragam, materi yang dipelajari harus seragam, semua serba sama dan seragam. Minat dan bakat pun harus seragam karena sekolah tidak mengakomodasi yang selain itu.

“Aneh” adalah segala sesuatu yang melenceng dari keseragaman itu. Anak-anak sekolah sangat takut menjadi berbeda. Anakku sekolah, bahkan terhadap kemungkinan tidak ikut acara karya wisata sekolah yang tidak wajib pun dia menjadi sangat stres, karena dia khawatir kalau tidak punya pengalaman yang serupa, dia akan dikucilkan teman-temannya di sekolah. Dikucilkan karena lain sendiri adalah bahaya yang nyata bagi anak-anak di sekolah.

Anak-anak homeschooling belajar bersosialisasi di lingkungan sekitarnya, di dunia nyata. Ternyata di dunia nyata, ada bermacam-macam jenis manusia, tidak seragam semua. Di dunia nyata tidak perlu menjadi sama seperti orang lain, dan lebih penting bagi anak homeschooling untuk menjadi dirinya sendiri. Anak homeschooling tidak takut berdiri sendirian untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar.

“Jangan membuang sampah sembarangan di mesjid!” Yang berani menegur orang dewasa seperti ini hanya anak homeschooling. Dari cerita ibu Ahmad (9).

2. Aneh tidak selalu buruk. Aneh adalah juga unik, tidak lazim, mengagumkan.

Semua orang sukses di dunia ini orang-orang yang aneh, unik, tidak lazim, dan menjadi buah bibir karena karakternya yang tidak dimiliki orang lain. Takut menjadi aneh, takut malu, takut akan penilaian negatif orang lain,… semua itu melumpuhkan anak-anak dalam berkarya. “Ah jadi biasa-biasa saja, ikut arus saja, seperti ikan mati di sungai yang mengalir, tidak perlu ambil risiko dianggap aneh.”

Anak-anak homeschooling berani berkarya karena mereka tidak terkekang perasaan takut dinilai aneh. Izzan (8) memenangkan Kontes Ilmuwan Robot Cilik di antara saingan-saingan yang berusia SMP. Dia tidak merasa pertandingan itu bukan tempat untuk anak sekecil dia. Sepertinya, anak homeschooling memang lain sendiri.

3. Di sekolah pun ada anak-anak yang aneh, masa sih kamu tidak ingat?

Di sekolah pun ada anak-anak yang tetap aneh dari awal sampai akhir masa sekolah, tidak serta-merta “sembuh” setelah disekolahkan. Sayangnya di sekolah mereka bukan diterima dengan suka cita sebagaimana apa adanya, melainkan diledeki, dikucilkan, dan dijadikan sasaran bullying oleh anak-anak lain. Kasihan, bukan? Padahal aku rasa tujuan orangtua menyekolahkan adalah agar anak-anak menjadi percaya diri dan menerima pendidikan yang baik, bukan menjadi korban bullying yang melukai harga dirinya dan menghambat hidupnya bahkan sampai dia dewasa.

4. Orangtua yang berani memilih homeschooling sedikit banyak adalah orang-orang “aneh”.

Aneh dong, ketika semua orang lain pilih sekolah, kok mereka nekad ambil jalan lain? Nggak ada jaminannya gitu lho! (Sekolah juga tidak ada jaminannya, tetapi orang-orang yang “tidak aneh”, tidak menyadarinya, bukan?). Orangtua homeschooling melihat jalan lain yang terlihat lebih masuk akal dalam metode pendidikan anak-anaknya, dan berani mengambil jalan homeschooling, meskipun berisiko menjadi keluarga yang berbeda dengan keluarga kebanyakan. Aku rasa orangtua homeschooling tidak keberatan dan malah senang jika anak-anaknya menjadi se-”aneh” dirinya.

5. Mereka cuma anak-anak.

Sebetulnya, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan anak homeschooling yang aneh. Mereka terlihat seperti anak-anak biasa saja. Tidak ada yang tahu mereka homeschooling kalau tidak ada yang bertanya. Tetapi masalahnya kan basa-basi di lingkungan kita, selalu kata-kata,”Sekolahnya di mana? Kelas berapa?”

Setelah mereka tahu anak kita homeschooling, barulah bagi orang yang bertanya tersebut anak kita terlihat aneh. Mereka mencari-cari kesalahan anak kita, dengan sembunyi-sembunyi maupun bicara terang-terangan. Padahal aku juga belum pernah bertemu anak sekolah yang sempurna. Wajarlah ada kekurangannya. Namanya juga anak-anak. Namanya juga manusia. Orang dewasa pun tidak ada yang sempurna, jadi sungguh tak logis mengharapkan kesempurnaan dari anak homeschooling.

6. Aneh hanyalah masalah persepsi.

Orang-orang yang tidak sependapat dengan aku, otomatis menganggap aku orang aneh. Aku pun sama, menganggap aneh orang-orang yang keyakinannya tidak dapat kupahami. Ketika orang lain menganggap aku aneh, sangat mungkin aku pun menganggap dia aneh.

Jadi biarlah orang lain menghakimi kita karena kita pun bebas menghakimi orang lain. :D Lanjutkan saja perjuangan masing-masing, dan jangan saling menganggu.

7. Ada yang lebih penting yang kita perjuangkan dengan homeschooling daripada menghindari komentar negatif oleh orang lain.

Dengan homeschooling, kita memberikan anak-anak masa kecil yang indah, penjelajahan ilmu dan kehidupan, kesempatan mempertanyakan, kegiatan luar ruangan, tantangan, kenyamanan, keterampilan berkebun, ikatan keluarga yang erat, dan lain-lain, yang sama sekali tidak sama jika anak-anak tetap di sekolah. Kalau hasilnya sama, ya sekolah saja, buat apa homeschooling. Begitu kita menyadari kesempatan dan kebebasan yang kita sediakan bagi anak-anak dengan homeschooling, kita tidak akan takut dinilai aneh atau apa saja oleh orang-orang, yang sebetulnya tidak begitu penting pendapatnya.

***

Jadi bagaimana ya kalau ada orang yang mengatakan pada kita,”Anakmu homeschooling ya? Pantas aneh.”

Daripada keki, kita bisa bertanya,”Oh ya? Anehnya di mana?”

Orang itu mungkin menjawab,”Kok dia nggak mau jawab waktu aku tanya nama dan umurnya? Malah kabur!”

Kita bisa menanggapi dengan santun,”Oh iya ya? Aku rasa dia belum kenal dengan kamu. Dia pikir kamu tante-tante aneh, nggak kenal kok nanya-nanya. Kamu kalau tiba-tiba ditanyai orang di jalan, siapa namamu dan berapa umurmu, pasti kamu juga tidak mau menjawab, kan?”

Orang itu mungkin tetap skeptis dan tetap menganggap anakmu aneh. Biarkan saja karena pendapat orang lain sama sekali bukan urusanmu. Kamu bisa berbangga dalam hati. Karena anakmu anak homeschooling, harga diri dan integritasnya masih utuh, dan dia tidak bisa dimanipulasi orang dewasa dengan mudah seperti anak-anak yang sudah ‘dipatahkan’. Ditanya orang tidak dikenal kenapa harus menjawab? Lugu sekali? Ya kabur dong!

Homeschooling Is Not For Wimps

Aside

Selama ini aku marah karena suami melarang keluarga kami homeschooling setelah kami menjalaninya 1,5 tahun. Dia cinta damai. Makanya dia shock karena homeschooling ternyata begitu kontroversial dan mengundang kemarahan orang tak dikenal sekali pun. Daripada ribut-ribut terus, berhenti sajalah. Sekolah sajalah biar orang-orang tidak ramai. Kan sama saja ya, homeschooling dan sekolah. He’s a wimp.

 Sekarang aku sadar: I’m a wimp, too. Bedanya, kalau suamiku bereaksi dengan cara mematuhi semua apa kata orang, agar dia diterima orang lain, aku bereaksi dengan cara marah-marah. Aku marah karena merasa seharusnya mereka menerima keputusanku dengan gembira. Aku ini ingin dicintai dan diterima oleh kalian. Kenapa kalian tidak melakukannya! Aku tantrum.

Intinya, kami suami istri sama-sama lemah, dan sama-sama takut dengan penilaian orang lain tentang diri kami. We’re both wimps.

Pantas tidak bisa homeschooling. Homeschooling is not for wimps.

Saking takutnya dengan penilaian orang lain, pertanyaan basa-basi,”Sekolahnya di mana?” membuat aku ketar-ketir dan cemberut. Kalau kujawab homeschooling, pasti habis ini aku dikomentari buruk lagi.

Pernah, waktu anak pertama kami masih homeschooling, ada seorang ibu yang iseng-iseng menasihati aku.

“Jangan homeschooling. Nanti Kanae jadi bodoh lho…”

Aku sebal, anakku dibilang bodoh. “Maksudnya apa ya? Kanae pintar sekali kok.”

“Iya, sekarang. Lama-lama bisa jadi bodoh kalau tidak sekolah. Bodohnya NANTI kalau sudah besar.” Nadanya sok tahu sekali. Menyebalkan.

“Oh, gitu ya?”

“Iya.”

“Tapi anak kamu yang sekolah itu, bodohnya SEKARANG. Apa rencana kamu dengan dia?”

Ibu itu pura-pura tidak mendengar. Entah dia menyahut apa lagi, pokoknya nggak nyambung. Aku langsung ngeloyor pergi dengan geram. Aku sakit hati.

Kalau dipikir sekarang, dua tahun kemudian, seandainya waktu itu aku bisa berpikiran terbuka, aku tidak perlu sakit hati dan membuat diriku sendiri menderita berkepanjangan.

Pikiranku tertutup. Aku berhenti mempertanyakan kepercayaanku sendiri.

Waktu itu aku percaya “aku harus disukai dan diterima SEMUA orang”. Apakah itu benar? Tidak. Aku juga tidak bisa menyukai semua orang.

Aku percaya “keputusanku harus menyenangkan SEMUA orang”. Apakah itu benar? Tidak. Kok bisa-bisanya aku punya kebutuhan absurd seperti itu?

Aku percaya “SEMUA orang seharusnya paham keunggulan homeschooling.” Apakah itu benar? Tidak. Memang kenyataannya tidak semua orang bisa paham.

Ternyata kepercayaanku salah semua. Berarti orang lain boleh saja tidak menyukai aku, boleh saja tidak menyukai keputusanku, boleh saja tidak tahu kebaikan homeschooling. Wow! Belum pernah terpikirkan olehku! Berarti seharusnya aku tidak perlu marah. Akulah yang menyakiti diriku sendiri.

Sebetulnya, tanpa ketakutanku akan tidak dihargai, obrolan iseng ibu itu tak lebih dari sekadar informasi. Informasi yang aku sudah tahu, bahwa tidak semua orang paham kebaikan homeschooling. Kebanyakan memang tidak paham. Barangkali malah dia betul-betul khawatir dengan anakku. Barangkali dia betul-betul sayang pada anakku? Bisa jadi dia tidak sadar kekhawatirannya itu cerminan kekhawatiran dirinya pada anaknya sendiri.

Seharusnya aku bisa menanggapinya seperti ini,”Bisa juga ya jadi bodoh kalau aku menelantarkan pelajaran Kanae. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku tahu kamu memang sayang pada anakku. Terima kasih. Tapi kamu tidak usah khawatir. Sekarang kan Kanae pintar sekali. Besok aku cek lagi, apakah dia masih pintar seperti hari ini. Lusa aku cek lagi. Begitu terus setiap hari sampai nanti umurnya 18 tahun, aku akan terus memastikan dia masih tetap pintar seperti sekarang. Kamu mau dengar nggak, homeschooling di rumah kami seperti apa? Asyik banget lho. Kanae belajar bikin kue sama aku kemarin, terus tiap hari dia memberi makan binatang-binatang peliharaanya, kami belajar bahasa Jepang dan Inggris, kami main ke Dufan… “dan seterusnya. Seharusnya percakapan itu bisa jadi menyenangkan. Seharusnya aku malah bisa menceritakan kebaikan homeschooling tanpa melukai hati ibu itu.

Aku bisa saja menjawab seperti itu, dengan positif. Andai saja aku tidak sakit hati duluan karena pikiranku yang tertutup dan penghargaan terhadap diriku sendiri yang bergantung pada pandangan orang lain.

Andaikan tidak homeschooling, aku pasti tidak menyadari sisi burukku yang ini. Bisa dibilang inilah beratnya homeschooling. Orangtua juga harus tumbuh dewasa. Dan tumbuh dewasa itu tidak mudah!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...