Sanggupkah? Kegagalan Homeschooling

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang anaknya bermasalah dengan sekolah. Mendengar tentang homeschooling, mereka tertarik, dan mencobanya. OK deh, satu bulan dulu. Atau setahun dulu, kita coba, bagaimana hasilnya.

Betapa terkejutnya mereka, ternyata mulai dari mertua, orangtua, om tante, teman di kantor, sampai orang lewat pun serentak bangkit untuk menentang keputusan keluarga mereka.

Seru orang-orang itu setengah mengamuk,”Apa? Homeschooling? Bagaimana sosialisasinya? Memangnya anakmu artis? Mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Jangan hancurkan masa depan anakmu!”

Setiap hari dikejar-kejar pertanyaan seperti ini, keluarga itu merasa tertekan. Apalagi karena mereka baru mulai homeschooling, bagaimana seharusnya menghadapinya, juga tidak tahu. Ibu menjadi murung, tidak bersemangat mengajar anaknya lagi. “Ah, buat apa capek-capek, tidak ada yang menghargai.”

Ayah di kantor, merasa tertekan ditertawakan rekan-rekan kerjanya. “Nih, anaknya dia nggak sekolah nih. Huahaha, mau jadi apa… Anak itu jangan terlalu diturutin. Nanti jadi mental tempe!”

Apalagi setiap kali bertemu kerabat, mereka selalu dinasihati, bisa berjam-jam lho, tentang pentingnya pendidikan dan sekolah. Ayah dan ibu tidak berani melawan karena rasanya tidak enak kalau dimusuhi keluarga besar. Kalau angkat bicara takut dibenci. Jadi keduanya diam saja sambil menunduk.

Sepertinya seluruh dunia berkonspirasi menyuruh mereka untuk berhenti homeschooling.

Mereka menjadi stres, terus-menerus sedih, dan marah-marah. Tahukah kamu kalau orangtua stres, anak juga jadi ‘nakal’ dan bertingkah? Oh, oh, kayaknya homeschooling-nya gagal nih. Anak ini bukannya menjadi percaya diri seperti kata blog Homeschooling Indonesia, malah jadi anak setan. Selang beberapa lama, kedua orangtua itu tak tahan lagi, dikembalikanlah si anak ini ke sekolah.

Ayah dan ibu itu menghela napas lega,”Ah, alhamdulillah. Anakku sudah sekolah, sekarang orang-orang akan kembali menerima keberadaanku.”

Anak, adalah cerminan orangtua. Orangtua yang mencari persetujuan orang lain, tidak bisa tidak, pasti membesarkan anak yang mencari persetujuan orang lain juga.

“Mama, aku senang, bisa sekolah lagi. Di sekolah aku banyak teman. Aku tidak diledeki anak-anak kampung lagi.”

Syukurlah. Semua berbahagia. Anak ini sudah sekolah. Sudah kembali ke jalan yang benar. Masalah-masalah dengan sekolah kembali lagi tetapi tidak apa-apa. Soalnya ternyata homeschooling itu nggak enak!

Homeschooling is not for wimps. Homeschooling bukan untuk orang-orang lemah yang mengejar pengakuan orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak berharga ketika tidak diterima orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak enak hati saat berbeda dengan orang lain.

Tidak hanya bagi anak, bagi orangtua pun, homeschooling merupakan sarana pembelajaran yang penting. Orangtua homeschooling harus belajar untuk berani menjadi diri sendiri, menerima kenyataan tidak semua orang akan menyetujui keputusan kita, menyadari bahwa kita tidak perlu pengakuan semua orang, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda pendapat tanpa harus memusuhi.

Padahal ya bertahun-tahun kita sendiri dididik untuk menyenangkan hati semua orang. Bertahun-tahun kita dididik untuk memilih bergaul dengan orang-orang yang sama pemikirannya dengan kita. Sekarang kita memilih menjadi lain sendiri, menjadi minoritas. Sanggupkah kita?

Ilustrasi: Zhudandan, Flickr

Mencari Persetujuan Semua Orang

Pernah ada ibu praktisi homeschooling yang berkeluh kesah karena dijadikan bahan gunjingan tetangga. Kok tega, anaknya nggak disekolahin, bla bla bla. Padahal anakku sopan dan pintar, kok mereka tidak bisa menghargai betapa hebatnya anakku sih?

Di balik kedukaan si ibu ini, dan juga di balik kekesalanku menghadapi orang lain yang tidak toleran dengan pilihan homeschooling, ada satu motivasi yang sama, yaitu: mencari persetujuan semua orang. Ingin orang lain merasa bahagia dengan pilihan homeschooling kami. Dan sebetulnya yang kami cari, bukan saja persetujuan dari orang-orang terdekat, melainkan semua orang, termasuk juga orang-orang yang tidak dikenal. Jadi kalau ada orang yang tidak senang, rasanya uring-uringan sendiri.

Sebagai orang yang memilih jalan lain, kita perlu mempertanyakan pada diri sendiri. Apakah betul, aku perlu disetujui orang itu? Jawabnya, tidak. Apakah jika tidak disetujui orang itu, maka homeschooling kami jadi bermasalah? Tidak. Apakah homeschooling tujuannya untuk menyenangkan hati orang itu? Tidak. Apakah orang itu wajib bahagia dengan keputusan keluarga kita? Pasti tidak.

Lalu kenapa kita sakit hati? Kenapa kita uring-uringan karena orang itu tidak senang? Oh ternyata kita terlalu ingin menyenangkan hati orang itu, padahal mau dia senang atau tidak senang, sebetulnya tidak ada pengaruhnya pada hidup kita. Tetapi kok kita sakit hati ya? Karena kita berpikir,”Seharusnya orang itu menyukai keputusanku untuk homeschooling“, dan kenyataannya tidak seperti itu, kita jadi sakit hati sendiri.
Jadi siapakah yang menyakiti hati kita itu? Kita sendiri.

Jangankan dengan orang yang antipati dengan homeschooling, dengan orang lain yang sama-sama mendukung homeschooling saja, bisa jadi kita sering berseberangan pendapat.

Lah iya, memangnya mentang-mentang sama-sama homeschooling, lalu isi kepalanya sama? Tidak. Pandangan praktisi homeschooling tentang mengapa homeschooling, tentang sekolah, tentang pendidikan, tentang tujuan homeschooling, dan lain-lain, semua berbeda-beda.

Satu contoh, Mbak Ines dan Mbak Maria sepertinya tidak senang kalau aku membandingkan homeschooling dengan sekolah. Menurut mereka, keduanya memang tidak sama, jadi tidak perlu dibandingkan, dan tidak perlu saling menjatuhkan. Tetapi aku termasuk orang yang memilih homeschooling karena melihat masalah inheren dalam sistem pendidikan dengan sekolah, jadi aku merasa tidak mungkin menyatakan alasanku untuk homeschooling tanpa menyebutkan tentang masalah anakku dengan sekolah. Dalam hal ini aku ikut dalam barisan Mbak Irma dan Mbak Lini.

Kesimpulannya, *maksa, langsung kesimpulan*, kita tidak bisa memilih homeschooling dan mencari persetujuan semua orang. Kita tidak bisa menjalani HIDUP dan mencari persetujuan semua orang. Ntar jadinya gitu deh, uring-uringan sendiri!

*Aku menyebutkan nama-nama mereka di sini karena kami tidak berantem dan saling menghargai. Praktisi homeschooling itu toleransinya sangat tinggi lho terhadap perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika, yang betul-betul dipraktikkan, tidak sekadar semboyan usang dalam buku PPKn saja.

Latihan Menghadapi Kesulitan Hidup Hanya Bisa Diajarkan Orangtua

semua masalah akan terselesaikan.

TheCreativePenn, Flickr

… jadi mempercayakan tanggung jawab itu pada sekolah adalah tindakan konyol.

Kemarin aku menulis tentang cara menghadapi anak yang tantrum, tetapi sebetulnya yang tidak disadari oleh banyak orangtua adalah: dirinya sendiri sering mengalami tantrum.

Hanya dengan masalah-masalah remeh: gelas pecah, air tumpah, anak jatuh, baju kotor, anak ingin ke toilet di perjalanan, dan sebagainya, seorang ibu atau ayah bisa mengamuk-ngamuk tidak keruan serta menyerang secara verbal dan fisik korban yang ada di depannya (anak yang katanya dicintainya). Atau dengan kata lain, tantrum. Ya, kelakuan yang sama saja seperti anak 3 tahun.

Aku rasa kita semua, sebagai orangtua, mulai dari keadaan ini: tidak mampu menguasai diri karena masalah-masalah kecil dengan anak.

Kita tidak bisa mengajarkan anak agar mampu mengatasi masalah-masalah hidup, kalau kita sendiri tidak mampu memberikan contoh kemampuan menguasai diri menghadapi masalah kecil dengan anak.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Mudah saja.

1. Tidak menyerah pada reaksi otomatis untuk marah, dan berusaha berpikir “mengapa?”

Mengapa bajunya kotor? Ya, main dengan yang kotor-kotor itu memang asyik bagi anak-anak. Jadi aku tidak perlu marah. Mengapa gelas pecah? Ya, rupanya tidak sengaja. Jadi aku tidak perlu marah. Mengapa anak ini menangis terus? Ya, dia sedang minta cinta dari aku, ibunya. Jadi aku tidak perlu marah. Dan sebagainya.

2. Berlatih

Semakin banyak berlatih, semakin kita mahir menguasai emosi. Ketika badai itu reda, rasakan kepuasan terhadap diri sendiri, aliran dopamin yang menimbulkan rasa nikmat merembes di dalam otak, dan membuat kita lain kali juga ingin menahan diri kembali.

3. Kalau kita masih belum berhasil, minta maaf pada anak

Setelah kita mulai waras kembali, dan kemarahan itu reda, kita lalu jadi menyesali diri sendiri. Minta maaflah pada anak. Dia anak kita yang berharga, tidak pantas diperlakukan dengan tidak hormat oleh siapa pun, termasuk oleh kita sendiri. Kita tidak mau dia terbiasa dan pasrah diperlakukan tidak baik. Lain kali aku coba lagi, Nak. Bersabarlah pada Mamamu ini.

Banyak orangtua yang menyarankan untuk ‘jaga gengsi’, bersikap ‘orangtua selalu benar’, supaya ‘disegani’ oleh anak-anaknya. Bahkan orangtua minta maaf pada anak itu pun tidak terbayangkan oleh mereka. Aku tidak melihat manfaatnya bersikap seperti itu.

Barangkali pendapat ‘takut direndahkan’ oleh anak semacam itu datang dari rasa percaya diri yang rendah. Tidak perlu seperti itu pun, anak-anak memiliki sifat dasar secara otomatis mencintai dan menghargai kita, orangtuanya.

Anak-anak perlu belajar dari kita, bahwa sebagai manusia tidak perlu bersikap angkuh dan sok sempurna. Kita hanya perlu selalu belajar, dan selalu berusaha menjadi lebih baik, bukan menjadi sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Mengapa takut menunjukkan pada anak bahwa kita pun selalu belajar mendewasakan diri? Bukankah sampai waktu akan menghembuskan napas terakhir pun, selalu ada yang harus dipelajari?

Homeschooling, Anak Selalu Dituruti?

Homeschooling, Anak Selalu Dituruti? - Homeschooling Indonesia

Emrank, Flickr

Ada orang bertanya, kalau homeschooling, selalu berada bersama keluarga, sehingga kemauan anak selalu dituruti, jadi bagaimana dia bersiap menghadapi dunia luar yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya?

Menurutku ini pertanyaan yang aneh sekali. Karena sebagai orangtua yang mengasuh anak-anak sendiri, kita semua tahu tidak semua keinginan anak bisa kita penuhi. Tidak semua mainan dan makanan manis yang dia inginkan bisa kita belikan. Kadang kita membatasi waktunya bermain game atau menonton TV. Kadang anak-anak (kakak adik) bertengkar karena keinginan yang bertabrakan. Kadang anak-anak ingin terus bersama ayah tetapi ayah harus pergi ke kantor, dan terpaksa mereka berdiri setiap pagi di depan pintu menangisi,”Papa! Papa!”

Jadi, dunia yang selalu sesuai dengan keinginan anak-anak itu tidak ada. Meskipun misalnya anak-anak selalu bersama orangtua, tetap saja dunia itu tidak ada.

Tetapi, betapa aneh keyakinan bahwa untuk membuat anak-anak berbahagia dan siap menghadapi dunia luar, dengan membuat anak-anak menderita terlebih dahulu.

Ini sama bodohnya dengan keyakinan bahwa kita mempersiapkan anak agar tidak cengeng ketika dipukuli orang lain di luar, dengan cara kita sendiri yang memukuli dia di rumah.

Kesulitan hidup akan datang dengan sendirinya, tidak perlu diada-adakan.

Dengan homeschooling, anak-anak kita tidak hidup di dunia lain selain dunia nyata. Yang sebenarnya hidup di ‘dunia artifisial’, tidak hidup di dalam dunia nyata adalah anak-anak di dalam tembok-tembok sekolah.

Anak-anak kita akan mempersiapkan diri menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang besar saat dewasa, saat kita sendiri sebagai orangtua bisa menguasai diri dan membimbing mereka menangani perasaan-perasaan mereka sejak mereka kecil.

Ini tidak mudah. Perhatikan saja betapa banyak orangtua yang tidak mampu menguasai diri saat anaknya merengek minta dibelikan mainan, dan langsung membelikan, atau bahkan langsung memukul. Kelebihan homeschooling adalah, kita lebih banyak waktu untuk melatih diri sendiri dan lebih leluasa melakukan pendampingan sebagai orangtua, dan dengan sendirinya anak-anak homeschooling akan lebih matang dan lebih siap menghadapi kesulitan hidup.

Tidak ada keadaan “anak selalu dituruti” di dunia ini, tidak juga dalam homeschooling.

Tentang Kenangan Manis di Sekolah

OliverAlex. Flickr

Seseorang menulis di blognya tentang keberatannya akan homeschooling karena ia mendapatkan banyak sekali kenangan manis bersama teman-teman di sekolah. Dia menganggap orangtua homeschooling sangat tega merampas berbagai pengalaman seru yang bisa diperoleh anak-anaknya bersama teman-teman di sekolah.

Kita cenderung mengingat yang baik-baik saja saat bernostalgia tentang masa-masa sekolah. Padahal yang terjadi di sekolah kan bukan cuma yang indah-indah saja. Zaman sekarang, bahkan di SD sekali pun, anak-anak belajar ‘keterampilan’ bersosialisasi yang buruk: mengolok-olok teman itu biasa, membentuk geng-geng, mengasingkan satu orang teman yang ‘agak lain sendiri’ itu biasa, anak-anak laki-laki sudah berani ‘memalak’ temannya, ada kebiasaan memusuhi teman yang  tidak memberikan contekan, menggunakan kekerasan pada teman, dan sebagainya.

Yakinlah kalau anak kita homeschooling, mereka akan memiliki banyaaaak sekali kenangan-kenangan indah mereka sendiri, bersama kita orangtuanya, kakak-adiknya, para sahabat yang pasti mereka miliki,  dan semua orang yang mereka temui dalam perjalanan hidup mereka.

Anak-anak kita akan memiliki kehidupan yang unik dan menyenangkan bersama orang-orang yang penting bagi mereka. Mereka akan punya banyak pengalaman: takut, senang, bersemangat, sedih, tragedi, keberhasilan, patah semangat, perjuangan, dan segala macam pengalaman dalam hidup. Mereka akan ingat tentang piknik keluarga, binatang-binatang peliharaan, proyek-proyek eksperimen bersama, konser musik, kedekatan dengan kakek dan nenek, dan sebagainya.

Anak-anak homeschooling bisa memiliki semua kenangan masa kecil yang bahagia, tanpa perlu memiliki kenangan buruk di sekolah yang menyakitkan juga tidak bermanfaat apa-apa tersebut. Itulah hadiah paling berharga yang kita berikan pada anak-anak dengan homeschooling, yang tidak akan mau mereka tukarkan dengan pengalaman indah bersama teman-teman sebaya di sekolah.

Obrolan tentang Riset Sosialisasi Homeschooling

Homeschool Science

Orangtua homeschooling sering merasa khawatir atas tuduhan bahwa anak-anak homeschooling kurang gaul dan tidak cakap bersosialisasi. Biasanya setelah menjalani homeschooling beberapa waktu, orangtua homeschooling lalu menyadari bahwa sosialisasi anak-anaknya ternyata lebih sesuai dengan realita kehidupan nyata. Anak-anak homeschooling tidak canggung bergaul dengan orang-orang dari segala lapisan usia dan strata sosial. Sementara teman-temannya yang terbiasa bergaul dengan teman sebaya saja malah tidak terampil bergaul di dunia nyata luar sekolah (luar kelas).

Sayang sekali, kenyataan ini tidak banyak orang yang mengetahuinya. Dan kebanyakan orang berpendapat sosialisasinya anak-anak itu ya harus sama anak-anak juga, dan semestinya 7 jam sehari mereka harus bersama anak-anak lain, seperti di sekolah. Padahal kondisi seperti ini tidak bisa diwujudkan di luar tembok sekolah,dan juga tidak sesuai dengan kenyataan kita hidup bermasyarakat. Bahkan mereka yang menyebut dirinya psikolog dan pakar pendidikan juga sering bias dalam hal sosialisasi ini. Begitu kuatnya ya, pengaruh pengalaman kita dulu bersekolah dalam menilai sosialisasi anak-anak kita.

Misalnya, pernah ada penelitian ilmiah di sebuah jurnal pendidikan Indonesia mengenai homeschooling. Meskipun aku rasa penelitinya berusaha adil dan objektif, dia tidak bisa melepaskan diri dari anggapan sosialisasi ideal yang sangat berbau ‘sekolahan’. Dia merasa aneh, mengapa anak-anak homeschooling yang ditelitinya (sebenarnya cuma dua anak remaja belasan dari dua keluarga, itu pun sebelumnya mereka bersekolah dan baru mulai beralih ke homeschooling), ternyata lebih suka membaca buku sendirian, daripada ngumpul dan bergaul dengan anak-anak sebayanya. Sehingga sehari-harinya kedua anak tersebut tidak terlihat banyak berinteraksi dengan anak-anak lain.

Aku adalah seorang introvert, dan aku bangga jadi introvert. Sayangnya, seperti kebanyakan teman-temanku yang introvert, aku juga baru bisa bangga menerima sifatku ini setelah aku sudah cukup tua, sudah punya anak tiga. Introvert adalah kelompok yang paling sering disalahpahami. Jadi aku merasa bisa memahami, mengapa kedua anak homeschooling tersebut sehari-harinya memilih untuk melakukan kegiatan sendirian. Bukankah lebih baik aku sendiri menerjemahkan buku bahasa Jepang di kamar tidurku sepanjang waktu daripada aku mengobrol ngalor-ngidul tak karuan dengan teman sebayaku? Sosialisasi ada waktunya, dan karena aku introvert, kebutuhanku berinteraksi dengan orang lain sudah tercukupi pada akhir pekan saja. Kalau setiap hari kedatangan tamu, aku malah capek dan stres.

Aku pikir kita tidak boleh takut mengizinkan anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri. Ekstrovert dan introvert, dua-duanya merupakan karakter manusia yang dianugrahi Tuhan, bukan kekurangan. Masyarakat memang cenderung lebih menghargai ekstrovert, tetapi aku yakin Tuhan tidak pernah memaksudkan introvert sebagai kekurangan. Kalau anak kita ingin menjadi penulis atau penerjemah buku, sifat introvert itu akan menjadi keunggulan mereka. Karena energi mereka bertambah saat berpikir seorang diri, hasil karya mereka lebih dalam dan bermakna, daripada pemilik sifat ekstrovert yang energinya terkuras saat sendirian, dan tidak betah lama-lama duduk berdiam diri.

Demikian pula saat kita menjadwalkan jadwal sosialisasi untuk anak-anak kita dalam homeschooling, jangan sampai kita ketakutan pada anggapan orang, lalu setiap hari kita keluar rumah terus, ngobrol terus sama orang lain, supaya tidak dijuluki kuper. Itu konyol sekali. Anak-anak kita punya kebutuhan sosialisasi yang berbeda-beda. Mari kita kenali anak kita, kita hargai dia, kita sesuaikan program homeschooling kita dengan dirinya. Janganlah kita kalah dengan tekanan dari luar. Prioritas homeschooling ada pada pengembangan diri anak-anak kita, bukan pada pendapat orang-orang tidak penting yang tidak berkepentingan.

Sekarang aku jadi tidak heran lagi, mengapa keluarga homeschooling banyak yang enggan menyediakan keluarganya untuk dijadikan bahan penelitian. Terang saja toh. Memasukkan orang lain untuk memata-matai keluarga kita itu sudah tidak enak rasanya, apalagi kemudian si peneliti ini menulis bahwa anak-anak kita kurang bisa bersosialisasi dan semacamnya yang buruk-buruk seenaknya. Yang benar saja. Siapa sih yang mau?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...