Mengapa Blog Baru?

Halo, saya Andini Rizky, mantan praktisi homeschooling. Saya dulu menulis tentang pengalaman homeschooling di Multiply. Lalu mengapa kok sekarang repot-repot membuat situs baru? Harus membayar pula?

  1. Alasan utama saya, dan paling tidak nyambung, adalah, saya ingin mencoba layanan hosting server Singapura dari perusahaan Idwebspace. Saya menggunakan layanan mereka yang termurah, hanya 100 MB, dan brandwith 8000MB. Kalau saya puas, saya berniat memindahkan situs saya yang lain ke server Singapura perusahaan hosting ini.
  2. Alasan kedua, saya punya naskah buku homeschooling yang saya urungkan niat untuk menerbitkannya. Naskah buku itu berasal dari kumpulan tulisan-tulisan saya di blog lama. Penerbit yang awalnya menyatakan berminat menerbitkan, meminta saya menghapus bagian-bagian yang ‘menjelek-jelekkan guru dan sekolah’. Sedangkan saya pikir, saya bukan bermaksud menjelek-jelekkan guru, toh masih banyak guru yang baik, tidak suka memakai kekerasan, dan betul-betul tulus ingin mencerdaskan murid-muridnya, tetapi sebelum suatu keluarga memutuskan homeschooling, pasti ada faktor pendorong dan faktor penariknya. Faktor penariknya adalah pemahaman yang baik tentang homeschooling. Faktor pendorong adalah kekurangan dari sistem persekolahan dan pengalaman buruk di sana, termasuk dengan guru. Bagian tulisan saya yang dianggap kontroversial itu sebetulnya bukan pertama kali diungkapkan melainkan saya petik dari buku-buku John Holt, Ivan Illich, buku-buku homeschooling, dan blog-blog para praktisi sebelum saya. Jadi saya segan menghapus bagian itu dan juga malas meyakinkan penerbit lain. Akhirnya… saya punya naskah komplit yang tidak ada tempat untuk mempublikasikannya. Maka, lahirlah situs blog baru ini.
  3. Dengan menyewa nama domain baru, saya bisa menamainya dengan kata kunci yang pasti dipakai oleh peminat homeschooling dari Indonesia, yaitu ‘homeschooling‘ dan ‘Indonesia’ sehingga tercetuslah nama domain: “homeschooling-Indonesia.com”. Dengan demikian tulisan saya akan mudah ditemukan oleh target pembaca saya itu lewat mesin pencarian Google. Karena untuk apa menulis jika tidak ada yang membaca, bukan?
  4. Blog baru ini akan menjadi identitas baru saya di dunia maya saat berkomentar di blog praktisi homeschooling.  Saya sering mengomentari tulisan homeschooling di blog orang lain tetapi jika saya mencantumkan URL blog satu lagi, terasa sungkan karena tidak nyambung. Padahal saya sangat ingin bersahabat dan berbagi minat homeschooling dengan praktisinya.
  5. Semakin banyak pembaca blog ini, semoga semakin banyak orang yang mendoakan saya bisa homeschooling lagi seperti dulu, juga meyakinkan suami (tokoh kunci yang bisa memberikan izin) untuk ‘jalan yang jarang dilalui orang’ ini.
  6. Ambisi pribadi kecil-kecilan untuk ikut menjadi faktor pembuat perubahan agar homeschooling lebih diterima secara luas dalam masyarakat Indonesia.

OK, deh, saya ada permintaan nih. Saya ingin mencantumkan alamat blog keluarga homeschooling Indonesia di sidebar situs ini supaya kita bisa saling mengenal. Bagi yang tidak keberatan diasosiasikan dengan situs ini (ya, apa boleh buat, Andini memang sering radikal dalam tulisannya, mungkin ada yang tidak senang), minta tolong isi formulir di bawah ini dengan nama, e-mail dan alamat blog yang ingin dicantumkan di sini. Atas kesediaannya, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 thoughts on “Mengapa Blog Baru?

  1. Kalau nggak ada yang mau terbitin bukunya, why not try self-publishing? Biar nggak tanggung radikalnya. Ha ha… Pasti banyak resource di internet tentang tips buat publishing your own book. Konten kaya’ gini harus tersebar luas!

    Salam kenal, btw. Love your blog and good luck spreading your cause.
    .-= Kreshna´s last blog ..Menari dan Matematika… Sama Pentingnya! =-.

    • Salam kenal juga. Betul Pak Kreshna. Kalau saya punya uang, saya akan pilih jalur itu. Sementara saya taruh di blog saja supaya bisa dibaca. Senang sekali bisa kenal dengan pemilik blog yang sejalan dengan tema pendidikan tidak harus di sekolah. Keluarga homeschooling kan sangat sadar dengan kewajiban mendidik anak-anaknya tetapi memilih tidak mendelegasikan kewajiban itu kepada sekolah.

      Now I’ll go get my FeedDemon and subscribe to your blog’s RSS feed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>