April 23rd, 2010

33. Sosialisasi Homeschooling (1)

by Andini Rizky

Homeschooling? Nggak sekolah? Terus sosialisasinya gimana dong?” merupakan pertanyaan pertama suami saat aku mengajukan niat meng-homeschooling-kan putri kami.

Ketika menyebut kata sosialisasi, yang dimaksud oleh suamiku adalah “pergaulan dengan teman sebaya.” Maksud pernyataannya adalah:

Waktu kecil aku tidak pernah punya teman-teman sebaya yang akrab di luar sekolah sehingga tidak mungkin anak aku bisa punya teman jika tidak sekolah.

Kasihan juga suamiku itu, bisa punya pemikiran seperti itu, bukankah lebih ideal seorang anak bisa punya teman di mana-mana? Mungkin di luar sekolah dulu dia nggak punya teman ya? Sama dong.

Aku menjawab, pertama harus diluruskan anggapan keliru bahwa homeschooling berarti kita tidak boleh ke mana-mana, harus di rumah saja selama jam pelajaran. Dengan homeschooling kita menyatukan hidup dengan belajar, dan kita bisa belajar di pasar, warnet, toko swalayan Alfamart, perpustakaan Senayan, taman wisata Mekarsari, kolam renang Waterboom, Taman Mini Indonesia Indah, museum-museum, dan di mana-mana di kolong langit. Di semua tempat yang aku sebut itu pasti ada orangnya, dan karena itu pasti bisa latihan bersosialisasi. Kalau soal teman sebaya, suamiku tidak perlu khawatir. Kanae punya minat besar terhadap musik, renang, dan melukis, kita akan masukkan dia ke les renang, musik, dan melukis yang tidak jauh dari rumah kita di Cikarang, dan di sana dia bisa bertemu dengan anak-anak dari berbagai kelompok usia yang satu minat dengannya. Bukankah kita, setelah menjadi orang dewasa, juga bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia, dan satu-satunya yang menyatukan kita dengan mereka adalah minat yang sama?

Orang dewasa menganggap bahwa bagi anak-anak, sosialisasi di sekolah adalah yang terbaik dan satu-satunya, dan bersosialisasi di sekolah akan mempersiapkan anak-anak bersosialisasi di dunia nyata.

Sekarang aku tanya, di manakah di dunia nyata, di mana 40 orang dengan usia yang sama, dikekang tidak boleh keluar dari suatu ruangan, tidak boleh bercakap-cakap, dituntut melakukan satu hal yang sama, di waktu yang sama, berpakaian sama, oleh seorang yang jauh lebih tua? Selain sekolah, penjara mungkin. Ini bukan gambaran dunia nyata.

Salah kaprah kalau kita pikir anak-anak homeschooling akan kesulitan bergaul di dunia nyata. Mereka sedang berada di dunia nyata, sedang berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata, sedang mengalami pengalaman-pengalaman nyata di dunia nyata. Mereka tidak dibatasi tembok-tembok sekolah dengan peraturan sosialisasinya yang aneh.

Peraturan sosialisasi aneh yang bagaimana? Yaitu: pertama, anak-anak kelas lebih rendah tidak bermain dengan anak-anak kelas lebih tinggi, dan sebaliknya. Kalau ada anak lebih muda berani dekat-dekat anak-anak yang lebih tua, dia akan diusir. “Ngapain kamu di sini? Sana main di tempat lain, Anak Kecil!”

Kalau ada anak lebih tua nekad datang ke kelas anak-anak yang lebih kecil, dia akan dipandangi dengan heran, dan diusir juga. “Anak gede ngapain main di sini sih? Apa ngerasa masih kecil? Sana main sama yang sepadan!”

Kedua, orang-orang dewasa di sekolah, berfungsi sebagai hakim yang menilai baik buruknya kelakuan/kecerdasan/keberhargaan anak-anak dan bebas menghukum serta mempermalukan jika dipandang perlu. Akibatnya anak-anak sekolah itu belajar menjadi takut, pasif, kaku, menghindari membuka diri, dan bersikap mempertahankan harga diri ketika berhadapan dengan orang dewasa.

Ketiga, di sekolah sebagian besar waktu siswa dipakai untuk tutup mulut dan lipat tangan yang manis. Mana mungkin bisa bersosialisasi dengan tutup mulut rapat-rapat. Dengan waktu bebas untuk bermain dengan teman-teman yang sangat sempit, apa bisa dibilang sosialisasi di sekolah itu mencukupi? Bandingkan dengan homeschooling di mana anak bisa bicara dan bermain dengan sebanyak-banyaknya orang, sepuas-puasnya waktu.

Ternyata terbalik asumsi orang selama ini, persekolahan bukannya memperluas sosialisasi anak-anak, malah membatasi kemampuan bersosialisasi.

Pada masa awal sekolah, aku terpaksa belajar menyesuaikan diri pada masa “pemisahan kawan berdasarkan usia”. Setelah lewat masa sekolah, aku belajar lagi menyesuaikan diri dalam masa “pengenalan kembali pada pergaulan dengan orang-orang dari berbagai usia”. Inilah dua proses transisi yang tidak perlu dalam homeschooling. Aku ingin membebaskan anak-anakku dari sosialisasi sempit di sekolah dan membiarkan mereka bergaul secara wajar dan aman dalam pengawasanku.

Kontras dengan anak-anak kerabat yang anak sekolahan, anakku tidak terlalu ‘sadar umur’. Aku rasa dia merasa nyaman menemukan diri hampir selalu diterima di setiap situasi sehari-hari, karena nyatanya dunia luar tidak sekejam dunia sekolah memperlakukan seorang anak, apalagi dia akan selalu aman di bawah pengawasanku. Bisa dipastikan juga dalam homeschooling kami, tidak akan terjadi kecurangan dalam ujian seperti lempar-lemparan kertas contekan atau pun lewat telepon selular. Aku harap dia tidak usah pernah berhubungan langsung, apalagi setiap hari, dengan para pemakai obat terlarang dan lain-lainnya itu yang aku harap tidak usah hadir dalam hidup aku dahulu di sekolah menengah.

Lagipula ya… kalau dalam waktu homeschooling yang seumur jagung saja, aku sudah menemukan anakku menjadi lebih menyenangkan, percaya diri, dan mudah bergaul dengan semua orang dari berbagai kalangan, dari bayi sampai nenek-nenek sekalipun, sementara aku lihat anak-anak sekolah, dengan sedikit perkecualian, menarik diri dari pergaulan dengan selain teman seumur, manakah yang harus aku nilai lebih baik? Sosialisasi di sekolah atau kah sosialisasi homeschooling di dunia nyata? Jelas kan, jawabnya.

April 22nd, 2010

32. Sosialisasi Homeschooling

by Andini Rizky

Bagian III
Sosialisasi Homeschooling

Pembicaraan tentang sosialisasi dalam homeschooling tidak pernah habis-habisnya dipertanyakan mereka yang bukan praktisi. Untuk itu aku mendedikasikan satu bab khusus yang cukup panjang untuk mengajak melihat dari sudut pandangku, seorang ibu yang memilih homeschooling.

Sosialisasi, bukan masalah. Malah di situlah letak kelebihan homeschooling daripada sekolah. Sosialisasi anak homeschool lebih seimbang, lintas usia, dan lintas jenis kelamin. Anak homeschool tidak canggung bergaul. Dia lebih percaya diri, optimis,  mengharapkan perlakuan baik dari semua orang, dan bahkan secara emosional lebih tahan banting daripada anak-anak sekolah yang terpaksa pasrah digencet di sekolah. Mengapa? Kuncinya adalah kedekatan dengan orang tua, kebebasan dari peer pressure (ikut-ikutan teman supaya bisa diterima dalam pergaulan yang sempit), dan pembelajaran aturan-aturan sosialisasi normal dan wajar yang berlaku di dunia luar.

April 16th, 2010

31. Ketika Adik Baru Lahir

by Andini Rizky

Anak-anak yang lahir lebih dulu biasanya merasa ‘tersaingi’ ketika adik bayinya lahir. Oh ya, mereka memang merasa senang dan bangga menjadi kakak/abang, namun lambat laun mereka menyadari bahwa orang tuanya ‘diambil’,  waktu dan perhatian orang tua lebih tercurahkan pada si adik baru. Berbagi kasih orang tua untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang sulit bagi anak-anak. Anak-anak kemudian mulai merasakan cemburu, rasa tidak disayang oleh orang tua, merasa orang tua pilih kasih, dan bisa jadi anak lebih tua bertanya-tanya ‘bisakah adik baru pencuri orang tuaku ini dikembalikan saja ke rumah sakit?’

Berkurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya, membuat anak kehilangan ‘koneksi’ dengan orang tua. Anak merasa kedekatan dengan ayah dan ibunya merenggang, sehingga akibatnya dia mulai gelisah dan ‘bertingkah’, melakukan kenakalan demi kenakalan untuk menarik kembali perhatian orang tua yang hilang. Mungkin dia memukul adik bayinya, mungkin bertingkah jadi bayi kembali, mungkin jadi banyak menangis frustasi dan menjerit-jerit, dan sebagainya.

Masa transisi ini terasa sulit bagi orang tua, terutama ibu, yang secara fisik dan emosional sangat lelah karena baru saja melahirkan, seharian harus mengurus bayi baru, dan malam-malam kurang tidur karena harus menyusui. Menghadapi kelakuan si kakak/abang baru, ibu semakin mudah meledak, kehilangan kendali atas dirinya, serta tidak segan menghardik dan memukul anak.

Akibatnya si anak makin merasa ‘koneksi’ dengan ibu malah semakin renggang, dan dia akan malah semakin nakal untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, dan dia juga akan semakin sulit menyayangi adik baru.

Untuk menghadapi hal ini, ada tujuh hal yang harus dilakukan secara sadar oleh ayah dan ibu:

1.          Saat ini anak-anak yang lebih tua LEBIH PENTING daripada adik bayi yang sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur itu.
Anak-anak lebih tua bisa merasakan haus kasih sayang ibu dan itu menyiksa mereka, tetapi bayi tidak merasa iri atau pun sakit hati saat ibunya memeluk kakak/abangnya. Jadi: peluklah anak pertama dulu sebelum adik bayi. Atau jika ini tidak memungkinkan, peluk anak pertama segera setelah bayi tenang.

2.          Ayah atau ibu harus menyediakan WAKTU KHUSUS BERDUA saja dengan anak lebih tua, tanpa kehadiran adik bayi. Buat waktu dalam satu hari sebentar saja, mungkin hanya 10-30 menit, untuk melakukan kegiatan berdua saja dengan kakak/abang baru. Kegiatan apa saja. Mungkin belanja ke toko dekat rumah sebentar, bermain bersama, bercakap-cakap bersama, melihat-lihat album foto waktu dia kecil dan katakan,”Lihatlah kamu di foto ini. Kamu dulu juga kecil seperti adik bayi. Ibu bahagia waktu kamu lahir. Ibu merawatmu dan begitu menyayangimu. Sekarang kamu sudah begini besar, cakep, dan pintar.”

Jika, dan hanya jika si kakak merasa puas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tidak merasa terancam dengan kehadiran si adik, dia akan legowo, berlapang dada berbagi kasih orang tua dengan adik baru. Baru setelah dia merasa yakin disayangilah, dia akan bisa menyayangi adiknya.

3.          JANGAN pernah memarahi anak-anak yang lebih tua dengan mengatakan,”Kenapa kamu lakukan itu? Kamu kan sudah besar, sudah jadi kakak/abang.”
Anak-anak tidak langsung secara ajaib mampu bersikap ‘dewasa’ hanya karena adik barunya lahir. Jangan mengharapkan yang mustahil pada anak kecil umur 3 tahun meskipun dia sudah jadi kakak.Dia tetap kanak-kanak. Kalau orang tua terlalu sering memarahi si kakak dengan kata-kata seperti itu, dia akan benci perannya sebagai seorang kakak. Akhirnya dia akan menyimpan dendam kesumat terhadap si adik, yang mendorong ketidakakuran antara sesama saudara kandung, bisa jadi hingga dewasa.

4.          LIBATKAN kakak/abang baru dalam kegiatan merawat adik baru. Minta ia membawakan popok, memberikan bedak, dan lain-lain sesuai kemampuannya. Ucapkan terima kasih dan pujilah. Ajak ia bermain bersama adik barunya, dan ibu/ayah. Usahakan perbanyak pengalaman menyenangkan anak-anak lebih tua bersama-sama adik barunya.

5.          PUJILAH anak lebih tua dengan ucapan,”Kamu pandai sekali sudah bisa melakukan … Kamu memang kakak/abang yang hebat ya.” Dengan sering memuji seperti itu, usahakan agar anak lebih tua merasa bangga dan bahagia dengan kedudukan barunya.

6.          JANGAN pernah menolak merangkul/mencium atau dengan kata lain menahan ekspresi cinta kita kepada si kakak/abang baru dengan alasan ‘supaya tidak manja’. Percayalah, ini adalah kesalahan besar. Anak-anak yang tidak manja, anak-anak yang mandiri, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat jiwanya adalah anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua secara cukup bahkan berlimpah-limpah. Semakin ibu mengacuhkan anak, semakin anak haus kasih sayang, merasa tidak aman ( ‘insecure’), dan semakin dia menjadi manja.

7.          Setelah kelahiran bayi baru, ada ibu atau ayah yang tanpa mereka sadari mendadak menjadi ‘benci’ terhadap anak yang lebih tua. Mereka mendadak jadi lebih cepat marah, lebih cepat kehilangan kontrol atas emosi ketika dihadapkan pada kenakalan atau tangis frustrasi anak lebih tua. Bagi mereka, seolah-olah anak yang lebih tua menjadi tidak lucu lagi, tidak cantik lagi, tidak patut disayang lagi. Kenapa terjadi begitu aku tidak tahu. Barangkali ada kaitannya dengan perlakuan atau contoh orang tua dari orang tua (berarti generasi kakek nenek) di masa lalu. Jika ini terjadi, orang tua harus secara sadar mengendalikan diri. PAKSAKAN DIRI untuk memeluk dan mencium anak yang lebih tua sebanyak-banyaknya. Yakinkan diri bahwa perasaan benci tersebut hanyalah sementara. Harus hilang, dan pasti hilang. (Jika perasaan itu berlanjut barangkali Anda butuh berkonsultasi dengan terapis).

Tips di atas sudah dibuktikan keampuhannya dalam keluarga kami. Syukurlah anak-anak kami yang lebih tua tidak cemburu dengan adiknya yang baru lahir. Selamat mencoba. ###