“Homeschooling? Nggak sekolah? Terus sosialisasinya gimana dong?” merupakan pertanyaan pertama suami saat aku mengajukan niat meng-homeschooling-kan putri kami.
Ketika menyebut kata sosialisasi, yang dimaksud oleh suamiku adalah “pergaulan dengan teman sebaya.” Maksud pernyataannya adalah:
Waktu kecil aku tidak pernah punya teman-teman sebaya yang akrab di luar sekolah sehingga tidak mungkin anak aku bisa punya teman jika tidak sekolah.
Kasihan juga suamiku itu, bisa punya pemikiran seperti itu, bukankah lebih ideal seorang anak bisa punya teman di mana-mana? Mungkin di luar sekolah dulu dia nggak punya teman ya? Sama dong.
Aku menjawab, pertama harus diluruskan anggapan keliru bahwa homeschooling berarti kita tidak boleh ke mana-mana, harus di rumah saja selama jam pelajaran. Dengan homeschooling kita menyatukan hidup dengan belajar, dan kita bisa belajar di pasar, warnet, toko swalayan Alfamart, perpustakaan Senayan, taman wisata Mekarsari, kolam renang Waterboom, Taman Mini Indonesia Indah, museum-museum, dan di mana-mana di kolong langit. Di semua tempat yang aku sebut itu pasti ada orangnya, dan karena itu pasti bisa latihan bersosialisasi. Kalau soal teman sebaya, suamiku tidak perlu khawatir. Kanae punya minat besar terhadap musik, renang, dan melukis, kita akan masukkan dia ke les renang, musik, dan melukis yang tidak jauh dari rumah kita di Cikarang, dan di sana dia bisa bertemu dengan anak-anak dari berbagai kelompok usia yang satu minat dengannya. Bukankah kita, setelah menjadi orang dewasa, juga bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia, dan satu-satunya yang menyatukan kita dengan mereka adalah minat yang sama?
Orang dewasa menganggap bahwa bagi anak-anak, sosialisasi di sekolah adalah yang terbaik dan satu-satunya, dan bersosialisasi di sekolah akan mempersiapkan anak-anak bersosialisasi di dunia nyata.
Sekarang aku tanya, di manakah di dunia nyata, di mana 40 orang dengan usia yang sama, dikekang tidak boleh keluar dari suatu ruangan, tidak boleh bercakap-cakap, dituntut melakukan satu hal yang sama, di waktu yang sama, berpakaian sama, oleh seorang yang jauh lebih tua? Selain sekolah, penjara mungkin. Ini bukan gambaran dunia nyata.
Salah kaprah kalau kita pikir anak-anak homeschooling akan kesulitan bergaul di dunia nyata. Mereka sedang berada di dunia nyata, sedang berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata, sedang mengalami pengalaman-pengalaman nyata di dunia nyata. Mereka tidak dibatasi tembok-tembok sekolah dengan peraturan sosialisasinya yang aneh.
Peraturan sosialisasi aneh yang bagaimana? Yaitu: pertama, anak-anak kelas lebih rendah tidak bermain dengan anak-anak kelas lebih tinggi, dan sebaliknya. Kalau ada anak lebih muda berani dekat-dekat anak-anak yang lebih tua, dia akan diusir. “Ngapain kamu di sini? Sana main di tempat lain, Anak Kecil!”
Kalau ada anak lebih tua nekad datang ke kelas anak-anak yang lebih kecil, dia akan dipandangi dengan heran, dan diusir juga. “Anak gede ngapain main di sini sih? Apa ngerasa masih kecil? Sana main sama yang sepadan!”
Kedua, orang-orang dewasa di sekolah, berfungsi sebagai hakim yang menilai baik buruknya kelakuan/kecerdasan/keberhargaan anak-anak dan bebas menghukum serta mempermalukan jika dipandang perlu. Akibatnya anak-anak sekolah itu belajar menjadi takut, pasif, kaku, menghindari membuka diri, dan bersikap mempertahankan harga diri ketika berhadapan dengan orang dewasa.
Ketiga, di sekolah sebagian besar waktu siswa dipakai untuk tutup mulut dan lipat tangan yang manis. Mana mungkin bisa bersosialisasi dengan tutup mulut rapat-rapat. Dengan waktu bebas untuk bermain dengan teman-teman yang sangat sempit, apa bisa dibilang sosialisasi di sekolah itu mencukupi? Bandingkan dengan homeschooling di mana anak bisa bicara dan bermain dengan sebanyak-banyaknya orang, sepuas-puasnya waktu.
Ternyata terbalik asumsi orang selama ini, persekolahan bukannya memperluas sosialisasi anak-anak, malah membatasi kemampuan bersosialisasi.
Pada masa awal sekolah, aku terpaksa belajar menyesuaikan diri pada masa “pemisahan kawan berdasarkan usia”. Setelah lewat masa sekolah, aku belajar lagi menyesuaikan diri dalam masa “pengenalan kembali pada pergaulan dengan orang-orang dari berbagai usia”. Inilah dua proses transisi yang tidak perlu dalam homeschooling. Aku ingin membebaskan anak-anakku dari sosialisasi sempit di sekolah dan membiarkan mereka bergaul secara wajar dan aman dalam pengawasanku.
Kontras dengan anak-anak kerabat yang anak sekolahan, anakku tidak terlalu ‘sadar umur’. Aku rasa dia merasa nyaman menemukan diri hampir selalu diterima di setiap situasi sehari-hari, karena nyatanya dunia luar tidak sekejam dunia sekolah memperlakukan seorang anak, apalagi dia akan selalu aman di bawah pengawasanku. Bisa dipastikan juga dalam homeschooling kami, tidak akan terjadi kecurangan dalam ujian seperti lempar-lemparan kertas contekan atau pun lewat telepon selular. Aku harap dia tidak usah pernah berhubungan langsung, apalagi setiap hari, dengan para pemakai obat terlarang dan lain-lainnya itu yang aku harap tidak usah hadir dalam hidup aku dahulu di sekolah menengah.
Lagipula ya… kalau dalam waktu homeschooling yang seumur jagung saja, aku sudah menemukan anakku menjadi lebih menyenangkan, percaya diri, dan mudah bergaul dengan semua orang dari berbagai kalangan, dari bayi sampai nenek-nenek sekalipun, sementara aku lihat anak-anak sekolah, dengan sedikit perkecualian, menarik diri dari pergaulan dengan selain teman seumur, manakah yang harus aku nilai lebih baik? Sosialisasi di sekolah atau kah sosialisasi homeschooling di dunia nyata? Jelas kan, jawabnya.









