Ya, ya.
Rasanya lebih mudah bagiku, sebagai orang tua, menutup telinga pada permintaan putriku itu berhenti sekolah dari Taman Kanak-kanak.
Lebih mudah bagiku untuk membenarkan bahkan memperelok wujud tindakanku itu dengan mengatakan aku paksakan kehendak demi kebaikannya. Yakni aku tidak ingin dia tumbuh bermental lemah. Bagaimana kalau di Taman Kanak-kanak di negerinya nanti lebih banyak anak-anak yang tidak segan menggunakan kekerasan dan menggoda ketidaklancarannyaberbahasa? Tidakkah dia tahu guru-guru di negara kelahirannya ini jauh lebih lembut dan hangat daripada di negeri yang baru dia kunjungi dua kali itu?
Lihat itu Bapak Kepala Sekolah setiap pagi menyambut di depan pagar dengan senyuman dan ucapan selamat pagi. Lihat itu Bu Guru Okubo berdiri menunggu di depan kelas dan menyapa, “Kanae, pintar sekali kamu datang dengan ceria hari ini!”
Ketika dia berceloteh tentang sungai dan pegunungan yang kita lewati pagi ini, ibu gurunya itu akan memeluknya erat-erat. Ia akan menggendong Kanae di punggungnya jika ia menangis. Kurang apa lagi?
Lebih mudah bagiku menganggap keinginannya itu hanya keinginan sementara seorang anak berumur tiga tahun yang baru saja lepas dari popoknya, suatu keinginan yang tidak patut untuk diperhitungkan.
Lebih mudah bagiku untuk mensugesti dirinya,
“Percayalah sama Mama, Kanae. Mama lebih tahu. Sebentar lagi pasti kamu lupa akan keinginanmu itu.
Pasti nanti kamu bosan juga dengan taman penitipan.”
Lebih mudah bagiku memberinya semangat untuk bertahan, untuk tidak mengindahkan deritanya, dan tetap pergi setiap hari ke tempat yang sudah lama tidak dinikmatinya itu.
“Kanae, kamu harus lebih kuat. Bagaimana mungkin kamu jadi pintar kalau tidak mau sekolah? Bagaimana kamu bisa jadi kaya dan banyak uang, kalau sekarang masuk TK saja kamu tidak mau?”
Memang. Memang lebih mudah.
Tetapi aku mencoba obyektif, mendudukkan persoalan di tempat yang semestinya.
Seandainya aku tidak panik bahwa di usia sedini ini anakku sudah menolak bersekolah, seandainya aku tidak perduli sentilan orang bahwa aku toh bukan ibu yang berkarier, kenapa anaknya dititipkan?, seandainya aku memilih untuk tenang, tidak melabeli anakku itu dengan predikat cepat bosan, lemah, kurang percaya diri, manja, ataupun kurang mampu bergaul, seandainya aku melihatnya sebagai sosok yang utuh, bukan produk cacat yang harus aku tempa, seandainya aku percaya padanya sebagai seorang manusia yang patut didengarkan dan dipertimbangkan pemikiran dan perasaannya, apakah yang sebenarnya sedang terjadi?
1. Anakku itu merasa tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya.
2. Dari pengalamannya di masa lalu, dia mendapati bahwa dia lebih suka ditinggal di taman penitipan.
3. Atas inisiatifnya sendiri, dia membuat pilihan untuk berhenti TK dan masuk taman penitipan.
4. Dia bersedia menerima tanggung jawab dan konsekuensi keputusannya itu, bahwa dia harus berhenti les berenang, tidak bisa bertemu dengan Bu Guru Okubo, dan tidak bisa kembali lagi ke TK.
Bukankah di usianya yang sangat kecil itu ternyata jalan pemikirannya sangat jernih dan rasional?
Kenapa aku harus bingung?
Aku ibunya, aku melihatnya, aku percaya padanya. Ups, koreksi. Aku dengan sadar memilih untuk percaya padanya.
Aku tidak ingin mengajarkan pada anakku itu bahwa sekolah itu begitu penting sehingga perasaannya harus ditekan, mulutnya harus dikunci, dan penilaiannya harus ditumpulkan.
Dalam hidup yang panjang ini sekolah adalah hak, bukan kewajiban. Sekolah tidak nomor satu. Kebahagiaannyalah. Saat dia menilai sekolah tidak mengakomodasi kebutuhannya, aku sebagai ibunya akan mengizinkannya keluar kapan saja.
Satu Desember nanti, Kanae akan memulai hidup baru di taman penitipan anak.
Bagaimana kalau dia bosan lagi? Ya berhenti saja lagi! Wahaha!
Bukannya aku tidak menghormati nasehat kawan-kawan untuk bertahan di TK. Aku sangat berterima kasih. Sungguh. Dengan menyimak satu per satu tanggapan di blog, pikiranku terbukakan, akhirnya aku mampu memberikan garis batas pemikiran yang tadinya kabur bentuknya.
Begitulah. Pekan ini aku belajar bahwa ternyata begitu banyak keberanian yang diperlukan untuk mempercayai anak sendiri.
Pantas minta izin menikah dulu susah sekali ya.###
Duh…makasih sekali posting nya mbak.Sangat melegakan hatiku atas permintaan Aqeela yang gak mau “aktif” di PAUD yg kupilih.Maunya “sekolah” sama mama aja ^_*
Terima kasih komentarnya Mbak Novi yang baik. Memang sama Mama paling ‘alami’, paling baik untuk tumbuh-kembang yang optimal. ^-^
Tapi masih gamang mbak.Aqeela umurnya 3,5th.Aku harus bagaimana ya?Apa yg harus distimulasi,apa saja materi yang harus diberikan,dll masih muter2 di kepalaku hehehe.Ada saran mbak?
3,5 tahun rasanya masih saatnya main, main, dan main ya Mbak Novi. Mungkin diteruskan saja yang Mbak lakukan selama ini. Bermain bersama, membacakan buku untuk Aqeela, mengajak bicara, mengajak mengamati bunga, binatang… yang asyik-asyik aja. Kalau mau coba mengajari baca, berhitung, begitu… juga boleh, sekilas-sekilas saja, siapa tahu masuk, kalau belum ya tidak apa-apa.