Mengapa Tidak Perlu Ijazah Guru untuk Homeschooling

Begini pertanyaan yang sering ditanyakan kepada orang tua homeschooling:

Bagaimana mungkin kamu pikir kamu bisa memberikan pendidikan yang setara dengan sekolah?

Bagaimana mungkin kamu bisa, padahal pendidikanmu tidak setinggi guru-guru di sekolah? Setiap guru paling tidak sudah lulus sarjana, bahkan mereka sudah mendapatkan sertifikat mengajar. Kamu kan nggak? Kalau misalnya kamu juga sarjana, kamu kan cuma punya satu gelar di satu bidang studi. Mana mungkin kamu mengalahkan semua guru sekolah yang memegang gelar di bidangnya masing-masing?

Misalnya, anakmu lemah dalam pelajaran Fisika, dan kamu membayar seorang mahasiswa teknik untuk memberikan les tambahan. Dalam beberapa bulan, dengan les yang cuma dua jam sepekan sekali, nilai-nilai ujian Fisika anakmu meningkat, dan kamu merasa puas.

Lalu kenapa, bagaimana bisa, seorang mahasiswa yang tidak berpengalaman mengajar ratusan murid bertahun-tahun, tidak punya gelar sarjana, tidak punya sertifikasi guru, seperti guru Fisika di sekolah, ternyata bisa mengajar anakmu dengan lebih baik?

Guru sekolah memiliki tanggung jawab terhadap keseluruhan kelas.

Dia bahkan tidak menangani satu kelas dengan 45 orang murid saja, ada belasan kelas lainnya. Perhatian satu-lawan-satu yang bisa dia berikan sangat terbatas, dan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Guru Fisika itu kenal anakmu juga nggak. Dia cuma ingat dengan si anak cerdas berbakat yang ikut cerdas-cermat Fisika ke Jakarta.

Guru Fisika itu tidak bisa menghentikan pelajaran hanya karena ada satu orang murid tidak mengerti, dia harus meneruskan demi kepentingan murid-murid lainnya. Dia memiliki tanggung jawab kepada kurikulum, tanggung jawab pada seluruh kelas. Kalau pun dia memperlambat kecepatan pelajaran, dia tidak akan tahu ada anak yang tidak mengerti sampai ujian berikutnya.

Lagipula anak yang tidak mengerti selalu diam-diam saja di kelas, takut ketahuan guru, soalnya kalau tidak mengerti pasti dia disuruh mau ke papan tulis untuk mengerjakan soal. Dia takut dipermalukan di depan teman-temannya. Di kelas dia bisa melamun dan tidak ketahuan, bisa pura-pura sedang mendengarkan guru padahal sedang mengkhayal. Kalau pun tidak mengerti dia tidak berani bertanya karena khawatir juga dimarahi. Guru tidak tahu karena perhatian guru terpecah pada 44 orang anak lainnya.

Sedangkan guru privat yang hanya mahasiswa itu, dengan mudah menyesuaikan pelajaran dengan pemahaman anak. Dia langsung tahu kalau muridnya tidak paham, dan dengan ulet mencari cara penjelasan lain, menyediakan soal-soal lain, sampai akhirnya muridnya itu paham dan bisa meningkatkan nilai ujiannya di sekolah.

Bersama guru privat, anak belajar dengan konsentrasi penuh, semua pertanyaan dan jawaban tersedia untuk melayani anak itu seorang.

Jadi meskipun seorang guru sekolah memiliki gelar dan kelebihan pengalaman dari guru privat yang cuma mahasiswa itu, setting pengajaran di kelas tidak memungkinkan terjadi proses belajar mengajar yang efektif.

Seperti juga guru privat, begitu juga dengan guru homeschooling (orang tua). Orang tua homeschooling tidak perlu sertifikasi guru, tidak perlu lulus S3 semua bidang, baru bisa mengajar anak-anak mereka. Pengajaran satu-lawan-satu dalam homeschooling sudah menjamin anak akan lebih paham daripada jika dia bersama guru yang harus mengajar seruangan penuh. (Atau mungkin lebih dari satu kalau anak orang tuanya banyak tetapi pasti tidak sebanyak di kelas).

Belum menguasai materi? Tidak apa-apa, karena orang tua juga bisa belajar bersama-sama anak sambil mengajari. Hasilnya pasti lebih baik daripada melemparkan anak ke sekolah lalu tinggal tunggu hasil tanpa tahu-menahu apa yang dia pelajari. Ijazah diterima tetapi kepala anaknya kosong melompong karena segala ilmu yang dipelajari sudah lupa sehari setelah ujian. Lulus sekolah, si anak bingung mau bekerja apa karena tidak punya keterampilan apa-apa yang bisa dijual. Lho kok ternyata mengerjakan seabrek PR dan ujian itu sama sekali tidak berguna dalam menggali minat dan bakatku ya?

Sukses tidak ada hubungannya dengan ijazah sekolah, sukses sangat besar hubungannya dengan sikap mental dan keyakinan diri bahwa ‘aku bisa sukses’. Orang tua harus waspada dan melindungi anak-anak dari pesan-pesan negatif yang menghancurkan kepercayaan dirinya, yang diperolehnya dari sosialisasi di sekolah. Bukannya kita malah memperbesar efek pesan negatif itu di rumah! Itu kan menghancurkan potensi sukses anak sendiri namanya.

Katanya Kalau Homeschooling, Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata

Kalau Homeschooling Katanya Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata - Homeschooling Indonesia

ernop, Flickr

Aku kira satu hal yang paling sering dikemukakan orang sebagai alasan menolak homeschooling adalah: sekolah bukan untuk dihindari karena sekolah mempersiapkan anak untuk dunia nyata. Yang mengatakan seperti itu jelas tidak tahu bagaimana praktik homeschooling.

Salah satu alasan orangtua memilih homeschooling adalah kenyataan bahwa banyak lulusan sekolah tidak siap menghadapi dunia nyata. Ketidaksiapan itu wajar saja karena persiapan dengan sekolah itu kan menarik anak dari kehidupan dunia nyata, mengumpulkan mereka di dalam suatu lingkungan yang terpisah dari dunia nyata, dan setelah 12 tahun berlalu, mereka dilepas ke dunia nyata. Dan siapkah mereka? Ternyata tidak. Persiapan yang dilakukan selama ini adalah untuk terbiasa bertahan di dunia sekolah, bukan dunia nyata yang sebenarnya.

Beberapa orangtua yang cukup bijak untuk menyadari keabsurdan pernyataan “sekolah=dunia nyata”, memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Kalau mau siap menghadapi dunia nyata seharusnya anak-anak berada di dunia nyata, maka diambillah pilihan homeschooling.

Survei membuktikan, anak-anak homeschooling pada usia “lulus SMA”, melakukan lebih banyak hal-hal menarik dan berguna di dunia nyata daripada anak-anak sekolah. Ada anak-anak homeschooling yang sudah mempunyai bisnis mereka sendiri, magang, aktif dalam kegiatan relawan di lingkungannya, mengadakan konser dan pameran sendiri, menerbitkan buku, dan sebagainya. Banyak sekali yang bisa dilakukan di dunia ini tanpa harus sekolah. Gunakan imajinasimu.

Jadi pendapat kalau tidak sekolah = tidak berbuat apa-apa, tidak punya teman, dan tidak punya kenangan itu datang dari pengalaman sebagai anak sekolah yang tidak berdaya menghadapi dunia nyata di luar sekolah. Kasihan.

Anak-anak homeschooling dimungkinkan untuk lebih siap menghadapi dunia nyata karena mereka belajar dan hidup di dunia nyata. Dunia nyata? Sudah santapan sehari-hari!

Pelajaran untuk Orangtua dari Prestasi Arrival Menciptakan Program Antivirus ARTAV

Anak yang Beruntung - Homeschooling Indonesia

Kemarin aku sempat selintas melirik acara bincang-bincang Metro TV dengan seorang anak SMP bernama Arrival, yang menciptakan program antivirus Artav.

Aku tidak sempat menonton keseluruhannya, tetapi di kolom berita lain di internet dipaparkan, orangtuanya sangat perhatian pada pendidikan anaknya, tidak pasrah pada kemiskinan, dan menyediakan segala piranti komputer yang diperlukan anaknya menghasilkan program antivirus tersebut.

Tentu saja karena kreativitas itu tidak masuk dalam kurikulum sekolah negeri, dia mengorbankan waktu belajar untuk pelajaran sekolah demi merampungkan program antivirusnya yang memakan waktu sangat lama, dan barangkali si anak ini mendapatkan dispensasi boleh tidak mengerjakan PR (ini tebakanku saja, mengingat zaman aku sendiri PR masa SMP itu bejibun dan sangat makan waktu bahkan berkali-kali kuselesaikan beberapa menit sebelum pelajaran).

Seorang kenalan mencoba meyakinkan aku bahwa itulah kebaikan sekolah (sehingga tidak perlu homeschooling?). Tetapi dalam hal ini, aku tetap yakin bahwa peranan dan sikap orangtualah yang paling dominan. Orangtuanya mau membelikan buku-buku yang tidak nyambung dengan pelajaran sekolah, padahal mereka bukan orang berada (dan masih harus membayar biaya sekolah). Komputer yang digunakannya pun sebetulnya dibeli untuk mendukung usaha orangtuanya berjualan hape.

Selain itu, perhatian secara individual dan kerja sama dari sekolah amat sangat langka pada minat yang berada di luar koridor kurikulum. Jadi ya, beruntung sekali ya anak itu.

Mayoritas anak sekolah tidak seberuntung itu.

Tetapi sebagai orangtua homeschooling, kita bisa bertambah yakin dengan homeschooling berkat prestasi anak itu. Mengapa? Karena dia adalah bukti bahwa pembelajaran (learning) datang dari dalam diri anak sendiri, bukan pengajaran. Yang penting dalam pendidikan itu bukan mengajari anak dengan kurikulum superlengkap, tetapi memfasilitasi minat dan bakatnya, bahkan ketika minat dan bakat itu tidak terejawantah menjadi nilai 9 pada mata pelajaran mana pun di rapor.

Temukan minat dan bakat anak, fasilitasi, dan saksikan dia melejit menggapai cita-citanya. Di sinilah kekuatan homeschooling. Untuk mencetak lebih banyak Arrival di negeri ini, sekolah seharusnya berubah menjadi lebih seperti homeschooling, dan bukan sebaliknya.

10 Alasan Anak-anak Benci Belajar di Sekolah

10 Alasan Anak Benci Belajar di Sekolah - Homeschooling Indonesia - gambar

JasonDGreat, Flickr

Anak-anak benci belajar di sekolah. Itu sudah jamak, tetapi mengapa?

1. Ketika mereka ingin mempelajari A, kurikulum memaksa mereka mempelajari B. Duh, nggak minat!

2. Semua minat belajar di luar kurikulum itu hanya hobi yang tidak penting, dan mempelajari hobi tidak boleh berlebihan karena mengganggu pelajaran sekolah.

3. Kalau banyak bertanya (baca: ingin belajar lebih jauh dari lingkup kurikulum), dimarahi.

4. Setelah bosan belajar 7 jam di sekolah, eh pulang ke rumah masih ada PR lagi! Gimana nggak benci?

5. Anehnya ketika sedang asyik-asyiknya belajar A, tiba-tiba harus berhenti karena sudah bel jam pelajaran berikutnya.

6. Pelajaran B, asli membosankan, tetapi anak tidak boleh belajar mata pelajaran lain sampai bel berbunyi. Buang waktu saja! Bosan… Berapa menit lagi ya selesainya?

7. Di kelas, harus duduk diam, mendengarkan, mencatat, lalu setelah menghapal semua data dan fakta, dites, lalu lupa. Di luar sekolah, ilmu itu tidak pernah berguna. Juga tidak pernah keluar dalam percakapan, dengan orang dewasa sekali pun. Lalu belajar apa asyiknya? Apa gunanya?

8. Anak sekolah yang beruntung adalah anak yang kebetulan minatnya sejalan dengan kurikulum. Kebanyakan anak tidak beruntung.

9. Sekarang zaman sudah berubah. Punya ijazah sekolah belum tentu jadi kaya-raya seperti zaman kakek nenek kita. Anak-anak sudah mulai bisa berpikir, buat apa susah-susah belajar hal yang dibenci kalau tidak ada jaminan sukses. Padahal semua orang sukses idola mereka adalah orang-orang yang mengejar minatnya.

10. Manusia terlahir ke dunia dengan nafsu alami memperoleh kebahagiaan dengan cara belajar. Lihat saja bayi dan anak-anak kecil prasekolah, segala hal dicoba dan dipelajari, dan betapa bahagia kelihatannya. Tetapi lalu sekolah mengajarkan pemisahan waktu belajar dan waktu untuk bersenang-senang, seolah-olah itu dua hal yang terpisah. Itulah sebabnya belajar di sekolah itu membosankan.

Pertanyaan:
Sekarang…sebutkan 10 alasan anak-anak benci belajar di sekolah!
Apa?
Males banget?
Kayak di sekolah aja?
Sekarang sudah ingat lagi kan, mengapa kamu benci belajar di sekolah? ;)

5 alasan lagi dari Mbak Riris Mailany:
11. Ga bisa milih guru seenaknya, kalo gurunya ga enak, ya telen aja, ga asik ah :)
12. Ga bisa belajar sambil makan, sambil tiduran apalagi sambil main game :)
13. Harus pakai baju yg itu-itu aja, ga asik ah :)
14. Temennya itu-itu aja, kalo ada temen yg nyebelin, ya telen aja, ga variatif :)
15. Kalo dpt nilai yg kurang, masih harus ikut les ini itu, hih…kapan mainnya donk ? he he

Tiga Rahasia Mendidik Anak-anak yang Manis

Homeschooling Indonesia - gambar

1.Tunjukkan cintamu

Anak-anak butuh cinta, maka tunjukkan rasa cintamu sesering mungkin. Peluk lebih sering, ciumi lebih banyak, katakan ‘aku cinta kamu’ setiap ada kesempatan. Pasti deh dia lebih manis dan ingin menyenangkan hati kita.

2. Dampingi dia menangani perasaannya

Bagaimana kalau anak menangis? Ini bisa karena dia merasa kurang diperhatikan, keinginannya tidak dituruti, mainan yang tidak dibelikan, atau hal-hal lain yang tidak kita ketahui. Peluk saja. Semua perasaan adalah valid, jadi hindari mengatakan jangan sedih, jangan marah, dan jangan beremosi lainnya. Perasaan ada untuk dirasakan dan ditangani.

“Aku mengerti perasaanmu, aku percaya kamu bisa mengatasinya, aku akan bersamamu sampai kamu bisa menenangkan diri”.

Jangan pakai hukuman time-out, menyetrap, atau mengurung anak di kamar karena ini malah membuat dia merasa tambah tidak dimengerti dan tidak dicintai. Kita boleh pakai time-out kalau kita sendiri yang tidak bisa menguasai diri (merasa kesal dan ingin menganiaya, eh memukul, anak). Time-out bukan untuk menghukum dia tetapi memberi waktu untuk menenangkan diri kita sendiri.

3. Homeschooling

Anak-anak manis dibentuk di rumah. Bukan di sekolah. Kegagalan mendidik di rumah tidak akan tertutupi oleh lembaga pendidikan. Dengan homeschooling, mendidik anak menjadi lebih mudah karena anak-anak dari sononya membutuhkan pengajaran dan pendidikan dari orangtua, dan homeschooling dengan sendirinya menjamin pemenuhan kebutuhan itu.

Alasan Homeschooling Ketika Banyak Orang Tidak Mampu Bersekolah

Alasan Homeschooling Ketika Banyak Orang Tidak Mampu Bersekolah - Homeschooling Indonesia - gambar

Ed Yourdon, Flickr

Jadi nih ada orang bertanya, apa melecehkan gitu, gak tau juga sih. Katanya,”Kenapa sih kok banyak orang miskin ingin sekolah, tetapi kalian malah nggak mau sekolah?”

Alasan memperjuangkan orang miskin supaya bisa bersekolah dan memperjuangkan homeschooling sebenarnya sama saja: hak untuk pendidikan yang lebih baik.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...