4. Taman Penitipan (1)

Di sinikah Taman Penitipan Tobu. Akhirnya sampai juga setelah menghapal peta dari internet. Lebih dekat dari perkiraan.

Suara anak-anak sedikit saja terdengar, namun tidak terlihat seorang pun dari luar sini.

Kanae menggenggam tanganku yang ragu.

“Ayo masuk, Mama,” sapa suaranya.

“Ya.”

Aku membuka engsel gerbang yang karatan, masuk sambil melihat ke sekeliling.

Deg-degan.

Nggak pa-pa nih masuk? Nggak ada siapa-siapa lho.

Bangunan tua berdiri memanjang berbentuk huruf U. Tempat penitipan ini kelihatan lebih tua dari TK Matsumoto yang 120 tahun. Tembok warna kremnya terkelupas di sana sini.

Nggak ada perosotan raksasa lho. Nggak ada lapangan yang luas lho.

“Benar mau masuk taman penitipan?”

Konfirmasi puluhan kali sejak kemarin.

“Iya, lebih baik penitipan.”

Jawaban Kanae tidak berubah.

Aku membulatkan tekad dan memencet bel.

Seorang wanita paruh baya bercelemek membukakan pintu. Barangkali salah satu perawat anak. Ia meletakkan dua pasang sandal ruangan untuk aku dan Kanae pakai di lantai. Sepasang besar, sepasang kecil.

“Silakan masuk. Aku akan panggilkan kepala penitipan ya.”

Ibu Kepala menyambut kami dengan senyum lebar.

Sambil menjelaskan, ia memperlihatkan ruangan yang ada satu per satu.

Anak-anak yang berpapasan di koridor memberi salam ‘selamat siang’ kepadaku. Aku terkagum dengan keramahan mereka yang memberi salam padaku, ibu ibu tak dikenal. Ingin juga rasanya disalami ‘assalamualaikum’ ramai-ramai begitu oleh anak-anak Indonesia.

Saat aku ditunjukkan ruangan usia 3-4 tahun, anak-anak sedang makan siang.

Meskipun begitu, mereka tidak berwajah sebal, dan mengajak Kanae bercakap.

“Siapa namanya?”

“Berapa umurnya?”

“Anak perempuan? Aku juga anak perempuan.”

Kanae menjawab pertanyaan itu, tersenyum malu-malu.

Anak-anak 13 orang, perawat 2 orang. Tidak berbeda dengan TK.

Tetapi apa ya… atmosfer kehangatan yang terasa ini?

Sebagian besar mereka makan sendiri dengan sumpit, tetapi seorang anak laki-laki disuapi oleh perawat. Tidak mungkin terjadi di TK.

Seorang anak perempuan sedang menebarkan kasur futon untuk tidur siang.

“Dia bilang perutnya sakit, sekarang mau tidur,” ibu perawat tertawa melaporkan.

“Wah wah! Lapor sendiri? Hi hi hi,” Ibu kepala tertawa. Beliau tahu anak itu tidak sakit serius dan hanya ingin tidur siang lebih dulu dari kawan-kawannya.

Fleksibilitas begini, aku suka.

Di ruang kantor, aku menerima formulir pendaftaran dari ibu kepala. Aku diberi tahu bahwa sebenarnya kalau ingin masuk sejak bulan Desember, hari terakhir pendaftaran yaitu tanggal 18. Hari itu tanggal 21, sudah terlewat. Oleh karena itu, aku sebaiknya segera pergi ke kantor pemerintahan kota. Sampaikan bahwa Taman Penitipan Tobu berniat menerima Kanae supaya cepat urusannya.

Keluar dari pintu depan penitipan itu, Kanae bertanya, “Kenapa pulang?”

“Nggak bisa langsung masuk,” jawabku. “Harus tanya Papa dulu.”

Kanae mengangguk. ###

3. Awalnya

Hari ini si bayi Masa demam. Terpaksa aku meliburkan kakaknya dari kegiatan di TK Matsumoto. Aku tidak bisa mengantarkan Kanae sambil mengajak Masa yang sakit. Setelah menelepon TK, aku memberitahukan kepada Kanae bahwa hari ini dia tidak perlu masuk.

Langsung deh Kanae melompat-lompat kegirangan.

“Hore! Hore!”

Mengernyitkan dahi, aku bertanya, “Eh… kok seneng banget… Memangnya Kanae nggak suka TK ya?”

“Kanae nggak suka TK,” jawabnya.

“Kenapa? TK kan senang. Ada Moe-chan.”

“Moe-chan bilang nggak mau main sama Kanae.”

Eh? Padahal waktu Moe-chan datang ke apartemen kami Sabtu kemarin, mereka terlihat bermain dengan akrab.

“TK membosankan,” katanya lagi.

Aku tidak menyangka dia masih berpendapat begitu. Soalnya belakangan ini Kanae terlihat menikmati kegiatan di TK. Setiap berangkat, dia sudah tidak malas-malasan lagi. Sesampai di depan kelasnya, dia juga langsung melupakan aku dan langsung mengobrol dengan Okubo Sensei, wali kelasnya. Teman-teman Kanae juga mengerumuni Kanae setiap pagi sekedar untuk bilang selamat pagi. Kegiatan bermain, prakarya, piknik, dan festival juga sering sekali. Kurang menyenangkan apa lagi?

“Kenapa? Kan ada Taichi-kun dan Yumeha-chan yang baik hati,” bujukku, berharap dia mengubah pendapatnya.

“Kanae lebih suka tempat penitipan,” tukasnya.

Kanae pernah dititipkan di penitipan anak khusus hari libur, di Kodomo Plaza, untuk satu hari Sabtu saja berhubung aku dan suami masing-masing ada urusan. Sudah lama sih tetapi ternyata dia masih ingat.

Mulailah Kanae berceloteh tentang hari itu. Katanya Kanae menangis sebentar karena ditinggal Papa. Tetapi langsung berhenti karena guru di penitipan membunyikan jam dinding yang mengalunkan musik. Teman-teman di penitipan semua baik dan mau bermain dengannya. Dia juga senang tidur siang dengan kasur lipat yang dibawa dari rumah.

“Hmm… kalau begitu berhenti saja dari TK?” tanyaku pada Kanae.

“Berhenti saja,” kata Kanae setuju. “Lebih baik masuk penitipan.”

“Eh…? Tapi nanti Kanae nggak bisa ketemu Okubo Sensei lagi lho.”

“Kanae tidak keberatan meskipun tidak bertemu Okubo Sensei,” jawab Kanae. Dengan kalimat bahasa Jepang yang lengkap dan tata bahasa bentuk sopan. Serius sekali.

“Tapi penitipan lebih lama daripada TK. TK tutup jam dua, sedangkan penitipan tutup setengah lima. Nanti Kanae sedih.”

“Nggak sedih. Nggak apa-apa kok,” jawabnya dengan nada yakin.

“Tapi nanti Kanae harus berhenti les berenang karena penitipan selesai jam setengah lima sore.”

“Kanae nggak apa-apa meskipun harus berhenti les berenang.” Terdengar sudah mantap niatnya.

“Tapi nanti Kanae nggak ketemu Kakak Pelatih Kuma lagi lho.”

“Nggak apa-apa.” Kanae tidak ragu-ragu.

“Bener nih mau berhenti les berenang?” tanya aku lagi. Bimbang karena dia tampak sangat senang berenang. Sejak saat dijemput dari TK pukul dua sampai pukul tiga, dia selalu mendesak-desak aku agar segera pergi memboncengnya ke Central Fitness.

“Berhenti,” tandasnya.

Segitu bencinya dengan TK?

Namun aku pikir, buat apa pergi sekolah di TK kalau dia sendiri tidak menikmati. Padahal bayar.

Ibarat makan soto, pasti maunya makan soto di restoran yang enak.

Buat apa memaksakan makan di restoran yang nggak enak, toh restoran masih banyak. Kalau nggak ada restoran soto yang sesuai cita rasanya, logikanya kita nggak akan makan soto yang nggak enak, mungkin beralih ke mi pangsit.

Dengan jalan pikiran itu, aku mencari penitipan anak terdekat. 720 meter dari apartemen ada Penitipan “Tobu”. Dengan sepeda mungkin sekitar lima menit.

Ibu kepala penitipan yang menjawab telepon mengatakan bahwa masih ada tempat kosong untuk menerima Kanae. Ia meminta aku pergi ke kantor pemerintahan kota untuk mendaftar lalu menunggu proses seleksi.

Dari blog search Google, aku mengetahui bahwa dengan Perjanjian Pribadi, Kanae bisa masuk penitipan meskipun aku tidak bekerja. Tetapi biaya penitipan menjadi tingkat termahal yang besarnya hampir dua kali lipat iuran bulanan TK.

Kalau Kanae jadi masuk penitipan, aku bisa lebih tenang mengerjakan terjemahan, yang merupakan pekerjaan sampinganku. Tetapi sayang juga les berenangnya. Lagipula bagaimana kalau ternyata dia tidak betah juga di penitipan?

“Mungkin di penitipan tidak ada tempat kosong ya, Mama?” tanya Kanae sebelum tidur. Kadang-kadang dia berbicara kemungkinan terburuk seperti itu. Entah belajar dari siapa.

“Nggak tahu kalau nggak tanya kantor pemerintahan kota,” jawabku.

Ia mengangguk puas dengan jawabanku.

Kanae terlelap sementara aku mengira-ira bagaimana reaksi suamiku nanti tentang hal ini saat ia kembali dari Indonesia pekan depan. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...