31. Ketika Adik Baru Lahir

Anak-anak yang lahir lebih dulu biasanya merasa ‘tersaingi’ ketika adik bayinya lahir. Oh ya, mereka memang merasa senang dan bangga menjadi kakak/abang, namun lambat laun mereka menyadari bahwa orang tuanya ‘diambil’,  waktu dan perhatian orang tua lebih tercurahkan pada si adik baru. Berbagi kasih orang tua untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang sulit bagi anak-anak. Anak-anak kemudian mulai merasakan cemburu, rasa tidak disayang oleh orang tua, merasa orang tua pilih kasih, dan bisa jadi anak lebih tua bertanya-tanya ‘bisakah adik baru pencuri orang tuaku ini dikembalikan saja ke rumah sakit?’

Berkurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya, membuat anak kehilangan ‘koneksi’ dengan orang tua. Anak merasa kedekatan dengan ayah dan ibunya merenggang, sehingga akibatnya dia mulai gelisah dan ‘bertingkah’, melakukan kenakalan demi kenakalan untuk menarik kembali perhatian orang tua yang hilang. Mungkin dia memukul adik bayinya, mungkin bertingkah jadi bayi kembali, mungkin jadi banyak menangis frustasi dan menjerit-jerit, dan sebagainya.

Masa transisi ini terasa sulit bagi orang tua, terutama ibu, yang secara fisik dan emosional sangat lelah karena baru saja melahirkan, seharian harus mengurus bayi baru, dan malam-malam kurang tidur karena harus menyusui. Menghadapi kelakuan si kakak/abang baru, ibu semakin mudah meledak, kehilangan kendali atas dirinya, serta tidak segan menghardik dan memukul anak.

Akibatnya si anak makin merasa ‘koneksi’ dengan ibu malah semakin renggang, dan dia akan malah semakin nakal untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, dan dia juga akan semakin sulit menyayangi adik baru.

Untuk menghadapi hal ini, ada tujuh hal yang harus dilakukan secara sadar oleh ayah dan ibu:

1.          Saat ini anak-anak yang lebih tua LEBIH PENTING daripada adik bayi yang sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur itu.
Anak-anak lebih tua bisa merasakan haus kasih sayang ibu dan itu menyiksa mereka, tetapi bayi tidak merasa iri atau pun sakit hati saat ibunya memeluk kakak/abangnya. Jadi: peluklah anak pertama dulu sebelum adik bayi. Atau jika ini tidak memungkinkan, peluk anak pertama segera setelah bayi tenang.

2.          Ayah atau ibu harus menyediakan WAKTU KHUSUS BERDUA saja dengan anak lebih tua, tanpa kehadiran adik bayi. Buat waktu dalam satu hari sebentar saja, mungkin hanya 10-30 menit, untuk melakukan kegiatan berdua saja dengan kakak/abang baru. Kegiatan apa saja. Mungkin belanja ke toko dekat rumah sebentar, bermain bersama, bercakap-cakap bersama, melihat-lihat album foto waktu dia kecil dan katakan,”Lihatlah kamu di foto ini. Kamu dulu juga kecil seperti adik bayi. Ibu bahagia waktu kamu lahir. Ibu merawatmu dan begitu menyayangimu. Sekarang kamu sudah begini besar, cakep, dan pintar.”

Jika, dan hanya jika si kakak merasa puas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tidak merasa terancam dengan kehadiran si adik, dia akan legowo, berlapang dada berbagi kasih orang tua dengan adik baru. Baru setelah dia merasa yakin disayangilah, dia akan bisa menyayangi adiknya.

3.          JANGAN pernah memarahi anak-anak yang lebih tua dengan mengatakan,”Kenapa kamu lakukan itu? Kamu kan sudah besar, sudah jadi kakak/abang.”
Anak-anak tidak langsung secara ajaib mampu bersikap ‘dewasa’ hanya karena adik barunya lahir. Jangan mengharapkan yang mustahil pada anak kecil umur 3 tahun meskipun dia sudah jadi kakak.Dia tetap kanak-kanak. Kalau orang tua terlalu sering memarahi si kakak dengan kata-kata seperti itu, dia akan benci perannya sebagai seorang kakak. Akhirnya dia akan menyimpan dendam kesumat terhadap si adik, yang mendorong ketidakakuran antara sesama saudara kandung, bisa jadi hingga dewasa.

4.          LIBATKAN kakak/abang baru dalam kegiatan merawat adik baru. Minta ia membawakan popok, memberikan bedak, dan lain-lain sesuai kemampuannya. Ucapkan terima kasih dan pujilah. Ajak ia bermain bersama adik barunya, dan ibu/ayah. Usahakan perbanyak pengalaman menyenangkan anak-anak lebih tua bersama-sama adik barunya.

5.          PUJILAH anak lebih tua dengan ucapan,”Kamu pandai sekali sudah bisa melakukan … Kamu memang kakak/abang yang hebat ya.” Dengan sering memuji seperti itu, usahakan agar anak lebih tua merasa bangga dan bahagia dengan kedudukan barunya.

6.          JANGAN pernah menolak merangkul/mencium atau dengan kata lain menahan ekspresi cinta kita kepada si kakak/abang baru dengan alasan ‘supaya tidak manja’. Percayalah, ini adalah kesalahan besar. Anak-anak yang tidak manja, anak-anak yang mandiri, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat jiwanya adalah anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua secara cukup bahkan berlimpah-limpah. Semakin ibu mengacuhkan anak, semakin anak haus kasih sayang, merasa tidak aman ( ‘insecure’), dan semakin dia menjadi manja.

7.          Setelah kelahiran bayi baru, ada ibu atau ayah yang tanpa mereka sadari mendadak menjadi ‘benci’ terhadap anak yang lebih tua. Mereka mendadak jadi lebih cepat marah, lebih cepat kehilangan kontrol atas emosi ketika dihadapkan pada kenakalan atau tangis frustrasi anak lebih tua. Bagi mereka, seolah-olah anak yang lebih tua menjadi tidak lucu lagi, tidak cantik lagi, tidak patut disayang lagi. Kenapa terjadi begitu aku tidak tahu. Barangkali ada kaitannya dengan perlakuan atau contoh orang tua dari orang tua (berarti generasi kakek nenek) di masa lalu. Jika ini terjadi, orang tua harus secara sadar mengendalikan diri. PAKSAKAN DIRI untuk memeluk dan mencium anak yang lebih tua sebanyak-banyaknya. Yakinkan diri bahwa perasaan benci tersebut hanyalah sementara. Harus hilang, dan pasti hilang. (Jika perasaan itu berlanjut barangkali Anda butuh berkonsultasi dengan terapis).

Tips di atas sudah dibuktikan keampuhannya dalam keluarga kami. Syukurlah anak-anak kami yang lebih tua tidak cemburu dengan adiknya yang baru lahir. Selamat mencoba. ###

30. Soal Tonjok-Menonjok di TK

Ceritanya ada seorang ibu muda yang sukses berkarier yang anak laki-lakinya berumur 5 tahun dan dimasukkan ke sebuah TK. TK-nya itu hanya tiga jam, kalau nggak salah. Singkat banget ya. Bandingkan dengan TK di Jepang yang setiap hari dari pukul sembilan pagi sampai dua siang, dan taman penitipan anak yang dari pukul sembilan pagi sampai empat sore.

Dengan waktu sekolah yang sangat singkat itu, eh anehnya si anak masih juga menolak berangkat. Setelah ditanya-tanya, ternyata si anak laki-laki ini mengaku pernah dipukul oleh teman sekelasnya, anak perempuan, yang terkenal nakal. Oh iya, tetapi tidak sering kok, sekali-sekali saja, menurut salah satu dari ketiga orang pembantunya.

Si ibu ini bingung harus bagaimana. Masa harus berhenti TK? Uang pangkalnya kemarin mahal buangettt. Lagian kan mau ngapain nih anak saya di rumah saja sementara saya bekerja? Ini anak kok jadi anak laki-laki kenapa kalah sama anak perempuan? Kalau ditonjok, balas tonjok dong! Begitu saja kok keok. Begitu saja kok jadi nggak mau sekolah. Nanti kamu ketinggalan lho! (Pikirku, ketinggalan apa ya?) Nanti kamu nggak ada yang mau ngasih gaji lho! (Pikirku, memangnya lulusan TK gajinya berapa sih?) Kamu Mama masukin bela diri aja ya? Belajar karate! Biar kuat! (Emangnya masuk karate itu terus langsung jadi kuat gitu?)

Pikir aku, seandainya si ibu ini mengalami hal yang sama, seandainya ada rekan sekantor si ibu yang menonjok dia sekali-sekali, apakah dia sendiri akan pergi belajar karate ya? Atau dia berhenti kerja dan mencari kerja di tempat lain? Sedangkan bagi si ibu sendiri yang usianya sudah tiga puluh tahun lewat, kalau ditonjok orang sekali saja pasti menjadi beban jiwa dalam waktu cukup lama, apalagi bagi anak usia sekecil itu yang masih labil dan percaya dirinya masih terbentuk, efeknya mungkin lebih menakutkan lagi.

Aku doakan semoga si ibu dan si anak menemukan solusi terbaik. Apalagi setelah aku lihat si anak bermasalah itu mulai memukul Masa, anakku yang masih berumur 2 tahun. Duh, tolong ya, jangan sering-sering datang lagi!###

29. Tidak Percaya Sekolah

Tidak Percaya Sekolah - Homeschooling IndonesiaBerikut 17 20 alasan mengapa aku tidak mau menyerahkan anak-anakku kepada lembaga pendidikan bernama sekolah formal:

1. Orang tua membayar guru untuk melakukan satu hal saja yaitu: menolong anak-anak belajar. Tetapi jika anak-anak tidak belajar, guru tidak mungkin mencoba cara-cara baru sampai ada satu cara yang berhasil membuat mereka semua paham. Guru akan terus melanjutkan pelajaran untuk mengejar target kurikulum dengan meninggalkan anak-anak  yang tetap tidak paham. Kegagalan sebenarnya ada pada sistem: satu orang dewasa mengajar banyak anak, tetapi kesalahan dilimpahkan pada anak-anak. Anak-anak ditempeli cap bodoh, pemalas, diberi ranking terendah, bahkan belakangan ada cerita tentang guru yang berani memberi label ADHD kepada anak-anak didiknya.

2. Kalau anak-anak menjadi pintar, sekolah yang berbangga diri dan dipuja-puja. Kalau anak-anak nilainya buruk, yang salah anak itu sendiri bahkan orang tuanya dinilai tidak becus membimbing anak belajar atau menjatuhkan tuduhan tentang kondisi keluarga yang tidak harmonis. Anak yang menyulitkan sekolah akan ditendang keluar. Sekolah tidak akan pernah mau bertanggung jawab atau pun mengakui bahwa telah gagal mendidik anak.

3. Anak-anak yang paling membutuhkan bimbingan malah dihukum dengan nilai buruk, disetrap, ranking rendah, dan dihancurkan kepercayaan dirinya. Tidak manusiawi.

4. Sekolah boleh-boleh saja menjalankan hukuman keras, kekerasan fisik, atau pun tekanan mental kepada anak-anak didiknya atas pelanggaran minor, dan anak-anak tidak diberi kesempatan diadili secara proporsional. Orang tua lebih sering tidak diberi tahu sekolah soal insiden yang melibatkan anaknya.

5. Guru boleh-boleh saja menurunkan nilai rata-rata ujian anak ataupun memberikan nilai di bawah lima kepada anak-anak yang dianggapnya tidak menurut atau sering membolos. Bahkan guru tidak malu-malu mengancam murid-muridnya soal hal ini meskipun tindakan itu merupakan pemalsuan data prestasi akademik, dan berarti guru-guru ini berdusta. Guru seperti ini terutama guru untuk mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dan Agama yang menentukan kenaikan kelas atau kelulusan.

6. Atmosfer sekolah bersifat destruktif terhadap orientasi dan nilai-nilai agama Islam.

Jika sekolah menentukan seragam olahraga adalah celana pendek, tidak ada yang bisa menentang. Jam pelajaran agama Islam, guru agama menyuruh memakai kerudung. Tetapi saat pelajaran olahraga, siswi-siswi pakai celana pendek dan pameran paha. Absurd.

Pacaran tidak ada dan dihindari dalam ajaran Islam, namun kebanyakan siswa-siswi sekolah sudah mengenal cinta-cintaan dengan lawan jenis sejak usia sangat dini.

Belum lagi peredaran obat terlarang, pornografi, dan rokok di sekolah.

Siswi-siswi wajib berenang kalau tidak mau nilai olahraganya dikurangi, tidak perduli meskipun mereka pakai jilbab.

Falsafah sekolah adalah: peraturan sekolah harus diutamakan, peraturan Tuhan bisa diatur sesuai sikon, kehidupan beragama dipisahkan dari kehidupan sekular. Mungkin ini sebabnya di negara yang beragama ini banyak pejabat yang ibadahnya rajin, tetapi korupsi jalan terus.

7. Kecepatan pelajaran di kelas sering kali tidak sesuai dengan kecepatan individu setiap anak. Anak-anak berbakat yang jauh lebih maju  dari teman-teman sekelasnya dipaksa mengerjakan tugas-tugas yang ditetapkan guru. Anak yang sudah bisa membaca harus tetap  mengeja huruf. Anak yang sudah lancar menulis harus tetap menulis satu kalimat yang sama 100 kali meskipun dia ingin mengarang cerita. Kalau si anak menolak, dia dianggap membangkang guru. Sangat jarang anak-anak seperti ini boleh lompat kelas. Akibatnya mereka jenuh, tugas sekolah menjadi siksaan sekaligus penghinaan terhadap harga diri mereka.

Sementara anak-anak yang lambat seringkali ditinggal begitu saja. Seorang guru dengan blak-blakan mengatakan,”Dengan jumlah murid  yang banyak, guru tidak pasang target semua murid harus bisa.” Horor.

8. Percobaan sains di laboratorium yang dilengkapi peralatan ekstensif hanyalah pengulangan rutin dari pengetahuan pakem yang sudah jamak diketahui. Hasil percobaan yang ‘salah’ tidak dihargai. Anak-anak sekolah dengan jas lab yang keren itu tidak akan pernah diizinkan melakukan percobaan sains  yang benar-benar eksperimental. Sayangnya anak-anak itu sudah diperbodoh sedemikian rupa sehingga tidak terpikirkan atau tidak berani protes.

9. Para siswa sekolah swasta dengan perpustakaan super lengkap ternyata tidak mempunyai waktu untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan. Terlalu banyak tugas sekolah, terlalu banyak ujian, terlalu banyak buku teks yang harus dibaca, tidak sempat lagi untuk membaca buku-buku lain. Jadi buat apa perpustakaan dengan rak-rak buku menjulang itu? Cuma polesan pemanis agar orang tua murid bersedia membayar SPP lebih mahal.

10. Sekolah membuat anak-anak berpikir bahwa hanya ada satu cara melihat masalah, hanya ada satu jawaban terhadap pertanyaan,  tidak boleh mempertanyakan atau pun menggugat segala hal yang ditetapkan oleh otoritas atau pakar atau kunci jawaban. Apa yang  tertulis di kunci jawaban itulah yang benar, tidak peduli kenyataan bilang apa, tidak peduli akal dan nalar bilang apa.

11. Sekolah mempunyai standar tersendiri tentang apa yang dihargai dan apa yang tidak, dan anak-anak harus menurut. Juara Olimpiade  Fisika, dihargai. Juara menulis, tidak terlalu. Anak-anak jadi sibuk berpikir apa yang menyenangkan guru-guru, bukan  dahaganya sendiri akan ilmu pengetahuan. Singkatnya, sekolah hanya mau menumbuhkan minat, kreativitas, daya pikir, dan potensi anak-anak yang sesuai dengan visi sekolah. Berapa banyak anak-anak yang bakatnya dimandulkan oleh sekolah karena sekolah tidak bisa menghargai bakat mereka? Mereka dipaksa belajar hal-hal trivial, tidak bermakna dalam kehidupan keseharian mereka, hanya demi nilai rapor dan penghargaan guru.

12. Kurikulum sekolah adalah tetap, tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh disesuaikan dengan minat masing-masing anak.

Kurikulum yang saklek ini menjelaskan kenapa kebanyakan guru marah-marah jika murid bertanya. Murid-murid tidak perlu  bertanya karena guru sudah tahu arah kurikulum. Pertanyaan dari murid tidak disambut baik sebab mengganggu kelancaran  jalannya pelajaran saja.

Sering kali kita mendengar cerita orang tua yang bangga karena anaknya kritis dan banyak bertanya. Pasti anak jenius, kata orang tuanya, tetapi setelah si anak dimasukkan sekolah, anak itu dianggap bodoh oleh gurunya karena ya itu… dia banyak bertanya. Pantas saja jenius macam Edison dan Einstein tidak bertahan di sekolah.

13. Sekolah bukan tanpa pengaruh buruk pada kejiwaan. Orang-orang yang lulus dari sekolah, baik ranking atau pun tidak, memiliki perasaan rendah diri, merasa bodoh tetapi berpura-pura pintar, merasa was-was yang tidak dapat dijelaskan, depresi tanpa sebab, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, rentan terhadap peer pressure (tekanan pergaulan), kecanduan pada belanja dan kepemilikan barang.

Pada masa-masa bertumbuh yang penting, anak-anak telah diekspos pada rasa takut yang sedemikian besar di sekolah. Takut hukuman guru, takut nilai jelek, takut kalau ranking jelek akan jadi orang tidak berguna, takut, takut… Selama masa itu anak-anak tidak boleh banyak berbicara, diajari bahwa yang penting adalah maunya sekolah, sedangkan yang penting dan nyata bagi mereka adalah hal-hal bodoh yang tidak begitu penting. Anak-anak dikungkung dalam tembok sekolah, hanya boleh bergaul dengan orang-orang seumur yang sama-sama bego, sama-sama tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi yang baik, sama-sama tidak tahu dunia luar.

14. Sekolah memisahkan teori dari konteks, meramu ilmu secara sedemikian rupa sehingga menjadi amat sangat membosankan.

Sejarah menjadi hapalan kering tahun-tahun peperangan, matematika menjadi operasi angka-angka tidak bermakna, fisika menjadi hapalan rumus-rumus entah dari mana datangnya. Betapa banyak anak-anak yang jadi alergi matematika, fisika, sejarah, geografi gara-gara sekolah.

15. Sekolah menekankan pada hapalan, bukan pengertian utuh. Anak-anak yang mendapat nilai bagus di sekolah adalah anak-anak yang mahir menelan bulat-bulat hapalan, lalu mengeluarkannya tanpa ditelaah lagi saat ulangan. Tidak seperti disangka banyak orang, sekolah tidak berani kok mengajarkan logika kepada murid-muridnya.

Sekolah bukan tempat menjadi pintar melainkan tempat menjadi penurut. Kalau murid-murid sungguh-sungguh pintar, pasti susah diatur, banyak protes, guru-guru kalah ilmu, dan jangan-jangan murid-murid minta homeschooling semua.

16. Ada guru-guru sekolah yang paling takut apabila murid-murid lebih pintar dari mereka, dan mereka berupaya dengan segala cara untuk menunjukkan bahwa murid-murid lebih bodoh, baik dengan pe-er yang luar biasa sulit, mengeluarkan soal ujian yang tidak pernah diajarkan, maupun standar nilai yang tidak jelas dan sulit mencapai nilai tinggi. (Sebaliknya, orang tua yang menjalankan homeschooling bersyukur ketika anak-anak menjadi lebih pintar.)

[Disunting sesuai petunjuk Pak Kreshna:]

17. Ujian Nasional yang malah jadi petaka pendidikan nasional.

18. Bullying (kekerasan fisik dan atau psikis sesama anak) di sekolah.

*************************************************************

[Disunting sesuai komentar Bunda Ameilia]

19. Budaya contek-mencontek di sekolah. Silakan lihat komentar di bawah.

*************************************************************

20. Sering aku bertanya-tanya, kenapa dulu di sekolah “ini” tidak diajarkan? Bagi aku, “ini” adalah teori kepemimpinan, pengelolaan uang, manajemen waktu, cara negosiasi, dan cara berpikir kritis, yang kalau aku pikir sekarang sebenarnya pengetahuan dasar.

Pertanyaan itu sendiri cukup mengguncangkan aku, jangan-jangan sekolah bukan tempat ideal menghabiskan masa kecil.

Betul kata John Holt (bapak gerakan homeschooling), kebanyakan pelajaran yang diajarkan sekolah tidak dapat aku ingat, dan dari sedikit yang aku ingat ternyata tidak banyak berguna.

Aku yakin hanya lingkungan alami, yakni keluarga, orang-orang terdekat, dan kehidupan nyata yang bisa mengajarkan hal-hal penting untuk masa depan anak, bukan lingkungan artifisial bernama sekolah formal. Dari situ aku mulai berpikir, homeschooling, mengapa tidak?

###

28. Tentang Menjadi Berbeda

Kemarin sore seorang kenalanku datang ke rumah. Ceritanya aku bertengkar dengan suamiku, dan sebagai kawan yang baik dia datang jauh-jauh bermobil dari luar kota mengunjungi aku untuk mendamaikan.

Aku bilang:

Suami mau anak kami sekolah. Aku mau dia homeschooling di rumah.

(Ceritanya lupa kawan ini bangga kedua anaknya sudah sekolah sejak usia 2 tahun karena dia bekerja).

Dia bilang:

Kalau sekolah, anak jadi nggak nakal lagi. Jadi patuh. Bagus lho sekolah itu. Kita jadi terbantu. Tinggal ngurusin hubungan anak dan ibu saja, nggak perlu ngajarin apa-apa lagi. Aku rasa kalau kita ngajarin sendiri, anak itu jadi main-main aja, nggak nurut. Kalau sama guru dia kok jadi baik, mau ngikutin pelajaran.

Aku bilang:

Malah itu yang aku nggak mau. Berarti kan di sekolah belajarnya karena takut sama guru. Sekolah itu mendorong kepatuhan total, konformitas penuh, yang nggak mempertanyakan otoritas. Dia jadi terkekang, dicegah mengekspresikan diri sepenuhnya. Dicegah menemukan minat dan kemampuan unik dia sendiri, dan akhirnya menghambat dari menemukan jati diri dan kebahagiaan diri sendiri.

Ngaruh ya, argumentasi aku? Nggak. Cuma aku sendiri yang jadi sadar kalau aku berbeda dengan dia.

Lanjut.

Aku bilang:

Mertua pengen pamer kalau aku kerja. Dibilangin begitu sama orang tuanya, suamiku jadi malu istrinya nggak kerja. Padahal dulu dia nggak keberatan aku mau kerja apa nggak. Terserah aku. Ya nggak pa-pa sih mertuaku mau bilang apaan juga. Bodo amat, orang lain ini. Tapi masa suami sendiri menilaiku dari kerja nggak kerja sih?

Ya udah, cari aja istri lain sana.

Aku nggak mau ya kerja di luar, kasihan anakku diasuh pembantu.

(Ceritanya saking kepengen curhat, aku betul-betul lupa kalau si kawan ini bangga sebagai wanita karier dan anak-anaknya memang diasuh pembantu).

Kawan ini bilang:

Nggak jelek lho anak sama pembantu. Kan yang memenej tetap kita sebagai ibunya. Kita tetap yang ngatur makannya, bajunya, pendidikannya. Bukan berarti kita lepas tangan meskipun ada pembantu.

Aku pikir, ups, salah ngomong deh.

Ah, ya sudahlah.

Hari itu aku belajar keterampilan sosialisasi yang baru. Memvalidasi perasaan dan pendapat orang lain meskipun kebijakan dia sebagai ibu jauh berbeda dengan aku.

Aku bisa tersenyum dan bilang,”Oh ya, begitu ya”, meskipun aku sendiri tidak sampai hati melakukan hal yang sama pada anak-anakku sendiri. Mungkin itu yang terbaik untuk dia dan keluarganya, aku juga tidak tahu toh? Aku ya jalan terus melakukan apa yang aku yakini, tidak perlu terombang-ambing dengan kata teman, kata tetangga, atau kata mertua. Aku merasa geli sendiri kalau ingat tujuan awal pertemuan, sebenarnya kawanku ini ingin menghiburku tetapi akhirnya malah aku yang berhati-hati menjaga perasaan dia.

Yah, sudahlah. Bukankah dunia ini seru, heboh, dan asyik karena kita semua menjalani hidup sesuai keinginan dan kondisi masing-masing tanpa keterpaksaan, dan tanpa kebutuhan memaksakan cara hidup kita terhadap orang lain? Aku tidak serta merta memutuskan hubungan pertemanan hanya karena dia tidak melakukan apa yang aku lakukan. Itu mah mentalitas anak sekolah. ###

27. Nilai Rapor

(Dari sebuah cerita yang sudah terlupakan sumbernya…)

Alkisah, untuk suatu mata pelajaran, seorang murid mendapatkan nilai 2 untuk ujian pertama, nilai 6 untuk ujian kedua, dan nilai 10 untuk ujian ketiga. Berapakah nilai rapor si murid untuk pelajaran tersebut?

Guru biasa akan menambahkan ketiga nilai ujian, mengambil rata-rata, dan memberikan angka 6.

Guru yang arif akan memberikan nilai 10. Mengapa begitu? Karena pada akhirnya murid itu telah menguasai seluruh pelajarannya.

Sungguh mengherankan bahwa sistem persekolahan tidak memungkinkan guru yang paling berdedikasi sekali pun untuk memilih tindakan yang arif.

Tidak masalah untuk homeschooling. Orang tua homeschooling bisa selalu memastikan anak didiknya menguasai seluruh pelajarannya dan mendapatkan nilai akhir sepuluh.###

26. Soal Kerja dan ‘Di Rumah Saja’

Sejak kelahiran Nao, alhamdulillah, kami kedatangan banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat. Pada kesempatan yang penuh syukur itu, aku selalu merasa aneh setiap mendengar saran: “Sudah ya, punya anaknya distop saja. Sudah tiga, sudah banyak. Repot.”

Aduh, coba lihat dong wajah Nao yang baru lahir. Kalau jadinya lucu seperti ini, punya satu dua lagi aku tidak akan merasa rugi. Meskipun aku dan suami pasti tidak akan memenangkan Best Couple of The Year (sedang perang dingin berkepanjangan), kombinasi DNA kami membuat anak-anak yang cakep-cakep.

Tambahan, coba bayangkan jaminan suplai cinta dunia akhirat selama-lamanya untuk kami sebagai orang tua dari anak-anak yang hal ini sudah dapat dipastikan, otomatis hanya dengan kelahiran mereka melalui rahimku. Anak-anak akan selalu mencintai kami, memaafkan kami, melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kami, mendoakan kami setelah kami meninggal, di akhirat menebus kami dari api neraka, dan mengajak kami bersama-sama masuk surga. Insyaa Allah punya anak lebih banyak, lebih baik.

“Punya anak = repot” cuma sebuah kondisi pikiran. Pikiran yang menyakiti diri sendiri. Aku tidak bilang itu pikiran yang salah, bisa salah bisa benar tergantung yang bersangkutan. Kalau dia merasa repot, ya betul juga jadi repot, dan mungkin jadi kapok punya anak, bahkan menyarankan orang lain jangan punya anak banyak-banyak. Kalau merasa tidak repot, ya biar pekerjaan rumah jadi bertambah, dia tetap merasa lebih berbahagia dengan anak lebih dari satu. Hukum daya tarik. Law of attraction.

Ada orang menyarankan stop punya anak sedangkan kalau ada yang tanya aku, aku akan bilang senang sekali lho punya anak banyak. Kondisiku dan orang itu berbeda. Aku ibu rumah tangga tanpa kegiatan cari makan di luar, dan mereka wanita karir yang rata-rata gajinya malah lebih besar dari suami masing-masing. Punya anak lagi bagi mereka berarti harus menambah jumlah pembantu/nanny di rumah, kemudian bertambahlah pengeluaran untuk menggaji pembantu, susu formula, dan popok kertas, serta biaya pendidikan formal yang semakin mahal sebab sebagai wanita karir yang sibuk di luar mereka tidak terpikir untuk meng-homeschooling-kan anak-anak. Aiyaa… pusing!

Mungkin juga itu karena generasiku termasuk generasi yang besar dengan menonton film boneka si Unyil. Aku ingat betapa nggak enaknya jadi si Usro yang adik-adiknya banyak membuat dia harus selalu menjaga mereka dan tidak bisa bermain bersama teman-teman. Makanya, sukseskan program KB dong!

“Ya ya ya…” Ingat kan iklan layanan masyarakat itu? Kalau tidak pernah mempertanyakan, ya akhirnya orang terima saja pendapat yang sudah diindoktrinisasi seperti itu, punya anak banyak repot. Padahal kalau dipikir, kenapa juga kok adik-adik si Usro nggak bisa diajak bermain bersama. Mungkin karena budaya sekolah yang begitu kuat bahwa bermain itu harus eksklusif dengan teman sebaya saja membuat aku tidak mempertanyakannya.

Kenyataannya wanita karir lebih punya prestise yang lebih besar di mata masyarakat daripada para ibu tradisional ketinggalan zaman yang di rumah saja. Bahkan menurut kenalan-kenalanku yang gajinya besar-besar itu sih, mertua mereka tidak berani macam-macam mengusik kenyamanan mereka dibandingkan kalau mereka jadi ibu rumah tangga saja.

Kebanggaan diri telah menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi ekonomi dan pembangunan nasional tersebut membuat  mereka heran mengapa aku tidak mengoptimalkan potensiku mencari nafkah. Kan aku punya ijazah S1 dari luar negeri, bisa bahasa Jepang, kalau kerja rupiahnya pasti gede, lumayan buat berbelanja keperluan sendiri, bisa mandiri, daripada menunggu suami membelikan baju.

Sejak aku kecil pun ibuku mewanti-wanti aku agar jangan jadi seperti dia. Ibuku dulu pernah merintis karir sebagai perawat yang kemudian terputus karena dia memilih menikah dengan ayahku, jenis pria yang orang Jepang bilang ‘teishu kanpaku‘ (male chauvinist: pria yang bersikeras istri harus di rumah saja tidak boleh bekerja, melayani keperluan keluarga saja).

Kata ibuku, “Coba dulu Mama terus jadi perawat, sekarang pasti sudah jadi kepala perawat seperti teman Mama si A, hidupnya enak, gajinya besar.”

Bahkan saat kenalan-kenalanku yang bekerja datang ke rumah suamiku, ibu masih senang berkata,”Memang beda ya kalau wanita bekerja dengan yang di rumah saja. Yang biasa bicara di luar dengan orang banyak lebih percaya diri, lebih keren kelihatannya.”

Ya ampun, Ma, you speak for yourself. I’m contented and confident being me.

Begitulah sekedar ilustrasi bahwa aku besar dengan dibuat merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga itu pilihan terpaksa, pilihan wanita kelas dua, siapa pun juga bisa jadi ibu rumah tangga saja. Oh, feminis sekali, sangat bersifat ‘pembebasan wanita’ kan? Aku ingat pernah mengirimkan surat elektronik kepada seorang kawan, isinya: jangan sampai deh aku jadi ibu rumah tangga saja, nanti aku jadi tua, aku kaget karena hidupku sudah kuhabiskan untuk membesarkan anak-anak saja.

Aku juga ingat bapak dosen Sejarah Politik Cina mengatakan: jangan sampai ada yang mau jadi ibu rumah tangga saja tanpa berkarir, dan saat itu aku mengamininya. Aku sudah lupa sama sekali materi kuliahnya tentang Cina tetapi aku ingat wejangan dosen yang tidak penting itu.

Yang mengubah pandangan aku untuk berganti haluan menjadi: sebisa mungkin aku ingin jadi ibu rumah tangga saja, adalah kelahiran Kanae lima tahun lalu. Waktu aku tahu aku hamil, enam bulan setelah pernikahan, aku shock. Aku pikir: kecelakaan nih. Sekarang aku jadi nggak bisa cari kerja deh, mana ada yang mau menerima aku yang sedang hamil, baru kerja sebentar lalu harus cuti hamil.

Tetapi begitu Kanae lahir… Wah dia begitu cantik. Aku jatuh cinta. Aku tidak mau lagi meninggalkan dia untuk bekerja di luar. Waktu bersama anakku untuk tumbuh bersama-sama terasa lebih berharga daripada uang tidak seberapa yang mampu aku hasilkan. Waktu itu, kalaupun aku pilih bekerja paruh waktu siaran di radio, aku cuma mau masuk kerja saat suamiku bisa menjaga Kanae yang masih bayi. Aku mengatur pekerjaan di sekeliling prioritas mengurus anak, bukan pekerjaan yang mengaturkan waktuku untuk anak. Aku merasa bebas mandiri dan belum pernah sebahagia itu.

Memiliki Kanae juga memperluas pergaulanku dengan ibu-ibu Jepang di perpustakaan, jidoukan (gedung arena bermain yang dikelola pemerintah), posyandu, dan tempat-tempat lain berkumpulnya ibu-ibu yang punya anak. Aku lihat mereka menikmati hidup dan peran sebagai ibu rumah tangga saja. Dibilang ibu rumah tangga pun mereka tidak ngendon di rumah saja setiap hari. Mereka ikut perkumpulan hobi, kursus-kursus, berjualan di flea market dan Yahoo! Auction, ikut kegiatan untuk ortu yang diadakan pemerintah, ikut kegiatan relawan di mana-mana, kegiatan PTA (Parent-Teacher Association). Benar-benar padat dan menyenangkan. Kebanyakan ibu-ibu Jepang itu lulusan universitas, pernah bekerja beberapa tahun, lalu pilih berhenti kerja setelah menikah daripada terus jadi OL (office lady, wanita kantoran) yang kalau diteruskan pun ujungnya tidak tahu mau menjadi apa. Sementara kewajiban di rumah sudah nyata.

Kenalanku ada yang cerita dia pernah ambil cuti setahun dari pekerjaannya untuk melahirkan dan mengurus bayi. Hasilnya dia stres. Katanya bingung, tidak punya kesibukan.

Aku jadi pengen menyela, mengurus bayi apa bukan kesibukan ya, tetapi tidak jadi, takut dijitak. Mungkin juga sih dia serahkan kesibukan itu pada pengasuh anaknya yang berseragam merah muda seperti suster itu. Mungkin ya, kalau seumur-umur diperintah-perintah oleh orang, baik itu ortu, guru sekolah maupun atasan, ketika dia jadi orang bebas malah jenuh dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dengan waktunya. Dia bingung tidak ada lagi yang memuji-muji prestasinya. Sebaliknya aku benci sekali disuruh-suruh orang. Selama suamiku bertanggung jawab dan memberi uang belanja, aku lebih pilih di rumah.

Kata sang “kenalan”, kok mau jadi ibu rumah tangga saja, tidak ada kebebasan, terkekang oleh tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting, yang bisa didelegasikan pada pembantu.

Tersenyum saja aku. Mau mengemukakan pikiran jujur secara lisan, tidak berani. Untung ya punya blog. Bisa nulis-nulis semaunya.

Duh, Kenalan, aneh sekali dirimu. Memenuhi kebutuhan anak-anakmu kau bilang terkekang, sedangkan memenuhi kebutuhan klien dan bosmu kau bilang kebebasan.

Apakah sama rasa disayangnya, anak yang dimandikan Mama, dengan dimandikan pembantu? Disuapi Mama, dengan disuapi si Bibik, apakah sama? Tidak betul kalau kita selalu menilai suatu pekerjaan dengan uang.

Meskipun suamiku digaji besar untuk melakukan pekerjaannya di kantor, tidak berarti pekerjaan suamiku lebih penting daripada pekerjaanku mengurus anak-anak di rumah. Suami membawa pulang gaji yang diperoleh dari kerja dia di kantor dan kerjaku di rumah. Rezeki yang suamiku terima itu merupakan rezeki aku dan anak-anak juga. Kalau suami tidak memberikan bagian rezeki yang merupakan milikku dengan alasan aku tidak berkontribusi, berarti suamiku perlu diguncang keras-keras biar sadar. Alhamdulillah, suamiku tidak begitu.

Pokoknya, ya, kesimpulannya, bagi keluargaku, ya aku di rumah saja yang terbaik, dan aku ingin punya banyak anak. Bagi keluarga orang lain, ya pilihan bekerja yang terbaik, dan mungkin memang lebih baik anak mereka cuma seorang dua orang.

Siapa yang paling tepat? Tidak ada yang salah kok, dan tidak ada satu-satunya pilihan yang paling benar. Perbedaan adalah rahmat, ya toh? Tidak perlu mengasihani pilihan hidup orang lain, bukankah tiap kita ada sikon sendiri-sendiri. Aku tidak terperangkap menjadi ibu rumah tangga, aku rasa kenalan-kenalanku yang keren-keren itu juga sukarela dan tidak terpaksa untuk banting tulang di luar rumah.

Seperti aku berbahagia dengan pilihanku, aku harap mereka juga demikian adanya. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...