Beberapa hari terakhir, ada banyak sekali berita tentang homeschooling di Kompas. Senang ya, soalnya pemberitaannya positif dan menjadikan praktisi langsung sebagai sumbernya. Terima kasih keluarga Mbak Mella dan keluarga Mbak Lala Sumardiono dan semua pihak yang sudah memberikan pencerahan. Terima kasih wartawan Kompas.
1.”Homeschooling” Tak Seharusnya Diinstitusikan
Sementara itu, praktisi homeschooling, Mella Fitriansyah mengatakan, anggapan bahwa homeschooling mahal karena adanya pihak-pihak yang kemudian menyediakan tenaga pengajar untuk diundang ke rumah dan dengan kurikulum yang harus dibayar mahal. Padahal, menurut dia, esensi dari homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga.
“Kalau bisa dibilang, bimbel (bimbingan belajar) tapi menamakan diri sebagai homeschooling. Ini mengubah esensi homeschooling, yang seharusnya ditangani oleh keluarga yang lebih mengetahui pembelajaran bagi anaknya,” kata Mella, kepada Kompas.com, Kamis (11/8/2011).
Baca selengkapnya di sini.
2. Mendiknas: “Homeschooling” Itu Lebih Baik
Menteri Pendidikan bilang homeschooling itu legal. “..para orangtua yang menerapkan homeschooling kepada anak-anaknya tidak perlu khawatir. Anak-anak homeschooling dapat menggunakan jalur ujian Paket A, B dan Paket C untuk memeroleh ijazah guna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selengkapnya baca di sini.
3. Benarkah Anak HS Tak Bisa Bersosialisasi?
“Anak-anak homeschooling justru tidak mempunyai hambatan sosialisasi, karena dia biasa bertemu siapa saja. Tidak hanya teman sebayanya. Kami mengajak anak kami ke mana saja, bertemu apa saja, untuk belajar apa saja,” papar Mella.
Selengkapnya baca di sini.
4. Homeschooling, karena Keluarga Pusat “Tata Surya”
“Saat ini, kebanyakan keluarga masih menjadikan pekerjaan sebagai pusat ‘tata surya’nya. Ibaratnya, kita sudah dikasih batu atau kayu oleh Allah, dan diminta mengukirnya. Tetapi, kemudian kita menyerahkannya ke orang lain atau lembaga lain untuk mengukirnya.” Selengkapnya baca di sini.
5. Tips Sukses “Homeschooling”
Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak, bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani.
Kata-kata di atas menjadi “penyapa”, saat Anda berkunjung ke situs web www.rumahinspirasi.com. Website ini digagas oleh Sumardiono (Aar) dan istrinya, Mira Julia (Lala). Mereka menerapkan homeschooling bagi ketiga anaknya, Yudhis (10), Tata (6), dan Duta (3). Di situs web itulah, Aar dan Lala menuangkan berbagai aktivitas belajar ketiga buah hatinya.
Selengkapnya baca di sini.
Sepertinya masih ada beberapa lagi artikel homeschooling di situs Kompas tersebut. Mungkin ada baiknya di-print out dan diarsipkan dengan rapi, supaya kapan saja bisa ditunjukkan pada pengkritik ;P
Berikut ini adalah informasi dari Bu Guru Ameliasari di Salatiga mengenai pengurusan ijazah kesetaraan atau ijazah Paket yang dimanfaatkan oleh praktisi homeschooling yang membutuhkan ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dan sebagainya.
Rabu siang, Masa (4) menangis kesakitan dan minta diantar ke dokter gigi. Klinik dokter gigi terlalu jauh untuk dicapai berjalan kaki, tetapi terlalu dekat jika naik taksi sehingga supir taksi tidak mau menjemput. Satu-satunya cara kami keluar dari kompleks perumahan ini adalah diantar dengan mobil oleh suamiku. Jadi aku SMS dia, supaya mengantar Masa ke dokter gigi sepulang kerja, dan dia balas “ya”. Tunggu punya tunggu, suamiku tidak pulang jam 7 seperti yang kuharapkan, tetapi dia pulang jam 9 malam. Tentu saja dokter gigi sudah tutup. Ternyata dia lupa janjinya, dan malah pergi main badminton dengan teman-temannya seperti biasa.
Jawa Pos, For Her, Kamis 19 Mei 2011