Berita-berita Homeschooling di Kompas

Beberapa hari terakhir, ada banyak sekali berita tentang homeschooling di Kompas. Senang ya, soalnya pemberitaannya positif dan menjadikan praktisi langsung sebagai sumbernya. Terima kasih keluarga Mbak Mella dan keluarga Mbak Lala Sumardiono dan semua pihak yang sudah memberikan pencerahan. Terima kasih wartawan Kompas. :)

1.”Homeschooling” Tak Seharusnya Diinstitusikan

Indra Akuntono | Inggried | Jumat, 12 Agustus 2011 | 10:57 WIB

Sementara itu, praktisi homeschooling, Mella Fitriansyah mengatakan, anggapan bahwa homeschooling mahal karena adanya pihak-pihak yang kemudian menyediakan tenaga pengajar untuk diundang ke rumah dan dengan kurikulum yang harus dibayar mahal. Padahal, menurut dia, esensi dari homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga.

“Kalau bisa dibilang, bimbel (bimbingan belajar) tapi menamakan diri sebagai homeschooling. Ini mengubah esensi homeschooling, yang seharusnya ditangani oleh keluarga yang lebih mengetahui pembelajaran bagi anaknya,” kata Mella, kepada Kompas.com, Kamis (11/8/2011).

Baca selengkapnya di sini.

2. Mendiknas: “Homeschooling” Itu Lebih Baik

Menteri Pendidikan bilang homeschooling itu legal. “..para orangtua yang menerapkan homeschooling kepada anak-anaknya tidak perlu khawatir. Anak-anak homeschooling dapat menggunakan jalur ujian Paket A, B dan Paket C untuk memeroleh ijazah guna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selengkapnya baca di sini.

3. Benarkah Anak HS Tak Bisa Bersosialisasi?

“Anak-anak homeschooling justru tidak mempunyai hambatan sosialisasi, karena dia biasa bertemu siapa saja. Tidak hanya teman sebayanya. Kami mengajak anak kami ke mana saja, bertemu apa saja, untuk belajar apa saja,” papar Mella.
Selengkapnya baca di sini.

4. Homeschooling, karena Keluarga Pusat “Tata Surya”

“Saat ini, kebanyakan keluarga masih menjadikan pekerjaan sebagai pusat ‘tata surya’nya. Ibaratnya, kita sudah dikasih batu atau kayu oleh Allah, dan diminta mengukirnya. Tetapi, kemudian kita menyerahkannya ke orang lain atau lembaga lain untuk mengukirnya.” Selengkapnya baca di sini.

5. Tips Sukses “Homeschooling”

Lidya Natasha Hadiwinata | Inggried | Rabu, 10 Agustus 2011 | 12:10 WIB

Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak, bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani.

Kata-kata di atas menjadi “penyapa”, saat Anda berkunjung ke situs web www.rumahinspirasi.com. Website ini digagas oleh Sumardiono (Aar) dan istrinya, Mira Julia (Lala). Mereka menerapkan homeschooling bagi ketiga anaknya, Yudhis (10), Tata (6), dan Duta (3). Di situs web itulah, Aar dan Lala menuangkan berbagai aktivitas belajar ketiga buah hatinya.
Selengkapnya baca di sini.

Sepertinya masih ada beberapa lagi artikel homeschooling di situs Kompas tersebut. Mungkin ada baiknya di-print out dan diarsipkan dengan rapi, supaya kapan saja bisa ditunjukkan pada pengkritik ;P

Selamat Anak-anak Homeschooling yang Lulus SNMPTN 2011

Dari status Facebook Bu Yayah Komariah (Komunitas Berkemas), blog Mbak Ary, Mbak Moi, Mbak Raken, dan Pak Aar, aku membaca berita bahwa sembilan anak homeschooling diterima di perguruan tinggi negeri. Hebat ya! Tuh kan, homeschooling bisa juga diterima kuliah lho dengan ijazah Paket C. Selamat ya!

Anak-anak homeschooling tersebut antara lain diterima di Universitas Negeri Padang, Universitas Indonesia, dan Universitas Brawijaya Malang.

Jadi tidak masalah kalau homeschooling ingin meneruskan kuliah. Yang penting lulus ujian dan mampu bayar kuliah. ;)

Semoga menjadi penyemangat keluarga homeschooling yang ingin mengikuti jejak para senior… Semangat, keluarga homeschooling Indonesia!

Foto: Vibragiel

Video YouTube: Antara Propaganda dan Realita Homeschooling (di AS)

Praktisi homeschooling membutuhkan “…pengawasan yang lebih besar, standar yang lebih baik, bukti kemajuan yang lebih valid.”

“…praktisi homeschooling terlalu banyak memiliki kebebasan.”

“Dampak buruk dari sisi pendidikan merupakan risiko langsung homeschooling yang tidak dikendalikan oleh peraturan.”

“Sama sekali tidak ada bukti kredibel tentang prestasi homeschooling.”

Itulah propaganda mereka.

Tetapi beginilah kenyataannya:

The Washington Times: Home-Schooling: Hasil-hasil Luar Biasa pada Ujian-ujian Nasional

Mackinac Center for Public Policy: Anak-anak Homeschooling Menunjukkan Prestasi Luar Biasa

Christian Post: Hasil Ujian ACT Siswa-siswa Homeschooling Lebih Tinggi daripada Rata-rata Nasional

Para Pemanah Homeschool Membidik Kejuaraan Nasional

Anak-anak Homeschooling Menggali untuk Membantu Proyek Hari Bumi

Dalam kajian nasional tahun 2009, anak homeschooling meraih 34-39 poin persentil lebih tinggi dari angka normal ujian-ujian prestasi yang distandardisasi

Rata-rata nasional homeschooling berkisar dari 84 persentil untuk Bahasa, Matematika, dan Ilmu Sosial, sampai 89 persentil untuk Membaca.

Zaman Keemasan untuk Homeschooling

Anak Homeschooling Setempat Memenangkan “Odyssey of the Mind”

Tim Homeschool Missoula Menang Kompetisi MathCounts tingkat Negara Bagian

Tim Homeschool Menang Kejuaraan “Simulasi Pengadilan” Tingkat Negara Bagian

Tim Homeschool Menang Kontes Robotik

Tim Homeschool Menang Kejuaraan Nasional

Anak Homeschool Kelas 7 Menang Kompetisi NASA

Menang Kontes Pencarian Bakat Sains Intel untuk Genius Matematika, Evan O’Dorney Dihadiahi 100 ribu dolar dari Intel Foundation

Anak Homeschooling Menang Kompetisi Siemens Westinghouse

Anak Homeschooling Menang Kontes Menulis PBS Lokal

Hampir 25% siswa homeschooling terdaftar satu tingkat kelas atau lebih di atas siswa sekolah seumur.

Siswa homeschool menonton lebih sedikit TV daripada siswa secara nasional, 65% siswa homeschool menonton sejam atau kurang setiap harinya, sedangkan secara nasional, hanya 25% yang menonton sesedikit itu.

Riset menunjukkan anak-anak homeschooling 77% lebih besar kemungkinannya untuk lulus kuliah 4 tahun dengan penghargaan daripada anak-anak yang dididik secara konvensional.

Anak Homeschooling Lagi-lagi Memenangkan Kontes Mengeja Spelling Bee

Anak Homeschooling Menang Disney Prize untuk Rancangan Rumah Peri

Tim anggar homeschooling, grup drama homeschooling, tim gulat homeschooling

Tim Tebow, siswa homeschooling, meraih Heisman Trophy sebagai pemain futbol terbaik.

Miss America juga homeschooling

Anak homeschooling menang beasiswa atlet Division 1

Kajian terbaru menunjukkan 98% anak homeschooling terlibat dalam 2 atau lebih kegiatan sosial dan masyarakat.

Penulis novel Eragon, Christopher Paolini, juga produk homeschooling

Atlet selancar, Bethany Hamilton, homeschooling

Atlet olimpiade Corey Cogdell, homeschooling

Dakota Root, juara anggar, homeschooling

Anggota kongres terpilih, Jaime Herrera, homeschooling

dan seterusnya…

Infographic: Internet Revolutionizing Education

Klik untuk memperbesar

Internet telah mengubah pendidikan secara dramatis dan mendasar: kini kemampuan menentukan telah berpindah dari tangan lembaga pendidikan ke tangan para siswa. Berkat internet, pendidikan kini lebih mudah diakses dalam sejarah manusia.

Pendidikan online merupakan industri senilai 34 miliar dolar. Baik lembaga pendidikan laba dan nirlaba merevolusi metode belajarnya.

Universitas Terbuka merupakan universitas terbesar di Inggris, dengan 250 ribu mahasiswa.

University of Phoenix menjadi universitas terbesar di AS, dengan 500 ribu lebih mahasiswa.

Khan Academy di internet memiliki lebih dari 2.100 video kuliah, yang telah ditonton 41 juta kali.

Internet mengubah cara kita belajar:

Contoh bagaimana internet mengubah Pendidikan Tradisional yang memindahkan ruang kelas menjadi online:

Hampir separuh mahasiswa setidaknya mengambil satu kuliah online

25 ribu program online ditawarkan di AS

terdaftar 3 juta pelajar pendidikan lewat internet di AS

lebih dari 1 juta pelajar usia TK sampai kelas 12 terdaftar pada program pendidikan online

Contoh bagaimana internet mengubah Pendidikan Perorangan:

The Khan Model: pelajar belajar dengan kecepatan sendiri, pada waktu yang ditentukannya sendiri.

-Tidak ada lagi pelajaran di kelas yang seragam untuk semua

-Membalik model pendidikan: murid kini belajar di rumah, dan mengerjakan tugas di kelas

-Apa yang diinginkan Bill Gates dengan mendanai Khan Academy? “Pendidikan masa depan.”

iTunes U menawarkan lebih dari 350 ribu kuliah universitas dan video dari 800 universitas termasuk Stanford, Yale, dan Oxford secara gratis.

Bill Gates menyumbang 2 juta dolar untuk pengembangan aplikasi Facebook yang membantu mahasiswa tetap kuliah.

London School of Business and Finance meluncurkan Global MBA yang disampaikan sepenuhnya dengan aplikasi Facebook.

Model Pendidikan Lama memaksakan semua siswa melalui cetakan yang sama dan berbiaya tinggi.

Tetapi sekarang, berkat daya transformatif internet, siswa dapat merancang pendidikan mereka secara mandiri menurut pemikirannya sendiri. Pendidikan tinggi tidak lagi tersedia hanya untuk kaum elit; semua orang dengan koneksi internet dapat mendidik diri mereka sendiri. Akses pendidikan menjadi semakin menyeluruh dan demokratis, dan akan menjadi lebih baik di masa mendatang.

Liputan Jawa Pos tentang Klub Sinau, Komunitas Ibu-ibu Homeschooling

Jawa Pos, For Her, Kamis 19 Mei 2011

Klub Sinau, Komunitas Ibu-ibu Homeschooling

Jadi Ibu Sekaligus Guru

Orang tua di Indonesia yang menerapkan homeschooling kepada anak mereka bisa dihitung dengan jari. Salah satunya dilakukan para ibu di komunitas homeschooling Klub Sinau Jawa Timur. Mereka lebih memilih untuk mengajar anak mereka sendiri yang kebanyakan masih kecil meski tidak memiliki latar belakang guru.

Ibu-ibu ini memilih untuk menerapkan homeschooling kepada anak mereka. Itu merupakan model pendidikan alternatif dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan. Keluarga memegang semua tanggung jawab pendidikan. Kebanyakan anak anggota Klub Sinau masih kecil. Mereka menjadi orang tua sekaligus guru yang kreatif tanpa memanggil pengajar. Mereka merancang sendiri kurikulum pendidikan.

“Setiap rumah atau keluarga akan memiliki cara yang berbeda,” kata Maria Magdalena, 36, salah satu pendiri Klub Sinau Jawa Timur. Ibu Pandu Husain, 7, itu sebisa-bisanya menciptakan rasa senang dalam belajar.

Baca selengkapnya di situs Klub Sinau.

Tanpa Ijazah, Joichi Ito Menjadi Direktur Media Lab di MIT

Joichi Ito, dari Jepang, terpilih menjadi direktur Media Lab di Massachusetts Institute of Technology (MIT) meskipun tidak memiliki ijazah dari universitas, dengan mengalahkan 250 kandidat. Prestasi dan perjalanan kariernya luar biasa sekali. Selengkapnya baca di situs New York Times:

M.I.T. Media Lab Names a New Director.
JOHN MARKOFF
Published: April 25, 2011
Joichi Ito is a 44-year-old Japanese venture capitalist who does not have a college degree but has worked with several Internet organizations and invested in start-ups.

Jabatan universitas bergengsi pasti tidak jatuh begitu saja dari pohon, perjuangannya seperti apa ya, pasti mahaberat. (MIT gitu loh! MIT! Masuk kuliah ke sana aja susah setengah mati, apalagi jadi direktur lab.). Aku membayangkan, mungkin orang-orang sekeliling dia mencemooh,”Ijazah S1 aja nggak punya, kok mau jadi direktur lab MIT. Mimpi kaliiii… Kamu nggak mungkin terpilih.”
Joichi Ito mungkin bilang,”AKU NGGAK PERCAYA.” Dia mencalonkan diri, dan karena prestasi dan reputasinya memang luar biasa, dia mengalahkan 250 kandidat lain yang punya ijazah profesor doktor. Mungkin …

Artikel di New York Times itu dibuka dengan kalimat:
Selama berabad-abad, ijazah bersinonim dengan universitas-universitas di negeri ini… (Amerika Serikat, maksudnya.)

Joichi Ito telah membuka lembaran sejarah baru. Dia menolak memercayai “tidak mungkin sukses tanpa ijazah”.

Selama ini kita diajari “tidak mungkin sukses tanpa ijazah.” Dan karena banyak orang beriman pada kalimat itu, setiap ada berita yang membuktikan sebaliknya, yaitu “mungkin saja sukses tanpa ijazah,” mereka menolak mentah-mentah. Kalau aku sebutkan seribu nama orang yang sukses tanpa ijazah, mereka tetap tidak percaya. Bahkan pada saat dirinya sendiri yang sukses tanpa ijazah, mereka menolak untuk mempertanyakan keyakinannya itu. Aneh ya?

Ada orang yang ingin bicara statistik. Menurut dia, yang tidak sukses tanpa ijazah itu lebih banyak. Begini. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya bisa sukses tanpa ijazah, mereka benar. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya tidak akan sukses tanpa ijazah, mereka juga benar. Nah, sekarang, manakah yang lebih banyak?

Kalau ada orang mengatakan kamu tidak mungkin sukses dalam hidupmu karena (tidak punya ijazah, tidak ganteng, bukan orang Jawa, tidak punya koneksi, tidak tinggal di Jepang, dan lain-lain), tipsnya satu: jangan percaya.

Foto: Kirainet, Flickr

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...