Keluarga kami terdiri dari aku (Andini), Papa (suamiku), dan anak-anak kami tercinta: Kanae, Masa, dan Nao. Aku dan Papa bertemu dan berjodoh di Tokyo, Jepang. Kemudian selama lima tahun kami membina keluarga, sebagian di kota Tokyo, kota kelahiran Kanae, dan sebagian lagi di kota Matsumoto, kota kelahiran Masa. Tahun 2008 kami kembali ke Indonesia, dan setahun kemudian lahirlah Nao di Bekasi.
Aku berkenalan dan mencoba gagasan homeschooling di Jepang melalui beberapa buku berbahasa Jepang tentang tema yang kontroversial itu. Apakah di Jepang homeschooling sudah lazim dikenal orang? Tidak. Sistem pendidikan Jepang bisa dikatakan berhasil karena telah menanamkan etos kerja keras, kejujuran, sopan santun, kebersihan, dan sebagainya yang merupakan ciri masyarakatnya. Namun demikian, dunia pendidikan Jepang pun dibebani oleh masalah seperti ijime/bullying, penolakan bersekolah/futōkō, menurunnya pencapaian akademik Jepang dibandingkan negara-negara maju lain, dan bunuh diri anak-anak sekolah. Pengajuan solusi bermunculan, salah satunya adalah homeschooling sebagai opsi pengganti sekolah. Homeschooling belum populer namun benih-benihnya telah ditebarkan. Aku kira hal yang sama terjadi di Indonesia.
Buku ini bersifat sangat personal dan disusun dengan dua maksud. Pertama, adalah niat pribadi untuk menggolkan proposal melanjutkan homeschooling bagi Kanae dan adik-adiknya kepada kepala keluarga kami, yakni suamiku. Kedua, adalah berbagi cerita menginspirasi untuk para orang tua yang ingin tahu bagaimana homeschooling bisa diterapkan bagi anak usia balita. Pada rentang usia golden age ini, ikatan tali asih dan cinta orang tua berperan sangat penting untuk keoptimalan pertumbuhan mental dan fisik anak.
Tulisan-tulisan di dalam buku ini awalnya merupakan entri di dalam laman Multiply yang kutuanrumahi: Homeschooling à la Carte (http://andinirizky.multiply.com) . Blog penyimpan catatan hari demi hari tentang Kanae dan kegiatan homeschooling-nya usia tiga hingga lima tahun itu diakses oleh peminat homeschooling maupun pemerhati pendidikan anak secara umum. Oleh karena berawal dari blog, setiap judul cerita dalam buku ini bisa dibaca terpisah dari judul-judul lain tanpa khawatir kehilangan mata rantai kisahnya.
Aku berharap semoga pembaca bisa tertawa, menangis, dan mengangguk setuju atau pun membentuk pendapat yang berbeda denganku karena cerita-cerita tentang dinamika keluarga dalam buku ini merupakan hal yang universal.
Selamat menikmati!
Klik laman Arsip untuk melihat daftar isi.









