Cara Menghadapi Pertanyaan tentang Sosialisasi

Ketika seseorang mengatakan,”Kenapa kamu aneh sekali memilih homeschooling untuk anakmu? Nanti anakmu nggak bisa bergaul dengan orang lain!”, perhatikan apa yang terjadi pada hatimu.

Apakah kamu menjadi gusar dan marah sekali?

Apakah kamu merasa tenang dan maklum bahwa tidak semua orang memahami sosialisasi anak di dunia nyata selain sekolah?

Kalau kamu kesal, pertanyakan apakah kamu juga mempunyai kekhawatiran yang sama di sudut hatimu? Kalau kekhawatiran itu ada, pertanyakan apakah hal itu betul, bahwa anakmu tidak bisa bergaul dengan orang lain? Temukan sedikitnya 3 bukti bahwa anakmu BISA bergaul dengan orang lain.

Misalnya:
1. dia tidak malu-malu berbicara dengan pemilik warung tadi siang
2. dia menelepon temannya dan meminta temannya untuk datang lagi ke rumah
3. dia melerai kedua adiknya yang bertengkar.

Perhatikan bahwa keterampilan bersosialisasi yang dimiliki anakmu saat ini TIDAK BISA dia dapatkan dari sekolah. Perhatikan bahwa homeschooling di rumah sangat kondusif membina keterampilan bersosialisasi tersebut.

Dan kalau kamu masih khawatir, pertimbangkan kemungkinan menambah kegiatan di luar rumah. Jika merasa sudah cukup, tentunya tidak perlu.

Hapuskan kekhawatiran itu dan yakinlah, anak-anak homeschooling akan baik-baik saja!

Jika lain kali bertemu lagi dengan orang yang memperingatkan tentang “sosialisasi”, kamu boleh tersenyum dan mengucapkan, “Terima kasih”, dengan tulus. Katakan, “Tetapi jangan khawatir, Kawan, anakku baik-baik saja!”

Foto: Der Bettler

Mengajari Anak Cara Bersyukur

Sejak Kanae bersekolah, aku melihat dia menjadi mudah marah dan sering bersungut-sungut. Aku rasa aku akan begitu juga kalau setiap hari diwajibkan berada dalam lingkungan yang membuatku stres, rumah mertua misalnya.

Awalnya aku sedih melihat perubahan itu. Awalnya aku ingin suamiku melihat apa yang aku lihat, dan memahami perubahan itu seperti aku memahaminya. Sekolah mengubah Kanae yang manis menjadi Kanae yang pemarah. Tidakkah dia bisa melihat itu? Harapan sia-sia. Suamiku cuma bisa memahami apa yang dia pahami, seperti halnya aku. Aku cuma bisa memahami apa yang aku pahami.

Awalnya aku membiarkan saja setiap kali Kanae mulai bertingkah. Ibuku tinggal bersama kami dan seperti suamiku, dia juga penggemar berat sekolah. Aku dan ibuku sering bertengkar tentang perubahan Kanae sejak disekolahkan. Pernah juga kami bertengkar di rumah Mbak Dian, yang kebetulan adalah keluarga homeschooling.

Jadi kalau Kanae ‘mulai’, aku biarkan saja ibuku yang menanganinya. Kan bukan aku yang menyebabkan Kanae bermasalah, jadi aku tidak mau repot-repot!

Aku perhatikan suamiku pun sama saja dengan ibuku, tidak tahu bagaimana menangani ledakan tantrum Kanae selain menjerit-jeriti dia. Bagaimana pun aku bersyukur sih suamiku bukan tipe ayah ringan tangan seperti kebanyakan ayah yang kukenal. Anak-anakku harus berterima kasih padaku, aku telah memilihkan ayah yang baik untuk mereka.

Selang beberapa lama, aku berdamai dengan kenyataan. OK, jadi inilah hidup Kanae. Kanae bersekolah. Aku tidak suka tetapi inilah kenyataannya. Dia kesulitan mengelola perasaannya. Sebagai ibunya, aku bisa mengajari dia menjadi “korban keadaan” atau “memberdayakan” dia dalam hidupnya saat ini. Barangkali selama ini aku juga yang ikut mengajari dia merasa tidak berdaya dengan cara tidak berbuat apa-apa.

Begitu aku menyadari hal itu, kesempatan pembelajaran itu datang.

Hari libur, kami sekeluarga jalan-jalan bermobil ke kota, Jakarta gitu. Kanae sebetulnya ingin pergi ke suatu mal, tetapi karena kami mampir ke tempat-tempat lain, sampai hari sudah sore dan kami berencana pulang pun, keinginannya itu tidak kesampaian. Seperti biasa, Kanae mulai merajuk. Aku mau pergi ke situ, kenapa nggak pergi, ayo kita pergi, ugh kenapa sih aku nggak dituruti…

Aku ingat, aku merasa heran, aku tidak marah waktu itu. Sementara suami dan ibuku sudah mulai jengkel dengan rengekan Kanae. Mau jengkel atau tidak jengkel dengan rengekan anak rupanya soal pilihan juga.

Aku ingat aku merasa maklum dengan perasaan Kanae. Siapa bilang seharusnya dia tidak merengek? Kalau kemauannya tidak dituruti, pasti merengek! Wajar dong! Kan anak-anak. Orang dewasa juga begitu kok! Banyak kan perempuan yang suka mengomel pada suami dan anak-anaknya? Apalagi anak-anak seperti Kanae. Aku bukan orang penyabar, tetapi aku ingat aku merasa tidak punya alasan untuk marah.

Menghadapi tantrum anak hampir 7 tahun yang bisa bicara sebenarnya menyenangkan. Karena dia sudah bisa diajak berdialog dan berpikir bersama. Kita bisa memahami dia, dan dia bisa memahami kita.

Waktu itu aku menggenggam kedua tangan Kanae, dan bertanya sungguh-sungguh,”Kenapa merengek? Kanae mau apa?”

Jawabnya,”Aku mau ke mal A.”

“Kanae mau apa di sana?”

“Mau main-main.”

“Lho Kanae tadi kan sudah main di restoran. Kanae sudah main ayunan, sudah main perosotan… Ya kan?”

“Iya, tapi aku juga mau beli kue sus di sana!”

“Tadi Papa sudah belikan Kanae donat karamel. Ya kan? Kue sus dan donat karamel kan sama-sama kue.”

“Aku mau lari-lari di sana!”

“Lho dari tadi bukannya Kanae lari-lari terus?”

“Nggak mau, pokoknya larinya harus di mal!”

Sampai di sini aku mulai masuk model ceramah soalnya dia tidak berhenti merengek.

“Kanae mau main…? Tadi Kanae sudah main. Kanae mau kue… tadi sudah diberi kue. Semua yang Kanae inginkan sudah terkabul. Tapi Kanae masih nangis-nangis juga. Apa itu namanya? Nggak bersyukur.

Bu Guru bilang apa kalau anak nggak bersyukur? Nggak bersyukur masuk neraka. Ya kan? Bilang gitu kan? Kalau anak yang bersyukur masuk surga. Tapi ya Kanae, neraka itu bukan nanti, bukan masih lama. Neraka itu sekarang. Kanae nggak bersyukur, karena itu sekarang Kanae nangis-nangis.

Coba lihat Masa! Masa, sini! Masa senang nggak sekarang?” Masa adiknya, 4 tahun, waktu itu belum sekolah.

Masa, anak laki-laki yang manis, ketawa-ketawa, saat menjawab,”Iya, Masa senang! Soalnya asyik!”

“Nah kan, Masa anak yang bersyukur, Masa sekarang di surga, bahagia. Kanae nggak bersyukur, Kanae di neraka sekarang, menderita.”

Kanae terdiam. Agaknya dia mulai mempertimbangkan perkataanku.

Lalu, jawabnya,”Mama mana tahu Bu Guru bilang apa! Kan Mama nggak mau ketemu Bu Guru aku.”

“Ah nggak ketemu juga aku tahu kok, Bu Gurumu ngomong apa,” kataku ngeles.

Tetapi rengekan Kanae juga berhenti sampai di situ, dan kami pulang ke rumah tanpa iringan tangisnya lagi.

Peristiwa ini sudah lama tetapi Kanae tidak pernah merengek lagi. Tapi hidup masih panjang tentu saja, barangkali kalau dia merengek lagi, aku ajak lagi dia untuk melihat bahwa dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan, dan dia bisa pilih sendiri, mau berada di surga atau neraka.

Dan itu namanya, pembelajaran dalam konteks. Hanya orangtua yang bisa mengajari anak-anaknya menghadapi kesulitan hidup, sekolah paling-paling bisa memaksa anak-anak menghapalkan ayat kitab suci tentang bersyukur, tetapi untuk penerapannya dalam hidup, mereka sebetulnya tidak berdaya.

Menghadapi Keluarga yang Mengkritik Homeschooling oleh Naomi Aldort

Naomi Aldort adalah penulis buku parenting Raising Our Children, Raising Ourselves, sekaligus seorang praktisi dan advokat homeschooling metode unschooling.

Kata seorang ayah yang putus asa, dalam sesi konsultasi telepon,

“Aku pasti gembira sepenuhnya karena putri kami homeschooling, kalau saja para ipar tidak membuatku stres dengan keraguan dan kritik mereka.”

Naomi bertanya,

“Mengapa mendiskusikan pendidikan anak Anda dengan mereka?”

Bob, si ayah, terdiam, lalu menjawab dengan malu,

“Bukankah seharusnya begitu?”

Kata Naomi,

“Ya tentu saja, jika hal itu membawa kegembiraan dan kejelasan bagi hidup Anda. Tapi bagaimana hasilnya? Apakah begitu?”

Jawab,

“Tidak. Diskusi itu hanya merusak kegembiraan dan keyakinanku. Dina sangat menikmati, dia bermain, berkreasi, menari… tetapi kemudian keraguan mereka menular padaku, dan aku menjadi khawatir.

Pembicaraan itu selalu berkisar pada masalah Dina belum bisa membaca dan belum mulai belajar matematika. Dia sibuk sepanjang hari mengumpulkan bekicot dan memberi makan bekicot.”

Bob tertawa, agaknya menikmati bayangannya sendiri tentang ambisi terbaru anaknya itu.

Banyak orangtua yang menelepon Naomi untuk berkonsultasi mengeluh tentang keluarga yang mendesak mereka untuk mengirimkan anak-anak ke sekolah.

Sanak keluarga tersebut tidak dapat membayangkan seorang anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mapan, sosial, dan berpendidikan, kalau kita tidak mengunci mereka berjam-jam setiap hari, dalam kelompok seumur, dan mengulang-ulang informasi tak berarti ke telinga mereka selama 13 tahun.

Betapa sedikit mereka berpikir tentang suatu keajaiban bernama “anak”.

“Kalau membahas pendidikan Dina dengan mereka menyebabkan stres dan keraguan, mengapa Anda melakukannya?”

“Aku kira aku harus”, jawab Bob, “Mereka kelihatan memaksa”.

Namun, keluarga merespons cara kita memperlakukan mereka dan membaca petunjuk dari kita. Tanpa menyadarinya, Bob mengundang keluarganya untuk ikut memilihkan pendidikan bagi Dina.

Anda sebaiknya TIDAK MENJELASKAN gagasan parenting Anda kepada teman dan keluarga lain. Pada saat Anda mencoba meyakinkan mereka, mereka berhenti menghargai Anda, dan lebih penting lagi, Anda mengundang mereka sumbang suara pada cara Anda menjadi orangtua.

Anda tidak berhutang penjelasan atau pembenaran pada mereka. Kebutuhan Anda untuk meyakinkan mereka merampas rasa percaya diri Anda, dan mereka menganggap diri sebagai dewan penasehat Anda.

Dengarkanlah mereka, akui perasaan mereka dengan mengulang dan menunjukkan pemahaman Anda terhadap keprihatinan mereka, dan tidak membela diri tentang gagasan pendidikan Anda. Pembelaan diri adalah undangan bagi mereka untuk memberikan suara.

Pembelaan diri seperti mengatakan,”Aku perlu meyakinkan kamu karena kamu juga berhak memutuskan.” Anda tidak perlu persetujuan mereka, Anda hanya perlu persetujuan diri sendiri.

Contoh dialog dengan ibu (nenek anak) yang menentang homeschooling

Bob (berperan sebagai Nenek): “Dina harus bersekolah supaya bisa bersosialisasi dan belajar. Bagaimana dia belajar hal-hal yang harus dia ketahui kalau kerjanya cuma memberi makan bekicot?”

Naomi (berperan sebagai Bob): “Saya mendengar Ibu sangat prihatin. Pasti sulit melihat Dina bermain sepanjang hari kalau Ibu berpikir dia seharusnya ada di sekolah. Saya senang Ibu sangat terlibat dengan pendidikan Dina.”

Bob sebagai Nenek: “Kalau begitu kenapa kamu tidak mematuhi aku? Aku lebih tahu daripada kamu. Bagaimana dia bisa belajar? Lihat dia! Dia bahkan tidak bisa membaca!”

Naomi sebagai Bob: “Apakah Ibu khawatir dia tidak akan bisa membaca dan bergaul di masyarakat?”

Bob sebagai Nenek: “Ya, aku khawatir. Dia juga tidak mungkin mandiri. Lihatlah dia sangat nempel padamu. Dia harus bergaul dengan anak-anak lain di sekolah, belajar keterampilan sosial, membaca, sejarah, dan matematika.”

Naomi sebagai Bob: “Saya mendengarkan Ibu. Ibu khawatir dia terlalu dekat dengan saya, dia tidak akan tahu cara bergaul dengan orang lain, dan dia akan jadi anak yang tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa hidup dengan baik. Begitu ya?”

Nenek: “Tidak dramatis seperti itu sih… tapi ya betul. Aku pikir Dina harus sekolah.”

Bob: “Saya paham. Ibu yakin dia harus bersekolah. Kalau begitu tentu saja Ibu merasa susah melihat dia bebas melakukan apa saja sepanjang hari, tanpa pe-er dan keharusan duduk di kelas. Tahu tidak, sepertinya Ibu akan tambah susah. Kami menjalani jalur yang jauh berbeda dengan keyakinan Ibu tentang jalur yang terbaik. Saya tidak tahu bagaimana membuat perasaan Ibu lebih ringan.

Yang bisa saya lakukan untuk Ibu adalah memberikan buku-buku bacaan tentang homeschooling dan CD dari Naomi Aldort.

Kalau Ibu tertarik, beri tahu saya. Tetapi tidak apa-apa kalau Ibu tidak begitu ingin mengetahui tentang homeschooling. Ibu melakukan tugas ibu dulu terhadap kami. Sekarang kami melakukan tugas kami terhadap Dina.”

Tanpa membahas pilihan pendidikan, tanpa membela diri tentang alasan Anda homeschooling, dan selalu mencintai, menghargai, dan memahami keluarga Anda, Anda dapat menciptakan hubungan baik tanpa mengundang mereka menjadi dewan penasihat Anda.

Rencana Tuhan untuk Masa

Rabu siang, Masa (4) menangis kesakitan dan minta diantar ke dokter gigi. Klinik dokter gigi terlalu jauh untuk dicapai berjalan kaki, tetapi terlalu dekat jika naik taksi sehingga supir taksi tidak mau menjemput. Satu-satunya cara kami keluar dari kompleks perumahan ini adalah diantar dengan mobil oleh suamiku. Jadi aku SMS dia, supaya mengantar Masa ke dokter gigi sepulang kerja, dan dia balas “ya”. Tunggu punya tunggu, suamiku tidak pulang jam 7 seperti yang kuharapkan, tetapi dia pulang jam 9 malam. Tentu saja dokter gigi sudah tutup. Ternyata dia lupa janjinya, dan malah pergi main badminton dengan teman-temannya seperti biasa.

Begitu dia masuk rumah, aku mengomel dan membentak suamiku,”Gitu ya! Anak nggak penting. Teman-teman lebih penting! Bolos main badminton sekali saja, takut nggak ditemenin? Kayak anak sekolah aja? Emang umurmu berapa? Jangan bohong bilang lupa segala! Aku sudah SMS 2 kali!”

Kalau dipikir sekarang, kasihan deh dia. ;)

“Aku lupa… Maaf…,” katanya lemah.

Dengan gusar aku naik ke kamarku di lantai atas. Menghadap komputer, aku mengetik…

“Kalau suamiku lupa mengantar Masa ke dokter gigi berarti dia tidak sayang anak dan lebih mementingkan teman-teman.”

Apakah itu benar? Apakah itu benar? Aku mengetik sambil berpikir keras… apakah itu benar? Apakah aku bisa tahu itu benar? Dalam 10 menit, aku menemukan bukti-bukti dari pengalamanku bahwa kalimat itu tidak benar. Suamiku sayang Masa. Suamiku sayang keluarga. Suamiku tidak mementingkan teman-temannya karena main badminton toh cuma seminggu sekali, Rabu malam. Sedangkan pergi keluar rumah dengan anak-anak… SETIAP MALAM kecuali Rabu. Dia mungkin gembira sekali bisa menikmati acara bermain dengan teman-temannya itu… bahkan sampai lupa dengan janjinya. Dia berkata benar. Dia tidak bohong. Dia lupa.

Dan kalau dipikir lagi, Masa sudah tidur sejak pukul 7.30 tadi. Barangkali kalau kami pergi ke dokter malam itu, dia jadi rewel dan susah diperiksa dokter karena sudah mengantuk. Masa sendiri sudah tidak kesakitan. Dia sudah tidur pulas dari tadi. Kalau dipikir, Masa menangis cuma sekitar 10 menit tadi. Tidak begitu lama. Aku menjerit-jerit padanya karena dia tidak mau disikat giginya. Ibuku menjerit-jerit padaku karena dia pikir aku menyakiti Masa. Aku menjerit-jerit pada ibuku karena benci campur tangannya. Tapi hanya sebentar. Setelah itu Masa berhenti menangis. Mungkin setelah disikat, giginya tidak begitu sakit lagi. Masa sudah tidur…

Jadi sebetulnya tidak apa-apa kalau suamiku lupa mengantar malam ini. Kemarahanku sirna.

Aku turun ke kamar suamiku di lantai bawah. Aku memeluk suamiku di tempat tidurnya. Aku cinta padamu…, bisikku. Tapi dia sudah tidur.

Keesokan paginya, suamiku minta cuti setengah hari dari kantor untuk pergi ke dokter gigi. Di dalam ruangan dokter yang sempit itu, ramai-ramai kami mendampingi Masa. Nao (2) mengoceh,”Gigi palchu! Gigi palchu!” Kanae (7) senang sekali bisa mengobrol tentang bandelnya si Masa, kalau digosok giginya tidak mau, kepada dokter gigi itu. Masa ternyata pasrah saja tuh diperiksa giginya. Pulang dari dokter gigi, suamiku masih ada waktu untuk mampir di Mal dan membelikan mainan robot plastik untuk Masa. Kami jalan-jalan sebentar untuk membeli donat. Lalu suamiku mengantarkan kami pulang ke rumah. Masa senang sekali dengan mainan barunya. Kami semua menikmati acara jalan-jalan dadakan itu. Seandainya kami homeschooling, ini namanya field trip.

“Mama, aku suka Papa belikan robot! Papa baik! Aku senang!” seru Masa berulang-ulang tanpa kutanya.

Beruntung sekali, suamiku lupa malam itu. Rupanya pergi ke dokter gigi pagi-pagi lebih baik bagi Masa; giginya ditambal, dan Papa sempat membelikan hadiah. (Masa tidak minta dan suamiku membelikan karena kurasa dia sendiri takut ke dokter gigi.)

Rencana Tuhan untuk Masa lebih baik daripada rencanaku.

Apa hubungannya dengan homeschooling? Well, bagaimana orangtua menyelesaikan masalah perkawinan mereka sangat mempengaruhi kebahagiaan anak-anak dalam perkawinan mereka sendiri kelak. Cara menyelesaikan konflik rumah tangga… bukankah ini juga bagian dari pendidikan tentang kehidupan yang sangat penting, yang tidak dapat diajarkan oleh sekolah?

… dan aku tidak bisa lebih tahu dari Tuhan apa yang terbaik untuk anakku.

Mana Bisa Mendidik Anak Sendirian?

Seseorang mengatakan homeschooling itu metode pendidikan yang tidak baik karena orangtua tidak mungkin menangani pendidikan anak-anaknya sendirian.

Ya, memang betul, mendidik anak tidak bisa sendirian.

Tapi apakah betul asumsi bahwa pendidikan dalam homeschooling itu dilakukan sendirian?

Sewaktu kita, sebagai orangtua, memutuskan untuk homeschooling, kita tahu mendidik anak itu tidak bisa sendirian. Perlu bantuan dari keluarga, lingkungan, dari seluruh dunia (yang bisa kita capai dengan mudah berkat internet), dan tentu saja, tidak kalah pentingnya, bantuan dari Tuhan. Karena kita tahu tidak sendirian maka kita berani homeschooling.

Karena sadar bahwa mendidik anak perlu memanfaatkan lingkungan, keluarga homeschooling biasanya lebih peka terhadap lingkungan dan banyak tahu tentang daerah sekitar daripada keluarga yang terlena karena anak-anaknya dididik di sekolah. Pergi ke pasar, sama anak-anak. Pergi ke bank, sama anak-anak. Pergi ke rumah tetangga, tentu saja bawa anak-anak. Judulnya field trip.

Mengikuti contoh orangtuanya, dengan sendirinya anak homeschooling lebih peka terhadap lingkungan. Pernah dengar nggak cerita ibu-ibu homeschooling? Anak-anak mereka itu ya… semua hal diperhatikan, semua hal ditanyakan, semua dibahas dan dijadikan bahan diskusi. Wah, ibunya capek deh melayani (dan bangga setengah mati, tentu saja).

Sementara, ada lho anak-anak sekolah yang tidak pernah sadar bahwa di depan rumahnya ada pohon jambu, saking nggak pernah ngeh dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang diingatnya setiap hari saat berada di rumah hanya main game dan pe-er saja. Sebenarnya anak-anak sekolah hidup dalam dunia yang sangat sempit (kalau orangtuanya tidak waspada).

Homeschooling adalah pendidikan mandiri, namun bukan berarti segalanya dilakukan sendirian. Ayo homeschooling dengan memanfaatkan dukungan dari seluruh alam semesta. 

“Apa Kamu Tidak Takut Anakmu Jadi Aneh Kalau Homeschooling?”

“Apa kamu tidak takut anakmu jadi aneh kalau homeschooling?”

1. Itu malah salah satu kelebihan homeschooling, yaitu anak homeschooling belajar untuk tidak takut menjadi “aneh”.

Aku rasa, dalam hal ini kita setuju, bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan yang menyeragamkan. Baju harus seragam, cara berpikir harus seragam, materi yang dipelajari harus seragam, semua serba sama dan seragam. Minat dan bakat pun harus seragam karena sekolah tidak mengakomodasi yang selain itu.

“Aneh” adalah segala sesuatu yang melenceng dari keseragaman itu. Anak-anak sekolah sangat takut menjadi berbeda. Anakku sekolah, bahkan terhadap kemungkinan tidak ikut acara karya wisata sekolah yang tidak wajib pun dia menjadi sangat stres, karena dia khawatir kalau tidak punya pengalaman yang serupa, dia akan dikucilkan teman-temannya di sekolah. Dikucilkan karena lain sendiri adalah bahaya yang nyata bagi anak-anak di sekolah.

Anak-anak homeschooling belajar bersosialisasi di lingkungan sekitarnya, di dunia nyata. Ternyata di dunia nyata, ada bermacam-macam jenis manusia, tidak seragam semua. Di dunia nyata tidak perlu menjadi sama seperti orang lain, dan lebih penting bagi anak homeschooling untuk menjadi dirinya sendiri. Anak homeschooling tidak takut berdiri sendirian untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar.

“Jangan membuang sampah sembarangan di mesjid!” Yang berani menegur orang dewasa seperti ini hanya anak homeschooling. Dari cerita ibu Ahmad (9).

2. Aneh tidak selalu buruk. Aneh adalah juga unik, tidak lazim, mengagumkan.

Semua orang sukses di dunia ini orang-orang yang aneh, unik, tidak lazim, dan menjadi buah bibir karena karakternya yang tidak dimiliki orang lain. Takut menjadi aneh, takut malu, takut akan penilaian negatif orang lain,… semua itu melumpuhkan anak-anak dalam berkarya. “Ah jadi biasa-biasa saja, ikut arus saja, seperti ikan mati di sungai yang mengalir, tidak perlu ambil risiko dianggap aneh.”

Anak-anak homeschooling berani berkarya karena mereka tidak terkekang perasaan takut dinilai aneh. Izzan (8) memenangkan Kontes Ilmuwan Robot Cilik di antara saingan-saingan yang berusia SMP. Dia tidak merasa pertandingan itu bukan tempat untuk anak sekecil dia. Sepertinya, anak homeschooling memang lain sendiri.

3. Di sekolah pun ada anak-anak yang aneh, masa sih kamu tidak ingat?

Di sekolah pun ada anak-anak yang tetap aneh dari awal sampai akhir masa sekolah, tidak serta-merta “sembuh” setelah disekolahkan. Sayangnya di sekolah mereka bukan diterima dengan suka cita sebagaimana apa adanya, melainkan diledeki, dikucilkan, dan dijadikan sasaran bullying oleh anak-anak lain. Kasihan, bukan? Padahal aku rasa tujuan orangtua menyekolahkan adalah agar anak-anak menjadi percaya diri dan menerima pendidikan yang baik, bukan menjadi korban bullying yang melukai harga dirinya dan menghambat hidupnya bahkan sampai dia dewasa.

4. Orangtua yang berani memilih homeschooling sedikit banyak adalah orang-orang “aneh”.

Aneh dong, ketika semua orang lain pilih sekolah, kok mereka nekad ambil jalan lain? Nggak ada jaminannya gitu lho! (Sekolah juga tidak ada jaminannya, tetapi orang-orang yang “tidak aneh”, tidak menyadarinya, bukan?). Orangtua homeschooling melihat jalan lain yang terlihat lebih masuk akal dalam metode pendidikan anak-anaknya, dan berani mengambil jalan homeschooling, meskipun berisiko menjadi keluarga yang berbeda dengan keluarga kebanyakan. Aku rasa orangtua homeschooling tidak keberatan dan malah senang jika anak-anaknya menjadi se-”aneh” dirinya.

5. Mereka cuma anak-anak.

Sebetulnya, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan anak homeschooling yang aneh. Mereka terlihat seperti anak-anak biasa saja. Tidak ada yang tahu mereka homeschooling kalau tidak ada yang bertanya. Tetapi masalahnya kan basa-basi di lingkungan kita, selalu kata-kata,”Sekolahnya di mana? Kelas berapa?”

Setelah mereka tahu anak kita homeschooling, barulah bagi orang yang bertanya tersebut anak kita terlihat aneh. Mereka mencari-cari kesalahan anak kita, dengan sembunyi-sembunyi maupun bicara terang-terangan. Padahal aku juga belum pernah bertemu anak sekolah yang sempurna. Wajarlah ada kekurangannya. Namanya juga anak-anak. Namanya juga manusia. Orang dewasa pun tidak ada yang sempurna, jadi sungguh tak logis mengharapkan kesempurnaan dari anak homeschooling.

6. Aneh hanyalah masalah persepsi.

Orang-orang yang tidak sependapat dengan aku, otomatis menganggap aku orang aneh. Aku pun sama, menganggap aneh orang-orang yang keyakinannya tidak dapat kupahami. Ketika orang lain menganggap aku aneh, sangat mungkin aku pun menganggap dia aneh.

Jadi biarlah orang lain menghakimi kita karena kita pun bebas menghakimi orang lain. :D Lanjutkan saja perjuangan masing-masing, dan jangan saling menganggu.

7. Ada yang lebih penting yang kita perjuangkan dengan homeschooling daripada menghindari komentar negatif oleh orang lain.

Dengan homeschooling, kita memberikan anak-anak masa kecil yang indah, penjelajahan ilmu dan kehidupan, kesempatan mempertanyakan, kegiatan luar ruangan, tantangan, kenyamanan, keterampilan berkebun, ikatan keluarga yang erat, dan lain-lain, yang sama sekali tidak sama jika anak-anak tetap di sekolah. Kalau hasilnya sama, ya sekolah saja, buat apa homeschooling. Begitu kita menyadari kesempatan dan kebebasan yang kita sediakan bagi anak-anak dengan homeschooling, kita tidak akan takut dinilai aneh atau apa saja oleh orang-orang, yang sebetulnya tidak begitu penting pendapatnya.

***

Jadi bagaimana ya kalau ada orang yang mengatakan pada kita,”Anakmu homeschooling ya? Pantas aneh.”

Daripada keki, kita bisa bertanya,”Oh ya? Anehnya di mana?”

Orang itu mungkin menjawab,”Kok dia nggak mau jawab waktu aku tanya nama dan umurnya? Malah kabur!”

Kita bisa menanggapi dengan santun,”Oh iya ya? Aku rasa dia belum kenal dengan kamu. Dia pikir kamu tante-tante aneh, nggak kenal kok nanya-nanya. Kamu kalau tiba-tiba ditanyai orang di jalan, siapa namamu dan berapa umurmu, pasti kamu juga tidak mau menjawab, kan?”

Orang itu mungkin tetap skeptis dan tetap menganggap anakmu aneh. Biarkan saja karena pendapat orang lain sama sekali bukan urusanmu. Kamu bisa berbangga dalam hati. Karena anakmu anak homeschooling, harga diri dan integritasnya masih utuh, dan dia tidak bisa dimanipulasi orang dewasa dengan mudah seperti anak-anak yang sudah ‘dipatahkan’. Ditanya orang tidak dikenal kenapa harus menjawab? Lugu sekali? Ya kabur dong!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...