Waktu di Jepang, aku pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang mahasiswi, sama-sama dari Indonesia. Aku sudah lupa siapa dia. Dibilang mahasiswi, umurnya cukup tua, mungkin kandidat S2 atau S3. Ibu-ibulah pokoknya. Datang ke Jepang dengan beasiswa.
Dia bercerita, pada suatu hari dia pernah berjanji bertemu dengan orang Jepang di suatu tempat yang cukup jauh dari apartemennya. Kereta listrik terlambat 5 menit, dan menurut cerita si mahasiswi ini, dia jadi datang terlambat cukup lama. Mungkin ada kecelakaan atau apalah. Biasanya kereta tidak terlambat.
Sampai di sana, orang Jepang itu, mengatakan,”Ah, Anda lambat ya.” Bahasa Jepangnya: Osoi desu ne.
Mahasiswi ini sebetulnya merasa tersinggung. Di bibirnya ia mengatakan,”Doumo sumimasen.” Maafkan. Tetapi dalam hatinya mengutuk-ngutuk.
Dan kutukan dalam hati itu dia sampaikan padaku. “Sombong sekali. Dia pikir orang Indonesia semua jam karet apa! Kan bukan salahku kalau keretanya terlambat? Dasar orang Jepang sombong!”
Wow, pikirku, setahuku orang Jepang sopan-sopan, dan takut menyinggung perasaan orang. “Dia bilang orang Indonesia semua jam karet, Mbak?”
“Nggak sih… Tapi pasti dalam hati dia bilang begitu! Dia pikir orang Indonesia jam karet. Huh!”
Ibu-ibu mahasiswi ini rupanya peramal, bisa baca pikiran orang.
Aku merasa agak heran sih waktu itu. Dengan ucapan informasi belaka,”Anda terlambat”, dia merasa dihakimi. Bahkan membawa-bawa reputasi seluruh bangsa Indonesia yang ‘jam karet.’ Realitanya, dia memang terlambat. Orang Jepang itu memang menunggu. Dan orang Indonesia memang jam karet. Hihihi. Tidak ada alasan untuk tersinggung dan tidak minta maaf dengan tulus.
Semua drama itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Tanpa perasaan tersinggung yang dia muncul-munculkan sendiri, yang lahir dari perasaan rendah dirinya, mungkin pertemuan dengan orang Jepang itu bisa berlangsung menyenangkan bagi dirinya.
Baru-baru ini di Facebook, ada bapak-bapak bercanda, orang Indonesia sebetulnya menderita inferioritas kronis atau narsisistik akut?
Produk-produk terbaik sekolah -contohnya mahasiswi itu- ternyata tidak bebas dari kedua penyakit itu.
Hubungannya dengan homeschooling? Kepercayaan diri memang harus dibina dari rumah. Tahu tidak? Orangtua homeschooling punya posisi yang lebih baik untuk mengajarkan kepercayaan diri pada anak-anaknya, daripada orangtua yang membiasakan anak-anak menggantungkan keberhargaan dirinya pada ranking di kelas, nilai rapor, atau hasil UN belaka.



Wow, sudah bulan baru, tanggal 1 Mei. Andini ke mana aja? Katanya mau nge-blog tiap hari, gimana sih? Kok sebulan ngilang? *Lah iya, padahal nggak ada yang nanya.*