Di apartemen, Kanae bilang, “Mama, aku telepon Papa ya,” sebelum memencet nomor telepon genggam Papa.
Aku menghentikannya.
“Papa ada di Indonesia. Nomor teleponnya berubah. Mama yang telepon ya. Tunggu sebentar.”
Suami menuliskan nomor teleponnya di papan tulis putih. Aku menekan tombol angka sambil melihatnya sementara Kanae menempelkan gagang telepon di telinganya.
“Halo?” suara Papa.
Kanae dengan semangat berteriak,”Papa! Kanae-chan boleh masuk penitipan?”
“Ya ya ya, sudah ya.” Telepon diputus. Jelas-jelas dia tidak dengar pertanyaan Kanae.
Mungkin waktunya tidak tepat. Mungkin dia sedang sibuk.
Kanae gembira.
“Mama! Papa bilang boleh!”
Ya sudah… kita anggap saja begitu. ###