Di sinikah Taman Penitipan Tobu. Akhirnya sampai juga setelah menghapal peta dari internet. Lebih dekat dari perkiraan.
Suara anak-anak sedikit saja terdengar, namun tidak terlihat seorang pun dari luar sini.
Kanae menggenggam tanganku yang ragu.
“Ayo masuk, Mama,” sapa suaranya.
“Ya.”
Aku membuka engsel gerbang yang karatan, masuk sambil melihat ke sekeliling.
Deg-degan.
Nggak pa-pa nih masuk? Nggak ada siapa-siapa lho.
Bangunan tua berdiri memanjang berbentuk huruf U. Tempat penitipan ini kelihatan lebih tua dari TK Matsumoto yang 120 tahun. Tembok warna kremnya terkelupas di sana sini.
Nggak ada perosotan raksasa lho. Nggak ada lapangan yang luas lho.
“Benar mau masuk taman penitipan?”
Konfirmasi puluhan kali sejak kemarin.
“Iya, lebih baik penitipan.”
Jawaban Kanae tidak berubah.
Aku membulatkan tekad dan memencet bel.
Seorang wanita paruh baya bercelemek membukakan pintu. Barangkali salah satu perawat anak. Ia meletakkan dua pasang sandal ruangan untuk aku dan Kanae pakai di lantai. Sepasang besar, sepasang kecil.
“Silakan masuk. Aku akan panggilkan kepala penitipan ya.”
Ibu Kepala menyambut kami dengan senyum lebar.
Sambil menjelaskan, ia memperlihatkan ruangan yang ada satu per satu.
Anak-anak yang berpapasan di koridor memberi salam ‘selamat siang’ kepadaku. Aku terkagum dengan keramahan mereka yang memberi salam padaku, ibu ibu tak dikenal. Ingin juga rasanya disalami ‘assalamualaikum’ ramai-ramai begitu oleh anak-anak Indonesia.
Saat aku ditunjukkan ruangan usia 3-4 tahun, anak-anak sedang makan siang.
Meskipun begitu, mereka tidak berwajah sebal, dan mengajak Kanae bercakap.
“Siapa namanya?”
“Berapa umurnya?”
“Anak perempuan? Aku juga anak perempuan.”
Kanae menjawab pertanyaan itu, tersenyum malu-malu.
Anak-anak 13 orang, perawat 2 orang. Tidak berbeda dengan TK.
Tetapi apa ya… atmosfer kehangatan yang terasa ini?
Sebagian besar mereka makan sendiri dengan sumpit, tetapi seorang anak laki-laki disuapi oleh perawat. Tidak mungkin terjadi di TK.
Seorang anak perempuan sedang menebarkan kasur futon untuk tidur siang.
“Dia bilang perutnya sakit, sekarang mau tidur,” ibu perawat tertawa melaporkan.
“Wah wah! Lapor sendiri? Hi hi hi,” Ibu kepala tertawa. Beliau tahu anak itu tidak sakit serius dan hanya ingin tidur siang lebih dulu dari kawan-kawannya.
Fleksibilitas begini, aku suka.
Di ruang kantor, aku menerima formulir pendaftaran dari ibu kepala. Aku diberi tahu bahwa sebenarnya kalau ingin masuk sejak bulan Desember, hari terakhir pendaftaran yaitu tanggal 18. Hari itu tanggal 21, sudah terlewat. Oleh karena itu, aku sebaiknya segera pergi ke kantor pemerintahan kota. Sampaikan bahwa Taman Penitipan Tobu berniat menerima Kanae supaya cepat urusannya.
Keluar dari pintu depan penitipan itu, Kanae bertanya, “Kenapa pulang?”
“Nggak bisa langsung masuk,” jawabku. “Harus tanya Papa dulu.”
Kanae mengangguk. ###